Ada fase dimana setiap pribadi manusia merasa tak menentu dalam rangkaian rutinitas yang dijalani. Tak menentu karena merasa kosong tak pernah terisi lagi, entah dengan ilmu, kebahagiaan ataupun tantangan. Umum sekali terjadi hal seperti ini. Saking umumnya, apakah ini patut untuk ditolerir secara arif atau justru hal ini adalah momok penyakit yang harus diatasi dengan segenap hati dan energi. Jika tak teratasi, miris, manusia alhasil enggan untuk mempercayai dirinya sendiri, takut berdiri dengan kakinya sendiri.
Ketakutan yang menghinggap dalam masa yang berkepanjangan akan membuat manusia memeluk rasa bosan. Celakalah. Sudah takut berdiri dengan kakinya sendiri, kebosanan menjadi sahabatnya di setiap detiknya. Hingga akhirnya gairah hidup tak tentu arahnya, kehilangan arah, tak ada sandaran, tak ada pegangan. Enggan adalah sarapan paginya, malas adalah menu makan siang, dan menyerah adalah romantisme makan malamnya. Hari-hari berikutnya bergulir dengan jejak langkah berukir aksara bosan, makhluk-makhluk disekitarnya sampai tak habis pikir dengannya, bau busuk kebosanan mencemari lingkungan mereka. Tidak hanya si empunya, bosan menjadi racun di pada garis hidup yang bersinergi dengannya, apapun itu. Bosan yang berlarut-larut nampaknya akan semakin menguliti keberanian, menggerogoti secercah imajinasi kreatif, dan menyayat tendensi berdiri pada kaki sendiri.
Gelas kosong jangan dibiarkan tak terisi. Mubadzir. Manusia yang tak menentu tadi haruslah berani menapakkan kaki, menunjukkan jati diri, Tangguh untuk berdiri di kaki sendiri. Tak menentu dalam menatap hidup adalah hal yang manusiawi. Manusia dengan hampa yang menggerogoti. Bagaimanapun, ini sungguh tidak wajar jika makna hidup terbungkus dengan ironi bahwa pembiaran terhadap penyakit hati dan akal imajinasi sengaja untuk menempati. Tidak benar hal buruk harus dipelihara dalam diri. Celakalah manusia yang demikian, hancurlah ia perlahan-lahan dalam dimensi yang abadi. Mungkin tidak dalam hari ini, tapi akan tiba dikemudian hari. Maka sebab itu, indahkan untuk berani mengisi ruang hampa dalam akal dan hari. Isi hingga penuh sampai kaki tegak berdiri dan menyangga tubuh pribadi. Mudah, tentu saja tidak. Sulit, tentu saja iya. Berani berikrar, maka berani pula menghadapi resiko yang siap menampar.
Berdiri di kaki sendiri adalah prestasi sang pemberani. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk pribadi lain yang menyoroti. Berdiri di kaki sendiri adalah amanah dari Pemilik Bumi yang Abadi, amanah untuk menyokong, menumbuhakan dan membangkitkan jiwa-jiwa yang mati, yang tak tau demensi diri. Berdiri di kaki sendiri berarti berdiri pada suatu kekokohan yang tahan uji, lantas kokohnya itu adalah pelipur lara para insan yang hangus terbakar dunia mimpi yang jauh pada realitas hakiki. Banyak insan yang hidup pada idealism impi, begitu indah memang dan saking indahnya ia tak mau, enggan untuk bangun dan mewujudkan mimpi. Akah sehat yang sakit yang tak lagi mampu diandalkan untuk berkolaborasi dengan hidupnya sendiri. Menyindiri dalam mimpi kepalsuan, mengiba pada kekokohan kaki para pemberani, orang-orang yang beridiri pada kakinya sendiri. Maka sejatinya berdiri di kakinya sendiri adalah berasah pemikiran murni, menggenggam para fakir-fakir mimpi yang takut untuk menyudahi jalan mimpinya sendiri, membantunya untuk bangkit, menopangnya untuk mampu layaknya dirinya, beridiri di kaki sendiri.
Berdiri di kaki sendiri adalah gelas yang penuh. Gelas yang penuh dan siap untuk memenuhi gelas yang lain yang setengah isi, atau bahkan belum pernah terisi. Berdiri di kaki sendiri tidak takut dirinya berkurang, karena ia telah tahu bagaimana ia semestinya harus terisi. Berdiri di kaki sendiri keharusan pada makhluk yang mengerti makna menjadi berani pada rutinitas yang tak menentu di penghujung hari.

Komentar
Posting Komentar