Tidak terasa beban
hidup menumpuk di dalam batin. Semakin hari, semakin berat dibuatnya kepala dan
pundak ini. Pekerjaan di kantor, tugas dari guru dan dosen, ungkapan kata dari
orang lain dan bahkan tingkah laku orang lain yang terlihat nyatanya telah
mewakili predikat beban hidup tersebut. Alhasil, mengeluhlah yang ada. Hidup
penuh dengan bualan keluh kesah. Menyebalkan memang, tapi layaknya batu yang
dihujani oleh tetesan air, tak bisa mengelak nyatanya. Tak khayal, ini pun
merubah segala apa yang ada di kepala seperti halnya ide, kreatifitas bahkan
akal jernih dilahap oleh beban hidup ini, tak ada sedikitpun hal positif yang
ia tinggalkan. Telah hancurkah ini? Apakah hidup memang seperti ini?
Sayangnya, manusia
adalah makhluk yang sangat luar biasa. Meskipun kalanya ia mengeluh, merengek
dengan beban yang ada, yang menghantam batinnya hingga kakinya lemah tak terasa,
ia tetap akan bangkit melawan. Melawan dengan mencari jawaban yang
sebenar-benarnya perihal pertanyaan kehidupan tersebut. Dan memang demikianlah
manusia, manusia tak akan pernah diam begitu saja meratapi beban yang ia dapati
hingga mati, hingga kekonyolan beban itu merenggut apa yang menjadi haknya
untuk hidup. Manusia bukanlah robot yang harus menunggu untuk diatur terlebih
dahulu sistem kerjanya agar bergeraklah ia demi menemukan cara menghadapi dan
mengatasi pahit-asamnya beban hidup. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk hebat
yang jikalau masalah memeluknya, maka berusahalah ia mengenyahkannya, mungkin
tidak secepat-cepatnya, namun pasti itu segera akan dilakukannya.
Masa-masa yang
berlangsung membawa pencarian jawaban akhirnya berujung kepada muaranya, yakni penemuan
cara. Meskipun telah dikatakan tadi bahwa manusia adalah manusia yang luar
biasa keberadaannya, namun tetaplah berbeda satu sama lain. Benarlah, mereka
tidak sama, pun demikian perihal mengatasi masalah beban hidupnya. Ada beberapa
manusia yang tatkala ingin mengatasi beban hidup, caranya adalah dengan lari
dari permasalahan hidup itu sendiri. Artinya, tak ada pemikiran sedikitpun di
dalam akal sehatnya bahwa masalah itu harus dihadapi secara nyata. Alih-alih
demikian, lari, acuh dengan kenyataan masalah yang ada. Bahkan diperparah
dengan mencari pelampiasannya, hingga ia lupa tentang beban permasalahan yang
ia miliki. Sebagai contoh, pada umumnya pelampiasan yang ada dirupakan kedalam
wujud bersenang-senang yang berlebihan. Memang, manusia sangat menginginkan
kesenangan tatkala permasalahan memeluknya dengan erat. Kesenangan itu
dianggapnya seperti hujan di saat kekeringan melanda. Tapi dapatkah kesenangan
yang terlalu tersebut dibenarkan. Jika masih dapat ditoleransi tetaplah hal
tersebut tidak menyelesaikan inti permasalahannya. Beban hidup tersebut memang
seharusnya dihadapi dan dipecahkan hingga pada pusatnya untuk kehidupan diri
yang lebih baik.
Pemecahan masalah
beban hidup rupanya tidak segampang seperti perkara membalikkan telapak tangan.
Jikalau demikian nyatanya lantas harus bagaimana manusia mengatasi beban hidupnya
tersebut. Merenunglah, merenung sejenak atas apa yang telah dilakukan
sebelumnya atau bahkan jauh-jauh hari sebelumnya. Toh perenungan yang begitu
mendalam akhirnya pun melahirkan buah pemikiran yang mendalam pula. Maka dari
itu, fikirkan secara mendalam apa yang menjadi inti dari hakikat manusia hidup
di dunia ini yang katanya penuh dengan beban permasalahan. Inti inilah yang
memicu jalan hidup manusia. Benar sekali, hal itu adalah tujuan hidup. Tujuan
adalah segala sesuatu yang ingin dicapai oleh manusia tatkala ia hidup, tatkala
ia melakukan segala aktivitasnya. Perlu untuk diketahui, tujuan yang besar
tidak akan pernah mudah untuk digapai oleh manusia. Namun sesaat manusia telah
menggapainya maka besarlah pula ia. Ingatlah juga bahwa setiap manusia yang
berbeda tadi memiliki tujuan yang berbeda juga. Banyak tujuan yang manusia
miliki secara otomatis banyak pula rintangan yang mengikutinya. Maka bijaklah, refleksikanlah,
apakah tujuan sebenarnya manusia hidup?
Tujuan hidup jika
difikirkan sekilas sangatlah sepele nilainya, akan tetapi jika difikirkan secara
lebih mendalam maka yang terlihat adalah penuhnya makna yang menghinggap. Makna
yang mendalam inilah yang dapat dipelajari dan diterapkan manusia untuk
mengatasi segala bentuk beban permasalahan hidupnya. Sangatlah menakjubkan dimana
tujuan hidup mengarah kepada pemahaman filosofis manusia tersebut akan
keberadaannya di dunia dan keberadaan dunia untuk dirinya. Jika detilisik lebih
lanjut perenungan ini, tidak salah umpamanya memiliki tujuan hidup berbagi
kepada sesama manusia yang lain, atau singkatnya hidup itu untuk berbagi sesuatu
bukannya memperoleh sesuatu. Manusia yang memiliki tujuan hidup yang demikian
akan senantiasa mencari makna hidup dengan menjalani kegiatan yang sangat berhubungan
erat dengan aktivitas berbagi tersebut. Oleh karena itu, saat beban hidup
melanda ingatlah tujuan dan makna hidup tersebut. Jikalau memang perlu, ukir
kembali aktivitas yang memang searah dengan tujuan dan makna hidup. Ambil
langkah pasti, spesifiknya adalah rehat dengan aktivitas beban tersebut dan
selanjutnya bisa dengan mengikuti kegiatan volunteering. Manusia yang
demikian pastinya rela menjadi sosok volunteer atau relawan yang
mendedikasikan hidupnya hanya untuk berbagi kepada manusia yang lain, khususnya
kepada manusia yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Makna menjadi
relawan begitu banyak contohnya. Menjadi relawan akan menjadikan manusia yang
memiliki beban hidup tersebut menyadari bahwa hidup adalah tentang keharmonisan
antar manusia, tentang kesinergiannya juga dalam hidup bersama di dunia. Artinya
tidaklah benar manusia itu hidup sendiri, kesengsaraan menahan beban hidup
perlulah untuk diselesaikan dengan kolektifitas antar sesama manusia yang ada.
Bukankah beban yang dipikul oleh banyak manusia akan terasa lebih ringan
daripada harus dipikul sendiri. Ini semua karena menjadi relawan, maknanya artinya
adalah hidup bersama dan berbagi besama. Indikasinya beban hidup akan sangat
bisa terselesaikan dari makna menjadi seorang relawan. Tidak hanya itu, beban
yang sedang diterpa pada saat itu akan kemungkinan dapat diatasi dengan perasaan
tenang pada saat menjadi relawan karena pastinya saat menjadi relawan mulut dan
hati akan senantiasa berucap rasa syukur atas berkah, rahmat dari Tuhan yang
telah diberikan. Yang patut diketahui adalah bahwa dalam aktivitas menjadi
relawan, keterbatasan akan senantiasa menghinggap, dari keterbatasan itu merefleksikan
dirinya bahwa apa yang diperolehnya adalah sudah sangat cukup bahkan berlebih. Terkadang
tidak bisa dipungkiri bahwa beban hidup adalah berkah tersendiri dari Tuhan
untuk manusia, dan memang cara itulah yang kiranya mampu membuat manusia sadar
akan pentingnya rasa syukur kepada Tuhan. Tuhan adalah dzat yang penuh dengan
kebaikan, jalan Tuhan untuk manusia pastinya adalah jalan kebenaran, beban
hidup adalah juga jalan kebenaran untuk manusia. Memiliki perasaan yang
demikian tatkala dihujani beban hidup akan sangat menenagkan hati dan perasaan
serta akal sehat. Ketika itu semua dalam kondisi tenang, pemecahan masalah atas
beban yang dihadapi acapkali dapat didapatkan dengan segera.
Beban hidup pastilah
ada keberadaannya selama manusia hidup di dunia, dan memang hal tersebut
sangatlah sukar untuk sekedar disangkal. Maka dari itu, hal yang paling
bijaksana adalah bersedia mengakui keberadaannya dan berusaha berkawan
dengannya, hingga nantinya diselesaikan dalam rangka peningkatan kualitas diri.
Penyelesaian beban masalah tersebut baiknya dilihat dari tujuan hidup dan makna
hidup dari apa yang telah manusia lalui atau geluti. Jikalaupun harus rehat
sejenak untuk berfikir, maka sebaiknya memang lakukanlah, lakukan hal-hal yang
sangat erat kaitannya dengan makna dan tujuan hidup. Yang menjadi contoh nyata
di sini adalah terlibat aktif dalam kegiatan menjadi relawan untuk sesama,
untuk manusia lain yang membutuhkan. Dari langkah inilah manusia yang pada
awalnya bebannya serasa menghempaskannya ke dasar tanah akan terasa layaknya
kawan yang siap sedia menjadi tangga menuju tingkat yang lebih tinggi.
Bersahabatlah dengan beban hidup, berfikirlah, kembalilah pada tujuan dan makna
hidup.

Komentar
Posting Komentar