Sepakbola, Wujud Spiritualisme

Masih hangat pembicaraan di berbagai media tentang aksi pengeroyokan sejumlah penonton sepakbola terhadap seorang penonton lawan hingga tewas. Sangat miris. Aksi brutal sejumlah penonton tersebut sangatlah tidak patut apapun motif tindakannya. Yah walaupun kedua kesebelasan tersebut adalah rival sejak lama, serta para pendukungnya juga, tindakan brutal yang harus menghilangkan nyawa seseorang tidaklah bisa dibenarkan. Seperti inikah sifat buas manusia, mengerikan. Hal ini biarlah hukum yang menanganinya karena para pelaku patut sekali diberikan ganjaran atas tindakan kriminalnya tersebut.

Bagaimanapun, tulisan ini tidaklah akan membahas kronologi kejadian pengeroyokan tersebut, biarlah pihak lain saja yang mengupasnya. Tulisan ini sejatinya akan membahas implikasi olahraga, khususnya sepakbola. Sudah sering dirasakan bahwa sepakbola memanglah memiliki dampak yang begitu luar biasa kepada masyarakat luas. Dan inilah inti yang sedang kita bahas nantinya.

Sedikit membahas sejarah tentang olahraga. Pada zaman dahulu, tepatnya zaman Yunani kuno, olahraga diciptakan dan dipertandingkan tidak lain adalah diperuntukkan sebagai bentuk pemujaan kepada dewa-dewa. Cerita ini mungkin sudah banyak orang mengetahuinya, tapi esensi tulisan ini ingin menunjukkan bahwasannya olahraga adalah perwujudan nilai spiritualitas. Sungguh mencengangkan jika dibandingkan dengan kejadian pengeroyokan beberapa hari yang lalu. Walaupun memang yang berulah adalah para penonton, namun tetaplah mereka terlibat dalam aktivitas sepakbola tersebut, dan implikasinya seharusnya ada nilai spiritual juga dalam diri mereka, sedangkan faktanya adalah nihil. Sekali lagi, miris.

Terlebih lagi, manusia memiliki dua dimensi diri yang keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Kedua dimensi tersebut adalah jasmani dan rohani. Manusia pastilah mendambakan diri yang sehat. Jika ingin jasmaninya sehat maka ia harus berolahraga, dan ketika sedang berolahraga dimensi rohani ini juga secara tidak langsung juga akan ikut sehat, asalkan memang dalam berkegiatan olahraga unsur pemicu rohani yang sehat juga dilibatkan, seperti mengingat Tuhan, berperilaku baik, memiliki tujuan baik atas sehatnya nanti dan lain sebagainya.

Sangatlah benar pernyataan di atas bahwa sepakbola memiliki dampak besar terhadap diri manusia dan masyarakat. Sepakbola sebagai salah satu cabang dari olahraga hakikatnya memunculkan nilai-nilai Ketuhanan, karena memang itulah sejatinya fungsi olahraga. Jika sepakbola dilakukan sebagaimana hakikat fungsinya, maka implikasinya tidak hanya sehat jasmani saja melainkan sehat rohani yang akan didapat juga. Pun demikian terhadap manusia atau masyarakat yang tidak terlibat secara langsung dengan sepakbola. Dengan menyaksikan sepakbola yang “utuh” di dalam stadion atau melalui media televisi, sangatlah bisa sehat secara rohani tersebut tertular. Menyaksikan sepakbola yang baik dan positif akan menstimulus seseorang untuk berbuat hal yang sama dikemudian hari. Dengan demikian tujuan dari spiritualitas tadi dapat tercapai dengan jelas. Inilah yang dinamakan sepakbola sebagai alat mendekatkan diri kepada Tuhan. Sungguh indah yang demikian.

Ibarat sedang beribadah, sepakbola juga dapat dijadikan alat untuk mendapatkan kebaikan. Bukankah manusia diserukan untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan, maka sepakbola adalah salah satu jalannya. Sebagai penonton, kebaikan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dapat dicapai dengan melantangkan suara kepada sesamanya untuk senantiasa bersatu, meninggalkan atribut perbedaan. Selain itu dapat juga diwujudkan dengan saling mengingatkan antar supporter untuk menjunjung tinggi sportifitas yang ada, bukan malah menebar kebencian dengan menyuarakan yel-yel untuk mengolok-ngolok pihak lawan. Memang di dalam suatu pertandingan sepakbola pasti ada yang kalah da nada yang menang, di saat kalah itulah hendaknya supporter yang menang tetap menyemangati pihak yang kalah tadi. Bukankah kalah dan menang itu biasa dalam pertandingan. Intinya adalah kebaikan tadi bukan?


Kebaikan-kebaikan dalan sepakbola tadi sebenarnya bukanlah hanya sekedar cerita dongeng semata. Hal ini bisa diwujudkan secara nyata, namun haruslah dari banyak pihak. Sepakbola bukan ajang pencarian yang menang dan kalah saja. Sepakbola adalah media spiritual yang nyata.

Komentar