Tendensi Etnosentrisme



Manusia adalah perangai yang penuh dengan derita, suka cita dan cerita yang terbungkus rapat pada suatu realitas. Cerita makhluk sosial yang penuh hasrat, yang sangat mengindahkan asas komunal dalam setiap jengkal waktu yang memilin asanya. Beruntungnya ia yang memanfaatkan hati dan akalnya dengan kehendak utuhnya. Ia yang berakal dan berhati sehat pasti memilih kehidupan sosial yang begitu memberikan kenyamanan fisik dan kenyamanan mental. Berkehidupan sosial dengan mengedepankan akal dan hati seutuhnya bak primadona bagi setiap lingkungan sosial yang dihinggapi oleh manusia. Tapi ingatlah, manusia menghirup udara yang segar ini tidaklah sendiri, ia berkelompok, ia berkehidupan dengan manusia lainnya. Lantas apa artinya? Teranglah, manusia yang berkelompok tersebut tentulah memiliki akalnya masing-masing dan hatinya masing-masing. Ini bisa dikatakan suatu ikatan anugerah, melainkan juga dapat dicerca sebagai musibah.

 

Dalam ikatan waktu yang beruntut, sejak awal hingga detik yang saat ini menderap, manusia bersosial membentuk kelompok menurut kata hati dan akalnya. Yang dikatakannya benar dan deterima oleh semua manusia yang berikatan dalam kelompok tersebut akan dianut menjadi nilai kehidupan bagi setiap insan dalam lingkungan tersebut, hingga ia terapkan dalam bait-bait rutinitasnya dan alhasil yang membentuknya menjadi suatu budaya. Manusia yang bertalian pandangan nilai kehidupan ialah manusia yang berbudaya. Budaya yang memiliki nilai yang tak terukir indahnya menjadi identitas diri, identitas kelompok manusia berbudaya. Di sisi lain, kelompok manusia yang menjunjung nilai penghidupan ini begitu banyak jumlahnya. Menurut akal dan hatinya, nilai inilah yang benar, budayanyalah yang benar. Ini memunculkan suatu keanekaragaman budaya, dan inilah keindahan manusia yang berbeda yang berbudaya. Setiap budaya memiliki kecirikhasannya sendiri-sendiri, dan itulah anugerah. Yang jelas, yang berbudaya adalah yang dianut sebagai yang benar, sementara yang tak berbudaya, entah berantah jati dirinya. Itulah hukuman dari manusia. Maka berbudayalah manusia yang demikian.

 

 Seperti yang telah diketahui, berkehidupan akan selalu menemukan kengerian, akan mengahadapi keborokannya, akan merasakan lilitan permasalahan. Berkehidupan bukanlah hal yang selalu beraroma wangi, aroma busuk akan juga tercium kerap kali. Jika budaya ini adalah irisan dari kehidupan, maka dapat diterangkan secara gamblang bahwa manusia yang berbudaya, manusia yang berkelompok menganut aturan nilai budanya juga akan merasakan dentuman api yang membakar.

 

Etnosentrisme, ini adalah sebagian cipratan api permasalahan yang ada pada sekelompok manusia sosial yang berbudaya. Manusia berserta kelompoknya yang meneriakkan arogansi fikirannya terhadap nilai kelompok budaya yang mereka ikuti. Akan selalu muncul kecenderungan yang demikian pada insan-insan yang berkelompok memegang panji nilai kebudayaan komunalnya. Wajarkah yang muncul seperti ini? Entahlah, kewajaran saat ini kerap kali membingungkan untuk dibahas hingga ke akarnya. Kewajaran ada pada pandangan kelompok sosial. Kewajaran tidak melulu sama antar kelompok sosial, kelompok manusia yang memiliki kebudayaan. Kewajaran itu berbeda. Etnosentrisme dimiliki oleh manusia yang arogan terhadap nilai-nilai yang ia anut pada kelompok budayanya. Alhasil, etnosentrisme didapati berbeda jika ditafsirkan oleh tiap-tiap kelompok manusia yang mengikat teguh nilai budaya.

 

Secara terminologi, etnosentrisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethnic dan center, dimana ethnic adalah etnik yang mengarah kepada sekelompok manusia yang memiliki nilai yang sama dalam berbudaya, dan center adalah pusat atau bagian tengah dari sesuatu. Sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa etnosentrisme adalah mewakili suatu kepercayaan dalam hal ini adalah nilai budaya, ideologi, norma, tradisi yang dianut dan dijunjung tinggi oleh sekelompok manusia yang berikatan satu sama lain yang mana mereka rasa lebih tinggi derajatnya daripada nilai budaya, ideologi dari sekelompok manusia yang lain. Benar kiranya bahwa kelompok manusia yang bersosial yang berada pada lingkaran etnosentrisme ini beranggapan secara mendalam bahwa kelompok sosialnya lah yang lebih baik, lebih dari segalanya daripada kelompok sosial yang lain. Dan apa yang diukur terhadap keseluruhan aspek kehidupan ini adalah berdasarkan kelompok sosialnya. Akhirnya tidak jarang men-judge kelompok sosial lainnya adalah kenestapaan, kesalahan dan kekeliruan yang tak termaafkan.

 

Hal yang paling mendasar sebagai perwujudan sikap etnosentrisme ini yang sering kali tersiar di lingkungan sosial adalah tindakan rasis. Seringkali sikap rasis yang muncul secara langsung dilakukan kepada sekelompok manusia terhadap kelompok sosial lainnya yang tidak bertalian dalam konteks etnis budaya. Secara spesifik terlontar melalui lisan yang tentunya sukar dicerna oleh akal sehat serta hati nurani. Melalui perkataan sekelompok sosial menjelekkan ras kelompok lain, melecehkan fisik kelompok lain dan bahkan menghujat cara berfikir dan bersikap kelompok sosial lain. Naas, tak beradab. Tak jarang oleh karena pendalaman sikap etnosentrisme ini, berkeliaran tragedi-tragedi memilukan, konflik sosial, pemerosotan peradaban dan kebudayaan.

 

Meskipun tampak jelas etnosentrisme hanya berbuah keburukan, etnosentrisme jika dipandang secara mendalam dan menyeluruh memiliki esensi kebajikan. Tengok saja, kelompok-kelompok manusia yang berikrar nilai kesamaan sosial memiliki jiwa patriotisme yang cenderung tinggi. Senantiasa membela kelompoknya, tidak bisa tidak. Selain itu pula stabilitas dan keutuhan budayanya dapat dibilang begitu kuat, hampir-hampir tak tergoyahkan. Manusia yang demikian begitu fanatik terhadap nilai budayanya, nilai kelompok sosialnya. Fanatik berlebihan menimbulkan keekstriman, dan cinta terhadap tanah airnya, terhadap apapun yang ada pada diri dan sekelilingnya yang menjadi tempat penghidupannya. Juga tak dapat dipandang sebelah mata, rasa persaudaraan dan kerjasama antar sesama di wilayah kelompoknya secara garis batas kenormalan tidak dapat terpisahkan. Keeratan sama rasa, saling memilikinya benar saja tidak ada nomor duanya. Memandang sesuatu memang semestinya demikian, hal baik akan selalu ada.

 

Walhasil, diskursus etnosentrisme pada manusia yang berkomunal membentuk suatu nilai kehidupan melalui akal dan hatinya kiranya terombang-ambing batas kewajaran yang mestinya ditempatkan. Tidak dibenarkan seyogyanya. Tidak bisa dibilang benar memanglah. Namun, nilai budaya yang terpatri secara turun - temurun membuat fanatisme kelompoknya. Etnosentrisme lahir karenanya. Pembenaran melekat dari setiap garis aksinya. Menjunjung tinggi nilai kehidupan pada tataran kelompok sosial sudah menjadi barang yang wajib, tidak bisa tidak. Namun jika harus memandang segala hal dan diukur berdasarkan kelompoknya saja, sudi kiranya dijawab dengan kurang tepat. Ini karenanya semua hal terkadang tidak bisa digeneralisasikan, hakikatnya perbedaan adalah kemestian, perbedaan adalah kewajarannya, perbedaan adalah asas sosial yang melembaga.

Komentar