Menggugah akal dan mata hati. Manusia pada perputaran zaman yang begitu cepat ini terkategorikan menjadi manusia yang penuh ragam. Keragaman itu pula pada akhirnya mengantarkan manusia kepada jalan hidupnya. Hidup yang sangat bermakna, penuh kepedihan, selalu memercikkan kenikmatan atau menjerumuskan kepada kegelapan. Manusia yang beragam itu adalah manusia yang hidup dalam keyakinannya. Dunia ini menggugah keyakinan akal dan mata hati.
Manusia yang tak memiliki keyakinan jangan harap akan berdiri tegak pada sangkar dunia. Manusia yang hina siap menunggu di depannya. Ironi. Keyakinan menuntut banyak hal pada manusia seutuhnya. Jika tak yakin, sudah pasti ia tidak utuh tentunya. Manusia yang demikian mudah goyah pada hakikat jalan hidupnya, tergoda perasaan yang tak menentu, tergoda oleh pengelihatan palsu, tergoda oleh lisan picik yang menggerutu. Tidak mungkin ia acuh. Keyakinan manusia yang ia harap tak mampu ia kukuhkan dalam-dalam di benak akal dan hatinya. Lantas, pada apakah manusia yang demikian bisa menghadapi suatu ironi, tempatkan keyakinan akal dan mata hati, tulis itu hingga terpatri.
Jalan cerita akan berbeda jika manusia sungguh mempercayai keyakinannya, keyakinan pada akal dan mati hatinya. Tegaklah ia berdiri dengan kakinya sendiri di tempat yang paling tinggi. Ludah yang terciprat ia usap dengan gagah berani, senyum pasti dan seketika lenyap sudah kesal yang memerih. Ia tahu menyikapi ironi dengan rasa arif, tanpa sedikitpun emosi melilite hati. Karena ia yakin, ia tetap melangkahkan kaki meskipun tanah yang dipijaki curam dan berduri. Karena ia yakin, akal dan mata hatinya senantiasa berbisik lirih, namun jelas teriring di telinga kanan dan kiri, aka; dan mata hatinya membakar asanya untuk tidak lupa akan jalannya pada hidup yang ia tapaki. Perlahan tetapi terus melejit tinggi, keyakinan akal dan hati membuka pintu kebaikan untuk ditekuni, membuat manusia yang merasakannya tenggelam dalam eksistensi Ilahi. Keyakinan ini adalah keyakinan akal dan mata hati.
Dan kembali, manusia yang beragam menemukan keyakinan akal dan mata hati yang berbeda-beda atas apa yang ia cari selama ini. Barang siapa yang mencari, maka ia akan menemui. Pengalaman serta ilmu yang ia geluti memengakkan indrawi, ia makan dalam hidangan sehari-hari. Menguras energi, tapi itulah yang terjadi. Gawai pengalaman dan ilmu yang ia telan menstimulus pribadi, hingga tak sadari itu adalah apa yang ia yakini, pembenanaran mulai menghantui untuk mengakuisisi. Hal ini tidak salah sama sekali, namun juga tidak bisa dibenarkan secara tak terperih. Menelaah, membatasi dan mengkaji menjadi langkah yang bijaksana sekali. Mentah-mentah menelan roda kehidupan membuat manusia akan memuntahkan semua isinya perlahan tetapi pasti. Keberagaman akal dan mati hati adalah suatu keindahan yang tidak perlu untuk dicederai asal masih dalam satu koridor visi. Visi yang kongkrit kepada Sang Pencipta Abadi, Tuhannya para manusia sejati.
Keyakinan akal dan mata hati lirihnya membimbing pada hal yang pasti, Pencipta langit dan bumi. Manusia bukanlah seonggok daging yang ada nama untuk dimiliki. Manusia mengaktivasi intuisi untuk mencari dan akhirnya meyakini melalui akal dan mata hati. Keyakinan akal dan mata hati yang telah jauh pergi haruslah berfikir untuk mencari jalan pulang kembali, kembali kepada dekapan Sang Ilahi, Penguasa dunia beserta seluruh isi.

Komentar
Posting Komentar