Ucapan orang-orang jika waktu telah berganti dan terang mulai menggelap biasanya tidak jauh dari kehidupan sosial. Mereka enggan mengomentari pelik dan pahitnya rutinitas di depan perangkat maya. Kehidupan menyorot tajam di sana. Risikonya cukup jelas yakni kedunguan produktivitas. Orang-orang tak lagi kuat, kehidupan sosial agaknya menarik sekaligus mengulur diri mereka. Kehidupan sosial butuh kepercayaan. Memangnya kenapa jika demikian?
Ada sebagian orang memandang kehidupan sosial adalah bagian kehidupan yang terus terang sangat membingungkan. Penyebabnya karena melibatkan banyak kepala. Curiganya adalah dari sekian banyaknya kepala, manakah yang ada isinya? atau jangan-jangan semuanya kosong? Terbanyang sebuah kotak hadiah yang begitu indah hiasan luarnya, namun tatkala dibuka isinya tak sama sekali menjadi primadona, kecewa seketika. Kalau begini layak jikalau berharap lebih baik setengah isi daripada kosong melompong. Tapi tidak, itu tidak mungkin terjadi. Percaya saja pada mereka yang dikatakan makhluk sosial, mereka jelas pintar. Jika tak percaya, tengok saja apa yang telah mereka lakukan, Buktinya sudah ada. Ini bukan bualan, hanya ingin memberikan kepercayaan pada isi kepala diri sendiri. Sadari, jika demikian interaksi dengan sosial ini, lantas bagaimana bisa memandang posisi sebuah kepercayaan?
Kepercayaan itu suci. Barang yang bernilai baik dan tak pantas untuk mereka yang kotor. Meski tak patut serta merta menghakimi tanpa bukti, jelasnya kepercayaan tak boleh disentuh oleh tangan-tangan yang tidak memiliki hati yang murni. Maka segeralah membersihkan diri, menyucikan diri sendiri. Debu itu kecil, seringkali tak kasat mata. Membersihkannya butuh ketelitian dan juga kesabaran.
Kehidupan sosial yang baik hakikatnya di dalamnya bergelimpangan kepercayaan yang saling mengikat diantara orang-orang. Kepercayaan itu pasti digunakan untuk memoles kemaslahatan. Hasil akhirnya tertuju pada peradaban yang maju. Bukan melulu tentang teknologi, tapi juga kebijaksanaan hati dan kedewasaan akal sejati. Pupuknya jelas ada pada kepercayaan dan itu wajib diingat. Orang-orang yang lalai dalam berinteraksi mudah mengingat kembali, dan itu pasti. Dorongan kepercayaan dalam kehdupan sosial merupakan selimut hangat bagi mereka, dan oleh karena rasa hangat itulah mereka nyaman dan tak ingin lepas dari bagian sosialnya. Kepercayaan bukan sekedar kesepakatan, hal itu merupakan senyawa dasar menjadi makhluk sosial tertinggi. Analogi kasar yang mungkin saja masuk di akal, ialah kopi yang nikmat adalah kopi yang mampu senantiasa melekatkan ketajaman rasanya pada polosnya lidah seseorang yang meneguknya. Setelahnya dapat dipetik pelajaran bahwa kepercayaan sudah sepantasnya melekat erat pada mereka yang memintal kehidupan sosial.
Ada seekor burung yang lupa dengan kodratnya. Ia menganggap dirinya adalah serigala pemburu. Jagoan hutan di dataran tinggi. Celakalah dirinya. Begitu naas, burung itu umurnya ditentang keras oleh kejamnya peradaban. Burung yang tak tahu diri itu sepanjang hidupnya menyia-nyiakan sayap indahnya. Masih adakah orang-orang di kehidupan ini yang nasibnya seperti burung tak tahu diri? Tentu saja banyak. Intinya, mereka ada dalam hidupnya menyepelakan arti kepercayaan pada kehidupan sosialnya. Merugilah hidupnya. Patut iba, tapi bodohnya mereka sering membuat geram.
Atas dasar nilai penting pada kepercayaan dalam ruang lingkup kehidupan sosial, maka harus menjadi kesepakatan orang-orang yang nadinya terikat pada paham kehidupan sosial bahwa yang namanya kepercayaan jelaslah musti dibangun dengan kesadaran akal dan hati yang seutuhnya. Ingatlah baik-baik, ini akan menjadi catatan utamanya bahwa kepercayaan bukan sebuah pentas sulap yang hanya dengan jentikkan jari lantas muncul begitu saja. Kembali kepada hal yang logis. Artinya, kepercayaan dapat dibangun dengan mengedepankan persoalan proses. Terlebih lagi, prosesnya tidak sama halnya dengan sistem kebut semalam. Dalam arti kata lain, membangun kepercayaan musti dibarengi dengan kesabaran atas waktu serta usaha bersama yang kongkrit.
Tidak ada salahnya memberikan wejangan secara cuma-cuma dalam rangka pembentukan kepercayaan. Toh akhirnya juga kembali demi kehidupan sosial yang tidak carut-marut. Meski ini erat kaitannya dengan sosial, namun membangun kepercayaan mudahnya dapat pertama kali melalui jalur memikirkan diri sendiri. Mungkin terkesan egois atau individualis, wajar jika akal berkata demikian. Tapi baiknya tetap bijaksana. Harus diketahui, tidak perlu resah dengan diri sendiri agar tercipta kepercayaan. Wahai orang-orang yang mengaku ingin melihat kehidupan sosial yang indah, mulailah dengan percaya diri sendiri. Jika sama sekali tidak mempercayai diri sendiri, bagaimana harus mempercayai kelompok sosial yang ada. Omong kosong, bukan? Cukup mutlak faktanya bahwa diri sendiri harus dapat dipercaya, setidaknya oleh diri sendiri. Landasan utamanya yakni dimulai dari diri sendiri untuk sekedar percaya. Memang tidak mudah mempercayai diri sendiri, tapi ini bukan sesuatu hal yang mustahil. Biarkan saja diri sendiri mengorbit pada lingkaran kesalahan, kemudian selanjutnya sepenuhnya lepas landas dan mendarat pada permukaan kebenaran hingga menyelam pada palung kebaikan yang dalam.
Baiklah, tidak perlu berpanjang lebar. Hal ini bukan momok yang tidak segan menampar di waktu yang tidak terpikirkan. Walaupun demikian ini tetaplah bunga yang kehadirannya seyogyanya ada di suatu taman. Kehidupan sosial orang-orang tidak serta-merta auman singa yang lapar, kadangkala hal itu merupakan lekukan labirin yang membingungkan, bisa juga seperti air sungai pegunungan yang mengalir syahdu. Pastinya bentuk apapun pada kehidupan sosial tersebut tombol merahnya adalah sebuah kepercayaan. Ini jelas sekali menentukan. Baiknya pikirkan semenjak sekarang meskipun terlambat tetap saja sah, tapi akal dan hati baiknya bertindak secara tepat atas kepercayaan untuk kehidupan sosial.

Komentar
Posting Komentar