Aku hakikatnya adalah orang yang salah dan mungkin
satu-satunya yang salah. Mungkin pernyataanku terdengan klise tapi itul;ah yang
aku rasakan. Aku mungkin harus menggarisbawahi juga bahwasannya ini bukanlah
tanpa sebab. Ada cerita mengapa penyataan awalku mengasap. Dan seperti
kebanyakan asap pada umumnya, dibaliknya pasti ada api yang sedang berkobar
membara.
Apakah aku bodoh atau memalukan? Api yang berkobar paling
dahsyat tidak lain tidak bukan adalah api asmara, api cinta. Cinta yang
mendalam membakarku sepenuhnya. Aku sama sekali tidak terpanggang, aku juga
sama sekali tak merasa kepanasan. Api ini menyelimuti diriku hingga membuat
diriku terasa begitu dingin dan kaku. Rupanya aku terbakar oleh api cinta yang
kelabu. Rupanya benar, aku memang bodoh dan memalukan. Aku mati namun tak
binasa.
Cukup penasaran aku dibuatnya. Api ini apakah selamanya membuatku
kaku? Celakanya, jika memang ini merupakan takdir akhirku, hakikat
kemanusiaanku pun luntur. Jelas sekali, ketidaktahuan menguasai diriku, akal
pikiranku. Aku bergerak menjumpai diri pribadi yang masih mersakan kehangatan
api cinta. Ku tanyakan pada mereka tentang cara melepas jeratan yang membuatku
tak berdaya ini. Mereka hanya mengiba padauk, mereka menjawab dengan akal
fantasi mereka tanpa sedikitpum ada konkretnya. Aku iri pada mereka, tapi hanya
bisa bergumam pada bibir yang terlanjur mendingin dan kaku. Apa ini ulahku
sendiri atau nasib karma yang menjemput keadilan pada diriku ini? Atau, apakah
ini hukuman dari Tuhan? Lantas, masihkah ada jalan keluar?
Komentar
Posting Komentar