Lambaian Alam

Mungkin terdengar klasik apa yang terjadi ditengah-tengah peradaban manusia yang modern ini, yakni perihal mirisnya kondisi lingkungan alam manusia. Alam seringkali menjadi tempat paling nyaman untuk manusia hidup di dalamnya, karena jelas alam memberikan segalanya untuk manusia. Sangat berjasa sekali peran ala mini dunia manusia. Tapi apa yang disajikan alam terhadap manusia tidak berbandi lurus dengan apa yang telah manusia lakukan kepada ala mini, alam yang begitu indah, alam yang menyajikan keteduhan hati.

 

Telah diketahui, konsep dasarnya adalah alam itu diciptakan oleh Tuhan untuk manusia, dan sudah sepatutnya manusia memperlalukan alam seperti manusia itu ada untuk alam itu sendiri. Manusia adalah bagian dari lingkungan alam, manusia adalah bagian dari keanekaragaman hayati dalam suatu ekosistem yang harmoni ini. Banyak spesies dalam ekosistem ini bertalian erat, membutuhkan satu-sama lain. Terang sekali, manusia butuh alam yang salah satunya yang terpenting adalah untuk memenuhi kebutuhan utamanya, kebutuhan sehari-harinya. Sumber daya alam adalah sumber utama yang berasal dari alam yang dimanfaatkan oleh manusia sebagai makanan, minuman, bernafas, dimana intinya adalah untuk hidup. Benar sekali, manusia adalah makhluk hidup, hidup manusia adalah dimensi dari alam.

 

Alam untuk manusia dan manusia untuk alam membentuk ekosistem yang apik yang mana keseimbangan hidup terwujud nyata didalamnya. Bukan sekedar imaji kecil saja, namun seyogyanya adalah suatu miniatur perwakilan dari keindahan surga, kemuliaan Tuhan. Sinergi kuat antara manusia dan alam juga membelalakkan kejengahan bahwa tidak terhingganya simbiosis mutualisme atau hubungan yang menguntungkan, antara seluruh penghuni alam dan alam itu sendiri. Masyarakat alam yang saling menopang untuk suatu kehidupan menyuarakan secara lantang kelembutan hubungan, sehingga mencetuskan suatu tatanan tempat yang baik, dunia yang lebih baik, lepas dari kesemerawutan yang tak bertanggungjawab yang membunuh perlahan.

 

Sayangnya, yang seharusnya manusia berfikir dengan akal dan hatinya sehingga memunculkan kebijaksanaan dalam bertindak guna menyeimbangakan kehidupan di alam, ia berfikir dengan nafsunya yang tak pernah surut, sehingga bukan kesimbangan ekosistem yang terjadi, melainkan keporakporandaan yang menghampar bebas di ujung mata. Manusia dengan bringasnya mengeksploitasi alam tanpa pernah mau berfikir pembatasannya. Hal ini ia landaskan atas nama kebutuhan umat manusia bersama, kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi agar keberlangsungan hidup manusia tidaklah berhenti. Landasan yang begitu logis dan sosialis ini adalah senjata ampuh bagi ia yang mengekploitasi alam tanpa henti, seolah-olah menjadi pembenaran yang paling benar dan tiada kesalahan didalamnya. Bukankah alam menawarkan manfaat untuk manusia, ia yang mengeksploitasi alam mencuri kesempatan emas ini. Alih-alih mengambil manfaat secukupnya, ia dengan muka monsternya melahap habis alam yang sejatinya baik kepada manusia ini. Sektor hutan contohnya, dibabat habis pohonnya, ditebang gundul kehijauannya. dan tanpa merasa bersalah menyulapnya untuk berbagai keperluan golongannya saja, alhasil hilanglah sudah rumah indah para fauna, tempat mereka bertahan hidup, dan secara otomatis melenyaplah pula keseimbangan ekosistem yang harmoni.

 

Ekosistem yang tak seimbang atau yang kacau-marut artinya ada kerusakan pada alam. Telah diterangkan sebelumnya perihal pemberantasan hutan, hal ini memicu kemirisan selanjutnya pastinya. Hutan yang nota bene adalah paru-paru dunia tak mampu lagi memproduksi oksigen, hasilnya mudah ditebak, yakni tidak dapat tentunya mengontrol polusi udara yang ada. Udara yang kotor diakibatkan dari proses industri dan asap kendaran manusia tidak lagi bisa dinetralisir oleh hutan, sebabnya karena memang tidak nampak lagi eksistensinya. Dan secara otomatis polusi udara secara perlahan akan membunuh manusia itu sendiri, baik oleh karena kualitas udara yang tak lagi mampu menopang hidup manusia untuk bernafas, maupun karena polusi udara menghancurkan lapisan ozon secara lamban tapi pasti, dan dampaknya adalah pemanasan global. Pemanasan global mengakibatkan suhu bumi semakin meningkat, iklim yang tak menentu, melelehnya lapisan es di kutub dan meningkatnya volume air di bumi akhirnya menjadi momok yang menakutkan, dan manusialah yang menjadi tumbalnya juga. Perlu disoroti lebih mendalam bahwa kerapuhan ekosistem yang tidak bisa lagi menunjukkan kekuatan keseimbangannya untuk keanekaragaman hayati yang ada menebas begitu dalamnya, dan tak khayal menyebabkan kepunahan. Dewasa ini telah hingar-bingar pemberitaan di media perihal kepunahan spesies makhluk hidup yang ada, akibat dari terganggunya ekosistem makhluk tersebut, dan tidak lain tidak bukan, manusia sendiri algojonya. Ironi yang begitu menyedihkan dalam bait episode aspek kehidupan di muka bumi ini, di lingkungan hidup ini, di alam nan begitu memercikkan kehangatan ini.

 

Mungkin lupa manusia yang haus akan nafsunya mengeksploitasi ala mini bahwa alam adalah perwujudan kekuasaan Tuhan, alam adalah bagian dari Tuhan. Maka yang begitu kejamnya terhadap alam ini apakah memang telah lupa pada Tuhannya, pada yang menciptakannya? Alam sejatinya memungkinkan manusia untuk berkomunikasi dengan Tuhan, karena alam adalah media yang istimewa untuk manusia berkontemplasi dengan hatinya guna mengetuk sebuah pesan yang ditujukan langsung kepada Tuhan. Alam adalah perantara yang nyata antara manusia dan Tuhan. Lantas yang keji nafsunya merusak alam sekitar itu bagaimana? Ia yang demikian dapat dikatakan telah memisahkan kefanaan dirinya dengan keabadian Tuhannya. Ia membabat hubungan spiritulisme dengan Maha segalanya. Ia sombong, ia terjebak dalam portal keduniawian saja, ia angkuh dan ia acuh kepada khodratnya untuk melestarikan alam, acuh untuk merawat kepekaan transendental pada ekosistem ruang dirinya dan Tuhannya. Betapa mirisnya, betapa celakalah manusia yang demikian.

 

Dari apa yang telah nyata wujudnya sebagai bukti ketidakseimbangan ekosistem alam, beruntunglah ada dari manusia-manusia itu yang tidak tinggal diam. Malahan mereka gencar untuk bertindak menyelamatkan kerapuhan alam ini. Apa yang manusia ini lakukan memanglah tidak sepenuhnya berpredikat sebagai upaya mengatasi akar masalah, namun setidaknya mampu mengurangi dan sedikit demi sedikit menyembuhkan alam dari penyakitnya.  Telah banyak terseriar bahwasanya tindakan nyata berupa konservasi dibentuk secara sengaja dan sadar oleh manusia untuk melindungi pelbagai jenis makhluk, baik flora maupun fauna di berbagai penjurun alam di muka bumi ini. Konservasi ini adalah salah satu langkah yang sifatnya berlanjut terus menerus, hal ini teranglah untuk senantia mengontrol keberagaman hayati mampu untuk tetap bertahan hidup sepanjang umurnya dan diharapkan agar kelestarian ekosistem tetap terjaga sesuai dengan harapan. Ketika manusia dengan suka cita menjaga dan melestarikan alam, maka timbal baliknya adalah ia akan menyokong hidup manusia. Tidak berhenti hanya pada upaya yang demikian, manusia dewasa ini tergerak hatinya untuk memperdalam cakupan isi kepala dengan cara mengedukasi dirinya dengan ilmu pengetahuan perihal kealaman, keberagaman makhluk hidup dan ekosistemnya. Dengan mengedukasi diri, maka dapat dipastikan kebijaksanaan berfikir dan bertindak yang menyangkut alam akan tergores di penampakan paling depan. Bijaksana memanfaatkan sumber alam untuk kehidupan manusia artinya mengeksploitasi alam tanpa sedikitpun membahayakan alam, bahkan mencederainya. Produk-produk asli dari alam sebagai contohnya, manusia menggunakan alam, mengolahnya dan nantinya akan juga kembali kealam tanpa ada kekhawatiran untuk melukai alam.

 

Tidak sampai disitu, penerapan konteks reuse, reduce dan recycle telah memenjar begitu luas dikalangan kelompok manusia yang ada. Begitu menyenangkan tatkala manusia memahami dengan barang bekas yang ia miliki atau sampah yang mereka produksi. Tidak semua barang bekas adalah sampah, dan tidak semua sampah harus dibuang. Sampah atau barang bekas yang sembarangan dibuang oleh manusia tentulah akan membahayakan alam, karena tidak semua sampah dapat terurai di alam, ataupun jika bisa terurai ia membutuhkan waktu yang lama untuk melebur menjadi alam. Oleh karena itu, reuse, reduce dan recycle perlu menjadi perhatian khusus bagi manusia, dan syukurnya ketiga hal itu perlahan tetapi pasti mulai diterapkan di kalangan manusia-manusia dalam suatu ekosistem alam. Mungkin bukan sebagai kunci utama, namun reuse, reduce dan recycle yang dilakukan oleh manusia memberikan kontribusi besar agar alam tetap bisa menggulirkan kesejukan dan kedamaian pada setiap lapisan makhluk di ekosistem untuk memayungkan harmonisasi. Manusia untuk alam, maka alam untuk manusia, dan seterusnya memang demikian. Tuhan tersenyum melihatnya.

 

Komentar