Alam dunia dan seisinya memang seringkali memunculkan tanda tanya besar kepada manusia. Tak jarang banyak manusia yang berusaha dengan keras melalui akal fikiran dan perenungan hatinya yang mendalam untuk membalik tirai tanda tanya tersebut, mencari suatu kebenaran dibaliknya. Memang begitulah dunia, ia suka membuat menusia mendekap berjuta-juta rasa penasarannya, lalu merangkainya mempertontonkan jawaban atas rasa penasaran. Untunglah manusia dibekali oleh Sang Segalanya dengan akal dan hati. Akal digunakan oleh manusia untuk berfikir, mengamati dan menerka suatu perkara, suatu fenomena, suatu pertanda dan suatu tanda tanya besar. Sementara hatinya ia pergunakan untuk merasakan atas apa yang difikirkan, apa yang diamati dan apa yang diterkanya tersebut benar adanya secara makna makrifat dan hakikat.
Manusia di dalam dunia yang menawarkan milyaran tanda tanya ini benarlah terlahir sebagai seorang filsuf. Filsuf lebih kurangnya dalam masa ia hidup di dunia ia tuangkan untuk bertanya, mempertanyakan isi dunia dan sungguh-sungguh mencari kebenarannya. Penuh penghayatan apa yang ia cari, penuh pendalaman apa yang ia sebut sebagai kebenaran, kebenaran universal dan kebenaran hakiki. Kehati-hatiannya dalam mencari adalah pertanda kebijaksanaannya, karena filsuf adalah pribadi yang mencintai kebijaksanaan dalam mencari kebenaran. Akal dan hati adalah senjatanya dalam mengarungi terpaan tanda tanya dunia tersebut. Akal adalah lawan bicaranya setiap waktu, sementara hatinya adalah gurunya yang siap menuntunnya dikala ia tersesat dalam mencari jawaban, mencari kebenaran. Filsuf, akal dan hati adalah ekosistem apik dalam kehidupan tanda tanya ini. Manusia adalah filsuf berakal dan berhati. Manusia adalah filsuf.
Jujur saja manusia mempertanyakan dunia, mempertanyakan hidup menurut apa yang tangkap melalui akal dan hatinya. Terdengar subyektif, tapi percayalah setiap insan filsuf memiliki kesamaannya dalam mempertanyakan, meskipun akal dan hati mereka berbeda. Itulah yang menandakan bahwa suatu ketandatanyaan dunia bersifat universal, menyeluruh. Namun, ada hal yang membedakan dari ketandatanyaan dunia yang universal adalah respon manusia. Beberapa manusia yang berfikir atas tanda tanya tersebut dan berusaha menjawabnya lantas berubah. Iya, hal itu merubahnya. Manusia berubah menjadi filsuf penyendiri. Menyendiri bukan untuk membangkang atas kodrat makhluk sosial, menyediri karena pada kenyataannya tidak ada seorangpun yang mampu diandalkan kecuali dirinya sendiri, kecuali akal dan hatinya sendiri. Filsuf itu menyendiri, ia penyendiri.
Semakin filsuf tersebut menyendiri, semakin ia merasa asyik dengan imajinasinya. Akalnya menyediakannya diorama-diorama pentas memori dan terkaan agar ia terhanyut, agar ia terbang, agar ia merasa hidup. Hatinya tak mau kalah, dipicunya adrenalin tubuhnya untuk semakin tenggelam kedalam lautan perenungan. Merenungi segalah hakikat dunia dan dirinya, apa yang sebenarnya dunia inginkan. Kesendirian yang ia anut semakin melekatkan perangai diri akan kebebasan, akalnya bebas begitu pula dengan hatinya. Kebebasan ini yang mendekap tangannya dan ia tuntun sang filsuf untuk menyentuh dan menggenggam kekuatan. Kekuatannya dalam mengarungi segala hal, segala apa yang dunia suguhkan dalam sebuah panggung tanda tanya. Filsuf penyendiri semakin menyeruak, mematikan cahaya ketidak jelasan, menyalakan bayangan jawaban, kebenaran. Filsuf penyendiri itu adalah manusia.
Tak pelak, penyendirian sang filsuf bukanlah keutamaan. Dalam menjajaki suatu jawaban atas pertanyaan dunia dan kehidupan, akan selalu ada pengimplementasian, penerapan. Lucunya, penerapan atas jawaban yang diasumsikan sebagai kebenaran sejati membutuhkan perangai lain. Ia tak melulu menyendiri dengan kemilikiannya, akal dan hati. Ia perlu menempatkan akal dan hati yang lain agar jawabannya memiliki nilai-nilai obyektifitas yang bisa diterima secara universal. Atas landasan tersebut ternyata dunia menyuguhkan adegan yang romantis dimana sang filsuf penyendiri bertemu dengan kehampaan sejati. Hampa yang artinya kosong, tidak memiliki, tidak mempunyai. Hanya akal dan hati yang ia miliki, namun bukan untuk membongkar persoalan tanda tanya dunia, melainkan untuk menerima dengan penuh keharuan dan kesukacitaan atas pertanyaan dunia dan kehidupan. Akal dan hatinya adalah cameo yang menerima, tanpa esensi lebih. Kehampaan adalah akal dan hati yang memasrah.
Adegan romantis pertemuan seringkali dijumpai dimanapun manusia berada. Di tengah-tengah keramaian pada kepadatan kota, di sudut-sudut pemukiman atau di ketidaksengajaan atas kekonyolan sikap bersosial di kesemerawutan taman, semua itu secara mungkin terjadi. Akan tetapi berbeda pada manusia yang mencari jawaban dalam kesendirian. Pertemuannya adalah keunikan pada sisi dunia. Kehampaan rasanya menghampirinya pertama kali. Dalam suatu putaran permainan sebab-akibat, kehampaan akan mencari manusia yang menyendiri, berfikir dan mencari kebenaran. Manusia, filsuf penyediri membuka tangannya lantaran membutuhkannya untuk menjawab pertanyaan dunia dan kehidupan. Sulit bercerita pada awalnya, namun harus. Kehampaan dengan riang bercerita atas untaian akal dan hatinya dalam menjejak kehidupan dunia kepada kesepian sang filsuf. Cerita sengsara, kehilangan dan kenelangsaan mencuri pandang sang filsuf. Dengan suguhan yang tak bisa dielak oleh kain halus dari akal dan hatinya, pastilah secara diam-diam filsuf penyendiri mengikrar dalam hati untuk mencari kebanaran sekali lagi. Jika demikian menyerahkan, ia meragu, ia meragu dalam kesendiriannya. Di tengah ikrar haru birunya filsuf sendiri memercikkan dalam penghayatan murninya suatu tetesan embun perlambang kenyamanan diri pada sosok kehampaan dunia dan kehidupan ini. Manusia pada hakikatnya berelimut kehampaan, bukan apa-apa atas segalanya.
Ingatlah, kehampaan bukan sosok yang rupawan, ia buruk, ia tak menentu. Tapi kehampaan adalah pengobat. Ia adalah obat bagi kelesuan hidup atas tindakan mempertanyakan. Filsuf penyendiri menanggapi kehampaan dengan keluasan jiwa. Filsuf melepas, berganti memeluk kehampaan. Jawabannya ia temukan. Filsuf penyendiri tetaplah penyendiri, dan kehampaan tetaplah kehampaan. Mereka sejati. Akan tetapi jawaban atas pertanyaan membelalakkan akal dan hati secara tiba-tiba. Barang siapa yang mencari, maka ia akan menemukan. Itu benar, kesendirian menemukan kehampaan. Jawaban kebenarannya ada pada mereka. Tak khayal, filsuf seperti apapun akan terkaget-kaget dibuatnya. Dunia dan kehidupan ini adalah tentang para filsuf, tentang upayanya dalam mencari jawaban kebenaran. Filsuf adalah sosok yang menahan kerinduan, kerinduan yang teramat pada kebenaran. Tuhan adalah kebenaran dan Ia adalah jawaban. Filsuf penyendiri dan kehampaan adalah jiwa yang mestinya salaing berbagi atas pencarian Tuhan. Tanda tanya ini adalah anugerah dari Tuhan.

Komentar
Posting Komentar