Bekerja, Cara Menghabiskan Hidup.

Hingga saat ini banyak sekali orang-orang di muka bumi ini masih sering memikirkan tentang bagaimana caranya menghabiskan hidup. Pertanyaan yang berbondong-bondong datangnya tentang hal tersebut kerapkali menjadi beban, walaupun tak sedikit orang yang tidak ambil pusing tentang menghabiskan waktu hidup di dunia. Cara mereka menghabiskan hidup sangatlah relatif wujudnya, artinya sangat bergantung pada akal fikiran, hati dan lingkungan yang membentuknya. Sungguh benar memang kiranya akal, hati dan lingkungan adalah hal-hal yang berperan terhadap hidup orang-orang di dunia ini, di mana itu semua yang mampu menggerakkan segala aktivitas mereka.

Ada sebagian orang hanya ingin menghabiskan hidup di dunia ini dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Tiada hari tanpa bekerja. Jika tidak bekerja orang tersebut, maka ia merasa hidupnya hampa atau tidak berarti sama sekali. Bekerja menghasilkan karya, uang atau apapun namanya itu adalah DNA di dalam tubuhnya. Orang-orang yang demikian senang jika harus bangun pagi dan pulang larut malam hanya untuk bekerja. Apapun pekerjaan yang dilakukan, ia akan sepenuh hati melaksanakannya. Tengok saja orang-orang yang ada di negara Jepang, hampir semua pendudukanya berpredikat sebagai workaholic atau pencandu kerja. Malu kiranya mereka jika hidup tidak bekerja, bahkan ada pula yang tak segan membunuh dirinya sendiri jika tidak bekerja atau tidak mendapatkan pekerjaan. Terlebih lagi, telah banyak media yang memberitakan bahwa para remaja sekolah menegah sembari mereka belajar di sekolah, pada jam-jam sepulang sekolah mereka memiliki aktivitas sampingan, yakni bekerja. Dan dari bekerja itulah mereka mampu membiayai kehidupan mereka sendiri. Seolah memang lingkungan hidup yang demikian membentuk pola pikir dan hati orang-orang di setiap generasi ke generasi.

Sebenarnya jika ditelaah lebih dalam pastilah ada alasan awal mengapa cara hidup yang demikian ada wujudnya. Secara teoritis, ada sebab maka ada akibat. Orang yang menghabiskan hidupnya untuk bekerja tentunya memiliki alasan. Mungkin, pada masa sekarang orang menjadi workaholic karena tuntutan zaman. Kebutuhan hidup sudahlah banyak dan mahal, oleh karenanya untuk mendapatkan kebutuhan tersebut bekerja menjadi cara utamanya. Orang bekerja sangat keras dan tidak mengenal waktu hanya ingin memperoleh apa yang menjadi kebutuhannya. Gaji yang didapatkannya dijadikan alat tukar membeli barang atau jasa yang diinginkannya. Tak sadar olehnya bahwa menghabiskan hidup dengan bekerja adalah keutamaannya di dunia. Selain itu, mulanya bekerja menjadi media untuk mendapatkan kebutuhan berubah menjadi bekerja adalah suatu kesenangan hidup. Orang-orang yang awalnya mengeluh karena beratnya satu pekerjaan, sekarang mengeluh lantaran tidak banyak pekerjaan yang dilakukannya. Lihat saja, sudah banyak orang di dunia yang memiliki lebih dari satu mata pencaharian. Sembari melakukan pekerjaan A, orang-orang juga melakukan pekerjaan B. Jika memang mengatasnamakan kebutuhan yang banyak kiranya itu terlalu berlebihan. Manusia memang sukar untuk mengontrol kebutuhannya, namun di zaman ini akal manusia sudahlah lebih baik dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya. Maksudnya manusia pastilah memahami dan mengetahui mana kebutuhan yang menjadi prioritasnya. Dengan pekerjaan A saja sebenarnya kebutuhannya bisalah tercukupi dengan baik. Jika demikian mengapa perlu pekerjaan B. Pada konteks ini sudahlah jelas bahwa orang-orang sangat mencintai aktivitas bekerja, bekerja dan bekerja.

Di sisi lain, orang yang memiliki pekerjaan pada zaman ini kiranya dipandang baik oleh sesamanya. Apa lagi jika pekerjaan tersebut lebih dari satu, sungguh sanjungan yang terucap sari sesamanya itu. Berbeda halnya jika orang tidak berstatus sebagai pekerja, gunjingan yang kerapkali muncul dari orang-orang di sekitarnya. Hidup untuk bekerja sudah menjadi kebanggaan bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika ditanya orang, “kamu bekerja di mana? Sebagai apa?”, dan apabila hanya dijawab yang demikian, “saya bekerja di perusahaan A, sebagai customer service”, orang lain akan menganggap hal tersebut biasa. Sebaliknya jika jawabannya yang demikian, “saya bekerja penjual roti, penjual pulsa dan clening service”, akan akan kecendurungan orang yang mendengarnya terkejut dan melebeli orang tersebut dengan pekerja yang hebat, walaupun jabatannya rendah. Hal tersebut karena ia memiliki tiga pekerjaan. Ada kebanggan tersendiri yang demikian wujudnya. Maka berbondong-bondonglah orang-orang bekerja, mendapatkan banyak pekerjaan yang lebih dari satu adanya. Senang kiranya mereka bekerja, menghabiskan masa hidupnya dengan bekerja. Bekerja dalam hidup orang adalah keutamaan.


Menghabiskan hidup dengan bekerja adalah sah-sah saja. Karena benarlah jika tiap orang memiliki filosofi hidupnya masing-masing. Bekerja adalah filosofi hidup pada kebanyakan orang sekarang. Hidup bukan untuk berdiam diri tanpa menghasilkan sesuatu, hidup itu untuk beraksi, bekerja, mengerjakan sesuatu. Bekerja, bekerja dan bekerja. 

Komentar

  1. Ya, kebiasaan bekerja sering kali membuat orang-orang tak tahan pada hari libur. Di paragraf ketiga, menurut wahda sangat bagus, hanya saja Wahda ingin menambahkan bahwa “orang-orang yang bekerja lebih dari satu pekerjaan yang di lakoni setiap harinya itu krn faktor adanya tanggungan yang harus menghidupi orang lain, seperti halnya keluarga”.

    Hehee, BTW di paragraf ke-empat, kata “akan” nya double 😂.
    Terlepas dari itu, Kerenn banget.
    Sukses yaa, jangan berhenti menulis kakakku!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bekerja bagi sebagian orang adalah kesenangan tersendiri dalam hidupnya, tentunya bekerja dengan passion mereka. Dan lagi, terkadang bekerja adalah aktivitas yang mampu membuat manusia mengerti akan makna mengapa ia hidup. Anyway, terima kasih atas masukannya, akan jadi pembelajaran untuk menulis ke depannya.

      Hapus

Posting Komentar