Menemukan Multikulturalisme

 

Tidak bisa nyatanya berkata dusta bahwa bumi ini dipenuhi oleh kawanan manusia yang benar-benar heterogen, berbeda satu sama lain. Di balik itu semua, menyenangkan rasanya tetap bisa memandang manusia yang berbeda-beda demikian hidup rukun, memegang satu kesatuan tanpa berfikir panjang arogansi nilai perbedaannya tersebut. Bukankah memang manusia diciptakan oleh Tuhan berbeda-beda, laki-laki, perempuan, bersuku-suku, berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal satu sama lain, agar mereka saling belajar. Ringkasnya perbedaan inilah yang nyatanya menyatukan. Bisa dikatakan manusia yang ada di dunia ini adalah makhluk multikuluralisme. Demikian adanya karena perbedaan itu sangat khas wujudnya dan perangainya dari kacamata budaya. Tengok saja warna pelangi yang indah itu, yang kerap kali memancar di birunya langit tak sanggup menandingi banyaknya keindahan perbedaan budaya yang melekat pada makhluk ini, manusia. Budaya yang berbeda-beda dan begitu spesial tersebut cerminan bahwa manusia adalah zat yang eksistensinya untuk saling melekatkan diri, pebedaan budaya adalah pembuktian untuk saling melengkapi.

 

Menilik jauh lebih ke dalam perihal multikulturalisme, ini menarik karena melibatkan banyak kultur yang terbungkus, bahwa ini adalah suatu paham yang mengakomodir banyak aliran atau idiologi budaya. Tepat sekali, mengakomodir, artinya tidak lepas dari saling mengintegrasikan satu sama lain dari perbedaan budaya yang begitu banyak menjadi satu kesatuhan utuh. Sederhananya adalah berdiri bersama dalam asas perbedaan yang mengikat. Kunci utamanya ada pada istilah budaya yang memang hal itu menggambarkan buah pemikiran dari suatu peradaban manusia yang dianut turun-temurun. Multikulturalisme tidak berhenti pada perbedaan budaya yang hidup berdampingan dengan perbedaan budaya yang lain, melainkan multikulturalisme bergerak kuat menggenggam perbedaan yang ada dengan suatu kekuatan berupa cita-cita. Perbedaan adalah kesatuan mencapai tujuan bersama. Ini ibarat sebagai legitimasi atas kesatuan harapan pada heterogenitas kebudayaan yang berdiri beriringan. Bukanlah pelangi namanya jika ia hanya terdiri dari pantulan warna merah saja, pelangi yang indah haruslah terdiri dari pantulan berbagai macam warna yang bersinergi satu sama lain.

 

Namun sayangnya keindahan dunia bukan tanpa celah. Kaidah multikulturalisme rupanya juga terbentur oleh paham tertentu yang menjeratnya. Masihlah banyak anggapan ini semua adalah hal yang sia-sia, buruk intinya. Multikulturalisme dianggapnya sebagai upaya untuk melupakan budaya aslinya, budaya nenek moyangnya, jati dirinya karena katanya multikulturalisme berarti menerima budaya lain di luar pada dirinya, di luar pada kelompoknya. Alhasil multikulturalisme diasumsikannya sebagai paham yang tak tahu diri. Ia yang memeluk multikulturalisme yakni ia yang tak memiliki jati diri. Oleh karenanya, dihapuskan saja itu multikulturalisme dari ikatan manusia-manusia yang berbudaya. Selain itu, berjalan bersama dalam suatu perbedaan budaya adalah kemustahilan, cita-cita tak akan pernah tercapai selama masih ada perbedaan. Naif jika harus berkoar perihal menggapai tujuan. Perbedaan budaya hanya akan memunculkan konflik. Pembodohan dengan multikulturalisme. Bahkan yang ekstrim, sudah seyogyanya manusia di muka bumi ini tidaklah heterogen, melainkan homogen. Keserupaan, kesamaan, keseragaman budaya itulah yang menjadi satu-satunya cara mencapai suatu cita-cita. Yang berbeda haruslah dipaksa sama dengan yang lainnya, ikrar perbedaan dibumihanguskan, yang ada hanya satu budaya, satu kebudayaan, satu peradaban.

 

Bisa dikatakan sah-sah saja jika ada oknum manusia memiliki pemahamannya sendiri. Akan tetapi, jika pemahamannya didapatkan dari ketidakbenaran atau diambil dari jalan yang salah, bisa dikatakan pemahamannya tersebut sangatlah menyesatkan. Jika demikian, celakalah ia. Pemahaman yang dianut haruslah dari jalan yang benar, harus merelakan diri untuk tercebur kedalam lubang keingintahuan yang begitu mendalam agar pengoreksian perihal kebenaran pemahaman bisa didapatkan, dan ia menjadi sebenar-benarnya pemahaman, dan ia tentulah tidak menyesatkan.

 

Bagaimanapun multikulturalisme tidaklah mutlak terbaik, tapi ia adalah hal yang baik karena sejatinya ia penuh dengan kebermanfaatan. Tengok saja salah satunya, yakni mendorong terciptanya ruang toleransi antar perbedaan budaya yang dimiliki oleh setiap kelompok manusia. Konsep dasarnya adalah perbedaan itu saling melengkapi. Dengan seringnya manusia dicekoki dengan perbedaan budaya, maka itu semua akan menjadi hal yang biasa, artinya kewajaran muncul dalam pemikirannya, kewajaran yang bijaksana dalam mengkritisi perbedaan akan menyemburkan cipratan toleransi yang begitu luar biasa. Toleransi adalah pusaka atas penerimaan perbedaan dalam ruang lingkup budaya. Dengan adanya toleransi, multikulturalisme dalam suatu kelompok manusia yang memiliki budaya yang berbeda akan terasa nikmat, kenikmatan hidup tidak lagi suatu niscaya, ia merupakan kesejatian yang nyata adanya. Toleransi, penerimaan dalam keberbedaan. Selain itu, multikulturalisme mengajarkan manusianya akan eksistensi pemahaman lintas budaya. Ini bisa dibilang suatu pengetahuan antar perbedaan budaya yang memicu percepatan suatu pemikiran kritis pada akal fikiran manusia. Ingatlah, keseragaman nyatanya menimbulkan suatu tipu muslihat, ia menumpulkan kekritisan pemikiran karena memang keseragaman membuat manusia selalu merasakan zona yang nyaman dan enggan untuk keluar darinya. Sebaliknya, multikulturalisme menawarkan zona yang tidak nyaman yang sangat menarik untuk senantiasa digali begitu mendalam, lagi dan lagi. Semakin menggali perbedaan semakin manusia berfikir, semakin manusia berfikir semakin ia mendapati suatu pengetahuan yang universal, yang tak dapat diganggu gugat. Dan kembali lagi, pengetahuan yang demikian pastinya akan diterima oleh khalayak umum, dan penerimaan adalah asas dari toleransi. Selanjutnya perlu ditekankan kebermanfaatan dari multikulturalisme yang lebih meluas lagi yakni sebagai akibat dari maraknya toleransi yang harmoni, ia adalah suatu keadilan sosial. Toleransi memang hanya mencakup kebersediaan dalam menerima meskipun terkadang tidak ada kesutujuan, hanya sebatas menerima perbedaan budaya tersebut. Namun, toleransi yang begitu besar akan perbedaan menciptakan keseriusan perihal keadilan di lingkungan sosial manusia. Menerima perbedaan artinya peleburan dalam perbedaan, oleh karena peleburan ini perasaan kesatuan akan digenggamnya. Dan kesatuan yang terjalin akan memberikan sumbangsih besar terhadap keadilan. Inilah yang dikatakan sebelumnya bahwa multikulturalisme dengan erat memeluk akarnya, yaitu toleransi dimana toleransi akan menggetarkan berbagai aspek disekelilingnya, termasuk keadilan sosial. Dengan keadilan sosial yang tercipta, saatnya melambaikan tangan untuk lambang perpisahan kepada penindasan, kesengsaraan pada sosial manusia. Kedamaian yang begitu hangat.

 

Tidak gampang mewujudkan itu semua, tentunya perlu upaya yang begitu besar dan mendalam yang artinya tidak setengah-setengah. Haruslah sepenuhnya melibatkan diri pada segenap aktifitas multikulturalisme baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Upaya melibatkan diri pada pemahaman multikulturalisme yang bisa diaplikasikan dengan mudahnya oleh manusia saat ini adalah berkenan untuk belajar budaya. Budaya dalam artian ini adalah tidak hanya budaya yang ia miliki saat ini saja, melainkan budaya yang dimiliki oleh manusia lain disekitarnya dan jauh dari areanya. Tidak harus seluruh aspek budaya, namun setidaknya perihal nilai yang dikedepankan, filosofisnya dan perihal bagaimana mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Belajar budaya tidaklah melulu melalui suatu bacaan, buku atau naskah-naskah, belajar budaya bisa dilaksanakan dengan cara bersinggungan langsung, bersosialisasi dengan manusia lain. Dengan pengamatan yang dikombinaksikan dengan interaksi sosial, pemahaman multikulturalisme senantiasa diresapi begitu utuhnya. Tidak hanya demikian, berkelana ke negeri yang budayanya berbeda adalah salah satu jalan manusia yang bisa ditempuh untuk mewujudkan jiwa multikulturalisme dalam diri. Menempuh bermeter-meter jauhnya hingga ke tempat manusia yang baru kerap kali membuka cakrawala pengetahuan dan pengalaman akan budaya yang pada akhirnya memantikkan kepercayaan bahwa kekayaan manusia terdapat pada perbedaan budaya yang sangat beragam.

 

Multikulturalisme menyelaraskan perbedaan budaya, ia tidak menyeragamkan, ia justru memberikan keleluasaan terhadap perbedaan untuk selalu tumbuh, namun tumbuhnya ia selalu harus beriringan dengan tumbuhnya budaya lainnya yang berbeda. Ini sutuhnya agar keharmonisasian dalam perbedaan tak pernah lekang, selalu ada dan selalu menghinggap, terpatri pada setiap insan manusia. Multikulturalisme menjadi penghias senyuman-senyuman yang berbeda pada diri manusia, multikulturalisme memandang hal berbeda adalah kawan baik yang perlu untuk diajak bersama dalam berjalan menggapai tujuan kedamaian.

Komentar