Kacamata "Teamwork" dalam Organisasi Olahraga

Tidak henti-hentinya dunia olahraga dikulik secara menyeluruh di segala aspeknya. Olahraga pada sebagian orang bukan lagi semata-mata hanya perilah kebugaran dan kesehatan saja, namun sebagiannya lagi berpendapat lebih dari itu. Olahraga sangatlah beragam untuk bisa dibahas, karena memang dunia olahraga tentunya melibatkan banyak orang di dalamnya, dan sudah barang tentu mereka semua adalah heterogen. Artinya, latarbelakang individu-individu ini berbeda satu sama lainnya.

Oleh karena olahraga tersebut terdiri dari orang-orang yang bersedia terlibat, maka untuk membentuk suatu olahraga yang baik mereka membentuk yang namanya suatu organisasi. Hal ini karena untuk mencapai tujuan yang diinginkan sangatlah sukar bila dilakukan oleh perorangan saja. Seperti telah sering diketahui, manusia adalah makhluk sosial di mana membutuhkan manusia yang lain dalam keberlangsungan hidupnya. Di samping itu, untuk membentuk suatu organisasi olahraga yang sesuai dengan harapan cukuplah sulit, namun tidak mustahil hal itu bisa saja diperoleh asalkan benar-benar dilakukan secara kolektif, terstruktur dan tidak meninggalkan nilai-nilai moral, budaya dan agama sebagaimana yang telah disepakati sebelumnya tentunya.

Sedikit kilas balik perihal permasalahan di dunia organisasi olahraga, beberapa waktu yang lalu PSSI, organisasi sepakbola terbesar di Indonesia, terkena sanksi tidak boleh berkegiatan apapun selang beberapa waktu. Hukuman tersebut dijatuhkan oleh federasi sepakbola dunia, yakni FIFA yang mana berkuasa dalam mengatur induk organisasi sepakbola di seluruh negara di dunia. Tidak hanya itu, masih adanya dualisme organisasi pada salah satu cabang olahraga beladiri di Indonesia ini. Permasalahan ini jika dibahas akan sangat terasa complex dan complicated. Dan permasalah ini pastinya akan sangat merugikan banyak pihak baik yang ada di dalam organisasi maupun di luar organisasi tersebut. Bagaimanapun, tulisan ini tidak akan mengupas sedikitpun tentang permasalahan-permasalahan organisasi olahraga tersebut. Bukan kapasitas tulisan ini membahas akan hal itu. Ini sesungguhnya hanya ingin membuktikan bahwa masalah dalam suatu organisasi olahraga bukanlah suatu cerita rakyat saja, namun suatu realitas yang benar-benar nyata adanya. Pendeknya, membangun organisasi olahraga tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Perlu untuk digarisbawahi di sini bahwasannya tulisan ini akan membicarakan salah satu cara membentuk organisasi secara mendasar. Hal mendasar yang dimaksud adalah kerjasama tim (teamwork). Kerjasama tim ini memiliki kontribusi yang cukup signifikan agar tujuan dari organisasi tersebut dapat dicapai sesuai dengan harapan. Mengutip dari pernyataan salah satu pelatih terbaik NBA, Pat Riley, tentang kerjasama tim di mana ia mengatakan bahwa kerjasama tim adalah esensi penting dalam kehidupan. Kerjasama tim yang hebat merupakan satu hal untuk mencapai momen indah, untuk menciptakan terobosan yang mendefinisikan karir yang sedang dijalani, dan untuk mengisi kehidupan dengan rasa yang signifikan. Oleh karena begitu pentingnya arti suatu kerjasama tim, maka sudah sepatutnya peran dari masing-masing individu dalam organisasi tersebut ditegakkan dengan sungguh-sungguh. Peran-peran tersebut haruslah bekerja dengan maksimal menurut struktur organisasi yang telah ditetapkan pada awalnya. Peran-peran ini juga janganlah sampai melanggar batasannya. Maksudnya melebihi porsi yang telah menjadi kewajiban dari peran tersebut, ataupun juga kurang dari apa yang telah menjadi kewajibannya. Sebagai bahan renungan, tidaklah mungkin dapat dicapai suatu tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi bila seluruh masyarakat yang ada di organisasi tersebut menjabat atau berperan sebagai pemimpin. Sangat tidak mungkin sekali. Yang sangat jelas, perlulah adanya anggota yang lain dibawah sosok pemimpin untuk melaksanakan tugas atau peran lainnya. Dan mereka seharusnya menerima dengan suka cita peran yang mereka ambil tersebut. Perbedaan peran dalam suatu organisasi sangat dubutuhkan agar kerjasama tim dapat muncul di dalamnya.

Kerjasama tim tidak hanya akan berjalan jika orang-orang yang berkecimpung dalam organisasi tersebut menyadari perannya, namun juga jika di setiap perannya ada suatu hubungan yang baik yang terlaksana. Hubungan baik ini perlulah dicampurtangani oleh seorang pemimpin melalui kemampuan kepemimpinannya apakah itu secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu, keterampilan dalam berkomunikasi yang baik antar peran tadi juga butuh untuk diwujudkan secara langsung dan nyata. Keterampilan berkomunikasi ini dapatlah dipelajari secara teoritis dan praktis melalui media apapun, bahkan langsung ketika berkomunikasi dengan peran lainnya. Adanya komunikasi yang baik dalam hubungan antar peran dalam organisasi akan menciptakan lingkungan yang harmonis dan lingkuangan dengan persatuan yang kuat dan erat. Alhasil kerjasama tim yang baik dapat terpengaruhi.

Di satu sisi, membicarakan hal ini mungkin terbilang mudah, akan tetapi secara praktiknya mungkin setengah mati untuk dilakukan. Telah disebutkan tadi di atas bahwa dunia olahraga melibatkan banyak orang yang memiliki background yang berbeda-beda. Hal ini akan secara negatif menyulut permasalahan yang rumit untuk diselesaikan nantinya. Sudah banyak ditelisik bahwa orang-orang di dalam suatu organisasi seringkali memiliki peran palsu atau ganda, hal ini karena mereka mempunyai kepentingannya sendiri yang mereka libatkan di dalam organisasinya tersebut yang mana semestinya tujuan organisasilah yang diprioritaskan. Kepentingan tersebut bisa muncul dari urusan pribadinya dan bisa juga muncul dari urusan kelompok lainnya yang berada di luar organisasinya. Dan sangatlah jelas ini merugikan organisasi, lebih-lebih tujuan organisasi tidak akan tercapai sesuai dengan harapan di awal, karena sudah barang mesti peran kepentingan lain dalam peran palsu atau ganda tersebut akan jauh lebih diprioritaskannya. Jika ditanya dari mana awalnya muncul kepentingan lain tersebut akan sulit untuk dijawab secara comprehensive. Tapi yang jelas organisasi yang demikian bisa dilabeli sebagai organisasi yang tidak sehat. Jika dilihat dari kacamata kebutuhan manusia akan tampak lebih jelas bahwa kebutuhan manusia tidak akan pernah habis, manusia akan senantiasa merasa butuh dan butuh akan sesuatu hal dan akan berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan kebutuhannya tersebut. Inilah salah satunya yang bisa menjadi alasan mengapa kepentingan lain dalam organisasi muncul baik secara tertutup maupun terang-terangan. Jika seseorang dalam memainkan peran palsu dan gandanya tersebut dengan egois, maka mustahillah kerjasama tim yang apik bisa terealisasikan, dan ujung-ujungnya akan membuyarkan organisasi tersebut. Miris!!

Keegoisan diri untuk mencapai kepentingan pribadi dalam lingkungan organisasi dirasa sangat perlu untuk dibatasi dan diarahkan ke aspek positif. Pihak-pihak yang melakukan hal tersebut kiranya harus sadar diri atau disadarkan akan tindak-tanduknya, agar nantinya tidak berdampak buruk kepada yang lainnya. Pada hal yang mendasar permasalahan apapun dalam organisasi dapat diselesaikan dengan matang asalkan ada akal yang sehat dan hati yang suci. Akal dan hati adalah kunci utama yang sejati bagi manusia yang bertingkah dalam organisasi.


Komentar