Berfikir
tentang dunia olahraga sekarang ini khususnya di Indonesia sedikit terkacaukan
dengan isu mafia, yang beberapa waktu sebelumnya telah di bahas di beberapa
media. Nyatanya memang isu mafia tersebut terjadi di salah satu cabang olahraga
saja, namun hal tersebut seolah-olah bagi sebagian orang telah
digeneralisasikan. Yah, maksudnya stigma masyarakat yang hanya beberapa
tersebut menyamaratakan antara cabang olahraga yang tersandung kasus mafia dengan
cabang olahraga lainnya.
Sesungguhnya,
tidak bisa dielakkan secara jelasnya bahwa banyak sekali masyarakat yang memandang
olahraga adalah suatu prestasi, apapun itu cabang olahraganya. Olahraga prestasi
masih sangat dieluh-eluhkan di dalam kalangan masyarakat Indonesia. Jika
Indonesia berprestasi dalam olahraga, harkat martabat bangsa Indonesia akan
membumbung tinggi. Inilah yang telah dikatakan jelas tadi, bahwasannya prestasi
adalah harga mati. Ironisnya akan hal tersebut, jika tidak bisa berprestasi,
masyarakat akan memaki-maki, serta mengkambinghitamkan para pelaku olahraganya
yang dalam konteks ini adalah jajaran atlet, pelatih, official, manajer dan
orang-orang yang terlibat dalam organisasi olahraganya. Menyedihkan, banyak
orang yang akan disalahkan oleh masyarakat bila prestasi tiada dalam genggaman
pasti. Dan lagi, masyarakat sangatlah bisa dikatakan akan tidak puas dengan hasil
kekalahan jika tim nasional Indonesia kalah bertanding atau tidak menjad juara
dalam suatu kompetisi atau turnamen, lebih-lebih lagi bila olahraga yang indahkannya
setinggi langit itu agar berprestasi malah terjerembab kedalam lubang “kotor”
mafia. Kecewa yang didapat, mengecewakan.
Dalam
kaitannya dengan oknum masyarakat yang menyamaratakan tadi, alhasil semua
cabang dalam olahraga seperti memiliki kedudukan yang sama rata, dan tidak
dibeda-bedakan oleh masyarakat. Hal tersebut salah satunya dikarenakan paradigma
olahraga prestasi di Indonesia yang sebagaimana telah dinyatakan di atas. Sehingga
bisa dilihat bahwa oknum masyarakat yang demikianpun juga berdiri bukan tanpa
alasan.
Padahal
sejatinya, olahraga prestasi adalah aktivitas yang penuh dengan aroma positif. Sebagai
bukti perlu untuk sedikit diuraikan di sini bahwasannya olahraga prestasi ini
secara positif memunculkan semangat nasionalisme, baik untuk para pelakunya
maupun untuk para masyarakat umum. Ini karena yang telah disebutkan sebelumnya
di atas bahwa olahraga prestasi berhubungan erat dengan harkat dan martabat
bangsa Indonesia. Sebagai contoh, jika ada tim nasional Indonesia bertanding melawan
tim nasional dari negara lain, semangat nasionalisme atlet dan supporter pertandingan
akan memuncak, hal ini disebabkan tim nasional Indonesia membawa dan mewakili
segenap bangsa dan kehormatannya. Tidak hanya nasionalisme, olahraga juga
berdampak pada kesejahterahan bagi yang terlibat di dalamnya baik secara
langsung maupun tidak. Sebagian besar atlet akan ditanggung kesejahterahannya
oleh negara jika ia berprestasi di kancah nasional atau internasional. Juga,
oleh karena olahraga melibatkan banyak orang, ini bisa dimanfaatkan sebagai
lahan bisnis oleh beberapa kalangan. Maka dari itu kesejahterahan finansial
dapat diperoleh dari usaha bisnis di sini.
Andaikata
orang-orang yang demikian dibiarkan memiliki pandangan seperti itu, akan
kiranya hal tersebut memiliki dampak negatif yang mungkin cukup signifikan. Dampaknya
bisa saja memicu adanya gap antara
masyarakat dan olahraga itu sendiri. Tidak bisa dibayangkan jikalau masyarakat
Indonesia jauh dengan yang namanya olahraga, akan jadi apa negara ini. Dari sektor
yang paling fundamental, yakni kesehatan dan kebugaran tubuh sudah jelas
terlihat akan sangat rendah sekali. Secara umum, olahraga dapat dengan pasti
menyehatkan pelakunya, dan membuat pelakunya memiliki kebugaran yang lebih,
sehingga dalam aktivitas kesehariannya tiada yang namanya kelelahan yang
berarti. Ini tentu saja menunjang kinerja pelakunya. Bila gap itu ada, maka
masyarakat akan sangat mudah terjangkit penyakit, dan mudah lelah dalam
melakukan aktivitasnya, hasilnya pun sudah bisa ditebak bahwa kinerjanya akan
sangat diragukan keberadaannya. Lantas selanjutnya,
olahraga tidak akan mungkin bisa ditetapkan sebagai suatu industri yang
menjanjikan kesejahterahan di sana. Di atas sebelumnya sudah diterangkan bahwa
kegiatan usaha atau bisnis marak terjadi di lingkungan olahraga, karena memang
benar olahraga melibatkan banyak orang, dan orang yang banyak tersebut
beranggapan yang mana olahraga adalah suatu kebutuhan. Dalam rangka pemenuhan
kebutuhan inilah orang-orang berbisnis dalam olahraga. Dari olahraga, tidak
sedikit nominal materi yang akan diperoleh para pelakunya. Yang tidak kalah
riskannya adalah perihal harkat martabat dan kehormatan bangsa yang mana dalam
hitungan cepat akan sirna, terbang selayaknya debu yang dihempaskan angin bila
gap tersebut benar-benar nyata adanya. Gap membuat masyarakat umum enggan untuk
datang mendukung tim nasional yang bertanding, juga enggan mendukung walaupun
hanya sekedar di balik layar televisi. Gap mengindikasikan krisis kepercayaan. Tiada
dukunganpun akan menimbulkan atlet yang sedang bertanding tersebut secara
psikologis tidak memiliki kebanggaan mewakili nama Indonesia. Bisakah semangat
nasionalisme tetap berjalan jika seperti ini?? Sepertinya tidak.
Perlu
adanya suatu tindakan memang agar hal-hal telah disebutkan di atas tidak
benar-benar terjadi. Semua masyarakat pastilah ingin yang terbaik dalam
olahraga Indonesia. Tindakan yang diambil kiranya tidak bisa hanya difokuskan
dari satu pintu saja, namun perlu secara serantak dan bersamaan pada
pintu-pintu yang lain juga yang tentunya dari berbagai golongan masyarakat. Sebagai
gambaran, salah satu pintu yang dimaksud tersebut yaitu pendidikan. Pintu ini
menjadi bagian yang penting agar olahraga Indonesia tetap berprestasi dan malah
menjadi semakin lebih baik karena pendidikanlah yang sedikit-banyaknya
membentuk pemikiran masyarakat. Doktrin-doktrin pendidikan yang sesuai dengan ideologi
negara haruslah benar-benar kuat baik secara teoritis maupun praktis agar bisa
terpatri secara mendalam di fikiran dan hari masyarakat. Perihal ketuhanan,
kemanusian, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial yang telah diwakilkan
dalam Pancasila butuh untuk dipegang teguh oleh semua masyarakat Indonesia
dalam kehidupan nyatanya. Ini tentunya agar cita-cita bangsa Indonesia dalam
segala aspeknya dapat terwujud tanpa keraguan sedikitpun.
Olahraga
adalah kebanggan masyarakat Indonesia. Janganlah gara-gara secuil “kotoran”
menghanguskan keseluruhan tubuh di dalamnya. Jadilah masyarakat yang tidak
segan untuk membersihkan “kotoran” tersebut. Masyarakat Indonesia pasti bisa!!

Komentar
Posting Komentar