Suatu Ungkapan Untuk Sebuah Buku

Masih terngiang apa yang telah dikatakan oleh seorang guru Sekolah Dasar dahulu, “Banyak-banyaklah membaca buku, karena buku adalah jendela dunia”. Dan pernyataan itulah yang membuat ribuan juta anak terinspirasi untuk selalu membaca, membaca buku untuk mengetahui dunia, dunia yang dirasanya begitu besar. Apa lacur, semakin bertambahnya usia si anak, dan semakin dewasanya pemikiran anak tersebut, buku dianggapnya tak lagi menjadi jendela, buku menurutnya hanya sebuah benda berbentuk kotak yang hanya menjadi teman tatkala sendiri, dan parahnya buku hanya sebagai image untuk mem-branding diri.

Lebih ironis lagi, zaman senantiasa berganti. Zaman ini adalah masanya para teknologi canggih. Oleh karenya, eksistensi buku saat ini sangatlah terancam. Kemudahan orang-orang dalam mengakses teknologi informasi melalui internet membuat mereka memperioritaskan membaca menggunakan media ini. Selain mudah, kebanyakan mereka berdalih perihal kedetailan bacaannya. Dalam kasus ini benarkah peran buku sedang diakuisisi oleh teknologi internet saat ini??

Perlu sebaiknya menimbang dengan seksama isu seperti ini. Akan selalu ada pandangan yang kontradiksi nyatanya. Akan ada sebagian orang yang menganggap bahwa membaca melalui buku adalah cara yang konvensional, tak lagi modern, dan sungguh merepotkan. Sebaliknya, tetap masih ada yang beranggapan dengan membaca melalui buku jauh lebih baik, selain memang karena kesehatan mata, pun juga karena dengan membaca buku orang akan jauh lebih mendapatkan ‘feeling’ dari cerita atau informasi yang ada di dalam buku tersebut. Bisa dikatakan, secara mendasar membaca sangatlah baik, bahkan justru harus dilakukan untuk belajar dan menambah wawasan, namun media dalam membaca penuh dengan kontroversi yang kebenaran jawabannya adalah relative atau sangatlah bergantung kepada individu yang berpendapat pada saat itu.

Tulisan ini akan ditegaskan bahwa akan secara jelas tersirat subyektifitasnya, dan pembaca bisa membacanya sendiri. Sisi tulisan ini akan lebih banyak mengupas perihal membaca dengan media buku. Selain itu, bagi pembaca yang kontra, tak perlulah berdebat atau bahkan sampai menggunjing tulisan ini, karena memang tiadalah pembaca yang demikian tersebut menemukan titik temunya. Maka sebaiknya nikmatilah perbedaan berfikir yang ada secara merdeka.

Membaca buku masih banyak dinikmati orang-orang, bahkan untuk kalangan orang yang modern sekalipun. Banyak orang-orang di negara maju, baik akademisi maupun praktisi memilih untuk membaca melalui buku. Mereka kebanyakan mengkalim bahwasannya membaca buku akan meningkatkan kreatifitas otak. Di samping itu, walaupun buku yang ingin dibaca tersebut termasuk sukar untuk ditemukan atau dibeli, mereka tetap antusias mencari dan membelinya berapapun harga yang dibandrol buku tersebut, dan itulah seninya. Banyak juga orang-orang di luar sana, meskipun telah mendapatkan buku tersebut dalam bentuk file, tetap mencetaknya. Lucu bukan??.


Buku jauh lebih dikenal terlebih dahulu oleh orang-orang kebanyakan. Mulai dari bangku pendidikan pertama, orang-orang sudah diperkenalkan terhadap buku dan lebih-lebih pengajar merekapun menganjurkan mereka untuk membaca melalui buku. Alhasil, banyak orang-orang yang ‘ngeklik’ dengan yang namanya buku tersebut. Dalam kata lain, this is what people call as the first love.

Perlu sedikit untuk dibahas bahwasannya orang membaca karena memiliki alasannya masing-masing. Pun demikian halnya dengan buku. Buku yang mana adalah buah pemikiran dari manusia ditulis oleh mereka karena ada tujuannya. Esensinya, buku bak ibarat sebuah senjata, ia akan berbahaya jika digunakan oleh orang yang berbahaya pula, akan tetapi menjadi sebuah kebermanfaatan jika digunakan oleh orang yang baik. Dalam hal ini, buku bisa menjadi alat propaganda yang berbahaya jika ditulis oleh orang yang radikal pemikirannya. Sebaliknya buku akan menjadi alat pencerah, andaikata ditulis oleh orang yang baik-budiman. Sehingga teriring juga di dalam tulisan ini untuk senantiasa berhati-hati dalam memilih buku bacaan, terlepas apapun tujuan bagi si pembaca.

Ada hal unik dari keberadaan buku. The first, a book can show who a reader is. Orang yang suka membaca buku tentang filsafat, lebih-kurangnya dapat disimpulkan bahwa si pembaca memiliki critical thinking yang lebih, selain itu ia pula akan sering kali bertanya dan mempertanyakan. Berbeda halnya dengan orang yang cenderung menyukai bacaan novel percintaan, sungguh ia akan peka terhadap hal-hal yang berbau romantisme, for sure. Yang tak terelakkan lagi, buku dengan segudang jenisnya memiliki keunikan dalam konteks keindahan kata-katanya, entah itu buku sastra, fiksi atau bahkan science sekalipun. Mereka semua tersurat dan tersiratkan melalui diksi-diksi yang secara khusus dipilih oleh penulis agar pembaca mengetahui esensi dari pernyataan dan pemikiran penulisnya. Itulah yang menyebabkan orang-orang yang membaca buku terhanyut oleh plot-plot dalam setiap cerita atau informasinya. Kata-kata dalam sebuah buku seringkali ‘menghipnotis’ para pembacanya untuk terus membaca, atau bahkan termotivasi karena dibuatnya. I have a book, and this is unique.

Di atas telah disinggung bahwa buku adalah jendela dunia, namun dewasa ini buku justru lebih dari sekedar jendela, melainkan sudah bertransformasi menjadi sebuah pintu. Yah, peran buku saat ini lebih krusial ketimbang perannya beberapa tahun ke belakang. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh banyak orang bahwa membaca buku dapat merubah kehidupan seseorang. Yang pada awalnya orang tersebut tidak tahu apa-apa, namun setelah membaca buku niscaya ia akan menjadi pribadi yang lebih tahu, pribadi yang mampu menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Start from what you like the most, benar saja orang tak akan mampu melihat apa yang ada di balik pintu jika ia enggan dengan pintu tersebut. Kehidupan seseorang akan berubah setelah ia membuka dan berada di balik pintu itu. Maka dari itu senangilah pintu itu, senangilah buku itu. Buku memiliki nilai yang terkandung di dalamnya, nilai yang tidak semua orang mengetahuinya. Hanya orang-orang yang mengetahui nilai tersebut yang akan membuka pintu dengan segera. Pintu menuju dunia baru, pintu menuju lembar kehidupan yang tidak seperti dulu.


Buku apapun yang dibaca seseorang, bukanlah setumpuk kata-kata dalam kertas yang tanpa memiliki makna. Ia bermakna, sungguh-sungguh bermakna. Tidak percayakah, maka mulailah membaca buku itu. Sementara membaca, janganlah tertutup akal dan hati itu, akal dan hati itu akan mengingatkan bahwa ada alasan mengapa harus membaca. 

Komentar

  1. Masalahnya adalah kebiasaan membaca atau minat baca tiap individu yang berbeda2. Karena kenyataannya kebanyakan orang termasuk saya haha baru akan mencari dan membaca sesuatu jika butuh itupun melalui internet atau terkadang lebih suka nonton video tentang hal tersebut. Jadi, menurut saya bukan media informasinya (buku, internet, youtube) tetapi lebih kepada orangnya yang mau instant mengetahui sesuatu tanpa menghabiskan waktu untuk membaca. Anyway, keren tulisannya Mizuuuu Keep going!!! Visit my blog too yah hahahahha (promosi) http://www.infancytraveler.com🤣✌️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang benar nyatanya manusia jaman now lebih mengarah ke hal-hal yang instant, bukannya bersabar terhadap proses yang mungkin sedikit memakan waktu. Namun perlu diingat, walaupun media buku memiliki kekurangan di era digital seperti sekarang ini, realitanya buku masih tetaplah eksis, sekaligus ini membuktikan bahwa buku memiliki hal-hal positif di lingkungan masyarakat. Saya pribadi memang prefer membaca melalui buku, saya menggunakan internet untuk mencari informasi jika informasi tertentu tidak tersedia di dalam buku. selain itu, jika memang ada tuntutan untuk mendapatkan informasi dengan cepat dan segera.

      Yah meskipun kita memiliki sedikit perbedaan pendapat di sini, tapi itu sangat luar biasa, makna ke-bhineka-an nyata adanya., kita bisa saling belajar. Mungkin perlu kiranya kita berdiskusi perihal topik tertentu untuk mengembangkan pemikiran masing-masing. Dan thanks a lot for your support. I have read your blog, and that's extremely cool. :D

      Hapus

Posting Komentar