Mengungkapkan Perasaan

 

Berlika-likunya alur cerita dalam kehidupan manusia sepertinya adalah hal yang dirasa cukup unik. Cermati saja, yang demikianlah nyatanya membawa warna dalam perasaan manusia, jadinya tidaklah monotone. Andai saja cerita kehidupan manusia ini tidak ada lika-likunya sama sekali, dan yang terpampang hanya plot cerita yang lurus-lurus saja, atau bisa diimajinasikan hidup manusia itu baik-baik saja, maka yang seperti itu wujudnya tidak akan memunculkan warna-warni kehidupan, tidak ada pembelajaran yang mampu membuat manusia menjadi lebih baik alias ia terhenti pada wujud yang hambar. Ketahuilah, hitam, putih, merah, hijau dan warna-warna lainnya adalah simbol perasaan manusia, dan perasaan ini merupakan titik pertanda bahwa manusia adalah manusia, makhluk ciptaan Allah.

Manusia merasa, manusia bersinergi dengan alur cerita kehidupannya dengan suatu perasaan. Perasaan yang tercipta oleh sebab suatu kejadian dalam kehidupan adalah suatu keindahan meskipun kejadian yang menimpanya tersebut adalah hal yang buruk, itu tetaplah indah karena ia mampu merasa, dan itulah yang membuatnya menjadi manusia, dan juga itulah hamparan kenikmatannya. Perasaan yang terbentuk oleh apapun itu adalah hakikat rasa sayang Allah terhadap hamba-Nya. Oleh karena itu, manusia perlu dan wajib kiranya untuk selalu bersyukur atas perasaan apapun yang dimilikinya. Manusia yang memiliki perasaan adalah manusia yang seyogyanya tak perlu untuk mengeluh oleh hamparan kejadian hidup yang menerpa atau menamparnya. Ia yang memiliki perasaan hanya cukup untuk memeluknya dan tak henti-hentinya pada lisannya terucap rasa terima kasih kepada Allah karena itu adalah kebaikan dari memiliki perasaan.

Sedih, senang, amarah, bahagia, galau dan masih banyak lagi perwujudan perasaan adalah bentuk rasa yang sering kali terlihat pada manusia. Mereka mampu dilihat pada manusia, bahkan sangat jelas sekali terlihatnya. Hal ini tidak lain karena manusia sendiri yang menunjukkannya melalui ekspresi yang dikeluarkannya baik secara sengaja maupun tidak sengaja, dan itulah memang manusia yang berperasaan. Manusia memaparkan bentuk perasaannya kepada manusia lainnya, sehingga manusia yang lain tersebut mengetahuinya. Kiranya sungguh yang dikatakan kenikmatan menjadi manusia oleh karena perasaan yang demikian adalah nikmat perasaan yang diungkapkan, diutarakan dan bukannya malah dipendam begitu mendalam. Rasa yang ada karena hasil dari respon terhadap kehidupan akan terasa kenikmatannya bilamana itu mampu untuk diungkapkan. Maka sejatinya manusia memang dianjurkan untuk mengungkapkan perasaannya. Dalil kenikmatan yang dirasa bukanlah hal yang mutlak, malahan banyak substansi yang terkandung yang bisa dikatakan positif untuk manusia tatkala ia mengungkapkan apa yang dirasa olehnya. Mengungkapkan perasaan bagi nalar yang mendalam memanglah hal yang wajar dan menandakan kemanusiawian. Bukan suatu omong kosong besar, mengungkapkan perasaan adalah hal yang mendasar sebagai fitrah manusia karena manusia merupakan makhluk sosial yang berekspresi sebagai salah satu bagian dari interaksi terhadap kelompok sosialnya dan lingkungannya. Singkatnya, ini adalah fondasi manusia dalam alam manusiawinya.

Selain berperasaan, manusia jugalah manusia yang berakal. Hebatnya, ia gunakan akalnya tersebut untuk mengungkapkan perasaan dengan banyak cara dan media. Sebagai nostalgia saja, di masa yang telah lalu manusia mengungkapkan perasaannya melalui suatu sajak dan hikayat puisi yang terkadang disampaikan secara langsung ataupun dituliskannya melalui selembar kertas. Sajak dan hikayatnya tersirat, makna perasaannya tidak secara langsung digambarkan, namun ia disimbolkan dengan gambaran analogi-analogi yang mencampur aduk kewarasaan. Sementara pada masa sekarang ini perasaan yang diungkapkan tak lagi banyak mengekang cara. Maksudnya karena media yang ada pun begitu banyak tersedia. Teknologi khususnya, manusia saat ini tinggal menentukan konsteks perasaan yang hendak ia utarakan dan teknologi apapun siap untuk digunakan sebagai wadahnya. Kiranya mencocokkan perasaan dan media tak lagi merepotkan, begitu mudah untuk diaplikasikan. Ambil contoh video, banyak manusia dewasa ini, khususnya kaum muda, menggunakan media ini untuk mengungkapkan perasaaan. Hal ini karena memang sungguh sangat mudah, dengan memanfaatkan telefon genggam dan fitur rekam di dalamnya, manusia bisa membuat video untuk merekam bentuk ungkapan perasaannya. Lebih dari itu, manusia lain yang melihatnya mampu secara mudah memahami makna ungkapan tersebut, penyebabnya adalah ia mampu menangkap ekspresi yang terlibat di dalamnya. Ekspresi yang tertuang dalam perasaan yang diungkapkan mengintegrasi dan menghipnotisnya, seakan-akan ia pun terlibat aktif dalam ruang perasaan si pengungkap perasaan tersebut. Alhasil, koneksi yang terjalin dalam suatu dimensi perasaan begitu erat dampaknya. Intinya, perasaan yang diungkapkan nyatanya membutuhkan media yang tepat yang lahir melalui akal fikiran yang merasa.

Manusia perlulah mengungkapkan perasaan. Perasaan adalah nikmat Allah yang tiada tara, tiada duanya, sementara pengungkapan adalah perwujudan dari koneksi sosial antar sesama manusia, dan lagi-lagi bersosial adalah kenimatan Allah lainnya yang sengaja diberikan untuk sekalian hamba-Nya. Perasaan manusia adalah media pendekatan dirinya dengan Allah, maka memlihara perasaan yang ada merupakan kewajiban manusia di dunia.

Komentar