Manusia Melihat Atributnya

Tidak banyak manusia yang mau berfikir jauh ke belakang, seringkali manusia berfikir jauh ke depan saja, jauh hingga jarak ukur itu terlalu abstrak. Menoleh jauh ke belakang bukan perihal tabu walaupun manusia lain akan sedikit heran jika ada manusia yang melakukannya. Ini bukanlah perihal masa lalu atau apa pun yang menyangkut itu. Sekarang ini dan yang terfokuskan ini adalah tentang manusia itu sendiri, konsep manusia yang jauh sebelumnya.

Perlu untuk dibukakan kembali rupanya bahwa manusia yang sedang dibicarakan ini adalah segala atributnya yang melekat erat. Sederhananya, membicarakan manusia tidak akan pernah lepas dengan atributnya, yakni jasmani dan rohani. Benar kiranya jika semua manusia yang berakal sudah mengetahui akan hal ini, namun kiranya perlu untuk memperhatikan dengan seksama bahwa tidak akan pernah bisa membicarakan manusia hanya dengan satu atribut saja, melainkan harus dibicarakan dengan lugas dan tegas kedua atribut manusia yang melekat itu bersamaan. Apa yang ada tersebut, jasmani dan rohani, sangat jelas membentuk akan seperti apa jadinya perangai manusia itu.

Perihal jasmani yang menjadi salah satu atribut penting manusia adalah yang biasa disebut manusia lain sebagai fisik. Hal ini dalam arti kata lain adalah sesuatu yang tampak oleh mata manusia. Namun lebih dari pada itu, ada hal tak tampak yang juga terkait fisik manusia atau jasmani tersebut, ia adalah akal manusia. Akal yang dimiliki oleh manusia walaupun tidak kasat mata juga menjadi atribut jasmani. Akal adalah satu-kesatuan fisik, pun fisik adalah satu rangkaian dengan akal. Badan manusia merupakan suatu alat yang sangat luar biasa dalam membantu segala macam bentuk aktivitas manusia sehari-hari. Sebagai contoh, kaki manusia dipergunakan untuk berdiri, berjalan, bahkan berlari. Intinya adalah untuk berpindah tempat satu ke tempat lainnya, atau bisa untuk bertahan pada tempat tersebut sesuai jangka waktu yang ia inginkan. Tangan manusia yang tidak kalah luar biasanya dimanfaatkannya untuk menggenggam benda yang ia inginkan. Tak terkira fikiran ini jika manusia tidak memiliki atribut fisik seperti ini. Terlebih lagi akal manusia, inilah alat yang kecanggihannya tiada tara di mana akal mampu menimbang dan menalar hal-hal apakah itu baik-atau buruk untuknya. Inilah akal yang mampu mengarahkan dan memerintahkan badan manusia tersebut, kaki, tangan dan lain sebagainya. Bahkan jikalau badan memiliki keterbatasan untuk bertindak, akalpun masih tetap bisa menentukan baik-buruknya tindakan yang harus diambil nantinya. Dalam poin ini, akal yang sekiranya memang tidak kasat mata, tapi mengambil peran yang terbilang sangat krusial. Bukankah memang akal adalah yang memberikan gambaran mana yang haq dan mana yang bathil. Jika akal ini baik, turut pula secara ototmatis badan juga baik. Perlu secara sungguh-sungguh untuk memelihara akal serta badan ini, manusia tak sepatutnya menelantarkan keduanya. Atribut fisik ini, di samping itu, terus terang saja perlu untuk disehatkan agar tujuan yang baik tadi bisa tercapai, bukan hanya bualan semata. Dengan olahragalah semua itu dapa terealisasikan. Benar sungguh, rupanya tidak cukup kiranya kata-kata baik yang ada di dunia ini untuk menggambarkan atribut jasmani manusia ini. Segala puji bagi Allah.

Atribut penting kedua yang harus dibahas ini adalah rohani. Rohani manusia, mungkin jika membayangkannya yang pertama kalinya muncul dalam fikiran manusia adalah perihal agama. Betul memang, tak salah. Akan tetapi sebelum membahas hal tersebut, marilah membahas lebih mendalam lagi, agar sejatinya tahu manusia itu seperti apa. Rohani secara mendalam akan melibatkan hati nurani manusia. Hati ini adalah menjadi inti dari manusia itu sendiri. Jika diurutkan hati menjadi yang pertama, yang kedua adalah akal dan terakhir adalah nafsu. Dan perlu untuk digarisbawahi bahwasannya kali ini hati-lah yang menjadi pokok bahasan utamanya, tidak yang lain. Hati menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan raga atau wujud manusia. Hati inilah yang menjadikan manusia memiliki keutamaan nilai yang baik. Hati manusia pada hakikatnya sangatlah suci atau fitrah, dan inilah salah satu sifat Allah yang diberikan untuk manusia. Artinya manusia hakikatnya baik atau selalu akan melakukan kebaikan. Hanya saja kadangkala hati manusia di-intervensi langsung oleh akal dan bahkan nafsu birahi manusia. Inilah yang menjadikan manusia terkadang melakukan keburukan. Contohnya seringkali ditemuakan di suatu kelompok manusia di mana akan ada manusia yang memiliki niatan yang baik untuk membantu sesama manusia, akan tetapi terkadang niatan yang baik tersebut tidak diimbangi dengan akal dan nafsu yang baik pula, sehingga dapat dilihat tindakannya berlawanan dengan hati nuraninya, atau keliru. Alhasil hal semacam inilah yang mampu membuat manusia buta akan dirinya sendiri. Hati memang sewajibnya mengikat akal, dan akal juga sewajibnya mengikat nafsu manusia. Jika semua itu sudah terikat dengan kencang, niscaya jalan kebaikan yang akan diperolehnya. Lantas bagaimana caranya mengikat? Sudah ada di dalam kehidupan manusia perihal jawaban tersebut atau sudah disebutkan di awal-awal bahasan ini, yakni agama. Peran agama terhadap hati sangatlah luar biasa. Hatipun jika sudah terlibat dengan agama secara utuh tak akan perlu diragukan lagi, manusia yang bersangkutan tersebut tak akan tersesat hidupnya di dunia. Indahnya yang seperti demikian itu. Maka bisa sedikit dijelaskan jika memang manusia ingin atribut rohaninya, yaitu hati, terpelihara dan bahkan senantiasa sehat, ia perlu untuk mendekatkan dirinya dengan agama, Allah.

Melihat manusia dewasa ini seringkali mengherankan. Jasmaninya terkadang sangat kokoh, namun rohaninya tidak demikian. Konsep manusia tidaklah demikian sebenarnya, keseimbangan hidup seharusnya terwakilkan dengan atribut jasmani dan rohani yang seimbang. Jasmani yang tampak oleh mata, yakni badan, serta akal sebagai pengendali badan tersebut sepatutnya berkolaborasi dengan hati nurani yang bersih. Hidup di dunia tidak akan terlihat baik jika mereka tak digunakan dengan sebaik-baiknya. Celakalah manusia yang tak mengindahkan jasmani dan rohaninya.  

Komentar