Hari-hari
ini pemberitaan tentang olahraga tidak segencar beberapa waktu yang lalu. Tidak
mengapa hal ini karena masih kalah dengan pemberitaan politik yang memang sudah
memasuki musim kampanye untuk mempersiakan pemilihan umum April mendatang.
Namun agaknya peristiwa ini tidak menyurutkan penulis untuk sedikit berbagi
perihal fenomena olahraga yang sebenarnya sudah diketahui oleh orang banyak
tetapi juga kerap kali dihiraukan oleh mereka, khususnya yang terlibat langsung
di dunia olahraga.
Apa
yang ingin penulis bahas di sini adalah perihal atlet olahraga atau orang-orang
yang ada di depan layar panggung olahraga. Jika berbicara perihal atlet tentu
sudah terbayang oleh para pembaca bahwa yang akan dibahas kali ini ada
kaitannya tentang olahraga prestasi. Benarlah, atlet olahraga pasti
mengharapkan suatu kemenangan atas jerih payah latihannya di mana hal itu
mengorbankan banyak hal seperti tenaga dan waktu. Atlet yang bersungguh-sungguh
dalam latihan berpotensi besar mendapatkan kemenangan sesuain dengan apa yang
ia harapkan. Akan tetapi benarkah hanya mengandalkan latihan yang dijalani oleh
atlet tersebut?
Tidak
mungkin tidak bahwa pastilah latihan yang dijalani atlet olahraga tersebut
tidaklah sembarangan. Dan pasti benar bahwa latihan tersebut diprogram sedemikian
rupa oleh tenaga ahli, dalam hal ini adalah pelatih, agar tujuan kemenangan
dapat diraih oleh atlet olahraga tersebut. Dalam hal ini poin utamanya adalah
pelatih, analoginya adalah pelatih yang berkualitas tentu saja menghasilkan
program latihan yang berkualitas, dan program latihan yang berkualitas
mendorong atlet mendapatkan kemenangan yang sebagaimana telah ia targetkan.
Bagaimanapun ada satu hal yang terkadang luput untuk diperhatikan secara
seksama pada atlet ini.
Ingatlah
bahwasannya atlet adalah manusia biasa yang terlatih dengan aktivitas olahraga.
Oleh karena ia manusia biasa maka hal-hal yang menyertainya berlaku secara
umum. Maksudnya di sini adalah jasmani dan rohaninya. Berbicara tentang manusia
tentunya tidak akan pernah sekalipun dapat dipisahkan antara jasmani dan rohani
tersebut. Sedikit untuk diketahui bahwa akal manusia termasuk dalam ranah
jasmani, itulah sebabnya banyak bermunculan cabang olahraga yang tidak
menonjolkan fisik (catur, biliyar, bridge,
dll). Pertama, mari membicarakan
ranah jasmani manusia dalam konteks olahraga. Olahraga dari namanya saja telah
bisa difahami bahwasannya istilah “raga” merujuk kepada fisik, ini artinya
bahwa memang olahraga, apapun bentuknya, penopang utamanya adalah fisik.
Fenomenanya adalah bahwa fisik atlet ini menjadi santapan utama dalam menjalani
hari-hari untuk meraih prestasi. Dalam program latihan, bahkan yang berkualitas
sekalipun, fisik selalu menjadi nomor pertama untuk digembleng. Performa fisik
yang luar biasa yang dimiliki atlet benar-benar mampu membuat si atlet ini
berada pada keadaan di mana ia memiliki kemungkinan besar untuk berprestasi
meraih tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, karena fisiknya sangat
menunjangnya dalam berkompetisi, berjibaku mengalahkan lawannya tanpa
sedikitpun khawatir akan adanya kelelahan atau bahkan cedera. Hal ini tidak
sedikitpun salah, justru benar. Menempatkan fisik pada proporsi yang besar
dalam program latihan akan membantu mencapai kemenangan yang diharapkan.
Akan
tetapi yang penulis soroti di sini adalah keberadaan akal di tengah-tengah
program latihan yang ada. Perlu diingat, memperlakukan atlet tidaklah bisa
semena-mena. Atlet adalah manusia, maka dari itu jika menyuruh atlet untuk
mengikuti program latihan yang sangat menguras fisiknya tanpa adanya suatu
edukasi atau perlakuan yang mana bisa mengembangkan dirinya selayaknya manusia
sejati, ibaratnya atlet tersebut adalah hewan sirkus atau bahkan robot. Atlet
bukanlah hewan sirkus atau robot. Atlet memiliki akal yang bisa digunakannya
untuk berfikir, mengambil keputusan dan hal-hal lainnya terkait dirinya. Oleh
sebab itu, akal haruslah dilibatkan dalam hal ini. Akal pada atlet membantunya
dalam berfikir untuk berkembang, menjadi pribadi yang baik, bahkan dapat
dijadikan instrumen dalam memecahkan permasalahan yang muncul tatkala ia
berlatih atau dalam suatu pertandingan. Akal ini harus selalu di-upgrade selayaknya fisik tadi, akal yang
senantiasa dikembangkan akan membuat atlet tersebut cerdas. Atlet yang cerdas
akan sangat mudah dalam mengatur dirinya sendiri maupun orang lain yang
disektarnya, sehingga ekosistem dalam rangka meraih prestasi setinggi-tingginya
bukan hanya bualan semata.
Dewasa
ini telah banyak ilmuwan yang mengembangkan artificial
intelligence yang diwujudkan dalam bentuk teknologi robot. Robot ini
seperti memiliki akal yang membuatnya bisa berfikir seperti manusia. Ada hal
yang membuat ini berlebel positif, yakni pekerjaan-pekerjaan manusia dapat terbantu
dengan baik oleh kehadiran robot seperti ini. Sebaliknya, lebel negatif tetap
mengahantui di sini di mana keberadaan manusia itu sendiri sedang terancam
karena lambat-laun ia akan digantikan oleh robot tersebut yang lebih bisa
diandalkan melalui kecerdasannya. Maksud dari tulisan ini adalah bahwa dalam
bidang lain pun akal sangat dijunjung tinggi keberadaannya, dan mengapa dalam
bidang olahraga tidak juga demikian. Akal seperti nahkoda kapal dan fisik
adalah kapal itu sendiri. Nahkoda yang handal mampu menjalankan kapal dengan
sangat baik sekalipun diterjang ombak yang besar dan badai yang begitu
mencekam. Oleh karena itu, akal haruslah menjadi penunjang fisik, hingga
nantinya secara fisiologis keduanya mampu berkolaborasi melahap program latihan
dalam rangka mewujudkan prestasi secara nyata.
Program
latihan untuk akal sendiri banyaklah macamnya, namun baiknya hal itu terintegrasi
dengan program latihan fisik yang ada. Adaptasi olahraga permainan merupakan
integrasi latihan akal dengan latihan fisik. Hal ini dirasa efektif bagi
keduanya dalam konteks meningkatkan kemampuan. Di dalam olahraga permainan
tentu saja aspek fisik masihlah terlibat akan tetapi tidak begitu dominan
karena diseimbangkan dengan porsi latihan akalnya. Terdapat latihan akal dalam
olahraga permainan karena dalam konteks ini terdapat tantangan tertentu yang
mana harus diselesaikan. Ini pastinya mampu menstimulus kinerja otak atlet yang
bersangkutan dalam bekerja secara optimal, dan diharapkan dalam pertandingan
sesungguhnya kinerja akalnya telah terbiasa untuk berpacu dengan tantangan dan
tekanan yang ada. Selain itu, dalam menunjang prestasi atlet, program latihan
untuk akal dapat dijadikan opsi untuk mengurangi kejenuhan atlet tatkala
dihujani dengan jadwal latihan fisik yang begitu padat.
Kedua, rohani menjadi aspek yang tidak kalah penting bagi
atlet. Rohani yang baik tentunya dapat dijadikan salah satu patokan bahwa
secara personal atlet itu baik. Maksudnya, pada taraf hakikat atlet yang
memiliki rohani baik akan menyadari dirinya sendiri seperti apa dan harus
bagaimana. Hal ini karena secara konsep, mental dan psiokologi, yang mana
adalah bagian dari rohani, atlet akan mengantarkan jasmaninya dalam bersikap
atau merespon program latihan, pertandingan atau bahkan keseluruhan ekosistem
olahraga yang digelutinya. Bisa dirasakan betapa pentingnya peran rohani bagi
atlet tersebut. Banyak orang mengatakan, jika ingin menjadi juara maka sikap
diri harus selayaknya seorang juara. Sangat lucu sekali tatkala mentargetkan
diri untuk berprestasi tinggi namun sikap dan tingkah laku yang ada malah berbentuk
sebaliknya, seorang pencundang. Kejiwaan atlet akan menentukan sikap bagi
dirinya kedepaan. Rohani ini selain itu juga dapat memancing munculnya motivasi
pada atlet yang mana nantinya akan menjadi pemicu atau sebagai energi tambahan
dalam meraih target-target yang ditetapkan. Munculnya motivasi tersebut adalah
hasil dari sikap yang muncul atau respon terhadap lingkungannya.
Kendati
rohani adalah aspek yang penting, bukan berarti itu tanpa celah. Rohani juga
tergolong mudah diinterfensi, khususnya ketika lingkungan keberadaan atlet
terkait tersebut tidak begitu kuat dan mengikat. Tengok saja perbedaan kejiwaan
atlet yang berada di asrama selama program latihan bergulir dengan yang tidak
berada di asrama. Sudah dapat ditebak mana yang tidak bisa diinterfensi dengan
mudah. Tentulah atlet yang berada di asrama tersebut jawabannya. Hal ini karena
lingkungan asrama tersebut sangatlah mengikat dan memiliki kekuatan untuk
merubah atlet, dan menariknya atlet yang bersangkutan akan seperti terhipnotis
melakukan perubahan yang diminta karena ketiadaan kekuatan. Sebaliknya,
kejiwaan atlet yang tidak berada di asrama tatkala menjalani program latihan
cenderung mudah untuk diinterfensi, karena kejiwaannya banyak tercampur-adukkan
dengan lingkungan-lingkungan lainnya. Belum lagi jika lingkungan yang ia
tinggal tergolong berkonteks negatif terhadap prestasi yang ingin ia raih. Ini membuktikan
rohani manusia juga membutuhkan penguatan agar tetap istiqomah dalam perjuangan dalam meraih prestasi.
Andaikata
rohani atlet mengalami penurunan karena campur tangan dunia luar, perlu diambil
tindakan pemulihan. Sebagai perbandingan, bila fisik mengalami penurunan
kemampuan akibat kelelahan atau bahkan cedera, tindakan pemulihan seperti
terapi dan rehabilitasi menjadi solusinya. Seperti halnya fisik, atlet yang
merasa rohaninya down, amat sangat
dianjurkan untuk dilakukan tindakan pemulihan. Dalam istilah olahraga disebut mental recovery. Benar sekali, rohani
atlet terkadang akan berada pada puncaknya dan terkadang pula akan berada pada
titik terendahnya. Rohani pun bisa merasakan “lelah”. Lantas bagaimana tindakan
pemulihannya?
Sebelum
menjawab pertanyaan di atas, baiknya perlu diterangkan sedikit mengenai
pemulihan dalam konteks fisik. Tatkala fisik mengalami kelelahan yang teramat
sangat atau bahkan cedera, tindakan pertamanya adalah istirahat (rest). Istirahat ini sangatlah penting
karena memberikan ruang atau jeda sejenak kepada fisik untuk rehat sejenak
dalam segala aktivitas beratnya yang biasa dilakukan oleh atlet. Kemudian barulah
terapi dan rehabilitasi dapat dilakukan, seperti terapi air dingin, pemijatan,
dll. Begitupun rohani, rohani juga butuh “istirahat” sejenak atas segala
kegiatannya sehari-hari. “Istirahat” yang dimaksud di sini banyaklah macamnya
mulai dari melakukan hal-hal yang digemari, belibur, mengunjungi tempat baru,
melakukan hal-hal baru dan beribadah sesuai keyakinan yang dianut oleh atlet. Dari
sekian banyak bentuk “istirahat” rohani pada intinya adalah melepaskan diri
dari kegiatan keseharian dan membuat diri pribadi kembali merasakan kenyamanan,
ketentraman dan kebahagiaan batin. Inilah yang tidak bisa dihiraukan bahwa
segala aktivitas apapun itu bentuknya adalah nikmat yang berikan Tuhan kepada
si atlet tersebut. Atlet yang sadar akan rohaninya pastilah akan merasa ter-charge kembali ketika merasa down jika
ia menginvestasikan waktunya untuk “mengistirahatkan” rohaninya merasakan kenikmatan
ilahi yang tergambar melalui perasaan nyaman, tentram dan bahagia. Tidak bisa
tidak, rohani atlet perlu diberikan jatah “istirahatnya” di sela-sela latihan
jasmaninya.
Sungguh
baik nantinya jika rohani atlet tidak hanya sesekali diberikan waktu “istirahat”,
melainkan juga dilatih, sehingga tercipta rohani yang kuat yang tidak mudah
terpengaruh oleh hal-hal lain yang mungkin bisa mengancamnya. Sejujurnya banyak
cara untuk melatih rohani atlet olahraga, mulai dengan selalu mengarahkannya
kepada ajaran keyakinannya hingga mengajarkan untuk tetap tenang dalam setiap
tekanan yang ada. Ini pastinya membutuhkan tenaga ahli, seperti psikolog atau
tenaga konsultasi kejiwaan, bahkan seorang pelatih sendiripun yang melakukan
pendekatan secara personal atau dari hati ke hati kepada para atletnya. Biasanya
para pelatih akan menyesuaikan situasi latihan dengan keadaan sebenarnya dalam
suatu pertandingan yang penuh dengan intrik drama dan seringkali membuat atlet
merasa di bawah tekanan yang berat, dari situasi latihan tersebut pelatih juga
mulai melakukan pendekatan yang telah diterangkan tadi, memotivasinya atau bahkan
bercengkrama hingga membuat suasana
rohani atlet tersebut jauh meningkat dari pada sebelumnya dan bahkan
jauh lebih stabil. Selain itu, ajakan untuk selalu berdo’a dalam rangka
mengingat Tuhan juga kerap kali diterapkan oleh pelatih. Ini mengajarkan kepada
atlet bahwa prestasi yang diraih akan mudah didapat jika perasaan nyaman,
tentram dan percaya kepada Tuhan pun di dalam rohani juga ada.
Di
Indonesia ini prestasi dalam suatu olahraga sangatlah dijunjung tinggi, dan
dalam pandangan masyarakat umum sekalipun prestasi adalah harga mati. Namun perlu
untuk diingat bahwa atlet sebagai alat untuk mencapai prestasi tersebut butuh
untuk diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Atlet sendiripun juga harus menyadiri
dirinya untuk memperlakukan dirinya sendiri dengan baik. Menjalani program
latihan janganlah hanya sekedar melakukannya, sangat perlu pemaham jasmani dan
rohani secara fundamental agar apa yang dijalani tersebut memiliki makna yang
begitu bernilai, sehingga prestasi yang diinginkan dan yang telah ditetapkan
akan mudah diraih kedepannya.

Komentar
Posting Komentar