Manusia
diciptakan oleh Tuhan sangatlah beragam. Perlu digarisbawahi di sini
keberagaman yang dimaksud adalah dalam konteks kemampuan. Benarlah memang
setiap individu di dunia ini memiliki kemampuannya masing-masing, dan setiapnya
pula tidak sama satu sama lain. Sangatlah unik Tuhan menciptakan manusia
seperti ini. Bukankah keberagaman ini bisa dijadikan alat untuk manusia saling
berkolaborasi, dan justru bukan untuk berkompetisi. Manusia dengan segala
kemampuannya tersebut menjadikannya manusia yang berarti di dunia ini. Tidak jarang
manusia berusaha untuk selalu memahami, memaksimalkan serta menjelajahi secara
mendalam perihal kemampuannya tersebut.
Di
sisi lain, tidak sedikit pula manusia yang merasa bahwa ia tidak diciptakan
memiliki kemampuan selayaknya manusia yang lain. Sungguh ironi sekali manusia
yang seperti ini, terlebih lagi sungguh merugi manusia yang tidak mampu melihat
akan dirinya sendiri. Sekali lagi, masih banyak manusia yang tidak sadar akan
kemampuannya. Bagaimana mungkin hal tersebut terjadi. Sejatinya manusia yang
sadar akan kemampuannya akan begitu mudah menjalani kehidupan ini, kehidupan
yang begitu keras adanya ini. Selain itu, kemampuan yang ia sadari mampu
membantunya dalam meraih prestasi hidup yang telah ditargetkannya sebelumnya.
Maka merugilah manusia yang tidak sadar itu. Tidak bisa disalahkan sepenuhnya
memang manusia yang demikian itu, bahwa memang belumlah ia memiliki pemikiran
yang begitu mendalam, serta hati yang begitu terbuka. Mungkin memang karena
lingkungan hidupnya yang demikian yang membuatnya seperti itu.
Perlu
untuk sedikit dibahas di sini bahwasannya yang dikatakan kemampuan manusia
adalah derajat seseorang dalam konteks atribut fisik, fisiologi, psikologi dan
kecerdasan di mana hal tersebut mampu menunjang kinerja. Selain itu, kemampuan
manusia sebenarnya muncul dari orang tuanya, dalam arti kata lain pembawaan genetik.
Kemampuan ini diturunkan secara genetik dari orang tua, sebagai contoh,
seseorang yang memiliki orang tua olahragawan memiliki kecenderungan kemampuan
untuk berolahraga lebih dari orang lain yang tidak memiliki orang tua seperti
itu, sehingga kemampuannya tersebut menunjangnya dalam menjalani setiap program
latihan yang ada. Oleh karena itu, kamampuan ini sangatlah penting perannya
terhadap segala bentuk aktivitas manusia di dunia.
Manusia
sangatlah perlu untuk senantiasa terus belajar mengasah kemampuannya ini. Belajar
dari cara yang konvensional, seperti membaca buku, hingga cara yang begitu
modern menjelajahi informasi melalui internet. Belajar dalam rangka
meng-upgrade kemampuan diri akan meningkatkan kualitas diri juga secara
otomatis. Jika hasil dari belajar tersebut adalah sebuah kegagalan, maka tidak
layak manusia itu berhenti, justru haruslah ia menambah belajarnya demi
kemampuannya tersebut. Dalam belajar, manusia memiliki alat yang telah
diberikan Tuhan untuknya, alat belajar tersebut teramat-sangat luar biasa
keberadaannya. Alat belahar yang dimaksud adalah panca indra manusia. Dalam rangka
tercapainya niat meningkatkan kemampuan diri, manusia sekiranya perlu untuk
memanfaatkan keseluruhan alat indranya tersebut ketika sedang belajar. Artinya,
tidak hanya visual tentunya, peraba, perasa, pendengar pun perlu juga untuk
diikutsertakan agar proses belajar terjalin dengan begitu maksimal. Belajar ini
tidak perlu lagi diragukan oleh setiap manusia, karena ini adalah cara yang
ampuh terkait peningkatan kemampuan, dank arena cara ini juga bersinggungan
langsung dengan akal serta hati manusia.
Bagaimanapun,
bagi manusia-manusia yang belum sadar akan kemampuannya sendiri perlulah adanya
suatu tindakan yang berarti. Memang tidak bisa dipaksakan untuk langsung
belajar, walaupun begitu hebat metode yang akan digunakan nantinya. Tidak, tidak
bisa seperti itu. Sekiranya tindakan pertama yang harus diambil oleh mereka
yang demikian itu adalah tindakan perenungan diri. Yah, manusia itu seyogyanya
memang harus merenungi dirinya sendiri agar ia tahu tentang dirinya sendiri,
baik-buruknya atau seperti apapun perangainya. Jika tidak, mustahil berbicara
tentang peningkatan kemampuan. Dalam perenungan ini libatkan akal dan hati
secara baik dan bijaksana, jangan sekalipun libatkan nafsu dalam diri. Akal akan
membantu menggambarkan mana yang baik dan mana yang buruk, lantas hati akan
membantu dalam pengambilan keputusan sebaik-baiknya. Perenungan yang seperti
ini akan membuat manusia itu sadar akan dirinya, sehingga sadar pula perihal
kemampuannya yang sesungguhnya. Langkah tindakan yang kedua barulah ia bisa
memulai belajar menggunakan metode-metode yang ada. Akan tetapi perlu diingat
bahwa tidak semua metode belajar meningkatkan kemampuan itu cocok dengan
dirinya. Maka demikian, pilihlah metode belajar yang sesuai dengan keadaannya
pada saat itu, maka niscaya manusia itu akan berada pada jalan yang benar. Tidak
jauh dari tindakan tersebut, manusia juga seharusnya berupaya membentuk
lingkungan positif yang mampu mendorongnya untuk maju. Mungkin sulit, namun
yang jelas lingkungan positif ini adalah tindakan yang mampu menjaga manusia
agar tidak keluar dari jalan kebenarannya untuk meningkatkan kemampuannya.
Kemampuan
manusia perlu untuk ditindaklanjuti. Kemampuan tersebut janganlah hanya menjadi
atribut luar manusianya saja, tapi juga jati dirinya sendiri agar manusia bisa
merasakan melalui kemampuannya tersebut bahwa hidup ini memanglah punya makna. Makna
yang manusia yakini kebenarannya. Manusia dan kemampuannya.
Komentar
Posting Komentar