Telah banyak upaya yang dilakukan oleh orang-orang dalam menekan proses penuaan pada dirinya sendiri. Botol-botol perawatan wajah dan kulit setiap bulannya menghiasi rak-rak meja. Berjejer rapat seperti barisan para tentara. Belum lagi obat dan vitamin yang rutin dikonsumsi pagi dan malam hari. Makan pokok, seperti nasi, sudah kalah gengsi. Selain itu, kunjungan ke tempat perawatan kulit yang sudah menjadi kebutuhan wajib. Wajah, kulit dan tubuh mereka diperlakukan begitu luar biasa hingga bisa membuat setiap jaringan tubuh yang ada di dalam kembali begitu kencang bak jaringan tubuh para remaja. Mungkin itu semua yang dikelompokkan pada golongan alami. Di sisi lain, orang-orang juga tanpa ragu menekan penuaan pada diri melalui "cara cepat", yakni operasi. Operasi menjadi alternatif bagi mereka yang tidak sabaran. Alat-alat operasi sudah seperti sahabat terbaik mereka, memoles setiap bagian yang dianggap telah tua agar berubah menjadi lebih muda. Para dokter adalah dalangnya di sini. Mereka begitu percaya dan merasa nyaman. Tapi, tujuannya tetaplah sama, terlihat muda dan tak menjadi tua.
Bagaimanapun, jangan sampai salah sangka. Bukan hanya orang yang sudah tua saja yang melakukan upaya menekan proses penuaan ini. Mereka yang memang nota bene masih muda juga sengaja melakukannya lebih awal agar tidak terlambat, agar tidak cepat dibilang tua pada akhirnya. Mereka siap menggelontorkan dana hasil dari keringat mereka untuk tidak menjadi tua. Ini jelas bukan semata-mata tren singkat yang ada di masyarakat. Tren singkat jelas sekali secara relatif manipulatif. Lebih dari itu, ini merupakan tindakan sadar yang berjangka panjang seolah sudah menjadi pakem dasar kemanusiaan mereka untuk nampak awet muda. Mereka, baik yang tuda dan muda, begitu gamblang mengikrar dalam tindakan untuk menolak tua.
Masih teringat begitu segar perkataan orang-orang yang bijak tentang "tua itu pasti, namun dewasa itu pilihan". Orang lain yang tak bijak pun begitu banyak yang membenarkan perkataan tersebut. Mereka kebanyakan sepakat. Fokusnya yang lebih besar porsinya adalah ada pada kedewasaan dan bukannya pada tua. Tapi, entah mengapa fakta yang ada menjadi bidak antitesis dari perkataan yang dianggap benar menurut akal sehat mereka. Apakah perkataan itu hanya sebuah perkataan biasa tanpa sedikitpun makna dan keyakinan di dalamnya? Jika "tua itu pasti" mengapa orang-orang repot sekali berupaya untuk tidak menjadi tua? Bukankah itu kesia-siaan? Pertanyaan ini semakin mendalam saja. Mengapa orang-orang tidak ingin tua? Apa alasan mereka? Curiganya adalah apa mereka semua takut? Tapi, takut akan hal apa?
Menitik pendapat sebagian besar orang bahwa menjadi tua itu ada privilege-nya. Salah satunya adalah menjadi tua berarti dekat dengan kebijaksanaan. Artinya, kemapanan berpikir menjadi atribut yang sering kali melekat erat saat seseorang memasuki masa tua. Hal ini bukan bualan semata karena cukup logis jika ditelaah. Orang tua itu telah banyak menyimpan pengalaman yang berharga. Pada masa mudanya ia lewati dengan penuh makna yang berharga. Terlepas pengalawan yang dilalui itu apakah baik atau buruk, yang dapat digaris bawahi adalah orang tua banyak mengambil pelajaran dari itu semua. Maka, tidak gentar jika harus menerangkan bahwa menjadi tua itu sama halnya bersinggungan dengan keluasan pemikiran yang memicu rasa bijak dalam diri. Dan, kebijaksanaan berpikir inilah yang menguntung orang tua di saat harus mengambil sebuah keputusan dalam hidup. Tidak gegabah dan tidak juga sampai menguras waktu dan tenaga, semua dipertimbangkan begitu seimbang hingga mencuat titik terang yang nantinya diambilnya sebagai jalan keluar.
Walaupun bisa dilihat cukup terang keuntungan menjadi tua, agaknya tidak membuat banyak orang serta-merta mau menyorotnya begitu tajam. Bisa sangat dipahami situasianya. Tidak banyak orang tergiur dengan predikat bijaksana di masa tua. Ini fakta yang tidak bisa dijegal. Atau curiganya, mungkinkah ada esensi lain yang lebih besar sehingga orang menolak mendapat keuntungan di masa tua? Bahkan, rela berupaya mati-matian untuk tetap berada pada gejolak masa muda. Apakah itu kematian yang lantas membuat orang menjauhkan diri dari menjadi tua? Orang tua lekat dengan kematian, bukan? Hal ini dirasa masuk akal menghindari tua karena takut akan kematian. Kematian bagi sebagian besar orang adalah hal yang mengerikan. Tapi, tunggu sebentar. Perlu kiranya dipikirkan dengan matang perihal kematian. Ini karena rupanya ada juga orang yang enggan menjadi tua bukan beralasan takut akan kematian. Kematian bukan keadaan absolut yang musti ditakuti. Lantas, adakah yang lebih parah daripada kematian?
Sekarang semakin lebih tergambarkan bahwasannya orang-orang yang memilih lari dari menjadi tua hakikatnya bukan menghindari dari kematian. Tentu saja, tidak ada satupun manusia yang sanggup lolos dari maut. Juga, sepertinya bukan karena sepenuhnya menginginkan hidup yang kekal. Itu tidak benar, itu hanya ada di dunia fiksi. Sebaliknya, ada dua kemungkinan besar yang mencuat meski keduanya sulit untuk tervalidasi kebenarannya mengapa menjadi tua menghadapi perlawanan keras dari orang-orang. Mereka mendapati ada hal yang sangat tidak menarik dan tidak pula menyenangkan saat menjadi tua. Kedua hal itu adalah sendiri dan dilupakan.
Faktanya, semakin tua maka semakin pula merasa sendiri. Hal semacam itu memang tidak bisa terelakkan lagi. Semakin tua seseorang, semakin banyak pula teman sejawat, kerabat dan orang tercinta berguguran dimakan usia dan juga takdir tentunya. Oleh karena itu, wajar jika semakin hari bergulir, semakin sendiri. Bisa dibayangkan betapa tidak mengasyikkannya menjalani segala sesuatunya setiap hari sendiri. Perasaan saat sedang sendiri sangat menyakiti, Tidak memiliki siapapun untuk berbagi cerita terasa begitu menjerat hati. Di dunia yang ramai penuh sesak ini, jika seseorang meregang sepi di masa tua, pasti hidupnya sangatlah merana. Fisiknya jelas tidak mengkhawatirkan, namun batinnya yang dipastikan hancur dan remuk. Tiada seorangpun yang mau berteman dengan sepi dan sendiri. Kian menyudut penjelasan ini. Orang-orang dengan sigap meremajakan diri, mengumpat pada rasa menjadi tua. Ini sesuatu yang layak agar tetap bisa saling terkoneksi dan tak sendiri.
Selain sendiri, menjadi tua identik dengan dilupakan. Sayang sekali, menjadi tua sama artinya dengan tidak lagi memiliki banyak waktu, tenaga dan kesempatan. Alhasil, tak banyak ruang yang diperoleh. Pahitnya bahkan tak sama sekali mendapat tempat. Begitulah memang nasib menjadi tua. Eksistensi diri tak lagi dianggap penting, cenderung kalah bersaing. Puncaknya ialah dilupakan oleh orang lain. Jangan bertanya tentang rasanya dilupakan, tak ada kata yang mampu menggambarkan. Ketika benar-benar telah dilupakan, saat itu juga ia yang menjadi tua telah mati, tak lagi memiliki esensi apalagi fungsi sosial secara empiris. Putus garis hirarki. Menjadi tua itu serba tidak nyaman karena terpinggirkan. Dilupakan saat diri menjadi tua adalah momok bagi hampir semua orang. Oleh sebab itu, jika ada cara agar tak menjadi tua, pastinya orang-orang akan bergerak secepat kilat melakukannya. Menjadi tua dan dilupakan adalah pembunuhan yang teramat keji.
Normalkah sekarang jika berbondong-bondong mengupayakan diri agar tak menjadi tua? Tentu akan ada yang mengatakan normal-normal saja. Namun, tentu sebagiannya ada juga yang mengatakan sebaliknya. Sejatinya, orang-orang tak akan pernah bisa mengalahkan waktu dan pemilik waktu.

Komentar
Posting Komentar