Told X Untold Dream


Kata orang hidup yang indah adalah dimana seseorang menjalani hidup sesuai dengan apa yang ia impikan. Jika dibayangkan hal itu begitu terasa utopianya. Esensi mimpi rupanya punya peran yang sangat luar biasa bagi seseorang. Perwujudannya langsung menembus hasrat hidup seseorang. Mimpi benar-benar menggerakkan seseorang. Orang rela membagi sebagian bahkan seluruh waktu hidupnya untuk sebuah mimpi. Dari bangun tidur hingga akan tidur kembali, orang menyerukan mimpinya. Mimpi bagi  seseorang itu nilainya tak terkira, amat sangat berharga.

Mimpi, sebesar apapun itu atau sekecil apapun itu, merupakan alasan atau tujuan hidup seseorang. Barang siapa yang tahu apa alasannya ia hidup, maka ia adalah yang bermimpi. Cukup terang, bukan? Dahsyatnya lagi, ia yang demikian ialah yang akan memanen kebahagiaan hidup. Oleh karenanya, orang berupaya keras meraih dan mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Mimpi yang awalnya abstrak tak berbentuk dan hanya sebatas ide di dalam hati dan pikiran bila lahir menjadi materi yang dapat dirasakan oleh indera, maka tak terbayang berapa kiranya jumlah bunga-bunga indah di dalam hatinya. Mungkin saja tak terhingga.

Sayangnya, di balik kemegahan sebuah mimpi bagi seseorang ada rupanya suatu persimpangan. Maksudnya, ada orang yang mengira mimpi yang ditanam dengan baik oleh empunya tak semestinya untuk diutarakan pada khalayak umum. Juga, ada orang yang begitu tajam menggarisbawahi bahwasannya siapapun yang berani bermimpi sudah selayaknya ia harus memproklamasikannya secara lantang. Persimpangan namun tidak "menyimpang". Pastinya dua hal yang berseberangan tersebut muncul karena suatu keyakinan yang dianut. Sepertinya semua orang yang memiliki mimpi memilih satu di antaranya. Ataukah malah ada orang yang memilih keduanya? Atau juga ada yang tidak sema sekali memilih kedua hal itu alias tak ingin dalam persimpangan? Entahlah, berapa jumlah orang yang memilih satu di antara dua, yang memilih dua-duanya, atau yang memilih alpa. Fakta yang cukup terang justru persimpangan tersebut. Inilah realitanya.

Mungkin saja orang yang bungkam tak menyuarakan mimpinya kepada orang lain itu orang yang fokus pada proses yang dijalaninya. Terlihat dan terdengar ia tak menginginkan mimpinya diintervensi oleh siapapun. Mimpi merupakan hal yang mewah, tak ingin orang itu sesumbar dan hasilnya malah dihujat atau dikucilkan. Daripada berbuah kekesalan, memang baiknya diam saja. Menutup mulut rapat-rapat merupakan cara cerdas. Kemudian, konsentrasi sepenuhnya pada mimpi ialah jalan yang tepat. Semakin fokus, maka semakin cepat pula tangannya mampu menggenggam mimpinya secara nyata. Biarkan nantinya orang lain melihat hasilnya saja. Bukan lagi menjadi rahasia bahwa ketika berproses terhadap mimpi,  energi jiwa dan raga pastinya terkuras deras, bahkan bisa saja sampai habis. Maka dari itu, orang wajib hukumnya untuk fokus agar mimpi segera terwujud. Jika tidak fokus atau sibuk koar-koar, maaf saja, apa jadinya mimpi tersebut? Kacau balau, bukan? Lagi-lagi, akhirnya juga dicemooh orang lain.

Selain itu, bisa jadi orang lain itu memang tidak peduli kepada seseorang yang berproses terhadap mimpi. Singkatnya, orang lain itu lebih suka hasilnya saja ketimbang proses yang dilalui seseorang mencapai mimpinya. Mencengangkan. Orang yang memiliki mimpi, apa lagi jika mimpinya itu begitu besar, akan enggan menyampaikan mimpinya kepada orang lain, mematungkan bibirnya, dan segera terjun beraksi menggapai mimpi saja tanpa sama sekali menoleh kanan-kiri. Malas meladeni orang yang tak menghargai proses. Jika orang maunya dengan hasil. tidak masalah untuk disuguhi mimpi yang telah terwujud, tapi nanti. Hasil dari mimpi memang sebuah euforia, tidak hanya untuk si pemilik mimpi, namun juga orang lain yang mengetahui. Pikir orang lain itu adalah angan-angan yang juga ia ingin genggam sendiri. Tapi awas! Jangan sampai iri.

Lain lagi dengan orang yang gemar menceritakan mimpinya sendiri kepada orang lain. Di baliknya cukup kental dirasakan bahwasannya ia mengharapkan mimpi yang ia sampaikan berbalas dengan doa yang tulus dari si pendengar. Tidak bisa dielakkan kekuatan doa juga berpengaruh besar terhadap terwujudnya suatu mimpi yang telah dibangun. Usaha tanpa doa sama saja sombong, doa tanpa usaha sama halnya bohong. Usaha mencapai mimpi dicampur dengan doa dari banyak orang merupakan paket kombo yang menggelegar gemparnya. Tidak hanya dunia yang digoncangkan, melainkan juga ahirat tempatnya kekasih Tuhan. Siapa yang tidak menginginkan mimpinya didoakan? Jika ingin, baiknya memang diceritakan. Bagaimanapun, perlu juga dicatat oleh orang yang menyampaikan mimpinya, yakni utarakan mimpi sebaik mungkin agar doa yang baik terpampang jelas di penghujungnya. Mimpi yang dikemas dan disampaikan dengan baik tidak akan membuat orang lain menjadi sakit hati, justru malah berbaik hati.

Jika ingin diselidiki lebih lanjut, didoakan dengan tulus hanya satu dari sekian banyaknya esensi mengapa seseorang menyebarluaskan mimpinya kepada orang lain. Ada tentunya esensi lain, yakni membangun sebuah ekosistem pendukung. Sebuah mimpi agar bisa terwujud butuh yang namanya ekosistem pendukung karena membuat mimpi menjadi kenyataan susah sekali jika dilakukan sendiri oleh si pemilik mimpi. Seperti kata orang, manusia mana yang mampu hidup sendiri? Ditambah lagi, manusia itu kodratnya memang butuh orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Bagaimana orang lain bisa membantu orang yang punya mimpi jika secuilpun ia tak pernah mendengar apa mimpi tersebut. Jika mimpi itu baik, orang lain akan sukarela membantu mewujudkan. Semakin banyak orang lain yang menolong, semakin cepat dan mudah pula mimpi itu dipanen oleh tuannya. Bayangkan saja tatkala galau dengan mimpi sendiri, ada ekosistem pendukung yang mengingatkan dan memberi jalan keluarnya sekaligus. Betapa menyenangkannya. Oleh karena itu, sangat layak menceritakan mimpi kepada orang lain. Anggap saja sebuah investasi untuk terbang melesat tinggi menuju tanah impian di langit.

Tutup mata sejenak. Kemudian ajak hati dan pikiran berdiskusi. Persimpangan antara mimpi yang diceritakan dan disimpan pada dasarnya mesti direspon secara bijak. Tidak ada benar dan tidak ada salah. Setiap pilihan mengundang nilai positif dan negatif secara subyektif. Orang perlu memilih dengan jeli dan ditarik sesuai dengan konteks diri. Ini bukan rumus dari ilmu pasti seperti halnya matematika atau fisika. Ini merupakan rumus yang intinya ada pada fleksibilitas pemilik mimpi. Jika si pemilik mimpi adalah orang yang bijaksana, maka ia sepenuhnya tahu jalan mana yang musti ia ambil. Sebaliknya, jika ia tak bijaksana, dapat dipastikan ia terjebak dalam persimpangan.

Orang wajib mengedepankan hal ini. Bahwasannya apapun pilihannya mimpi yang dibangun perlu untuk dieksekusi. Jangan tanya mulainya harus bagaimana. Mulai saja dari apa yang bisa dilakukan. Orang juga harus sadar bahwa mengeksekusi mimpi merupakan sebuah perlakuan baik kepada mimpi itu sendiri. Artinya, tidak mendzolimi mimpi dan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan karena diberikan kemampuan untuk bermimpi. Orang sangat perlu menyoroti ini, bahkan semua orang di dunia ini, tidak terkecuali. Jika orang telah diberikan ide dalam bentuk mimpi, selanjutnya tugas orang tersebut adalah mengupayakannya sekuat tenaga. Perihal hasil akhir, biar Tuhan saja yang menentukan. Tuhan tidak pernah lalai dalam hal ini. Ini urusan kecil bagi Tuhan. Tuhan tahu mana mimpi yang layak terwujud dan yang tidak. Jika mimpi orang tidak terwujud, jangan sampai berkecil hati. Bangun saja mimpi selanjutnya. Tidak terwujud lagi? Bangun lagi! Begitu seterusnya hingga Tuhan menampakkan kebesaran-Nya. Ini kuasa Ilahi, orang tak mampu mengotak-atik. Orang cukup mengeksekusi dan menjalani. Porsi peran orang memang sampai disitu saja. Mau lebih? Ayo sadar diri!

Komentar