Makna Traveling


 Begitu mengejutkannya suatu perkembangan zaman. Perkembangan nyatanya tidak dapat dielakkan oleh setiap manusia bahwa hal itu merubah manusia juga, merubah cara berfikirnya dan merubah perilakunya. Bisa dikatakan banyak sektor yang dipandang berubah pada pribadi manusia, namun hal yang mencolok salah satunya adalah perihal mobilitas manusia. Cukup terang bahwa manusia dalam era perkembangan zaman ini memiliki jutaan alasan untuk menggenggam sikap untuk berpindah-pindah atau mobile di kehidupan sehari-harinya, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan kerjanya. Mungkin telah dipahami istilah ini sangatlah melekat pada prinadi manusia, ia yang dikatakan ini adalah traveling. Ini menggambarkan banyak hal pada diri manusia. Ini adalah bagian dari diri manusia, ia adalah perkembangan zaman itu sendiri.

Traveling yang dikatakan oleh kebanyakan manusia itu merupakan bentuk sederhana dari sebuah pernyataan yang berupa perpindahan tempat dengan menggunkan media tertentu untuk keperluan tertentu. Sabaiknya memang dicerna baik-baik apa yang menjadi definisi traveling, karena agaknya itu cukuplah subyektif dan relatif pada sebagian manusia, namun haruslah bijaksana bahwa secara substansi pastilah adanya suatu perpindahan absolut yang terwujud di sini. Dan inilah perangainya, perkembangan zaman menghantam manusia untuk harus berpindah tempat, mau-tidak mau inilah yang mampu membuat manusia untuk bertahan hidup. Sebaliknya, jika hanya bertahan pada tempat awal saja, tidak ada jaminan hidup akan tetap bertahan. Tidak ada yang menjamin, hanya Tuhan yang mampu menjamin, tapi perlulah manusia berupaya semaksimal mungkin. Perkembangan zaman adalah tantangan yang harus dikompromikan, dan traveling pun demikian harus diadaptasikan.

 

Dalam hemat pemikiran manusia, terlalu rendah jikalau memandang traveling hanya masuk dalam bagian keduniawian saja. Memang benar ia adalah bagian dari duniawi, akan tetapi jika harus ditelaah begitu mendalam, ada cipratan nilai-nilai yang mana membelah belenggu duniawi, ia justru membimbing ke arah yang lebih tinggi, yakni nilai-nilai kijiwaan dan kebijaksanaan. Tidak terlalu menarik, dunia ini sudah tidak begitu peka terhadap spiritualisme. Bohong, dan juga salah, dunia ini masih merindu uluran hangat dari Ilahi, hanya manusia saja yang tidak begitu antusias terhadap eksistensi Zat Pengatur Segalanya, mungkin karena ia terbiasa dengan dunia, terbiasa dengan zat duniawi.

 

Sebenarnya traveling atau berpindah tempatnya manusia untuk tujuan tertentu ini tidaklah begitu asing, karena nota bene hal ini sejak zaman dahulu telah dilakukan oleh banyak manusia. Titik temunya ada pada tujuannya, yakni traveling oleh manusia yang dulu dilakukan untuk kegiatan perekonomian. Benar sekali, untuk memenuhi kebutuhan perut, kebutuhan utama manusia, sebuah perdagangan. Manusia berburu, meramu, bercocok tanam dan beternak pada awalnya untuk dikonsumsi secara pribadi, namun itu tidaklah cukup. Sejak mengenal kegiatan ekonomi, ekspansi kerap kali terjadi, sehingga traveling pun eksis di sini. Berpindah menuju tempat-tempat baru hanya untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan, materi tentunya. Dan seiring berkembangnya pemikiran manusia dan seiring hausnya manusia akan pengetahuan yang harus dijawab oleh benak nalarnya, atau hanya sekedar melepas rasa konyolnya dari sebuah keingintahuan, manusia melakukan traveling untuk suatu pembelajaran, untuk niat belajar mencari sumber ilmu yang dibutuhkan akalnya. Kerap kali dilakukan oleh manusia pada zaman dahulu pergi ke tempat jauh dan tidak dikenal dimana sumber ilmu berada. Menyeberang negeri adalah hal yang sangat biasa untuk ini. Traveling untuk memuaskan derai dahaga ilmu menjadi aspek penting di sanubari diri pada kehidupan manusia.

 

Sebaliknya, kini traveling menjangkau pemaknaan yang begitu luas, alhasil maksud dan tujuannya pun berwujud berbagai macam. Tak sekedar hanya untuk urusan perekonomian dan pembelajaran saja, melainkan lebih daripada itu yang mana sudah mencakup seputar gaya hidup, mencari pundi-pundi uang, kesenangan hiburan dan bahkan urusan kesehatan fisik dan jiwa. Dengan keanekaragaman maksud dan tujuan ini, traveling nyatanya kini semakin melibatkan banyak manusia yang ada. Unik dan menarik, banyaknya manusia yang secara aktif maupun pasif yang terlibat seolah melegitimasi dan melebeli traveling menjadi suatu trending untuk mempertinggi cakupan derajat diri seorang manusia. Ambil salah satu contoh, traveling sebagai media untuk menumpuk cuan di dalam kantong. Banyak manusia yang jeli melihat peluang bahwa tontonan pada kotak televisi terlalu membuat mual isi perut, kebutuhan akan tontonan yang berbeda sangat dinanti, dan manusia yang jeli tersebut mempertemukan kebutuhan tadi dengan kegiatan traveling-nya. Keseruan traveling ia olah sedemikian rupa menjadi obat bius seperti rempah-rempah yang menyelimuti sajian makanan di restoran yang tentunya setiap manusia yang mencium aromanya terhipnotis dan siap meneteskan air liurnya. Dan dari sanalah banyak manusia lainnya yang membayar untuknya pergi traveling, membagikan keseruannya berpetualang untuk dipertontonkan ke khalayak umum. Tidak salah hal yang demikian, karena yang diingat adalah adanya permintaan yang menjadi kebutuhan, dan bagi siapa saja yang mampu memberikan kebutuhan tersebut, uang akan menjadi ganjarannya. Sah-sah saja aturan di dalam traveling tersebut, dan memang inilah permainannya.

 

Hakikatnya traveling merupakan sarana untuk mencapai sesuatu hal yang didambakan. Ini perlu untuk digarisbawahi bahwa ini hanyalah suatu cara saja sebenarnya. Traveling itu merupakan suatu proses sebagai titik beratnya, bukannya suatu hasil akhir. Hal ini karena traveling memiliki nilai yang begitu besar dan mulia di dalamnya. Tapi ini hanya bagi mereka yang berprasangka melalui nalarnya yang bijaksana dan hatinya yang lapang. Traveling adalah salah satu jalan untuk mencapai kesempurnaan hati bagi mereka yang sebelumnya merasakan kehampaan dan kekosongan hati. Ia yang demikian sejatinya rindu agar hatinya bisa diisi, bukan oleh hal-hal duniawi, melainkan oleh Tangan Tuhan sendiri. Traveling sangat mampu mendekatkan diri pada Kebesaran Tuhan yang dipertunjukkan melalui ciptaan-Nya yang ada di sekitaran celah-celah hamparan bumi. Keagungan Tuhan terpampang baginya begitu luar biasa jika ia sanggup untuk merenunginya. Mungkin kiranya di kehidupannya pada masa sebelumnya tidak pandai baginya untuk mengucap rasa syukur, mungkin terlalu banyak ia menggeluti keterbiasaan lingkungannya dan lupa akan makna yang tersimpan di dalamnya, maka langkahkan saja kaki untuk menuju apa yang disuarakan hati, dan jika hati telah mendapatkan lambaiannya, sudah dapat dipastikan ia yang meratap kehampaan tadi sedikit-demi sedikit mulai menengadah untuk diisi. Untuk mencari kepuasan batin kiranya traveling cukup mumpuni sabagai nilai untuk digaungkan.

 

Selain daripada itu, traveling secara murni merupakan suatu kegiatan yang memediasi pada suatu konteks pembelajaran diri. Dikatakan pembelajaran karena memang akan ada banyak hal yang dapat dipelajari secara mendalam di setiap langkah kaki yang bergerak menapak dan panca indera yang tak sekalipun berkehendak untuk berhenti bekerja. Traveling harus diakui mampu mewadahi pribadi manusia yang terbuka akal dan hatinya untuk menjumpai tentang makna perbedaan, kemandirian, keilmuan, kedewasaan, kebijaksanaan dan bahkan kepemimpinan. Terus terang, sebenarnya masih ada banyak dan lebih daripada yang demikian yang telah diterangkan. Tapi percaya saja, manusia punya jutaan kepekaan rasa akal dan hati untuk menyerap segala informasi dan untuk menguak tirai yang tertutupi. Karena memang manusia adalah makhluk yang begitu menggemari kebenaran yang perlu diungkap, dan hal itu selalu menawarkan pembelajaran yang menarik dan yang menggelitik. Traveling secara luar biasa seperti toko swalayan yang di dalamnya memamerkan gerai-gerai pembelajaran dengan milyaran variasinya, bergantung sudut pandang yang digunakan oleh manusianya. Tentunya, pembelajaran yang terselip di ruang lingkup traveling bisa sangat untuk menumbuhkembangkan manusia tersebut baik dari dalam cakupan jasmani, rohani maupun sosialnya. Setiap sisi pembelajaran dalam traveling adalah kunci manusia menjadi pribadi yang lebih baik, mungkin secara hakikat ia tidak benar-benar baik, tapi setidaknya dalam hamparan penerimaan universal umat manusia ia masuk dalam kategorinya.

 

Traveling, bagian dari langkah manusia yang kerap kali berputar. Entah berputar begitu perlahan, ataupun begitu deras hingga meninggalkan segalanya. Yang jelas, kehidupan baru selalu menanti di ujungnya. Mungkin traveling bukanlah perihal tujuan, malahan ia adalah suatu proses yang bergulir, namun perlu diingat dan sebaiknya terpatri begitu mendalam di benak diri manusia bahwa traveling mengundang suatu pembaharuan yang magis dalam bentuk spitualisme maupun pembelajaran diri yang tentunya ke arah yang lebih baik. Bergembiralah bagi nalar akal yang terbebas dan tak terbelenggu, bergembiralah hati yang tak terjerat nafsu, ia yang demikian mampu memaknai apa itu traveling.

 

Komentar