Dialog; Sarana Belajar Generasi Millennial



Tak pelak lagi, saat ini generasi sudah berganti. Benarlah generasi millennial telah mendominasi aspek-aspek kehidupan seseorang. Generasi millennial seolah-olah merubah apapun termasuk gaya hidup masyarakatnya. Hal ini tentu saja salah satunya karena pengaruh teknologi dan internet yang kian hari kian merambak masuk dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat seringkali mengandalkan teknologi dan internet untuk mendapatkan informasi, bahkan menggunakannya untuk berbelanja kebutuhan kehidupan sehari-hari. Bisa dikatakan internet dan teknologi menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan  dengan generasi millennial. Memang demikianlah gaya hidup generasi ini.

Terlebih lagi, gaya hidup yang berkaitan dengan kehidupan sosial, para generasi millennial juga sepertinya lebih memprioritaskan berkomunikasi dengan sesamanya melalui pemanfaatan teknologi dan internet. Media sosial buktinya semakin digandrungi oleh mereka saat ini. Facebook contohnya, pengguna facebook saat ini talah mencapai angka ratusan juta pengguna di seluruh dunia. Mereka berdalih bahwa bercengkrama dengan orang yang dikenal atau bahkan yang baru dikenal melalui media sosial seperti ini jauh lebih menarik dan tidak membosankan, dan lagi semakin mendekatkan. Di sisi lain, frekuensi tatap muka dengan teman yang dekat atau yang berada dekat di derah tempat tinggalnya memang tidak berubah, namun kualitas perbincangan mereka terlihat jauh menurun. Hal ini seringkali dilihat dalam suatu kesempatan di tempat pertemuan, rata-rata generasi millennial masih memprioritaskan berselancar di dunia maya dari pada berdiskusi dengan teman yang ada di depannya. Media sosial memang mengasyikkan bagi mereka. Seperti inilah dinamika kehidupan sosial generasi millennial.

Telah dikatakan tadi di atas bahwasannya generasi millennial memiliki gaya hidup yang demikian nyatanya. Ini kiranya juga mengintervensi ranah pendidikan. Nyatanya, banyak sekali pelajar di generasi millennial ini yang lebih mengandalkan teknologi, seperti smartphone dan laptop, sebagai sarana belajar atau memperoleh materi pembelajaran ketimbang harus menghadiri perkuliahan secara langsung. Kebetulan lagi, melalui smartphone dan laptop seorang pelajar mampu mengakses internet dan mendapatlan informasi tambahan yang rinci yang ia inginkan dengan begitu cepat. Ironinya, model pembelajaran yang konvensional seperti dibantai terang-terangan dalam fenomena ini. Seiring mendominasinya generasi ini, hal-hal yang berbau tradisional di dalam cakupan pembelajaran mulai ditinggalkan.

Ada satu hal yang menarik yang dapat diamati dari fenomena generasi millennial di dunia pendidikan. Oleh karena label konvensional yang sedikit demi sedikit ditanggalkan, ini berarti model ceramah yang biasa digunakan oleh seorang pengajar dalam memberikan materi ajar kepada peserta didiknya akan juga perlahan tergerus. Hal tersebut lantas secara otomatis memberikan ruang yang lebih pada model pembelajaran secara dialog. Semenjak generasi millennial menyukai berdialog secara privat di dunia maya, ini nyatanya juga berdampak pada gaya belajarnya. Dialog di sini artinya suatu percakapan anatara dua orang atau lebih baik secara lisan maupun tulisan. Biasanya gaya dialog ini mengedepankan suatu narasi dalam membahas suatu persoalan. Di dalam dialog juga terdapat suatu retorika, maksudnya adanya sifat persuasif dalam bertutur kata di mana melibatkan emosi, karakter si pembicara dan struktur argumentasi yang menarik. Terang saja, model pembelajaran secara berdialog  dapat diterima dalam kalangan generasi millennial karena dalam berdialog pesan-pesan yang memang harus disampaikan bisa diterima dengan mudah oleh mereka yang tidak hanya di akal saja, melainkan juga di hari mereka.

Berdialog memang terkesan gampang, namun sebenarnya susah untuk dilakukan apalagi kepada generasi millennial saat ini. Keterlibatan emosi dan karakter inilah yang menjadikan metode dialog dalam suatu pembelajaran sebagai tantangan yang harus dijawab. Seringkali para generasi millennial membawa perasaanya (baper) tanpa memperhatikan konteks dialog dari lawan bicaranya. Artinya tidak adanya filter emosi di sini. Alhasil transfer informasi yang seharusnya berjalan lancer sedikit terhambat karena ketidaksinambungan dalam berperasaan. Selain itu, pembelajar yang berdialog di sini tak segan untuk mengekspresikan perasaannya dalam menanggapi materi pembelajaran yang ada. Sikap responsif ini bisa juga menyinggung beberapa pihak yang ada dalam dialog tersebut. Bagaimanapun, berdialog selama ini bisa dikatakan sebagai jalan alternatif dalam menyampaikan pembelajaran baik dari guru kepada muridnya ataupun antar sesama pembelajar. Selain itu, dalam berdialog generasi millennial lebih condong menggunakan gaya bahasa yang casual atau tidak formal. Ini juga kiranya sebagai tembok rintangan yang harus dilewati. Meskipun gaya bahasa yang demikian akan memudahkan pembicara dalam berikatan dengan lawan bicara, akan tetapi jika dilakukan oleh seorang pengajar kepada muridnya, kekhawatirannya adalah hilangnya rasa hormat dari siswa tersebut kepada pengajarnya. Itulah yang tidak pantas ada di dunia pendidikan. Adab dalam belajar tetaplah harus dijunjung setinggi mungkin.

Dengan melihat baik-buruknya metode dialog untuk diterapkan pada generasi millennial sekarang ini, perlu kiranya suatu kehati-hatian. Dialog membuat mereka nyaman dalam belajar, nyaman dengan orang yang memberikan pelajaran kepada mereka dan nyaman dengan dirinya sendiri tatkala sedang belajar. Menariknya, kenyamanan dalam berdialog ini mampu juga membuat materi yang dirasa sukar untuk dipelajari dapat diterima dengan begitu mendalam. Berdialoglah, berdialoglah dalam belajar.

Komentar