Kebuntuan Berpikir



Dunia yang bergerak begitu cepat ini menuntut manusia banyak hal. Dunia yang berubah begitu cepat ini memaksa begitu ganasnya kepada manusia. Dunia seyogyanya adalah tempat tinggal yang nyaman bagi manusia, namun seiring berkembangnya isi dunia, ia saat ini lazimnya seperti pembunuh manusia, hewan buas yang siap menerkam mangsanya (manusia). Bukankah teknologi adalah suatu terobosan untuk meringankan beban manusia? Sepertinya tidak semua hal menjadi ringan, adakalanya bagi manusia tertentu hal tersebut malah menjadi sumber masalah kehidupannya. Tapi jujur, sangat kurang pantas menyalahkan suatu teknologi. Bagi mereka yang bermasalah dengan hal-hal yang notabene adalah hal yang mempermudah hidup, adalah mereka yang sebenarnya memiliki suatu penyakit dalam dirinya, mungkin di isi kepalanya, mungkin juga di isi hatinya.

 

Dunia yang bergerak begitu cepat ini nyatanya telah menyejahterahkan banyak pihak. Dunia yang berubah ini nyatanya juga menaikkan level penghidupan manusia yang ada di dalamnya. Banyak manusia-manusia baru yang berfikir lebih baik, efektif dan efisien untuk menyelesaikan suatu permasalahan.

 

Namun harus diakui dan tidak bisa tidak, hal-hal baru dalam dunia ini, penemuan-penemuan baru dalam dunia ini nampaknya jelas memunculkan hal-hal baru juga, sebut saja secara gamblang, masalah. Masalah apapun itu, baik dalam ruang lingkup Pendidikan, ekonomi, sosial maupun lingkungan, semuanya memiliki masalah baru yang memang sebelumnya belum pernah ditemukan. Dan sungguh, inilah seharusnya peran manusia ditunjukkan, yakni mengatasi permasalahan tersebut. Manusia memiliki akal untuk berfikir, memformulasikan suatu penyelesaian masalah. Akal yang begitu luar biasa ini memang difungsikan untuk demikian, mengatasi suatu permasalahan, mencari solusinya. Manusia harusnya berfikir, berfikir untuk kesejahterahan semuanya.

 

Lagi-lagi, manusia dalam berfikir bukan tanpa celah, selalu ada masalah tatkala manusia berfikir mencari jawaban atas tanda tanya suatu permasalahan. Kebuntuan dalam befikir. Hal semacam itu terkadang wajar, namun di tengah perubahan dunia yang begitu cepat ini, kebuntuan berfikir menjadi momok kecacatan dalam kehidupan. Agak berlebihan kiranya, akan tetapi masih begitu pantas jika disebutkan demikian. Dunia ini memaksa manusia, menuntut manusia untuk senantiasa cepat mengambil tindakan atas suatu masalah, dan jika manusia mengalami kebuntuan berfikir, cepat atau lambat terlindaslah manusia tersebut dalam edaran kehidupan, musnahlah ia. Berfikir tidaklah mudah, ada suatu perkataan bahwa berfikir adalah keterampilan. Maka jika manusia mengalami kebuntuan dalam berfikir, ia dinilai tak terampil. Pernah seorang filsuf berkata, “aku berfikir, maka aku ada”, ini membuktikan dengan berfikir eksistensi dan produktifitas manusia bisa mencuat, muncul dalam diri. Sebaliknya jika manusia tidak berfikir atau dalam hal ini buntu dalam berfikir, maka dapat diasumsikan eksistensi dan produktifitasnya telah lenyap dari peredaran dunia. Sebegitu besarnya kah berfikir bagi manusia? Benar, berfikir adalah hal yang begitu besar bagi manusia. Oleh sebab itulah, berfikir tidak boleh diremehkan, apalagi berfikir tersebut untuk mengambil peran dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Jika kendati dalam berfikir terdapat suatu permsalahan, bagaimana permasalahan yang sebenarnya bisa terselesaikan?

 

Kebuntuan dalam berfikir kiranya adalah masalah yang begitu besar. Kebuntuan membuat manusia tidak mampu dalam berfikir kreatif. Dan artinya kreativitas terbunuh mati disini. Kreativitas untuk sebagian besar manusia adalah senjata ampuh untuk meluluhlantakkan permasalhan yang menerpa. Bagaimanapun, dengan buntunya isi kepala manusia, buntu pula kreativitas. Hal ini diakui muncul karena beberapa sebab. Benar bila akibat tidak akan terjadi, lantaran tidak sekalipun melambai penyebabnya. Penyebab kebuntuan berfikir untuk sebagian manusia adalah dikarenakan telah banyaknya informasi yang ia konsumsi. Saat ini teknologi menawarkan hal yang menggiurkan perihal media informasi. Informasi yang ada membilang begitu banyak jumlahnya, kuantitinya. Enak sekali manusia, disuguhkan informasi tanpa batas melalui teknologi yang ia gunakan, dan begitu mudahnya manusia mengaksesnya dimanapun ia berada. Tapi hal ini juga telah diketahui, oleh saking banyaknya media informasi yang ditawarkan, sering kali manusia tak tahu lagi perihal kualitas informasi yang ia serap. Ini pun memicu isi kepalanya perihal bagaimana ia memfilternya. Bisa dikatakan kepalanya sudah bingung untuk menyerap informasi yang ada. Jika demikian berarti memang tidak salah bahwa sesuatu yang berlebih pastilah membawa kepada keburukan, dan kebanyakan informasi yang dikonsumsi membawa kepada kebuntuan berfikir.

 

Penyebab yang lain tentang mengapa manusia bisa merasakan ketidakberjalanan dalam proses berfikirnya adalah kerana memang ada sesuatu yang kurang. Maksud kurang disini adalah lawan dari penyebab sebelumnya, dimana sebelumnya adalah perihal berlebih, namun ini adalah kurang dalam menerima informasi. Sudah menjadi barang mutlak, apa yang masuk dalam kepala manusia akan selaras dengan apa yang keluar dari kepala manusia tersebut. Jika yang masuk kurang, berarti akan kurang juga apa yang musti keluar dari isi kepala. Cukup bodoh jika apa dikatakan demikian. Kurang membaca, mengamati dan mendengar adalah  hal-hal yang patut menjadi kambing hitam dalam kasus kebuntuan berfikir. Membaca adalah tindakan menyerap ilmu, dan ketika manusia kurang membaca, maka ia kurang memiliki ilmu, dan celakalah ia. Akan lain ceritanya bila manusia tersebut cukup membaca, gudang ilmu ia pelihara dalam kepalanya. Kurang adalah dibawah dari standar proporsinya. Dalam mengentaskan suatu permasalahan, kiranya manusia perlu cukup untuk mengisi isi kepalanya dengan cara membaca, mengamati dan mendengarkan. Akan tetapi jika itu semua kurang untuk dilakukan, jangankan masalah yang selesai, berfikir saja ia tak akan mampu pada kesesuaiannya.

 

Penyebab terakhir mungkin terdengar klise atau tidak tepat sasaran, namun jelaslah ini mengundang untuk dinilai secara menyeluruh sebagai penyebabnya. Ia adalah ketakutan keluar dari zona nyaman. Lucu sekali, manusia memiliki tendensi untuk ingin senantiasa berada pada lingkungan ternyamannya. Ini karena manusia tidak perlu repot-repot berperangai dalam hidupnya. Alih-alih mendapatkan kemudahan hidup, ini justru seringkali memicu konflik akal. Manusia yang enggan untuk keluar dari zona nyaman cenderung memandang sesuatu hanya pada satu perspektif saja, satu sudut pandang saja. Ia yang demikian tidak kaya atas suatu wawasan. Dalam berfikir perlulah mengedepankan asas kebijaksanaan, artinya tidak bisa angkuh dengan subyektivitas, butuh dengan ketegaran bahwa berfikir bijaksana membutuhkan suatu obyektivitas. Obyektivitas didapatkan dengan mengetahui suatu hal dari berbagai macam konteks. Manusia yang demikian tentulah yang membiasakan diri berada pada zona yang tidak nyaman, ia kerap kali keluar dari zona nyamannya. Berfikir melalui pandangan lain, melalui berbagai macam perspektif mendorong manusia untuk berfikir kreatif, karena memang isi kepalanya kaya akan wawasan yang begitu mendalam. Manusia yang takut untuk berdiri di luar zona nyamannya sebaliknya hanya memiliki wawasan yang begitu rendah, miskin. Zona kehidupan perlulah untuk dijejaki, jika telah nyaman, maka sepatutnya untuk mencari zona yang lain, jangan lengah dan terlena. Jika takut, bakarlah menjadi keberanian. Berfikir dalam menyelesaikan masalah butuh keberanian, kebuntuan berfikir ada jalan lainnya yang bisa dimasuki.

 

Masalah dalam hidup telah pasti ada. Berfikir untuk menyelesaikan masalah adalah tindakan yang luar biasa bijaksana. Tapi sekali lagi perlu diingat bahwa berfikir tidaklah mudah, berfikir juga ada masalahnya. Kebuntuan berfikir adalah penyakit yang siap menggerogoti. Tidak bisa tidak, penyakit selalu ada penyebab intinya. Penyebab itulah yang sudi kiranya untuk dengan segera dibumihanguskan agar masalah yang terpapar bisa diselesaikan sesuai dengan harapan.

Komentar