Belajar sejatinya adalah kebutuhan yang penting bagi setiap manusia. Belajar bagi sebagian orang bahkan adalah suatu keharusan, karenanya dengan belajar maka mereka dapat bertahan hidup di lingkungannya. Dalam melakukan aktivitas belajar inilah manusia akan mengalami perubahan dalam dirinya baik perubahan berfikir, bersikap maupun keterampilannya. Itulah karenanya belajar tidak bisa dipisahkan dalam aktivitas manusia.
Belajar itu sendiri maknanya secara luas adalah serangkaian proses yang mengindikasikan munculnya suatu perubahan perilaku yang sifatnya permanen sebagai puncak dari respon utamanya. Perubahan perilaku ini diakibatkan dari suatu pengalaman dari lingkungan yang wujudnya fisik atau psikis, sehingga yang mulanya tidak tahu berubah menjadi tahu, yang mulanya tidak terampil berubah menjadi terampil. Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu aktivitas fisik atau psikis, suatu proses dan kegiatan guna memperoleh pengetahuan dan pengalaman, melalui interaksi individu terhadap lingkungan yang ditandai dengan perubahan tingkah laku dalam dirinya.
Di dalam proses belajar, interaksi di sini tidak akan terelakkan lagi. Pembelajar akan berinteraksi dengan pemelajar atau lingkungannya. Sebagai pembelajar, manusia akan menerima informasi atau materi dari guru atau pemelajar. Agar proses belajar ini berjalan dengan baik dan maksimal, maka pembelajar harus menyimpan informasi tersebut sebaik-baiknya di dalam memori otaknya (retensi) di mana nantinya informasi atau materi tersebut akan digunakan sebagai perubahan ke proses belajar berikutnya (transfer).
Istilah retensi dan transfer mungkin terdengar asing bagi kebanyakan orang. Namun, tatkala manusia menjadi seorang pembelajar, seyogyanya ia tahu apa itu retensi dan apa itu transfer agar dalam kegiatan belajarnya, manusia mampu mengoptimalkan segala aspek atau atribut yang melekat pada dirinya.
Retensi secara sederhana adalah suatu informasi yang ada di dalam otak manusia yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah individu mempelajari sesuatu. Adanya retensi, membuat apa yang dipelajari individu tertinggal lebih lama dan dapat diingat kembali apabila diperlukan. Kenyataannya, mengingat kembali informasi yang ada di otak agar bisa digunakan tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Proses retensi perlu usaha mengingat yang cukup keras karena perlu juga untuk diketahui informasi yang tersimpan dalam memori otak terbagi menjadi dua golongan, yakni golongan imajinatif (visual) dan golongan kata-kata (verbal).
Agar kemampuan retensi manusia bisa dikatakan optimal, fakor-faktor yang menunjangnya pun harus dioptimalkan juga. Faktor pertama dalam retensi adalah pembelajaran awal atau bisa dikatakan first impression in learning. Benarlah memang kesan pertama manusia akan sesuatu sangat mudah untuk diserap, disimpan dan diingat oleh manusia. Kesan yang baik dalam suatu pembelajaran akan berdampak pula pada kemampuan retensi manusia tersebut selanjutnya. Sebaliknya, jika kesan pertama dalam pembelajaran tersebut terbilang kurang baik, maka manusia tersebut cenderung tidak mengingatnya kembali atau segera melupakannya. Faktor yang kedua ialah beban belajar. Sudah barang pasti bahwa dalam belajar bobot materi yang ada kian hari haruslah semakin berat. Jika manusia dalam belajar telah mampu menguasai materinya, maka sebaiknya di lain hari ia belajar dengan menambah tingkat bobot materi melebihi yang sebelumnya. Hal ini agar ia tetap mengingat materi sebelumnya yang ia telah kuasai. Tentu saja dengan catatan bahwa bobot materi yang bertambah tersebut haruslah masih relevan dengan materi sebelumnya. Yang ketiga adalah faktor pengulangan. Semakin pelajaran yang dipelajari manusia tersebut diulang, maka pelajaran tersebut akan membekas di dalam ingatan jangka panjang manusia. Sehingga tak khayal, akan ada pemikiran atau gerakan otomatisasi ketika pelajaran itu suatu ketika muncul kembali. Dan ketika pembelajaran yang dialami manusia diulang sedemikian rupa, proses mengingat kembali informasi tak lagi menjadi hal yang sukar olehnya.
Di samping itu, transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari dapat mempengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dalam arti kata lain transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari. Sebagai contoh, manusia di usia yang belia pastilah pernah belajar mengendari sepeda roda dua, hingga akhirnya ia menguasainya, bahkan ada yang bisa mengendari sepeda dengan melepas kedua tangannya. Semakin dewasa usianya, ia mulai belajar mengendarai motor dan pada akhirnya juga ia pun menguasainya. Inilah yang dinamakan transfer, di mana kemampuan yang ia miliki dalam konteks mengendari sepeda roda dua, ia wujudkan kembali terhadap pembelajaran mengendarai motor tersebut. Demikianlah dapat dikatakan transfer belajar apabila yang telah manusia pelajari dapat dipergunakan untuk memperlajari hal yang lain. Biasanya transfer belajar terjadi apabila manusia dapat menerapkan sebagian atau semua kecakapan-kecakapan yang telah dipelajarinya ke dalam situasi lain yang tertentu. Di samping itu, transfer ini terjadi karena adanya persamaan sifat antara yang lama dengan yang baru, meskipun tidak benar-benar sama.
Tentunya transfer ini juga memiliki faktor-faktor tertentu yang perlu untuk diperhatikan, agar pembelajaran yang dialami manusia juga berbuah manis. Faktor pertama dalam transfer yang harus diperhatikan oleh manusia sebagai pembelajar adalah motivasi dan konsentrasinya dalam proses belajar. Motivasi ini berguna untuk mendorong manusia agar memulai menjalani proses belajar, motivasi yang tinggi adalah lecutan yang baik dalam belajar. Sementara konsentrasi ini bertujuan agar manusia tersebut tetap konsisten dalam belajar, konsisten untuk fokus terhadap rangkaian materi yang sedang ia pelajari. Yang kedua adalah hasil belajar dari pembelajaran sebelumnya. Karena transfer adalah perwujudan kembali kemampuan belajar ke pembelajaran berikutnya, maka hasil belajar sebelumnya menjadi titik awal kemampuan transfernya. Hasil belajar sebelumnya yang maksimal akan memudahkan manusia belajar materi berikutnya, dan begitu seterusnya. Di sisi lain, jika tidak maksimal, maka pembelajaran berikutnya pun ia akan mengalami kesulitan, namun tidak menutup kemungkinan ia tetap bisa melanjutkan pembelajaran berikutnya, karena mengingat factor pertama tadi juga berpengaruh. Faktor ketika dalam transfer adalah bahan atau materi pembelajaran itu sendiri. Dalam transfer, sifat pembelajaran sebelumnya dan selanjutnya relatif sama, oleh karena itu jika sangat jauh berbeda, proses transfer akan sedikit terganggu. Bahkan pembelajar cenderung tidak mengalami perkembangan belajar.
Maka demikianlah, manusia belajar bila dijabarkan secara menyeluruh tidak akan ada habis masanya. Sedikit diambil saja dalam tulisan ini perihal retensi dan transfer dalam proses manusia belajar di dalam lingkungannya. Retensi dan transfer ini hendaknya memang tidak dipisahkan, sehingga tegak sendiri-sendiri, namun haruslah ditegakkan bersamaan agar hasil belajar yang maksimal dapat diperoleh tentunya.
Referensi:
Butler, A, C. 2010. Repeated Testing Produces Superior Transfer Of Learning Relative to Repeated Studying. Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory and Cognition, Vol. 36, No. 5, 1118-1133, 2010.
Hill, W. F. 2012. Theories of Learning: A Survey of Psychological Interpretations.Bandung: Penerbit Nusa Media.
Ngadiyono, Y. 2009. Pengaruh Strategi Pengulangan Terhadap Kemampuan Retensi Belajar Pneumatik Mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin UNY. JPTK, Vol 18, No 1, Mei 2009.
Pranata, M. 2010. Efek Estetik-Seduktif Pada Multimedia Terhadap Hasil Belajar. Jurnal Online UM Bahasa dan Seni, Volume 38, Nomor 2, Agustus 2010.
Ritter, F, E., Baxter, G., Kim, J, W., & Srinivasmurthy, S. 2010. Learning and Retention. Pennsylvania State University: University Park, PA 16802.
Schmidt, R. A & Wrisberg, C. A. 2000. Motor Learning and Performance: A Problem-based Learning. 2rd edition. Champaign, II. Human Kinetics.
Schmidt, R. A. 1991. Motor Learning Performance From Principle To Practice. Canada. Human Kinetics Books.
Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories: An Educational Perspective. 6th Ed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Edisi pertama. Yogyakarta: UNY Press.
Komentar
Posting Komentar