Manusia
adalah kajian yang sangat unik untuk dibahas. Kajian tentang manusia tidak akan
pernah habis untuk deselidiki karena manusia selalu berubah, selalu berkembang
dan selalu berfikir. Sudah menjadi watak manusia untuk berusaha mencari
tahu,mencari jawaban dari apa yang ia permasalahkan. Manusia adalah makhluk
mencari. Meskipun ia sudah menemukan, ia akan tetap mencari sesuatu yang baru. Bahkan,
tidak jarang ada manusia yang tidak bisa menahan keingintahuannya terhadap
sesuatu. Dalam kata lain, manusia tidak akan pernah puas dengan hasratnya
mencari tahu tersebut. Hal tersebut bukan tanpa alasan pastinya, ketahuilah
manusia diciptakan di dunia ini dengan akal yang telah melekat pada dirinya. Dan
oleh karena akalnya itulah ia berusaha mendapatkan apa yang ia cari. Akal inilah
jika digunakan dengan baik mampu menjadikan manusia tersebut sebaik-baik
manusia, sebaliknya manusia tak ubahnya seperti hewan jika tidak menggunakan
akalnya dengan baik.
Sungguh
ironi, dengan akal yang begitu luar biasa tersebut, masih ada golongan manusia
yang jarang menggunakan akalnya untuk hidup. Sebagai renungan, manusia yang
semakin bertambah usianya semakin enggan berfikir dengan akal, ia semakin acuh
dengan dunia ini. Bukankah manusia semakin tua semakin banyak ilmunya dan
pengalamannya. Manusia bertambah dewasa merasa terbiasa dengan dunia, alam
semesta. Dunia dan seluruh isinya dianggapnya hal yang biasa, tak lagi takjub,
bahkan tak lagi ada indah-indahnya. Manusia yang demikian adalah manusia yang
tidak peka terhadap akalnya sendiri. Sehari-hari manusia hidup dengan
tanda-tanda yang luar biasa dari alam. Siang dan malam yang sebagaimana hasil
ciptaan Tuhan tak lagi menjadi alasannya akan kebesaran Tuhannya. Selain itu,
dunia ini adalah ciptaan Tuhan, dunia ini memberikan beberapa realitas waktu
yang berbeda-beda dari sebab rotasi bumi, dan tidak takjubkah manusia terhadap
hal tersebut. Perbedaan waktu tersebut seolah-olah membuat manusia hidup dalam
tiga zona waktu, yakni masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Tuhan adalah
zat yang Maha luar biasa dalam penciptaan-Nya. Dari sekian banyaknya tanda
tersebut, manusia masih saja tidak peka terhadapnya. Akal yang menjadikan
manusia itu baik nyatanya tidak ia pergunakan. Setidaknya jika memang tidak
tahu jawaban dari tanda-tanda tersebut, pertanyakannya dan kemudian mencarilah.
Faktanya, miris.
Malulah
manusia yang tua tersebut, malulah manusia yang dewasa tersebut kepada anak
kecil. Anak kecil yang baru mampu menggunakan akalnya seringkali mempertanyakan
perihal dunia dan isinya, dan mengherankan bukan lantaran anak kecil itu
bertanya demikian melainkan orang dewasa yang ditanyainya tak mampu
menjawabnya, malahan seringkali mereka mengalihkan perhatiannya. Anak kecil
tersebut mencari dunia dan menemukan jawabannya sendiri dengan indranya,
melalui pengalamannya. Walaupun akal yang digunakannya tak bisa seluruhnya
membantunya, tapi setidaknya ada upayanya untuk mencari dengan aktif. Di
samping itu, pada zaman dahulu telah banyak para pemikir, para filosof besar
menggunakan akalnya untuk mengungkap rahasia dunia. Meskipun dengan
keterbatasan alat atau teknologi, mereka dengan akalnya mencari tahu. Peradaban
manusia pada masa itu telah diketahui sangat berbeda dengan masa sekarang ini. Filosof-filosof
tersebut berlomba-lomba, berfikir, dan menolak sekedar menjadi seonggok daging
yang memiliki nama. Bukankah manusia sekarang bisa belajar dari mereka. Dan itu
kiranya yang dapat menjadikan peradaban manusia menjadi berkembang lantaran
belajar, berfikir dengan akalnya. Lihat saja dengan seksama, zaman modern ini
telah banyak ilmuwan yang melakukan penelitian. Melalui penelitian tersebut,
kemaslahatan manusia kerap kali tercapai. Sekarang ini, bangsa yang sering
melakukan penelitian dan hasil penelitiannya disebarkan ke sesamanya adalah
menjadi peradaban bangsa yang maju. Bangsa yang besar karena mempergunakan
akalnya untuk mencari jawaban dari apa yang menjadi permasalahan di sekitarnya.
Ilmuwan pada masa ini memberikan sumbangsih yang besar melalui akalnya untuk
mencari tahu tentang dunia dan alam semesta. Akallah yang menjadikan ini semua.
Akal.
Manusia hendaknya mempergunakan akalnya untuk kebaikan. Hawa nafsu yang manusia
miliki hendaknya diikat dengan akalnya, dan akal manusia hendaknya diikat
dengan hati nuraninya. Manusia adalah bagian dari alam, maka akal juga bagian
dari alam. Jika ingin mengetahui tentang alam, maka akal adalah alatnya. Manusia
janganlah asal menikmati hidup, nikmatilah hidup dengan akal itu. Oleh karena
itu, kebenaran hidup ini, carilah dengan akal yang baik.
Komentar
Posting Komentar