Mendidik Melalui Olahraga: Stigma Masyarakat dalam Industri Olahraga


Sejauh ini apa yang telah dimuat dalam beberapa tulisan-tulisan terkahir ini benarlah terinspirasi dari hasil membaca buku bacaan. Buku bacaan diibaratkan sebagai “makanan” yang luar biasa di mana hal tersebut adalah sumber energy utama untuk sebuah karya tulis. Pun demikian apa yang akan dipaparkan pada tulisan kali ini. Terinspirasi oleh dua buku hebat, yakni Politik Pendidikan karangan Paulo Freire dan Ideologi-Ideologi Pendidikan karangan William F. O’Neil, tulisan ini tidaklah akan membahas perihal isi kedua buku tersebut, melainkan kurang-lebihnya akan membahas tentang pendidikan yang dikombinasikan oleh latar belakang penulis, yaitu ilmu keolahragaan.

Secara umum manusia bisa mendapatkan layanan pendidikan di sekolah-sekolah. Sekolah inilah perlu untuk diketahui yang mana menjadi salah satu bagian dari suatu komunitas besar industri olahraga. Sekolah termasuk bagian dari organisasi nirlaba (non-profit organization) yang mana fungsinya dalam konteks olahraga adalah mendidik manusia melalui suatu media olahraga yang sebagaimana diwakili oleh mata pelajaran pendidikan jasmani dan olehraga, serta memperkenalkan aspek-aspek penting terkait apa saja yang ada di dalam olahraga itu sendiri. Inilah alasan salah satunya mengapa sekolah adalah agen penggerak dalam industri olahraga. Jadi bisa dikatakan besar-kecilnya dan bagus-tidaknya industri olahraga di suatu daerah ada campur tangan juga dari pihak-pihak sekolah yang ada di daerah tersebut.

Sekolah yang ada sekarang ini pastilah memiliki ideologinya masing-masing. Ideologi inilah yang hakikatnya mengarahkan masyarakat di lingkungan sekolah tersebut. Maka dari itu, ideologi inilah yang baik secara langsung maupun tidak langsung bisa berkontribusi kepada industri olahraga di zona terdekatnya, bahkan industry olahraga secara meluas. Ideologi yang ditransferkan ke dalam bentuk pendidikan memiliki kekuatan yang sangat dominan nantinya kepada pola pemikiran manusia. Di lain hal, membentuk ideologi manusia melalui pendidikan itu sendiri sejatinya dapat dirupakan dengan memegang peran pemelajar, pembelajar dan realitas dunia. Rincinya dalam suatu lingkungan pendidikan, pemelajar yang bertugas sebagai fasilitator pendidikan kepada pembelajar di sini haruslah juga memberikan pembelajaran yang relevan tentang apa yang ada dalam realitas dunia yang terjadi saat ini. Di samping itu, pemberian materi pembelajaran dan pendidikan tidaklah cukup berupa teori saja melainkan harus juga diimbangi dengan praktiknya. Termasuk pendidikan dan pembelajaran perihal olahraga. Praktik olahraga harus benar-benar disinkronkan dengan sedemikian rupa dengan yang namanya teori. Hal ini bertujuan akan pemahaman manusianya benar-benar komprehensif tentang olahraga tersebut. Pemahaman yang komprehensif inilah yang mampu membuat masyarakat menyadari secara mendalam hakikat pentingnya olahraga bagi dirinya dan orang lain.

Namun anehnya di masyarakat saat ini, banyak orang telah menganggap bahwasannya olahraga itu penting keberadaannya, akan tetapi istilah penting tersebut hanyalah sebatas perkataan saja tanpa diimbangi dengan suatu tindakan. Benarlah bila pentingnya olahraga hanyalah kebenaran yang semu belaka. Stigma masyarakat perihal ini sepertinya sudah mengakar jauh sebelumnya. Padahal yang sebenarnya, masyarakat pada dasarnya butuh berada pada lingkungan olahraga bahkan terlibat dalam kegiatan olahraga. Karenanya konsep dasar olahraga bisa untuk dijadikan alat untuk mencapai kesehatan dan kebugaran yang diinginkan oleh masyarakat tersebut guna menunjang aktivitas kesehariannya. Tidak hanya itu, olahraga juga kiranya sangat mampu untuk memfasilitasi masyarakat untuk mencapai kesejahterahan materi yang diidamkannya untuk menunjang strata sosial yang lebih baik. Stigma masyarakat yang salah kaprah dan yang berbeda jauh dengan hakikat sebenarnya olahraga tersebut membuat pertumbuhan industri olahraga tidak begitu lancar.

Di satu sisi, semua hal yang dilakukan oleh manusia bukanlah sesuatu yang sempurna. Tengok saja lebih dalam perihal stigma yang telah disebutkan di atas. Maksudnya, tidaklah etis juga mengatakan bahwa stigma masyarakat tentang olahraga adalah salah kaprah. Hal tersebut erat kaitannya dengan budaya masyarakatnya yang ada di sana. Jika memang masyarakat di suatu wilayah tidak menjunjung tinggi atau mengindahkan kegiatan olahraga, maka sudah dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang ada di sekolah terhadap kegiatan olahraganya tidak akan pernah disoroti dengan serius. Budaya adalah hasil pemikiran manusia juga, bila manusianya tidak berfikir secara serius perihal olahraga, alhasil budaya olahraga hanya berpredikat sebagai “lembaran kosong” saja. Lantas dari sudut mana ketidaketisan tersebut? Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat diibaratkan seperti ini, seseorang bisa mengatakan sesuatu itu bernilai benar karena memang ada perbandingan nilainya tentang norma dari salah itu seperti apa. Nah, nilai benar-salahnya tersebut pada dasarnya terbentuk dari lingkungan orang itu sendiri. Benar-salah di daerah A belum tentu sama dengan yang ada di daerah B. Begitu halnya dengan kesalahkaprahan stigma masyarakat tentang olahraga. Jadi, orang mengatakan salah kaprah adalah karena orang yang mengatakannya tersebut berada di dalam lingkungan yang telah sadar akan keberadaan olahraga pada hakikatnya dan membenarkannya, sehingga ia mampu mengatakan orang atau masyarakat yang berbeda pandangannya dengan dirinya adalah salah, bahkan terbelakang. Berbeda halnya bila orang tersebut berada atau bahkan hidup di lingkungan yang bisa dibilang tidak sadar akan peran olahraga itu penting bagi dia, maka sedikitpun ia tidak akan membenarkan perihal olahraga itu juga. Alhasil, stigma salah kaprah tentang olahraga di pada kasus ini tidaklah berlaku secara mutlak.

Oleh sebab beda sudut pandang ini, alangkah baiknya sekolah, yang mana sebagai lembaga pemberi fasilitas pendidikan kepada masyarakat, segera mengambil tindakan yang terbaik jika memang ingin meningkatkan industri olahraganya. Olahraga sudah jelas manfaatnya seperti apa pada masyarakat luas. Pendidikan tentang olahraga adalah salah satu pondasi yang mampu mengokohkan kehidupan masyarakatnya. Perlu untuk digarisbawahi di sini bahwa tulisan ini tidaklah ingin mengintervensi sedikitpun perihal sistem pendidikan atau materi kurikulum yang ada pada suatu wilayah tertentu hanya untuk menitikpusatkan perhatian pada kajian tentang olahraga saja, karena memanglah sudah diketahui bahwa para petinggi yang memiliki kapasitas mengotak-atik sistem pendidikan punya kebijakan tertentu tentang hal itu. Namun agaknya juga ada perhatian dari banyak kalangan terlebih pihak sekolah terkait permasalahan stigma masyarakat ini tentang olahraga. Sekolah dalam memberikan pendidikan perihal olahraga ini sebaiknya melihat ke-komprehensif-annya. Artinya, sudah disinggung tadi di atas bahwa pemberian pendidikan berupa praktik yang berlebih ketimbang teori kuranglah cukup, keseimbangan antara praktik dan teori dalam olaharaga haruslah terjadi dalam pengajarannya. Selain itu, selama ini cara tradisional yang mana menggunakan guru sebagai subyek utama dalam pembelajaran hendaknya sedikit dimodifikasi dengan cara melibatkan pembelajar sebagai subyek juga. Model peran seperti ini harus juga diimbangi dengan metode dialog agar penyampaian materi pembelajaran dapat diterima oleh pembelajar. Faktanya, dalam masyarakat umum fenomena olahraga sudah diketahui penting keberadaannya, akan tetapi belum secara maksimal penting untuk dilakukan. Hal ini membuktikan antara pembelajar dan pemelajar sudah mengetahui esensi pentingnya olahraga, maka sebaiknya mereka benar-benar dijadikan subyek utama dalam suatu wadah pembelajaran, agar pembelajar diharapkan setidaknya bisa merubah pemikirannya perihal olahraga tersebut yang mana olahraga tidak sekedar penting dalam ucapan, namun juga penting dalam tindakan. Dalam arti kata lain, membuat seseorang berfikir lebih kritis dengan apa yang ada pada olahraga itu sendiri dengan dirinya, itulah harapan minimalnya.


Cara yang demikian perlu untuk diterapkan secara besar-besaran dan berangsur-angsur alias kontinyu. Akan sangat susah merubah pemikiran banyak orang hanya dalam tempo satu malam saja, butuh banyak malam agar tercipta suatu pemikiran kebudayan yang sadar akan olahraga. Manusia pastilah ingin memiliki kehidupan yang lebih baik seiring berkembangnya zaman, dan tentulah jika ingin demikian maka merubah pemikiran diri sejak dini adalah langkah yang dirasa cukup rasional, manusia harus belajar dan mendidik dirinya sendiri dan olahraga adalah salah satu medianya.

Komentar