Dalam
beberapa hari ini pemberitaan tentang dunia sepakbola kembali sedang
panas-panasnya. Hal ini disebabkan oleh salah satu acara di stasiun televisi
yang mengupas secara gamblang perihal isu bobroknya persepakbolaan di Indonesia
yang menyeret sejumlah nama petinggi PSSI dan mafia pengaturan skor (match
fixing). Ironi sekali sepakbola di Tanah Air, kecewa, itu sudah pasti. Dalam
perspektif penulis sendiri, permasalahan ini tentunya sangatlah mencoreng nama
baik Indonesia tidak hanya pada level asia, namun juga pada level dunia dan
akhirat. Sangatlah hancur nilai-nilai kerohanian pada diri pelaku tersebut.
Sekali lagi, ironi.
Sedikit
demi sedikit kasus mafia pengatur skor ini terkuak. Sedikit demi sedikit mata
masyarakat juga mulai terbuka, khususnya masyarakat yang awam tentang dunia
sepakbola ini. Oleh karena fenomena ini, masyarakat mulai berfikir kritis
perihal keterlibatannya di dunia sepakbola baik langsung maupun tidak langsung.
Menariknya, respon-respon kritis masyarakat tersebut tidak kalah panas
ketimbang permasalahan sepakbola itu sendiri. Apakah ini tanda masyarakat sudah
bisa diberikan label cerdas dalam menanggapi isu permasalahan yang sedang
terjadi?
Respon
masyarakat yang menarik untuk dibahas pertama yakni dari masyarakat di dunia
online. Masyarakat yang satu ini lebih familiar disebut netizen. Menarik karena
respon yang diberikan perihal mafia sepakbola begitu cepat dan bisa dikatakan
responnya begitu beringas. Masyarakat secara mayoritas merespon permasalahan
ini dengan menghujat oknum-oknum mafia tersebut, apa lagi saat kasus mafia bola
ini menyeret beberapa punggawa tim nasional sepakbola yang berlaga di piala AFF
2010 kemarin. Istilah beringas sepertinya memang cocok untuk menggambarkan
respon masyarakat tersebut. hal ini bukanlah tanpa alasan karena aura hujatan
tersebut bernuansa kasar, sporadis dan bahkan ada yang sebenarnya sudah
melanggar nilai-nilai kehidupan bermasyarakat itu sendiri. Bisa dilihat secara
jelas perihal respon yang seperti ini, beberapa akun sosial media yang
memberitakan tentang permasalahan sepakbola ini dibanjiri dengan komentar-komentar
masyarakat yang beringas tersebut. Apa lacur, ini memanglah bukti nyata kekecewaan
masyarakat, khususnya pecinta sepakbola Indonesia, yang begitu dalam terhadap
penyelewengan sistem persepakbolaan nasional. Yang menjadi puncak kekecewaan
ini yaitu salah satunya karena adanya dugaan keterlibatan orang dalam, dalam
hal ini adalah orang-orang PSSI. Andai kata tidak ada dugaan keterlibatan
orang-orang yang ada di PSSI, mungkin keberingasan masyarakat dalam merespon
kasus ini tidak seperti saat ini. Di sisi lain, ada hal yang unik muncul dalam
respon netizen ini. Netizen seolah-olah mengeneralisasikan bahwa orang-orang yang
ada di PSSI semuanya adalah mafia baik secara langsung maupun tidak langsung. Memang
benar bahwa kasus ini menjerat banyak orang dan pihak, tetapi pola pemikiran netizen
yang sedemikian induksi seperti ini begitu unik di tengah-tengah kasus besar seperti
ini. Tanpa mengurangi nilai kebenaran sebenarnya sah-sah saja memiliki pola
pemikiran seperti itu, namun apakah konteksnya sudah benar?
Pada
intinya tetaplah sama bahwasannya suara mayoritas masyarakat yang merespon
melalui dunia maya ini adalah beraroma negatif. Meskipun demikian, sebuah koin
pastilah memiliki dua sisi. Maksudnya, respon masyarakat tersebut ada sisi
positifnya. Positifnya yakni respon beringas tersebut juga bisa membuat beberapa
punggawa timnas sepakbola tahun 2010 lalu akhirnya angkat bicara dan memberikan
statement-nya baik melalui akun sosial media pribadi mereka, maupun melalui
konferensi pers. Terlepas suara para pemain tersebut merupakan kebenaran atau
bualan, aksi nitizen tersebut nyatanya benar-benar membuat oknum-oknum yang
diduga terlibat kasus mafia bola terlihat begitu ketar-ketir. Ada aksi maka ada
reaksi, tapi perlukah untuk diapresiasi?
Berbeda
dari yang telah dijelaskan sebelumnya, di dunia offline atau dalam perbincangan
secara langsung tatap muka masyarakat cenderung memberikan respon yang berupa
analisis. Terdengar cukup mengejutkan jika masyarakat tidak langsung
menyimpulkan keadaan sebenarnya yang ada, melainkan menganalisisnya terlebih
dahulu berdasarkan informasi-informasi yang telah ditunjukkan sebelumnya di
media elektronik dan cetak. Statemen-statemen yang muncul dari para nara sumber
terkait pemberitaan mafia bola ini ditangkap benar-benar oleh masyarakat. Jikalau
ada yang dirasa ganjal dari statemen tersebut, barulah masyarakat memberikan
penilaiannya. Akan tetapi penialaian masyarakat ini bervariasi, maksudnya ada
yang subyektif dan ada pula yang obyektif. Namun tetap, tidak ada respon
pembenaran atas tindakan pengaturan skor yang dilakukan oleh mafia yang
terkait. Selain itu, respon yang muncul dari masyarakat yang berbincang-bincang
melalui tatap muka langsung ini agaknya terasa kalem namun tajam. Kalem maksudnya
bahwa masyarakat tidak terlalu melibatkan emosionalnya dalam kata-kata yang
dilontarkannya, hampir tidak ada yang responsif yang berlebihan. Dari sini muncul
petanyaan, apakah ini menandakan bahwa masyarakat memaklumi permasalahan ini? Sebagian
masyarakat mengetahui dengan samar-samar bahwa praktik mafia ini sudah dari
dulu terjadi dan mengakar begitu dalam, hingga akhirnya kasus ini menguap
mereka pun tidak kaget dibuatnya. Selanjutnya masyarakat merespon tajam kasus
mafia sepakbola ini. Contohnya apa yang mereka bahas tersebut juga menarik
peristiwa-peristiwa lainnya, mulai dari model pemain yang seperti apa yang bisa
terlibat pengaturan skor, sampai finansial tim yang bagaimana yang rawan terlibat
kasus mafia bola. Apakah ini bersifat kepentingan individu atau kolektif pun
mereka bahas setajam yang mereka bisa.
Nyatanya,
mensinkronkan informasi yang ada bukanlah perihal yang mudah bagi masyarakat. Alhasil,
arah analisis tersebut terkesan berputar-putar dan akhirnya dugaan saja yang
dominan. Gawatnya, dugaan itu yang mungkin saja nantinya dianggap sebagai
kebenaran yang nyata. Banyaknya hipotesis yang mencuat di kalangan masyarakat
yang berbincang ini yang juga tanpa diimbangi informasi atau data yang valid
kebenarannya terkadang menjebak masyarakat dalam mengambil suatu kesimpulan
kebenaran di dalamnya. Sudah barang pasti perbedaan alur berfikir bahkan
kesimpulan tadi akhirnya menemani perbincangan mereka. Dalam konteks ini perlu
sangat disadari bahwa masyarakat Indonesia terbangun dari ke-bhinekaan, jadi
toleransi terhadap respon yang pada masyarakat harus dipegang begitu erat.
Media
apapun yang digunakan masyarakat dalam merespon kasus mafia sepakbola Indonesia
ini begitu bervariasi. Keberanekatagaman itu tidak terlepas ruang dan waktu di
dalamnya. Namun, nampaknya media yang digunakan mempengaruhi respon yang muncul
pada diri masyarakat. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang menerapkan
nilai-nilai yang ada, baik nilai agama, sosial, budaya maupun hukum yang
berlaku. Masyarakat yang baik akan pula merespon dengan cara yang baik. Cerminan
masyarakat Indonesia adalah kita.

Komentar
Posting Komentar