Tiada
mengerti dewasa ini bahwasannya kerap kali manusia mengeluh. Mengeluh dengan
keadaannya. Bisa dikatakan manusia tidak begitu puas dengan apa yang telah
dimilikinya di dalam kehidupan ini. Memang benar kata orang bahwa rasa puas
manusia tidak akan pernah bisa diobati, karena memang hal itu bukanlah sebuah
penyakit. Akan tetapi pasti ada yang salah mengapa hal tersebut bisa terjadi
pada kehidupan manusia. Sedangkan faktanya, apa yang telah diberikan oleh Tuhan
kepada manusia sangat cukup, bahkan bisa dibilang lebih.
Masalah
manusia akan kepuasan, masalah manusia akan tidak terbatasnya kebutuhannya
sudah menjadi momok besar yang dihadapi manusia seiring manusia semakin lama
hidup di bumi ini. Manusia dengan segala kemampuannya akan sulit menghindari
permasalahan seperti ini. Perlu diketahui bahwa manusia memiliki kepentingannya
masing-masing dalam menapaki hidup ini, dan atas dasar itulah manusia akan
menemui permasalahan atas kepentingannya tersebut. Karena sudah barang pasti
bahwa jalan manusia mencapai kepentingan tidak akan semulus yang ia bayangkan. Menilik
permasalahan ini adalah berasal dari diri manusia itu sendiri, namun tidak
menutup kemungkinan masalah manusia ini bisa dipengaruhi dari lingkungan luar
manusia yang bersangkutan tersebut.
Seringkali
dilihat setelah membeli barang baru, manusia akan menikmatinya, lama-kelamaan
manusia akan melihat cacatnya barang tersebut, dan lama-kelamaannya juga
manusia tersebut akan terbiasa dengan barang yang telah dibelinya tersebut
sehingga kemungkinan tersbesarnya manusia akan bosan dengannya, dan dapat
disimpulkan setelahnya manusia tersebut akan mencari barang yang lebih baik
dari sebelumnya, dan begitu seterusnya. Apakah memang seperti itu seharusnya
manusia??
Pada
aspek ini tidak usahlah membahas apa yang terjadi di luar lingkungan manusia,
melainkan fokus terhadap apa yang terjadi di dalam diri manusia untuk
menjelaskan permasalahan di atas. Agaknya memang perlu dijelaskan secara gambling
bahwa akar dari permasalahan ini adalah terletak pada batin manusia atau hati
manusia tersebut. Di samping itu, akal manusia juga menjadi salah satu penentu
munculnya permasalahan perihal kepuasan manusia yang tak kunjung reda bahkan
selalu berapi-api setiap harinya. Singkatnya dalam konteks ini, hati manusia
gagal untuk mengatur akalnya, serta akal manusia gagal untuk mengatur nafsunya.
Sungguh ironi terlihat.
Konsep
dasarnya ialah bahwasannya nafsu haruslah diikat oleh akal, dan akal tersebut
haruslah diikat oleh hati. Jika hal tersebut benar-benar terjadi maka jangan
terkejut jika yang muncul adalah kebijaksanaan diri. Sayangnya, dalam
permasalahan ini nafsu manusia-lah yang berdiri di atas podium tertinggi,
sehingga gampang saja manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang
dimilikinya. Seyogyanya adalah bahwa akal dan hati harus di atas nafsu. Bukankah
jika manusia menuruti hawa nafsunya, maka manusia itu bisa dikatakan lebih
rendah dari pada binatang. Sebaliknya jika manusia dalam berperilaku dengan
memperturutkan akal dan hati, niscaya derajat yang tinggi akan didapatkannya. Secara
umum tugas akal adalah menimbang mana yang baik dan mana yang buruk. Andai manusia
menggunakan akal maka pintu kebaikan akan diperolehnya. Sementara tugas hati
secara garis besar adalah mengarahkan manusia kepada kebaikan. Dan andai
manusia menambahkan akal dengan hati sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak
hanya pintu kebaikan, melainkan manusia mamperoleh kenikmatan untuk mengarungi
kebaikan yang ada di balik pintu kebaikan tersebut.
Untuk
saat ini tinggal bagaimana memelihara akal dan hati tersebut adalah tugas
manusia itu sendiri. Bila tidak ingin terjebak dalam lingkaran nafsu, bila
tidak ingin terjebak dalam rasa ketidakpernahan puas akan suatu nikmat Tuhan,
maka sering-seringlah memelihara akal dan hati. “olahragakan” akal dan hati
agar mereka senantiasa sehat. Akal adalah bagian dari jasmani manusia, oleh karena
itu olahragakan jasmani. Sedangkan hati adalah bagian dari rohani manusia, maka
olahraganya adalah dengan beribadah. Dalam arti kata lain, senantiasalah
mendekat kepada Tuhan, Sang Pemberi Segala Kenikmatan. Tegakkan akal dan hati,
tegakkan selalu.
Komentar
Posting Komentar