Setelah
berbagai macam hal-hal yang terjadi di kehidupan ini, masyarakat semakin
menyadari bahwa aktivitas belajar adalah hal utama yang harus diutamakan
ketimbang hal-hal lain. Belajar adalah senjata yang paling ampuh untuk mengarungi
derasnya ombak kehidupan ini. Manusia sangat berhasrat untuk menimba ilmu,
karena dengan demikian ia bisa bertahan hidup. Niat yang begitu mulia adanya,
mencari ilmu adalah sesuatu yang sangat baik. Namun, terkadang di balik sifat
mulia mencari imu tersebut, manusia lupa bagaimana seharusnya ia memperlakukan
ilmu pengetahuannya, dan justru hanya berlandaskan apa yang menjadi kepentingan
pribadinya saja. Sudah pantaskah?
Sejatinya,
manusia benarlah diwajibkan untuk belajar, mencari ilmu sebanyak-banyaknya,
bahkan sejauh-jauhnya, karena dengan itu tidaklah tersesat nantinya ia akan
banyaknya ilusi yang ada di dunia ini. Bisa dikatakan di sini bahwasannya musuh
terbesar ilmu pengetahuan atau orang yang sedang belajar bukanlah kebodohan,
akan tetapi sebuah ilusi. Untuk menghancurkan ilusi ini, maka manusia hendaknya
belajar, mencari ilmu, bahkan menyerap pengetahuan-pengetahuan yang ada. Oleh
karena luar biasanya ilmu pengetahuan tersebut, sudah sepatutnya memang manusia
memuliakan ilmu pengetahuan.
Ilmu
pengetahuan yang ada di dunia ini pada hakikatnya adalah nikmat pemberian dari
Tuhan. Nikmat yang seolah-olah menjadi pelipur lara, seolah-olah menjadi
pembahagia manusia tatkala ia gundah. Tak patutlah manusia mendustakan nikmat
yang begitu besar ini, besyukur adalah langkah memuliakan. Di samping itu,
puncak dari ilmu pengetahuan atau manusia yang mencari ilmu tidaklah hanya berhenti
pada kemerdekaan akal saja, tidak hanya sekedar mengetahui perkara benar dan
salahnya saja. Lebih dari itu, puncaknya adalah kemerdekaan hati yang
mengindikasikan suatu kebijaksanaan hidup, dan mengindikasikan pula rasa
imannya terhadap Tuhannya. Hati adalah puncaknya. Dapat diartikan di sini bahwa
menjadi manusia yang berilmu hendaknya semakin mendekatkan diri kepada Sang
Maha Pencipta dunia dan seisinya. Jikalah manusia itu sombong atas ilmu yang
diperolehnya, lantaran tahu perkara benar dan salah melebihi orang lain, maka
tidaklah lama keberadaan ilmu yang diperolehnya tersebut. Sebentar saja akan
tertiup angina zaman. Janganlah berperilaku sombong atas ilmu pengetahuan yang
telah dimiliki saat ini, karena ilmu pengetahuan tersebut akan terus bertambah
seiring berkembangnya manusia, seiring rasa syukurnya terhadap nikmat Tuhan
tersebut. Maka, carilah ilmu pengetahuan tersebut dan hati yang mengiba kepada
Tuhan.
Selain itu, memandang ilmu pengetahuan jugalah
perlu dengan cara mengamalkannya. Apa maksudnya? Manusia yang belajar dan
berilmu secara otomatis ia memiliki tanggung jawab yang begitu besar, tanggung
jawab yang harus dipikulnya tersebut adalah membagikan ilmunya tersebut kepada
sesamanya, agar tercipta dengan nyata kemaslahatan antar umat manusia di dunia.
Membagikan ilmu janganlah berfikir terlalu banyak, apa yang manusia punya maka
wajiblah untuk segera dibagikan kepada manusai yang lain. Dan jika ilmu itu
dipendamnya hanya untuk kepentingan dirinya saja, maka jangan salahkan jika
ilmu tersebut akan membunuhnya secara perlahan. Banyak manusia yang sudah
berilmu dalam konteks ini merasa belum patut untuk membagikan ilmunya. Apalah jua
itu? Membagikan ilmu kepada orang lain adalah salah satu cara memuliakan ilmu
pengetahuan tersebut. Dan artinya juga, memuliakan nikmat Tuhan yang tiada tara
tersebut.
Ilmu pengetahuan adalah bukti kekuasaan Tuhan. Oleh
karena demikian, sudah sangat wajib sekali manusia memandang ilmu pengetahuan
tersebut dengan cara memuliakannya, semakin mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Selain
itu, memandang ilmu pengetahuan yang dimiliki adalah dengan memandang sesamanya
juga. Artinya bahwa ilmu pengetahuan tersebut jangan terputus sampai pada
dirinya sendiri, haruslah itu bersambung terus-menerus kepada orang lain,
bahkan hingga kepada generasi penerusnya. Memandang ilmu pengetahuan yang
demikian sangatlah indah. Maka nikmatTuhanmu yang mana yang kau dustakan.

Komentar
Posting Komentar