Orang banyak mengeluh saat ini. Keluhan yang begitu rupanya tampak konyol. Mengeluh karena tidak memiliki apa-apa. Alhasil berangan-angan ingin memiliki ini dan itu. Menggebu egonya untuk memiliki barang yang diingini. Tidak puas rasanya meski terlihat sudah cukup meiliki, sekali lagi keluhan yang ada. Beranggapan tidak memiliki walaupun nyatanya memiliki. Membohongi diri sendiri. Mengeluh memang hal yang manusiawi, namun dengan mengeluhkan ketidakmilikian tapi nyatanya memiliki apakah itu hal yang pantas, atau justru nalarnya yang tak lagi bisa dikatakan waras?. Banyak faktor atau sudut pandang dalam membahas keluhan ini, bisa saja wajar, pun juga bisa saja sebaliknya. Manusia bukanlah makhluk yang sempurna, lantas apakah hal tersebut dapat dijadikan dalil untuk menjawab keluhan tersebut?
Tulisan ini bukan diperuntukkan menjawab pertanyaan atau permasalahan di atas. Hal ini karena setiap pribadi pastilah punya kenormalannya sendiri dalam merespon keluhan atas ketidakmilikian yang sebenarnya memiliki. Manusia dengan pemikian seperti apapun punya haknya dalam menjawab. Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk menjawab, namun coretan ini hanya bisa menstimulus manusia yang membaca untuk tetap berfikir mengikuti akal sehatnya dalam berimajinasi.
Keresahan ketika merasa tidak memiliki terebut karena memang adanya ketidakpuasan dalam diri, dalam relung jiwa dan akal. Pada hakikatnya ketidakpuasan tersebut muncul karena manusia tidak mengetahui dan memahami konsep dari kecukupan atas kehendak diri. Cukup memang sulit untuk ditakar, cukup itu seperti apa? Cukup itu seberapa? Cukup itu bagaimana? Cukup adalah ketika manusia mengetahui secara mendalam antara kebutuhan dan yang ingin dimiliki berada dalam garis keseimbangan. Hidup perlu seimbang. Maka seimbangkan apa yang diri ingin miliki dan kebutuhan yang ada. Pahami kebutuhan diri dan pahami apa yang ingin dimiiki. Berkecukupanlah dalam memiliki, agar yang tidak dimiliki tak lagi dikeluhkan. Semakin merasa cukup, maka semakin kayalah diri atas apa yang dimiliki. Cukup membuat hidup dalam suatu cakupan harmoni keseimbangan. Cukup membuat hidup manusia senantiasa bersyukur.
Selain dari pada itu, ketika berbicara memiliki, manusia perlu meyakini hal kontradikisi yang menyelimuti, yakni kehilangan. Sehingga bisa diterangkan disini bahwa ketika manusia berkehendak untuk memiliki sesuatu, secara otomatis dalam kewajaran akal sehat dan jiwanya ia seyogyanya menerima akan kehilangan sesuatu tersebut. Berkompromi dengan rasa kehilangan akan mendewasakan diri bahwa memiliki pun pada akhirnya juga akan kehilangan, dan itu pasti, tiada yang abadi. Terlalu membebani diri dengan ingin memiliki bukanlah suatu kesalahan, namun menurut akala dan hati nurani, beratlah hidup yang demikian, relakan, peluklah suatu kehilangan agar lebih bijak dalam memiliki. Memiliki terkadang membuat manusia resah dan gelisah, jika hidup berselimut resah dan gelisah, apalah arti kebahagiaan yang mestinya dicari? Lebih baik benar-benar tidak memiliki, melepaskannya, melenyapkannya akan tenang jiwa dan akal, tak memberati lagi. Hilangkan apa yang telah dimiliki yang tidak ada nilai manfaat di dalamnya, buang dan enyahkan. Genggam, jaga dan pertahankan apa yang dimiliki yang memiliki nilai manfaat dalam diri.
Memiliki adalah kebolehan, namun ketidakmilikian dibalik memiliki adalahan kesenjangan nalar. Patutlah dipertanyakan rasa syukurnya yang cukup atas apa yang ia miliki. Jika berani berikrar untuk ingin memiliki maka beranilah menyambut kehilangan atas memiliki tersebut. Hidup ini bukan tentang memiliki saja, porsi hidup ini juga sebagiannya adalah tentang kecukupan dan kehilangan.

Komentar
Posting Komentar