Bergumam
dalam sebuah momen diskusi. Tidak tahu apa sebaiknya yang harus terlontar dari
mulut lincah ini. Berfikir itu pasti, namun apa yang harus difikirkan ini. Kerapkali
dalam setiap diskusi orang-orang mengutarakan omongan kosong, tidak jarang pula
kata-kata yang menyinggung filosofi. Dalam makna kiranya yang terakhir itu,
tapi itulah yang dinikmati kebanyakan orang dalam berdiskusi. Gaya gumaman
orang yang penuh pandangan filosofis pun sulit diterkan. Tunggu, untuk apa
memikirkan gaya gumaman orang yang demikian, acuh sajalah.
Sekali
lagi jangan terkecoh, saat ini bukan waktu yang tepat membicarakan seseorang
dalam berdiskusi. Jauh sebelum dari pada itu, sebelum seseorang ingin
berdiskusi dengan seseorang yang lain, entah yang dikenalnya dengan baik,
kurang baik, bahkan tidak dikenalnya sekalipun. Hendaknya ini adalah momen,
dalam pandangan yang subyektif, untuk mengutarakan seberapa sering seseorang
mempertanyakan sesuatu. Mempertanyakan apapun yang ingin ditanyakan baik dalam
rangka mencari jawaban atau bahkan sekedar bertanya tanpa mengharapkan jawaban,
atau setidaknya mengharapkan balasan apapun itu bentuknya.
Ada
pepatah kuno, “Malu bertanya sesat di jalan”, dari pepatah tersebut bisa dikatakan
sungguhlah penting sebuah pertanyaan terhadap hidup seseorang. Tak bertanya
akan sesatlah orang tersebut. Sebaliknya, bertanyalah maka akan baik-baik saja
hidup ini. Mempertanyakan hal-hal yang besar maupun kecil tidak usahlah menjadi
permasalahan, intinya dari bertanya itu sampaikanlah. Inti dari pertanyaan akan
membuat orang tersebut tidak terjerembab dalam lubang kesesatan. Mungkin saja
hal itu benar, tapi apakah itu memang benar sebenar-benarnya. Sayangnya, seseorang
bertanya bertujuan untuk menyesatkan seseorang lainnya. Kalau memang seperti
itu, lantas bagaimana bertanya yang tidak sesat. Pepatah kuno sepertinya perlu
dipertanyakan.
Jikalau
difikirkan seberapa sering orang bertanya dalam masa satu hari pastilah tidak
terfikirkan jawabannya. Bagaimanapun, pantaskan hal tersebut dipertanyakan oleh
seseorang. Pantas-pantas saja orang bertanya. Hai kawan, seseorang bertanya
terkadang tidak untuk diberi jawaban, melainkan hanya sekedar mempertanyakan
isi otaknya saja. Risau, janganlah dirisaukan orang yang bertanya demikian,
maka bertanyalah kembali ke orang tersebut. Membalas pertanyaan dengan
mempertanyakan pertanyaan. Bertanyalah.
Tidaklah
perlu ragu untuk bertanya. Ayo bertanya.
Komentar
Posting Komentar