Perenungan Kisah

Manusia hidup dengan milyaran kisahnya. Terlepas kisah itu indah atau bahkan yang menyakitkan, tak jarang banyak manusia yang menyampaikan kisahnya tersebut kepada orang lain, namun masih ada sebagian manusia yang enggan berkisah dan memilih bungkam, menikmati kisahnya sendiri dalam ruang dan waktu hidupnya sendiri tanpa mau ada orang lain yang mengusikknya. Namun, konsep manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri, atau makhluk yang senantiasa membutuhkan sesamanya untuk bertahan hidup. Poin pentingnya adalah sekuat apa pun manusia menggenggam kisahnya, ia akhirnya pun berkisah juga kepada spesiesnya. Berkisah adalah sifat lahiriah manusia dan setiap manusia nampaknya berkisah untuk tetap hidup, untuk dapat menjalani setiap episode kehidupan ini.

Berkisah memang bukanlah perkara mudah sejatinya. Ada memang beberapa orang berkisah sesuai apa yang ada di dalam kepalanya, apa yang muncul di fikirannya itulah yang ia sampaikan sebagai suatu kisah tanpa henti. Agaknya bagi manusia yang lain, mereka berkisah melalui cara yang berbeda. Maksudnya, berkisah melalui goresan tinta di atas secarik kertas, melalui kumpulan gambar-gambar, atau melalui potongan-potongan kata yang sengaja dipilih untuk disampaikan secara lisan. Kedua jenis manusia dalam berkisah tersebut tentunya memiliki kesamaan, yakni sama-sama menggunakan akalnya untuk berkisah kepada makhluk sesamanya. Sudah sangat jelas bahwasannya akal setiap manusia akan menuntun penyampaian dari kisahnya tersebut. Dan ketahuilah, berkisah menggunakan akal tidaklah semudah yang dibayangkan.

Lebih daripada itu, kadang kala perlu untuk difikirkan menggunakan akal sehat kepada siapa tepatnya manusia harus berkisah. Telah dissampaikan sebelumnya bahwa manusia berkisah kepada sesamanya karena ada hasratnya untuk tetap hidup. Namun, sudah tepatkah manusia tempat ia berkisah. Sulit untuk mengatakan tidak bahwa ada perangai lain yang menjerumuskan manusia kepada kesesatan setelah ia berkisah panjang lebar, sementara ada pula yang menuntun ke arah kebaikan yang tiada tara. Lantas bagaimana manusia tahu perangai yang tepat untuknya berkisah. Adalah perangai yang senantiasa mengutamakan menggunakan budi pekerti serta akalnya yang berasal dari Tuhannya tersebut. Perangai yang seperti itulah yang sepantas-pantasnya tempat untuk manusia berkisah. Janganlah terkecoh lantaran perangai yang mapan serta tampan, hal duniawi semacam itu belum cukup untuk menjamin. Manusia yang baik, berfikir terlebih dahulu menggunakan akalnya kepada siapakah orang yang tepat untuk diajaknya berkisah, dan memahami kisah-kisahnya tersebut.

Satu hal yang menjadi pengingat, kisah-kisah yang dilontarkan tersebut sangatlah elok untuk dipahami, dipelajari dan direnungkan. Kisah manusia tidaklah selalu sama dan tidaklah selalu berbeda. Artinya, akan ada sejatinya benang merah yang ada dalam kisah-kisah manusia tersebut. Benang merah tersebut yang seyogyanya perlu untuk digali dan dipelajari untuk kehidupan sendiri. Belajar dari kisah manusia agar menjalani hidup semakin lebih baik, merenungi kisah manusia agar ketentraman hidup tercapai sebaik mungkin, bahkan meneladani kisah manusia agar hakikat hidup digenggamnya dan menjadi jalan terangnya di akhirat nanti. Tapi catatannya adalah semua kisah tersebut haruslah kisah-kisah yang memiliki nilai positif, yang memiliki unsur-unsur kebenaran hakiki.

Nyatanya, kisah yang menjadi bagian hidup manusia pasti akan dibagikannya kepada sesamanya. Dengan cara apa pun kisah itu disampaikan hendaknya utamakan akal di dalamnya. Terlebih lagi, berkisah jangan lah sembarangan, pilihlah manusia yang tepat perangainya untuk menjadi tempat berbagi hidup, sehingga ia pun mampu belajar darinya demi terciptanya kemaslahatan umat manusia.  

Komentar