Hanya Donasi

Menilik suatu permasalahan pada lingkungan masyarakat tentulah tidak ada habisnya. Sepertinya memang benar eksistensi masalah dewasa ini lebih dari sekedar dampak dari apa yang manusia fikirkan dan lakukan, hal ini bisa dikatakan hukum sebab-akibat, melainkan telah terkontaminasi pada paham bahwa masalah wajiblah ada untuk mengukur manusia, mengukur seberapa kuatnya manusia untuk bertahan dan menjadi lebih baik, katakan saja ini semacam kesengajaan yang dibuat untuk manusia, Tuhanlah yang berhak atas semuanya. Masalah bagi sebagian manusia hakikatnya memang cara unik yang Tuhan miliki untuk menyapa seorang atau sekelompok hamba. Terang saja, haruslah berfikir sepositif mungkin terhadap suatu masalah, agar tidak terlalu risau dibuatnya, agar masih bisa merasakan ketentraman di tengah badai masalah.

Akan tetapi jua, bukan berarti masalah tidak perlu untuk diperdebatkan perihal penyelesaiannya, meskipun ini adalah kesengajaan Tuhan seutuhnya, tetaplah harus kukuh berpendirian, setiap masalah harus dicari solusinya. Dalam mengatasi masalah, tidak lebih dan tidak kurang, perlu secara bijaksana berfikir atas segala akar permasalahan yang terbungkus di dalamnya. Akar masalah adalah sumbernya, jika telah diketemukan, barulah langkah strategis bisa dihamparkan, diolah menjadi sebuah aksi yang tepat sasaran. Bukan untuk menciutkan hati dan fikiran, tapi memang mencabut akar permasalahan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, apa lagi jika akar masalahnya begitu kuat dan cukup semerawut, ribuan proses perlu untuk digelindingkan.

 

Diantara ribuan cara dalam mengatasi suatu permasalahan, ada satu cara yang patut untuk senantiasa dilakukan, hal ini mengatasnamakan kemanusiaan dan tidak terikat oleh golongan dan latar belakang. Donasi adalah hal yang dimaksud. Donasi berpredikat sebagai salah satu cara menyelesaikan masalah bukan tanpa alasan. Sudah sangat jelas bahwa dengan berdonasi manusia bisa langsung menolong manusia lain yang tengah kesusahan. Meskipun ruang lingkup donasi umumnya ada pada tataran bawah dalam menyelesaikan masalah, setidaknya donasi menjadi perlambang ada keterikatan umat manusia dalam tolong-menolong. Menurut beberapa pemahaman, dapat diintegrasikan pemaknaannya bahwa donasi merupakan benda secara fisik yang mana disumbangkan kepada manusia, sekelompok manusia atau organisasi yang mengalami suatu permasalahan. Pada kondisi tertentu donasi tidak melulu perihal manusia yang mengalami kesusahan dan ditolong, melainkan juga donasi tersebut dapat dijadikan suatu bentuk bantuan terhadap pembangunan. Ini jelas bahwa donasi mampu secara nyata mengikat persaudaran antar manusia di dalam suatu substansinya.

 

Donasi sangat bisa diumpamakan sebagai pemersatu bangsa manusia. Hal ini pada hakikatnya donasi merupakan suatu ekspresi yang fundamental dari hubungan manusia. Hubungan ini adalah nilai wujud hubungan sesama manusia dan hubungan suci manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Terdengar sedikit basi, tapi tetap bisa jadi suatu pengingat yang riil bahwa manusia harfiahnya diberikan oleh Tuhan suatu perasaan untuk terikat oleh manusia lainnya, yakni simpati dan empati. Kedua perasaan inilah yang terang-terangan mendorong manusia untuk berdonasi, kedua perasaan inilah yang mengugah rasa persaudaraan sehingga benar jikalau donasi adalah bentuk mendasar perihal hubungan manusia, khusunya hubungan dengan sesamanya. Simpati dan empati membungkus rapat persaudaraan yang dimiliki manusia. Persaudaraan ini adalah persaudaraan dalam hal keterikatan sesama agama dan paham yang dianut, sesama bangsa atau negara yang digenggam, dan sesama makhluk ciptaan Tuhan. Pertama-tama, dengan mengetahui bahwasannya manusia memiliki kesamaan agama atau kepercayaan, tidak akan segan diantaranya manusia tersebut untuk membantu manusia yang sepaham agama dan kepercayaan darinya, itu cukuplah mutlak adanya. Artinya donasi mengatasnamakan kesepahaman dalam kelompok umat manusia yang beragama. Serupa, namun yang kedua adalah adanya ikatan karena menggenggam kebangsaan yang sama. Manusia akan sangat mudah bersimpati dan berempati yang terupakan dalam wujud donasi jikalau mendapati manusia yang sebangsa dengannya terpapar oleh gempuran musibah. Persaudaraan berbangsa menjadi peluru untuk berdonasi. Dan yang selanjutnya adalah perasaan yang dimiliki lantaran mempercayai bahwa semua manusia adalah ciptaan Tuhan akan segenap tenaga memenjarakan keacuhan dan membebaskan rasa persaudaraan kesamaan makhluk bahwa Tuhan secara luar biasa menciptakan manusia untuk bersaudara satu dengan yang lainnya. Inilah kekuatan donasi yang secara nyata mampu mengintegrasikan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Manusia yang hakikatnya bersaudara dengan cara demikian akan melegalkan seperangkat alat kemanusiaan yang dinamakan donasi, karena memang ekspresi hubungan manusia dengan sesamanya adalah ekspresi yang terselenggara dari dalam hatinya yang berwujud rasa simpati dan empati.

 

Hubungan yang fundamental tidak hanya dimiliki oleh antar sesama manusia, tapi juga ditujukan kepada Sang Pencipta. Manusia selalu memiliki hubungan dengan Tuhannya, manusia selalu memiliki banyak cara untuk berhubungan dengan Tuhannya. Salah satunya adalah berdonasi, meskipun nota bene donasi adalah lambang hubungan manusia dengan manusia, donasi juga merupakan simbol hubungan manusia dengan Tuhannya. Landasannya adalah apa yang menjadi tingkah laku manusia atau apapun yang dilakukan manusia adalah suatu gambaran bahwa Tuhan sangat mampu melihat hamba-Nya, dan manusia sangat mengharapkan keberadaan Tuhan di sekiatarnya agar hidupnya tersinarni oleh kemanfaatan dan keberkahan Tuhan. Sejatinya, manusia sangat membutuhkan Tuhan, eksistensi Tuhan adalah pelengkap hidup bagi jiwa manusia yang kosong. Benar, adakalanya kepuasan hidup tidak bisa terbayarkan dengan materi, ia hanya bisa terisi oleh keberadaan Tuhan, artinya manusia memang berpangku tangan pada Tuhannya, tapi bukan untuk mengiba, melainkan justru untuk membuktikan bahwa manusia bisa merengkuh dan menggenggam ketentraman dunia dan bersiap membelai dunia yang abadi setelah dunia fana ini. Maka dari itu bentuk perwujudan komunikasi manusia dengan Tuhannya, salah satunya bermediasi melalui donasi. Dengan membantu manusia lain, ia mengharapkan keridhaan Tuhan akan dirinya, manusia yang rindu dan ingin memeluk Tuhannya.

 

Donasi ibarat sepotong kue coklat, meskipun tak dapat mengenyangkan, tapi ia tetap mampu memenjarkan rasa kenikmataan manis pada lidah manusia yang memakannya. Donasi masihlah dapat digunakan untuk menampilkan layar kepada sepasang mata yang melihatnya, layar besar bahwa donasi memiliki manfaat kepada manusia, baik manusia yang diberikan donasi, maupun ia yang memberikan donasi tersebut. Telah diterangkan tadi bahwa donasi adalah benda fisik yang diberikan untuk menolong manusia atau sekelompok manusia, maka demikian benda fisik tersebut dapat memberikan manfaat, yakni dijadikan alat untuk menyelesaikan suatu masalah, atau setidaknya mengurangi permasalahan yang ada. Ingat, walaupun tidak dapat mencabut akar permasalahannya, donasi bisa meringankan beban permasalahan. Tidak menyerah meskipun hanya mengurangi beban, usaha tetap dijalankan dalam rangka menghabisinya. Manusia yang terbantu melalui donasi, setidaknya memiliki secercah harapan tambahan untuk tidak menyerah, untuk tetap bangkit, untuk tetap berjuang dan bertahan meneruskan kehidupan. Terlebih lagi bagi sang pemberi donasi, bertaburan manfaat di sekelilingnya jika ia melalukannya. Kepuasan terhadap diri sendiri tatkala membantu orang lain dapat sepenuhnya ia rasakan, dan tentunya berujung kepada kebahagiaan hidup, jiwanya tetap utuh, serta rohaninya tetaplah sehat dengan tidak adanya titik hitam sedikitpun. Bukankah kebahagiaan yang semata-mata dicari oleh kebanyakan manusia di muka bumi ini? Jika iya, berdonasi bisa menjadi salah satu penentunya, berdonasi mampu melebarkan senyum kecut yang sempat mampir di kesehariannya sebelumnya. Selain itu, tenanglah ia yang gemar mendermakan hidupnya membantu orang lain. Maksudnya adalah kebaikan akan selalu dibalas dengan kebaikan. Apakah selalu demikian? Iya, selalu demikian. Jika bersedekah atau berdonasi dengan materi, cepat atau lambat, balasan rezeki pun akan hinggap kembali kepadanya, mungkin tidak dalam bentuk materi yang sama, bisa saja dalam bantuk rezeki yang lainnya, semisal terlimpahkan kesehatan dalam segenap ruang hidupnya, atau berlimpahnya ilmu pengetahuan dan pengalaman yang bahkan tidak enggan untuk mendekat di setiap hembusan nafas. Ingatlah kembali, bukankah sebaik-baik manusia adalah yang berilmu, dan sebaik-baik manusia yang berilmu adalah yang mengamalkan ilmunya. Ini semua masuk ke dalam rotasi dimensi keberkahan. Ia yang menolong, maka ia juga yang akan mendapatkan ganjaran kebaikannya selanjutya yang berlipat ganda.

 

Pelik memang episode kehidupan ini dengan segala keribetan-keribetan kecil di dalamnya. Meskipun penuh dengan masalah, itu tak lantas dijadikan alat untuk berpasrah, tapi diformulasikan sebagai lonjakan kebenaran bahwa Tuhan memang sayang terhadap manusia. Tuhan menggelitik manusia dengan masalah kehidupan. Terkadang memang aneh, tapi manusia yang memahami eksistensi Tuhan tidak pernah merisaukannya, justru itulah saatnya menyelesaikan masalah agar Tuhan memperhatikannya, menyapanya, memberikan senyum keberkahan kepadanya. Masalah selalu ada jalan keluarnya, dan Tuhan telah membentangkannya, manusia hanya tinggal memilih dan menjalani penyelesaian masalah tersebut. Donasi ialah salah satu diantara sekian banyak jalan keluar dari suatu permasalahan. Menarik, karena donasi nyatanya melibatkan perasaan dalam hubungan manusia, baik kepada manusia lainnya, maupun kepada Tuhannya. Donasi patut menjadi lambang ekspresi yang fundamental dari hubungan manusia, ini adalah lambang persaudaraan, dan inilah lambang komunikasi dengan Tuhan. Dibaliknya, donasi menawarkan kebermanfaatan yang luar biasa untuk menyelesaikan masalah. Manfaat bagi manusia lain dan untuk dirinya sendiri. Hilangnya masalah bagi manusia lain adalah manfaat donasi, serta ketenangan batin dan kepuasan diri juga perwujudan manfaat berdonasi bagi si manusia penderma.

 

Komentar