Ini Hanya Sekedar Tantangan

Mengingat hal-hal yang pernah dijalani. Terbesit catatan memori dalam imajinasi. Entahlah apa rasanya. Jujur saja, rasanya di awal begitu menyenangkan, namun kemudian bisa langsung ditebak. Benar sekali, di kemudian hari rasanya begitu menyayat, tidak hanya fisik, melainkan juga kejiwaan diri. Apa memang seperti itu yang dirasakan orang-orang pada umumnya? Jika memang seperti demikian, mungkin perasaan yang terbesit ini patut untuk ditolerir. Sebaliknya, jika hal ini tidak pada umumnya, mungkin diri yang merasa ini cukup bodoh rupanya. Curiganya, apa memang sudah dari sananya berpredikat bodoh hingga perasaan yang terpancar dari catatan memori yang ada menjadi titik poin pembeda dengan kebanyakan orang. Terus terang, tidak menjadi masalah jika poin pembedanya adalah entitas positif, tapi fakta besarnya adalah bahwa poin pembeda yang tercetak merupakan aib yang menjijikkan. Ingin rasanya berkontemplasi jika begini.

Kembali lagi pada aspek mengingat sesuatu yang pernah dijalani. Aku sampaikan saja secara gamblang, ini soal sebuah tantangan. Sama seperti yang telah aku katakan, tantangan begitu nikmat rasanya pada awalnya, lantas begitu menusuk tajam hingga ke tulang dan jiwa. Baiklah, ia bisa menusuk secara perlahan untuk sebagian orang, tetapi sisanya tidak demikian. Ia seringkali menusuk tanpa pandang bulu, tak sekalipun memberikan kesempatan kepada siapapun untuk bersiap diri, tahu-tahu orang itu merasakan kepedihan dan juga kesengsaraan yang sangat mendalam. Aku pun juga merasakannya.

Tantangan tidak selamanya bagi orang-orang dianggap sebagai hal yang baik. Ini bukan bualan semata, bukan juga suatu gertakan. Jika melihat kebanyakan orang, alih-alih mengeluarkan ekspresi yang hangat dalam sambutannya, pasti banyak diantara mereka akan langsung berpikir keras dan bahkan tersenyum kecut dalam menanggapi tantangan yang datang. Bukan lagi rahasia umum bahwa tantangan akan mengambil ekstra tenaga mereka, mungkin juga kenyamanan mereka. Maaf saja, kenyamanan adalah hal yang sensitif di sini. Banyak orang memburu kenyamanan, dan bukannya malah meninggalkannya. Faktanya, tantangan yang datang itu kerap kali menendang keras kenyamanan yang dimiliki oleh orang-orang. Oleh karena itu, tidak sedikit orang akan mengerutkan dahi mereka untuk benar-benar bersedia menyapa tantangan yang ada di depannya. Ini jelas berat.

Jangan tanya aku! Sudah dapat ditebak bahwa aku sepakat dengan orang-orang itu. Sebagai gambaran saja agar terlihat jelas. Aku memiliki pengalaman yang tidak sama sekali bersahabat dengan tantangan. Pengalaman di kala mengajar, dan tantangannya adalah mengajar anak-anak. Ini murni subyektif. Maksudku, mungkin mengajar anak-anak sepele saja bagi orang-orang. Namun, aku yang bersungguh-sungguh dalam mengajar ini tampak pucat jika musti mengajar anak-anak. Sadar betul, sehebat apapun kompetensinya seorang guru, dan sebanyak apapun pengalaman yang dimiliki seorang guru, andai kata mendapati tantangan mengajar yang di luar jangkauannya, gemetar juga lututnya. Ketahuilah, mengajar anak-anak di luar pada keahlianku. Juga, jangan sekalipun meremehkannya. Mengajar anak-anak sangat menguras banyak tenaga dan pikiran tentunya. Salutku pada guru yang mengajar anak-anak.

Awalnya ini menjadi bagian dari pekerjaanku. Aku memilih pekerjaan yang aku suka. Pekerjaan yang seperti itu, susah dan senangnya membuatku selalu nyaman dan tanpa sedikitpun keluhan. Akan tetapi aku lupa satu hal bahwa sebebas apapun aku dalam memilih pekerjaan, tetap saja konsekuensinya tidak bisa aku pilih. Ini bagian yang semua orang harus pasrah dengannya, dan inilah yang menjadi tantangannya. Konsekuensi dari pekerjaanku mengharuskanku berurusan dengan anak-anak, lebih tepatnya mengajar anak-anak. Euphoria awal adalah penanda genderang suka cita dan kesiapan dalam menjalani pekerjaan. Imajinasiku sudah aku susun sedemikian rupa layaknya alur film pada layar bioskop. Happy ending adalah garis finish-nya. Alur cerita pekerjaan "mengajar anak-anak" dalam imajinasiku bukan sesuatu yang sempurna, tapi setidaknya aku yakin akan terasa begitu menyenangkan antara anak-anak itu dan aku sendiri sebagai pemeran utamanya. Pikirku, aku adalah sutradara terbaik dalam membuat cerita dalam imajinasiku. Aku seratus persen yakin mampu menghadapi tantangan ini dengan sangat baik.

Selanjutnya sudah bisa ditebak dengan mudah. Segalanya berjalan di luar pada kendaliku. Mengerjakan suatu hal yang bukan keahlian diri semata-mata mengorbankan kenyamanan. Mengajar anak-anak merupakan aktivitas yang menyenangkan, namun setiap detilnya membuat frustasi. Jika diimajinasikan sebagai kacau-balau tidak juga demikian, hanya berantakan yang tertata saja. Anak-anak hanya bisa fokus beberapa menit di awal saja, sisanya mereka sibuk dengan "wahana bermain" mereka sendiri. Tinggal pilih saja, ikut "bermain" dengan mereka atau mengerahkan segenap tenaga dan fikiran untuk membujuk mereka kembali belajar. Tidak ada jaminan sama sekali di antara kedua pilihan tersebut. Anak-anak adalah rajanya di sini. Rupanya tantangan di awal tampak berubah menjadi petaka. Pada akhirnya ada saja drama dalam mengajar anak-anak, dan itu melelahkan. Yang sama sekali tidak berkompeten, banyaklah berlatih dan berdo'a.

Satu momen yang telah berlalu dalam kaitannya dengan tantangan jelas sulit aku gambarkan. Mengajar anak-anak merupakan salah satu dari sekian banyaknya bentuk tantangan yang ada pada hidup orang-orang. Tantangan nyatanya seperti buah yang rasanya begitu pahit. Buah seperti ini jelas bukan primadona orang-orang untuk disantap.

Bagaimanapun, setiap ide bisa saja disangkal. Siapa yang menduga, pahitnya tantangan ada saja berkah pelajarannya. Tantangan, baik yang berujung dengan penyelesaian apik, maupun yang tidak tuntas penyelesaiannya, sama-sama menggelar suatu kebaikan yang dapat dipelajari dan dinikmati oleh orang-orang. Tentu saja, kebaikan yang dimaksud tidak lepas dari unsur subyektifitas. Oleh karena itu, versi penggambaran detail kebaikannya bergantung sepenuhnya pada pelaku utama dari tantangan tersebut. Sebagai contoh saja, yakni pada kasus tantanganku di awal tadi. Tantangan mengajar anak-anak yang sungguh melelahkan fisik dan mentalku rupanya mengarahkanku pada fase kehidupan tertentu. Fase yang kumaksud adalah dimana ada kalanya dalam kehidupan ini aku tidak perlu memusingkan alur ceritanya, sebaliknya cukup aku jalani saja. Hal ini karena sesuatu yang di luar dari keahlianku hadir bukan untuk aku kendalikan, melainkan untuk aku rasakan dan jadikan kepingan pengalaman pembelajaran gratis untuk meningkatkan variabel keahlian yang aku punya. Ibaratnya ini adalah cara Allah meningkatkan derajat seorang hamba. Dan, apa yang Allah rencanakan melalui tantangan mungkin tidak sebaiknya seorang hamba mengintervensinya melalui hasrat untuk mengendalikan alur dari tantangan tersebut. Toh, sekeras apapun ia berusaha mengendalikan alur dari tantangan, ujung-ujungnya hanya kesia-siaan semata. Cukup nikmati dan jalani, sesederhana itu pembelajaran yang aku tangkap dari tantangan mengajar anak-anak.

Orang-orang yang menghindari tantangan jangan dianggap sebagai pengecut. Mungkin yang terjadi adalah mereka hanya enggan untuk berkutat dengan beratnya alur tantangan. Ini merupakan fakta tentang tantangan dimana awalan yang menyenangkan menjadi pintu gerbangnya, namun di balik pintu gerbang tersebut sedang menunggu keletihan jiwa dan pikiran yang tiada seorangpun bisa menjamin bagian akhirnya. Pantas saja jika mereka malas dengan tantangan. Maka, orang-orang yang malas hanya butuh dorongan. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang menghadapi tantangan sampai akhir? Singkat saja dariku, mereka keluar dengan berkalung medali emas. Apresiasi yang besar untuk mereka. Terlepas seberapa baik akhir tantangan yang mereka lalui, itu tidaklah penting. Mereka tetaplah pejuang yang pantas diberikan teriakan suka cita.

Komentar