Mengenallah Sastra

Membicarakan sastra tentu akan terbesit pemikiran tentang puisi, prosa, pantun, syair, hikayat ataupun drama. Memang saja, dari apa yang telah disebutkan tersebut merupakan produk-produk dari sastra atau bisa dikatakan karya sastra. Di Indonesia sendiri karya-karya sastra tersebut sudah umum di telinga masyarakatnya. Sayangnya, masyarakat yang disebutkan tersebut atau yang cukup umum mendengar atau mengetahui karya sastra adalah yang tertentu saja kaum-kaum tua dan para budayawan. Sungguh ironi, tidak banyak para remaja di Indonesia mengenal atau mau menyentuh hal-hal yang berbau sastra. Apa lacur, zaman seperti sekarang ini para remaja lebih tertarik dengan teknologi ketimbang mengungkap keindahan estetika akan sesuatu. Padahal sejujurnya, sastra adalah bidang kajian yang tak kalah wujudnya dengan teknologi-teknologi yang telah ditemukan para ilmuwan.

Pada esai ini rupanya penulis tidak akan membahas pengertian perihal sastra secara mendalam, karena sadarlah bahwa penulis memang kurang tahu-menahu secara detail akan sastra itu sendiri. Selain daripada itu, esai ini memanglah tidak akan menguraikan tentang kaidah sastra. Namun perlu sedikit untuk dijelaskan kembali hanya sekedar untuk mengingat bahwasannya pengertian sastra adalah pengungkapan ekspresi mengenai keindahan melalui bahasa, di mana bahasa di sini bisa diwujudkan dalam bentuk tulisan maupun oral.

Telah penulis ungkapkan di atas sebelumnya bahwa sekarang ini bisa dilihat adanya kesenjangan minat para remaja terhadap sastra. Kesenjangan ini mungkin ada banyak faktornya. Salah satu faktor tersebut adalah kebudayaan dari manusianya. Budaya manusia saat ini bisa dibilang sangat erat kaitannya dengan hal-hal yang berbau materialis atau apapun yang hanya bisa ditangkap dengan akalnya saja. Sementara faktanya, sastra tidak hanya berbicara tentang akal manusia melainkan juga perasaannya karena sastra adalah ungkapan keindahan melalui bahasa. Keindahan bisa dirasa dengan perasaan, batin dan hati manusia. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Aristoteles bahwa sastra adalah bagian dari kegiatan agama, ilmu pengetahuan dan filsafat. Jika seseorang menciptakan karya sastra untuk mengungkapkan keindahan dengan hanya menggunakan akal saja, maka haq dan bathil saja yang ia peroleh. Berbeda ceritanya jika ia mengombinasikan akal serta batinnya dalam wujud sastra, niscaya hakikat kebenaran yang ia dapatkan, insyallah.

Sesungguhnya yang demikian itu, yakni menciptakan karya sastra dengan menggunakan hati dan fikiran, jauh sebelumnya dilakukan oleh bukan dari kalangan sastrawan tapi dari kalangan pemuka agama atau ulama-ulama Islam. Ulama-ulama yang dimaksud tersebut adalah para ahli tasawuf. Kiranya sedikit penulis terangkan di sini, inti arti tasawuf menurut Buya Hamka adalah kesatuan hamba dengan Tuhan, dipatrikan oleh rasa cinta yang murni kudus, menghadapi perjuangan hidup dengan hati besar dengan insyaf akan “tempat asal mula jadi”. Dalam kata lain, tasawuf adalah ilmu tentang kebatinan atas cinta kepada Tuhan. Ajaran tasawuf ini dibawa oleh ulama-ulama Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya. Mereka banyak menuangkan kecintaannya kepada Tuhan atau ajaran tasawufnya tersebut dalam bentuk syair-syair. Tengok saja ulama dari tanah Arab yang sangat terkenal seperti Jalaluddin Rumi dan Al-Ghazali. Ajaran tasawuf beliau dalam bentuk karya-karya sastra sangat digandrungi oleh para pengikutnya atau murid-muridnya. Inilah yang sebenarnya penulis ingin ungkapkan bahwa akal dan hati yang murni yang jika dituangkan dalam bentuk sastra akan mampu memberikan kebenaran yang haq. Sastra adalah perihal akal dan hati perasaan.

Di samping itu, seiring kebudayaan filsafat Yunani yang juga terus berkembang karena banyak para filosofnya yang belajar ke negeri-negeri Arab, sehingga itu pulalah yang menjadikan sastra berkembang. Yang mulanya sastra bertalian erat dengan ajaran agama, kini tiada sangkut pautnya lagi dengan agama. Benarlah peran dari pemikiran filsafat yang mempengaruhi wujud dari sastra tersebut. Terlebih lagi setelah renaissance di benua biru Eropa. Aliran-aliran filsafat banyaklah bermunculan, serta banyak juga para pengikutnya. Hal ini disebabkan oleh semakin bebasnya pemikiran manusia yang tidak ingin sama sekali dibatasi, bahkan oleh agama sekalipun. Alhasil, sastra juga dipengaruhi aliran-aliran filsafat tersebut. Ambil contoh, aliran romantisme sangatlah merubah wajah sastra. Mungkin telah sering didengar dan dilihat karya sastra romansa “Romeo dan Juliet” karangan Willian Shakespeare, bahkan karyanya ditungkan juga ke dalam bentuk drama sehingga terlihatnya begitu nyata karya besarnya ini. Tidak sedikit orang pada zaman itu menyebutnya sebagai pendobrak sastra modern. Dan dari karya sastranya itulah orang-orang yang sebelumnya tidak mengetahui sastra, tertarik untuk mengenalnya lebih dalam dan bahkan mengkajinya. Wajah sastra yang baru ini dengan yang lama walaupun sama-sama mengungkapkan suatu keindahan atau cinta, tapi esensinya sangatlah berbeda. Mulanya sastra adalah pujian keindahan atau cinta kepada Tuhan, sekarang ungkapan cinta dan keindahan akan sesama manusia saja.

Kesenjangan minat pada remaja terhadap sastra perlulah untuk diatasi dengan baik agar para remaja tahu hakikat sebenarnya fungsi dari sastra. Memanglah sudah banyak dalam lingkungan perguruan tinggi mengenai program studi terkait sastra. Namun tetap saja yang akan mengetahui fungsi dari pada sastra hanyalah dari golongan mahasiswa saja, tidak pada remaja dalam konteks umum. Inilah tugas yang diemban para mahasiswa sastra, cendekiawan sastra, akademisi sastra dan sastrawan tentunya untuk lebih kurang menyadarkan pentingnya sastra kepada khalayak ramai, khususnya remaja-remaja.


Pada dasarnya sastra adalah ilmu pengetahuan, di mana fungsinya secara umum adalah memberikan jalan mencapai kebenaran yang sesungguhnya. Dengan ilmu tersebut, manusia akan menjadi lebih baik, setidaknya tahu-menahu perihal baik dan buruk. Dan itulah yang akan terjadi jika remaja juga mempelajari sastra atau berkecimpung di dalam dunia sastra. Remaja tersebut sudah mengetahui hakikat mana yang baik dan buruk untuk dirinya maupun untuk orang juga. Remaja yang telah banyak menelurkan karya sastra bisa dilihat selain berprestasi, ia akan jua memberikan kemaslahatan bagi sesamanya. Pada dasarnya juga sastra adalah bagian dari filsafat. Filsafat akan memberikan pemikiran yang mendalam tentang mencari dan mendapatkan kebenaran yang haq di dunia ini. Sastra yang seperti dibuat oleh Rumi telah banyak menuntun umat manusia menuju jalan yang sebaik-baik jalan, yaitu jalan kebenaran (Tuhan). Bisa dibayangkan sendiri, andai banyak remaja yang mendalami sastra yang seperti demikian ini, karya sastranya adalah benar-benar kemurnian diri, ungkapan keindahan cinta akan Zat Yang Maha Perkasa beserta seluruh alam ciptaan-Nya, karya sastra yang begitu besar pastinya. Terlebih lagi, perangai diri remaja yang menggeluti sastra inilah yang sebaik-baik perangai. Ilmu sastra, ilmu duniawi yang diperjuangkannya adalan jalannya untuk tunduk kepada Sang Pencipta, Allah SWT.

Komentar