Menetapkan Tujuan

Tidakkah manusia mengetahui bahwa manusia hidup memiliki tujuan. Sayangnya, manusia menerjemahkan tujuan ini dengan berbagai macam bentuk, dan itu tergantung dengan lingkungannya. Dan sangatlah benar adanya, lingkungan manusia sangat mempengaruhi pemikran dan bahkan tingkah lakunya sehingga tujuan itu terdengar sangat relatif di matanya. Sebenarnya tujuan tidaklah relatif, tujuan bersifat kongkrit atau pasti, yang menjadikan itu terlihat relatif adalah upaya manusianya untuk mencapai tujuan tersebut. Sungguh benar bahwa menetapkan tujuan tidaklah mudah, terlebih lagi mempraktikkannya. Itulah sebabnya manusia perlu untuk belajar, belajar agar ia mampu menetapkan tujuannya, tujuan hidupnya di dunia ini.

Sampai sekarang masih banyak manusia yang terjebak di dalam menetapkan tujuan yang umum atau subyektif. Mestinya agar tujuan itu bisa lebih mudah diraih oleh manusianya, tujuan tersebut haruslah spesifik, sedetail mungkin dan sejelas mungkin, atau bisa dikatakan obyektif. Contoh tujuan subyektif adalah “aku ingin menjadi orang sukses”. Frasa tersebut sering kali terdengan di lingkungan manusia dewasa ini. Padahal semestinya mereka tahu bahwa definisi sukses ini masihlah sangat general, pasti manusia akan susah untuk membayangkannya. Dan inilah yang seringkali menyebabkan manusia tidak mencapai tujuannya tersebut. Sebaliknya, jika menerapkan tujuan obyektif seperti “dalam masa 3 tahun, aku akan bekerja sebagai tenaga pengajar di UGM jurusan kelautan”, sungguh hal ini akan lebih jelas diterima dalam akal manusia, sehingga upaya-upaya yang ia rencanakan akan jelas juga mengikutinya. Dalam kata lain, possibility pada tujuan obyektif jauh lebih besar persentasenya. Tidakkah dari ini manusia merubah tujuannya ke arah yang lebih khusus lagi. Manusia mana yang tidak ingin mencapai tujuannya, manusia haruslah pandai untuk menetapkan tujuannya.

Berbicara tentang tujuan obyektif tentu akan menarik karena sebenarnya ada tiga ranah tujuan yang terkandung di dalamnya. Tiga ranah tujuan obyektif tersebut adalah tujuan hasil, tujuan kinerja dan tujuan proses, di mana ketiga hal tersebut walaupun berbeda tetapi tetap bersinergi, tetap berkesinambungan. Banyak manusia yang telah mengalami ini di mana ia hanya mementingkan hasilnya saja, asal tujuan tercapai habis segala perkara yang lain, tak dihiraukannya hal-hal yang lain kecuali hasil akhirnya, maka yang demikian dinamakan tujuan hasil. “tujuanku adalah menang”, itulah contoh tujuan hasil yang mana menang adalah hasil akhir yang menjadi tujuannya, tidak perlu memikirkan bagaimana ia bisa memenangkannya. Tujuan yang seperti ini membuat manusia menggebu-gebu, berapi-api, atau bisa dikatakan memiliki motivasi yang amat tinggi, namun sayangnya itu semua hanyalah sementara, tidak untuk jangka panjang, tidak mampu membuat komitmen manusia bertahan dalam waktu yang lama. Selanjutnya, tujuan kinerja ini agaknya membuat manusia selalu ingin membandingkan kemampuan dirinya dengan kamampuan yang dimiliki oleh manusia lainnya atau kemampuan yang dimilkinya sendiri di masa lampau. Ringkasnya, tujuan kinerja akan memunculkan suasana yang kompetitif bagi manusia yang menganutnya. Anehnya, tujuan ini lebih fleksibel. Artinya manusia yang memasuki ranah tujuan ini mampu menyesuaikan dirinya dengan kebutuhan agar melampaui kinerja yang dimiliki pesaingnya. Dan terakhir adalah tujuan proses di mana pada tujuan ini manusia akan berfokus pada proses-proses yang dilakukannya atau tindakan-tindakan yang menjadi tujuannya tersebut. Sebagai contoh pada tujuan proses ini adalah ketika bertujuan ingin menjadi dosen, maka tujuan prosesnya adalah memfokuskan diri dengan belajar, mengasah kemampuan, keterampilan serta keilmuan untuk menjadi dosen tadi.


Manusia hendaknya memang memiliki tujuan dalam peri kehidupannya di dunia ini. Namun, manusia juga hendaknya berpandai-pandai dalam menetapkan tujuannya tersebut, tidaklah asal saja menetapkan suatu tujuan, maka celakalah nantinya manusia yang demikian. Dalam menetapkan tujuannya, manusia perlu menggunakan akalnya dengan matang, dengan bijak lebih-lebihnya, sehingga harapannya tujuan tersebut bisa jelas untuk diintepretasikan di kehidupan nyata ini. Manusia yang baik dalam menetapkan tujuan sebaiknya menggabungakan ketiga unsur tujuan obyektif, yakni hasil, kinerja dan proses agar manusia tahu bagaimana bersikap ketika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, atau agar manusia benar-benar bisa mengetahui ketepatan akan tujuannya tersebut bagi dirinya sendiri. 

Inspired by: Weinberg, R. S., & Gould, D. (2011). Foundations of Sport and Exercise Psychology (5th ed.). USA: Human Kinetics.

Komentar