Hal yang sangat unik belakangan ini muncul ke permukaan suatu pemikiran manusia pada umumnya. Kiranya dunia saat ini berkawan akrab dengan materialisme, buktinya anggapan orang saat ini terhadap suatu kebenaran hanya tertuju pada apapun yang bisa dibuktikan dengan pengalaman yang tercermin melalui panca inderanya. Tidak salah anggapan demikian karena memang begitulah eranya saat ini, era yang mengedepankan kecanggihan teknologi, informasi dan media. Mereka semua memanjakan manusia, mereka semua membuat indera manusia tak lantas bersusah payah untuk bekerja. Sebaliknya yang runyam hanya isi kepala saja dan keuletan tekad untuk bergerilnya dengan itu semua. Mau atau tidak terlibat di dalamnya. Yang mau akan dimanjakan, namun tentunya butuh pengorbanan untuk mendapatkannya. Dan yang menolak terlibat perlu untuk bersiap diri terhadap suatu disrupsi yang setiap saat akan menghantam mati, telak.
Era millennial, eranya materialisme untuk unjuk diri. Orang-orang tak punya pilihan lagi untuk harus berkata iya dan memeluk erat segala hal yang bermateri, berwujud, karena ia kebenaran yang dianggap, namun sama sekali kebenaran yang absolut. Sebab, ia yang absolut kebenarannya hanya milik Allah semata. Penuh intrik perihal kebenaran ini, orang yang lupa dan tak melihat dengan mata hati pasti membisu dengan kebenaran absolut, dan membela pada kebenaran yang dibuat-buat, materi.
Sudah begitu adanya memang perihal dunia millennial yang memprioritaskan materialisme. Akan tetapi timbul intrik dalam diri, dalam isi kepala. Terdengar klise tentunya apa yang akan terbaca di setelahnya, namun tetap harus tertuang, "apakah di dunia yang seperti demikian ini masih memberikan tempat bagi suatu romantisme?". Pasti penuh dengan pro dan kontra tatkala harus membahasnya. Manusia saat ini terlalu heterogen dalam memaknai romantisme, ditambah lagi selimut dunia romantisme terjamah secara brutal oleh materialisme. Positifnya adalah ini suatu pembuktian tentang adanya suatu perkembangan, sebaliknya negatifnya adalah adanya pergeseran hakikat yang dipeluk oleh oknum-oknum manusia yang mengenyahkannya mentah-mentah.
Dulu, kata orang, "dunia ini adalah panggung sandiwara", jika ditelaah dengan mengatasnamakan romantisme ada benarnya juga. Hal ini karena diawal kemunculan romatisme pada akhir abab 18, di belahan bumi eropa, romentisme hanya melekat erat dan manja pada konteks kesenian saja, karya seni yang diciptakan manusia, dan drama sandiwara merupakan karya seni, sehingga dunia ini adalah wujud karya seni yang tiada tandingannya. Maestronya tentu saja Allah SWT. Romantisme ini kerap kali dijejalkan pada suatu karya seni dimana ciri khasnya adalah karya seni tersebut menonjolkan aspek romantis, peristiwa yang dahsyat atau kejadian yang dramatis. Romantisme mengintegrasikan segala aspek emosi pada manusia agar karya seni terasa begitu nyata, begitu hidup, dan begitu terasa. Romantisme layaknya seorang pesulap yang siap menghipnotis para penonton untuk terenyuh, terbuai oleh segenap trik yang dikeluarkan oleh sang pesulap tersebut. Begitu luar biasanya dampak dari karya seni yang mengikat romantisme di dalamnya, hingga tak disangka mempengaruhi akal sehat manusia di dunia nyata, realita. Hidup manusia yang demikian penuh dengan drama yang seringkali mengayun-ayunkan perasaannya tiada henti. apakah berlebihan? tentu saja tidak, ia menikmatinya, ia membiarkan hidupnya penuh tangis, tawa, bahagia dan duka, ia merasa menjadi manusia yang romantis, ia merasa hidup.
Sebagian orang merasa ini konyol, sebagiannya yang lain mengatakan ini adalah keindahan dunia. Zaman ini adalah zaman materialisme. Sudah sangat jelas romantisme memakai topeng yang sama sekali baru, tak seperti sebelumnya. Maka bisa dijawab dari pertanyaan yang membekas sebelumnya, materialisme masih menyisakan romantisme di dalamnya, romantisme masih memiliki tempat, namun dengan catatan ia terlihat dengan wujud yang sama sekali baru. Jika ditengok pada kaula muda, khususnya para perempuan, mereka adalah manusia yang dikodratkan memiliki kepekaan rasa yang lebih mendalam ketimbang lawan jenisnya, laki-laki. Mereka, alhasil, lebih mudah dalam mengaktifkan perasaan, menyerap dan menilai segala hal yang memiliki nuansa romantisme, apapun itu, tidak hanya sebatas pada karya seni saja. Yang begitu adanya bisa dijelmakan pada suatu fenomena dimana mereka menggandrungi suatu tontonan drama bertajuk romatisme ala pemuda dan pemudi masa kini yang juga dibalut dengan intrik emosi yang siap menguras air mata. Tontonan drama yang demikian menjadi hal yang mereka sukai, tak jarang mereka menjadi fanatik olehnya, gila yang berlebihan olehya, seolah-olah dunia yang sebenarnya adalah apa yang nampak dari tontonannya tersebut. Tidak hanya itu, mereka yang millennial yang juga mengedepankan asas romantisme cenderung beraliansi dengan rasa simpati dan empatinya, akibatnya mudah merasakan kesengsaraan yang dialami oleh manusia lainnya, mudah pula membantunya, menolongnya. Sedihnya, ada pula yang mudah merasa sakit hati, marah, tersinggung dan kecewa meski hal-hal yang terjadi tidak sama sekali ditujukan kepadanya dan bahkan tidak sama sekali melibatkan dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung, yang sebenarnya demikian itu ditujukan pada obyek lainnya. Mereka membawa perasaannya tidak pada tempatnya, namun bersikukuh merasa benar dengan sikap dan perasaannya. Kebodohan dalam berperasaan.
Menariknya dari romantisme di era materialisme ini meskipun ia memiliki topeng baru, ada corak pada topengnya yang tetap sama, tak berganti sama sekali. Corak yang dimaksud terpampang dalam dunia percintaan dua sejoli, laki-laki dan perempuan, yang mana banyak di antaranya menjadi budak cinta. Ada sebagian darinya yang mengakuinya, dan ada pula yang tidak mengakuinya walaupun itu sudah sangat jelas terlihat. Dua sejoli yang memadu kasih terikat lehernya layaknya budak, dan si empunya adalah cinta itu sendiri. Cinta menjadi tuannya yang senantiasa menguasai mereka berdua, tidak mampu lepas sepasang kekasih ini dari jeratan tuannya. Dimabuk kepayang keduanya sebab ulah tuannya yang senang melihat budaknya menari-nari di bawah kakinya. Setiap hari sepasang kekasih ini memadu kasih, mengikrar cinta yang indahnya bukan main. Hari demi hari berlalu dengan biusan cinta, semua dibuatnya atas nama cinta, tidak mau jika tidak bersama, dan tidak mau jika tidak ada cinta dari kekasih hatinya. Romantisme menjelma dewa di dunia ini.
Walaupun romatisme diterima begitu hangat di era materialisme ini, nyatanya masih ada manusia-manusia yang lantang berkata keras untuk tidak terhadap romantisme. Dalilnya banyak rupanya, mulai dari yang melelahkan jika terlibat dengannya, hingga merasa enyah lantaran isi kepalanya hanya fokus pada hal yang bersifat riil. Terlibat drama romantisme di kehidupan sehari-hari terkadang bagi mereka banyak menguras tenaga, fikiran dan tentunya emosi yang esensinya sia-sia, tak sedikitpun bermanfaat atau tak ada faedahnya. Banyak hal lain yang mustinya harus diproritaskan, hidup selamanya bukan tentang romansa, ada juga contohnya tentang spiritualitas yang perlu dijaga dan ditingkatkan. Ketenangan jiwa jauh lebih nikmat ketimbang memasuki dimensi yang bias dalam romantisme. Meski demikian mereka tidak menafikkan eksistensi romantisme di sekelilingnya, mereka hanya membatasi diri untuk tidak sepenuhnya tertampar hasutan romantisme dalam bentuk apapun, baik hubungan dengan lawan jenis maupun sekedar menikmati karya seni yang romantis. Romantisme bukannya tidak dianggap, ia diakui keberadaannya, namun oleh mereka tidak dipeluk begitu hangat, ia dikecam, ia dinomorsekiankan.
Begitu rumit jelasnya membahas romantisme ini, ibaratnya sama seperti dua sisi koin, ada hal baik dan buruknya secara bersamaan dalam dimensi eksistensinya. Bagaimanapun, romantisme patut untuk dipahami bahwa sampai kapanpun romantisme akan senantiasa ada, termasuk dalam era materialisme seperti sekarang ini. Ia memang tak abadi, tapi ia telah mengakar dan menempel pada tunas fikiran dan hati yang pada suatu hari nantinya akan siap keluar tumbuh dan berbunga menampakkan diri secara terang-terangan. Ingatlah, materialisme ini mengandalkan pengalaman dan indera sebagai alatnya dalam menilai suatu kebenaran baginya. Begitu jalnya dengan romantisme. Pergulatan emosi yang terlibat dan diolah tidak lain dan tidak bukan gamblangnya menuntut dan memaksa panca indera yang ada untuk terlibat pula. Logikanya, bagaimana bisa merasakan keindahan atau kepedihan jika keterlibatan panca indera ditiadakan di sini? Sederhananya, bagaimana mengetahui manusia tersenyum jika tidak sama sekali tidak menggunakan panca indera untuk mengetahui dan merasakannya?
Pada intinya romantisme dan materialisme saling bergandengan mesra layaknya adik dan kakak yang sedang bermain. Mereka, bagaimanapun, terhubung, berkolerasi satu sama lain. Selama manusia masih ada, selama manusia berfikir dan memberikan makna pada apa yang ia fikirkan, dan selama manusia menyadari hakikatnya, maka romantisme dan materialisme akan senantiasa membersamai mereka. Tak peduli dengan perwujudan baru atau lama, berbeda atau sama, mereka setia dengan manusia yang berfikir tentang apapun yang ada di dunia. Romantisme di era millennial mungkin berbeda dengan romantisme di zaman leluhur. Romantisme di era millennial melibatkan benda-benda bermateri, manusia mewujudkan rasa romantisnya dengan materi. Sah-sah saja yang demikian adanya, karena memang pasti manusia itu berfikir dan belajar, dan pemikirannya senantiasa tumbuh, berkembang dan bermetamorfosis.

Komentar
Posting Komentar