Adakah Nilai Pada Tempat Tinggalnya?

 

Sudah Jelas mestinya bahwa bumi yang labelnya sebagai ciptaan Tuhan memiliki keindahan yang begitu luar biasa. Dapat diyakini, mata yang memandang hamparan wujud bumi akan kikuk mengungkapkan dan menjelaskan dengan sukarela perihal betapa luar biasa indahnya bumi ini. Alhasil, mungkin inilah yang menjadi alasan mengapa manusia ditempatkan oleh Tuhan di bumi ini, bukannya di tempat lain atau di planet lain. Tuhan Maha Baik, melimpahkan bumi dengan seluruh isinya untuk manusia. Manusia hidup di bumi, manusia tinggal di bumi adalah bukannya tanpa alasan tentunya, semua ini memiliki makna dan alasan yang jelas, yakni Tuhan.

Akan tetapi tidak habis kiranya jika membahas perihal Tuhan, karena Tuhan tidak ada habisnya memang. Ini perihal manusia yang tinggal dan menetap di bumi Tuhan. Manusia cenderung memandang ada hal-hal tertentu perihal tempat ia tinggal. Manusia adalah makhluk Tuhan yang begitu unik, ia mampu merasa, ia mampu mempelajari, karena memang makhluk satu ini dibekali oleh Tuhan dengan akal dan hati yang tersingkron dengan rapi satu sama lain yang mana membentuk perangai yang derajatnya lebih tinggi daripada makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Manusia menggunakan akal dan hati yang harmoni untuk memilih tempat ia bernaung, tempat untuk berlindung, tempat untuk memaparkan diri dengan kesejahterahan dan kebahagiaan yang sejati. Dan inilah faktanya, manusia melibatkan penentuan nilai yang terpampang di ruang dimana ia hidup untuk sehari-hari. Nilai, nilai ini yang menjadikan ketetapan manusia memilih di bagian bumi yang mana yang akan ia tempati dan tinggali.

Nilai sejatinya adalah suatu perwujudan inti yang mana mewakili perangai dari sesuatu, dan sesuatu ini bisalah dalam bentuk benda mati atau manusia sekalipun. Benar memang ini adalah core of the core dari si empunya nilai. Oleh karenanya, nilai ini pastilah dimiliki oleh suatu hal. Apapun pastinya memiliki nilai, apakah nilai itu buruk ataupun baik. Hal ini tentu tercermin secara jelas melalui perangai yang ditunjukkan oleh sesuatu tersebut. Nilai memang tidak dapat terlihat oleh kasat mata, namun ia hanya mampu dirasakan melalui akal fikiran dan hati. Hal ini karena nilai yang ada seyogyanya menjadi bahan perenungan bagi manusia. Nilai yang dapat dirasakan tidaklah sesederhana mengedipkan kelopak mata, ia terbagi menjadi berbagai macam dimensi. Nilai-nilai dalam dimensi inilah yang menemani manusia di sekitarnya ia tinggal dan menetap. Tidak selalu namun seringkali demikian. Nilai-nilai yang terbagi ini dapat dikategorikan ke dalam dimensi nilai kebenaran, keindahan, sosial, moral dan yang paling penting yakni nilai agama.

Kesemua nilai yang terbagi ke dalam beberpa dimensi ini nyata jika telaah begitu mendalam dan telah ada. atau bahkan telah melekat pada manusia sejak ia terlahir di dunia. Mungkin Tuhan memang menginginkan manusia memiliki dan merenungi nilai ini agar manusia memiliki arah yang jelas dalam berkehidupan. Hal ini karena nilai yang tercermin umumnya dijadikan suatu indikator untuk melangkahkan kaki, berpijak di bumi ini. Sebagai contoh, nilai kebenaran, nilai ini mengikat rasionalitas akal dan adab yang ada di hati yang ada dalam diri pribadi. Dalam suatu distorsi sikap dan turbulensi realita hidup, rasio dan adab manusia menginginkan untuk dihanyutkan dalam kebenaran sejati, mereka merasa, mereka menghamba pada Sang Kebenaran Sejati. Maka sejatinya manusia yang mencerminkan nilai kebenaran pada dirinya, tidak lain tidak bukan, akan mengikuti jalan kebanaran yang haqiqi, termasuk padanya apa yang ia pilih sebagai tempat untuk berpenghidupan. Selanjutnya mungkin perihal nilai keindahan. Iya, nilai keindahan yang bisa juga dikatakan sebagai nilai estetika. Nilai ini pada sebagian manusia dirasa cukup unik, karena banyak kurangnya jauh melibatkan hati dalam mengolah rasa, rasa keindahan yang dapat dipapar oleh isi hati, relung jiwa, daripada melibatkan akal fikiran yang cenderung rasionalitas, atau logika yang ditaruhnya di depan suatu layar kehidupan. Nilai keindahan memainkan peran yang begitu besar nyatanya. Oleh sebabnya, jarang didapati manusia bersedia tinggal di suatu tempat yang tidak sama sekali ada nilai keindahan di dalamnya, karena keindahan itu menyejukkan mata, menyejukkan jiwa dan fikiran, dan yang demikian sejuk itulah yang memberikan kenyamanan dan ketentraman.

Nilai memiliki label yang cukup tinggi di suatu lingkungan manusia. Nilai ini yang kerap kali dianut oleh manusia tersebut dalam suatu tempat untuk ia menetap. Namun berbicara perihal tempat tinggal manusia lebih baiknya jika ditelaah secara bijaksana, apakah memang mutlak manusia itu tinggal, berdomisili, hanya karena perkara suatu nilai yang dinggenggamnya. Manusia memiliki banyak tendensi untuk menentukan suatu pilihan hidup, termasuk urusan tempat tinggalnya. Secara umum, tempat tinggal adalah suatu kebutuhan dasar manusia. Ingatlah pangan, sandang dan papan, kebutuhan tersebut perlu untuk dituntaskan tentunya oleh manusia, karena dengan itulah manusia akhirnya dapat bertahan hidup. Selain daripada itu, tempat tinggal adalah cara manusia untuk berlindung dari hal-hal yang buruk yang mungkin menerpa manusia. Manusia hanya bisa memprediksi, memprediksi suatu hal buruk, oleh karenanya perlindungan dasarnya ada pada tempat tinggal tersebut. Tengok saja hujan badai, jika tak memiliki tempat berlindung, sulit kiranya manusia akan tetap melangsungkan kehidupannya, karena manusia itu sendiri memiliki suatu keterbatasan, manusia tidaklah makhluk yang abadi. Dan lagi, manusia memilih menetap pada suatu tempat yakni memiliki keterkaitan dengan suatu pekerjaan yang ia musti geluti setiap hari. Jikalau tempat dimana ia bekerja, mengadu nasib, berlokasi cukup jauh untuk ditempuh, maka cukup celakalah ia lantaran habis tenaga dan waktunya hanya demi suatu perjalanan. Alhasil, menurut hematnya lebih baik bertempat tinggallah ia pada sekitaran tempat ia bekerja, demi efektivitas dan efisiensinya. Dan demikianlah memang hal umum yang nyatanya menjadi alasan manusia untuk menetap pada suatu tempat. Ada banyak alasan, dan kesemuanya bukanlah hal yang buruk untuk diterjemahkan.

Kendati demikian logisnya, perlulah tetap manusia yang ada di bumi Tuhan ini mengelola nilai yang dikandung, menempatkan nilai pada puncak pemikiran akal dan perasaan hati, sekalipun pada tempat bernaung bagi dirinya. Nilai di dalam kehidupan manusia layaknya perlambang keamanan, kesejahterahan, keselamatan dan bahkan kebahagiaan. Nilai mendorong manusia sehingga menciptakan suatu gaya hidup yang senantiasa tercermin di dalm aktivitas sehari-harinya melalui sikap manusia atau perilaku manusia. Gaya hidup yang memunculkan nilai tersebut mampu dengan sangat jelas mengantarkan manusia kepada keamanan, kesejahterahan, keselamatan dan kebahagiaan tadi. Tempat tinggal manusia yang tak sekalipun menawarkan nilai yang dirasa oleh manusia tak akan mampu membebaskan keempat hasrat yang demikian. Malah mungkin yang terjadi adalah hal yang sebaliknya. Tidak mengenakkan tentunya hidup di dalam suatu teduhan yang tak menawarkan kenikmatan komponen hasrat kedamaian atau bahkan memenjarakan diri, rasanya seperti diasingkan. Nilai yang ada merupakan titik dimana manusia akan juga mengenggam suatu hal yang layak untuk diperjuangkan. Nilai ini ibarat suatu modal untuk mencapai tujuan, tujuan hidup. Berbicara perihal kebahagiaan, nilai yang terkandung, apapun itu jenisnya, mampu untuk membantu manusia melompat ke tanah kebahagiaan. Dan bukankah manusia mendambakan kebahagiaan hidup dalam dirinya? Jika telah bahagia, maka tenanglah ia. Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah Tuhan. Artinya nilai menggenggam manusia dan mengantarkannya pada Tuhannya, mendekatkannya pada Tuhan dan mendapatkan kerelaan Tuhan. Itulah kebahagiaan yang sejati, bukan sekedar kebahagiaan yang fana atau palsu.

Nilai dalam hidup, nilai dalam bertempat tinggal tidak elok rupanya jika dikesampingkan. Nilai seyogyanya dalam kehidupan manusia yang menetap di bumi Tuhan perlu menjadi bagian prioritas manusia. Ia tak berbentuk, tapi ia bisa sangat untuk dirasakan melalui kejernihan akal fikiran dan kesucian hati. Nilai memudahkan manusia untuk hidup di tempatnya, nilai mengelola manusia untuk suatu tujuan yang jelas pada duniawinya dan pada Kebesaran Tuhannya.








Komentar