Akal; Jalan Menuju Kedewasaan


Sudah barang mesti bahwa manusia itu akan tumbuh dan berkembang, tidak hanya seputar keadaan fisiknya saja, melainkan juga akal fikirannya. Akal manusia semakin meluas, kokoh mengikuti masa waktu tuannya dalam berkompromi dengan hidup yang dilaluinya. Telah diketahui oleh banyak orang jika fisik dan akal sangat mempengaruhi satu sama lain, pun berkolerasi dengan hati nurani atau jiwa manusia itu sendiri. Fisik yang tumbuh dan berkembang dapat diketahui adanya oleh pertanda biologis manusia tersebut, lantas akal yang telah tumbuh apalah yang mampu dijelaskan tanda-tandanya. Tidak mudah dan sulit tentunya. Akal yang demikian telah tumbuh dan berkembang perlu kiranya dikatakan dewasa. Dewasa akal, manusia yang berakal dewasa.

Sungguh menarik apa yang telah dikatakan oleh seorang filsuf, “aku berfikir, maka aku ada”. Dapat dipetik suatu pemikiran bahwa eksistensi manusia berkolerasi dengan apa yang menjadi pemikirannya, akalnya. Akal menjadi salah satu penentu dalam keberadaan manusia. Mulianya posisi akal. Bagaimanapun, perlu untuk dimengerti bahwasannya akal yang berkualitas akan menjadikan manusia tersebut sebagai sosok yang berkualitas pula, maka dari itu akal sangat butuh untuk dibentuk agar hasilnya sesuai dengan harapan. Akal dibentuk melalui lingkungan, lebih detailnya melalui interaksi manusia dengan sekitarnya. Jika lingkungan sekitarnya baik, jangan heran jika akalnya adalah akal yang penuh dengan kebaikan. Sebaliknya, lingkungan yang mengenaskan, yang tak menjunjung nilai kebaikan di dalamnya akan menggerogoti dan merusak akal manusia. Jangan sepelekan lingkungan sekitar manusia.

Manusia sedari kanak-kanak banyaklah rasa keingintahuannya. Masa tersebut adalah masa dimana manusia menghabiskan waktunya untuk mengamati, mempertanyakan dan mencari tahu jawaban dan kebenaran atas pertanyaannya atau atas apa yang ia amati dalam-dalam. Tak khayal ketika kanak-kanak, ia sering kali menirukan apa yang ada disekitarnya. Dunianya begitu ajaib seperti lautan permainan yang perlu untuk dijejaki olehnya. Menari sekali. Akalnya berkutat mencerna isi dunia yang ada didekatnya. Tak pusing-pusing akalnya menyaring mana yang buruk dan mana yang baik untuknya. Dimakannya semua informasi-informasi tersebut, rasa lapar yang teramat sangat hinggap di akalnya tersebut tanpa mengetahui rasa Lelah yang ada ujungnya. Akal yang masih jelas terasa kemurniannya.

Beranjak remaja, masa dimana dunia dan seisinya begitu indah layaknya roler coaster di taman bermain, menawarkan emosi yang berwarna-warni yang mampu merangsang kerja akal. Kadang akal dibuatnya terbang setinggi langit di angkasa, berkelak-kelok dari atas, bermandikan awan-awan lembut dan hangatnya sinar mentari dan berhiaskan cahanya pelangi, namun terkadang juga akal dibuatnya terjerembab di jurang gelap yang tak tahu dasarnya yang penuh dengan bebatuan tajam yang menyakitkan. Begitulah masa remaja, tak jarang manusia di masa ini menantang akalnya untuk senantiasa tumbuh dan berkembang dengan segala keadaan yang diterimanya. Akalnya mulai banyak bekerja nyatanya, menyaring hal-hal yang tidak mengenakkan dan hal-hal yang menawarkan kenikmatan. Tidak lantas berhenti pada hal tersebut, manusia sering kali mengeksploitasi akalnya dengan hal-hal yang menurutnya baru, yang bahkan tak pernah terfikirkan oleh akalnya sebelumnya. Semakin baru dunia sekitarnya, semakin akalnya dijebloskannya ke dalamnya. Ada kalanya akalnya tersesat sampai tak tahu arah jalan pulang, ada kalanya akalnya menemukan dan mendiami keajaiban yang abadi. Manusia remaja, manusia yang mendewakan akal fikirannya untuk melangkah hidup.

Akal akan memasuki rentang waktu yang mungkin menjadi puncak kegairahannya dalam menjelajahi lika-liku kehidupan, masa muda. Akal masihlah bergerilya menapaki sisi kehidupan berserta sudut terdalamnya, namun akal pada posisi ini lebih kurangnya telah mengetahui barang yang baik dan buruk bagi empunya. Akal telah mampu memilih dan menetapkan mana yang terbaik untuk tuannya. Tak perlu diragukan, akal yang ada pada masa muda sangat bisa untuk diandalkan lantaran ia mampu berkompromi sebaik mungkin, bahkan menyelesaikan masalah sesuai harapan manusia yang memilikinya. Tidak hanya demikian, yang menjadikan unik masa ini adalah akal akan banyak menghadapi akal-akal lainnya pada manusia yang ditemuinya. Akal-akal lain yang begitu beragam bentuknya dan arah tujuannya. Akan menguras tenaga akal dalam bekerja memang, namun sering juga apa yang dilalui oleh akal menjadi hal yang menuntunnya pada keagungan hidup. Buruknya, banyak akal pada masa ini bekerja begitu monoton, hari-hari yang dilalui akan hanya begitu saja, seolah akalpun tak bergairah lagi, tak berhasrat lagi melangkah, sadar ia rupanya dengan hal yang demikian, tapi rasanya enggan untuk keluar dari kotak yang membuat akalnya tak berjalan semestinya, manusianya takut keluar dari zona nyamannya. Akal muda.

Akal telah tumbuh dan berkembang, sudah cukupkah itu semua. Tidak, tentu saja tidak. Akal yang dewasa adalah akal yang telah banyak mengalami dan berbaur dengan suatu pengalaman yang berharga dalam hidup. Semakin berharga pengalaman yang dihadapi, semakin dewasalah akal untuk dimiliki. Seringkali akal yang dewasa nampak ketika manusia yang memiliki akal memasuki lorong masa tuanya. Tak banyak berjibaku dengan kehidupan baru karena memang makan garam olehnya. Banyak hal telah ia jalani. Itu pasti. Akal ini tak banyak lagi bekerja melalui lisan, melainkan dengan tindakan. Akal ini telah tahu kapan waktunya, bagaimana dan mengapa bertindak. Jelaslah semua akalnya. Akal yang begitu arif dan bijaksana yang telah menggenggam kuncinya kehiduapan yang ia lalui selama hayatnya. Akalnya tetaplah bekerja, namun sekarang begitu cermat. Sempurnalah akalnya, sempurnalah kedewasaannya, akal dewasa.

Manusia begitu beragam, tidak indah nyatanya jika semua manusia disamaratakan. Akal manusiapun demikian, kedewasaan akal sangatlah berbeda antara akal satu dengan akal yang lainnya. Manusia di atas adalah manusia pada umumnya, namun akal yang dewasa yang dimiliki manusia bergantung kepada lingkungan dan kejadian yang dihadapinya. Akal akan sangat mampu merespon perkara manusia, baik-buruknya seperti apa, karena pada hakikatnya manusia itu belajar, alat belajarnya adalah indra dan akalnya. Manusia yang mampu memetik pembelajaran dari lingkungan adalah manusia yang membelajarkan akalnya untuk menjadi dewasa.

Ingatlah, manusia yang sungguh-sungguh belajar akan menapaki 2 puncak. Puncak pertama adalah kebijaksanaan akal, dan puncak kedua adalah rasa imannya yang begitu mendalam kepada Tuhannya, karena sejatinya akal memiliki batasan dan yang Maha Luas dan Tak Terbatas adalah Tuhan, Allah SWT semata.

Komentar