Manusia adalah makhluk hidup yang secara harfiah selalu bergerak, berpindah tempat. Apapun itu tujuannya bergerak untuk berpindah tempat lazimnya terikat untuk suatu proses keberlangsungan suatu kehidupan, entah kehidupannya sendiri maupun kehidupan manusia lainnya. Unik sekali apa yang dilakukan manusia ini, bergerak secara lamban atau cepat menyesuai alunan waktu yang selalu bernyayi memikat manusia yang sadar akan keberadaannya. Manusia bergerak, manusia yang hidup, manusia yang menurut akalnya menyadari bahwa ia berada pada sebuah perjalanan, oleh karenanya ia bergerak untuk berpindah.
Bergerak secara konstan adalah salah satu ciri khas manusia. Benar kiranya bergeraknya manusia lantaran ada pada kakinya yang ia gunakan untuk berpindah tempat, menapaki tanah untuk hidupnya dan hidup manusia disekitarnya. Kakinya yang bergerak adalah lambang manusia berjalan. Manusia hidup dengan berjalan. Berjalan karena memang kehidupan manusia adalah suatu perjalanan konstan yang harus dilalui pada setiap prosesnya. Dengan berjalan maka manusia hidup, dengan berjalan maka manusia bergerak, dan memang seperti itulah makhluk hidup ini. Rugi bahkan terlihat konyol ia yang tak berpindah, ia yang tak bergerak dan ia yang tak berjalan. Berjalan membuat manusia mencapai suatu tujuan yang dibenakknya sepatutnya ia tuju. Berjalan adalah deskripsi indah dari suatu keteraturan langkah kaki yang derap langkahnya terjerat dalam kecepatan normal. Dan uniknya keteraturan yang indah tersebut yang disampaikan langsung melalui langkah kaki tidak pernah lama menyematkan perpisahan pada pijakan tanah. Tanah selalu riang menyambut langkah kaki yang bergerak satu persatu. Riang karena ia menyadari ia adalah tempatnya kaki itu berjalan, bergerak berpindah, alasnya mencapai tujuan.
Tidak bisa berkata tidak, berjalan penuh dengan kebermanfaatan umum yang universal. Manusia lupa untuk waktu yang relatif kadang bahwa berjalan akan mempertemukannya dengan ketahanan jasmani dan sucinya rohani. Membingungkan esensi yang demikian, tapi lihatlah dengan seksama wahai manusia, zat yang ada pada manusia mengkategorikan secara sendirinya bahwa zat manusia menyimpulnya dalam golongan jasmani yang mudah kiranya tercerca pada kasat matanya, sementara terimajinasi abstrak dalam golongan rohani, kungkungan jiwanya. Kuatlah jasmaninya lantaran ia pergunakan organnya untuk berjalan, terhindarlah darinya pelukan menyakitkan dari tiupan penyakit lantaran ia berjalan. Akalnya menalarnya dan menerimalah ia. Lalu, dimanakah keabstrakan rohani berjibaku tatkala manusia berjalan, bergerak menuju tujuannya, hidup. Rohani merespon kehidupan yang terus berjalan bahwa berjalan adalah untuk sebuah perjalanan, hidup.
Tercermin dan tidak akan terpecah-pecah, berjalan mengingatkan sentuhan hati manusia dan liarnya akal akan hidup yang harus terus maju. Beranilah manusia yang terus maju, untunglah ia yang berjalan, tak mau untuk berhenti bahkan meratapi. Berjalan dianggap kesederhanaan tanpa makna, namun ketiadamaknaan tersebut mematri akal dan hatinya secara sederhana bahwa terus maju menguntai simbol untuk setia memeluk hidup dalam jeratan perputaran waktu. Terus maju berarti menolak untuk mengegokan masa lalu, euforia memori dalam zona waktu lalu adalah hiasan dalam dekorasi ruang waktu masa kini dan nanti. Terus maju berarti mengiyakan tantangan absurd yang siap merantai, membelenggu. Terus maju berarti berjalan dalam ikatan waktu yang tak menentu, hidup.
Ayolah kiranya manusia perlu untuk memandang kekompleksan keberlangsungan hidup pada suatu distorsi elemen yang bergerak dengan memperhatikan ekosistem diluar pada kekang diri. Berjalan untuk bergerak mencapai tujuan, hidup, juga tentang menyapa hiruk-pikuk dan lalu-lalang atmosfer yang mengelilingi. Berjalan perihal menikmati. Berjalan membuat manusia yang tertegun menggenggam kepastian bahwa hidupnya dalam pergerakan kacau-balau yang indah ini adalah untuk merasakan nikmat, dan itu perlu untuk dinikmati. Menikmati tatkala berjalan akan membuyarkan nostalgia keterpurukan berganti dengan alam imajinasi kehangatan salam-sapa dari sesama. Tidak hanya demikian, benda tak bernyawa melenyapkan kiranya hambatan, membuka kungkungan, memunculkan gairah bahwa hidup tak selamanya asam, hidup adalah perjalanan manis. Berjalan pada satuan kemanisan, bergerak nyaman pada kerongkongan dahaga. Ada hal-hal yang lupa saat manusia berfikir, itu kealamian yang terwajarkan tapi tak bisa dibenarkan, kelupaan ini patut dinikmati, hal-hal yang terlupa adalah kenikmatan jika diingat olehnya. Ketika lupa, maka berjalanlah ia, manusia yang ingin bergerak, berjalan dalam sebuah perjalanan, hidup.
Apakah memang bergerak itu untuk menunjukkan siapa dalam hidup ini yang tercepat untuk berpindah, mencapai tujuan. Tidak melulu tentang demikian nyatanya. Berjalanlah manusia, hidup dalam perjalanan yang menuntut bergerak ini tidak seperti medan perlombaan yang memecut sampai terluka jika tak bergerak dengan cepat, melainkan untuk perjalanan yang musti untuk direnungkan. Berjalanlah manusia untuk merefleksikan diri. Berjalan dalam perjalanan kehidupan memang memekikkan derap jantung, tak realistis terkadang, sehingga sudihlah berjalan, memutar kawanan akal sehat untuk berkompromi didalamnya. Harus ada dalam setiap nyawa dan raga yang bergerak, berjalan, perenungan yang begitu dalam tentang hal-hal yang terlewat tak terkira. Tidak untuk jumawa, melainkan membuat tetap merendah, menengadah pada kebijaksanaan tertinggi. Berjalan adalah langkah dalam hidup yang berputar dimana alam bijaksana siap menyorak bagi insan yang rela akan melenyapkan keterburu-buruan di sudut-sudut perjalanan hidupnya. Tawaran yang berbalas kenyamanan dalam bergerak, berjalan membuat akal dan hati saling berkonfrontasi menghujam rasa perih akan persaingan roda-roda kehidupan yang perlu dijalani ini. Berjalan, berjalan untuk sebuah perjalanan, hidup.
Manusia sudah sepatutnya berkaca-kaca dalam berjalan, bukan karena menangis kesedihan, melainkan hikmat dari setiap hikayat langkah kaki yang terlontar akibat gesekan dengan alas bumi. Berjalan menstimulus jasmani untuk memperkuat diri, berjalan juga memijat emosi, memilinnya hingga terbentuk rohani yang siap mengindahkan mata batin para manusia lain. Manusia adalah makhluk yang bergerak, manusia yang bergerak adalah manusia yang memeluk hidupnya pada suatu perjalanan. Berjalan dan berjalan.

Komentar
Posting Komentar