Akan tetapi, ada hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak orang yang memiliki harapan namun hidup yang dijalaninya sama sekali berbeda. Hidupnya jauh dari pengharapannya. Tak beruntungkah yang demikian? Mungkin saja iya. Kesempatan baik jelas belum memihaknya. Bisa jadi mereka sendiri yang tak mampu merealisasikan hidup yang sesuai harapannya. Entahlah, itu karena harapannya yang terlampau tinggi, atau nilai diri mereka yang terlalu rendah. Pasti ada faktor pemicunya, pasti juga ada alasan di baliknya. Bagaimanapun, mereka yang menjalani hidup tapi tidak sejalan dengan harapan merasa hidupnya merana, kejam dan tak ada keindahan.
Teringat sebuah kisah seorang pemuda yang penuh dengan idealisme dari dalam dirinya. Ia pupuk begitu luar biasa mimpinya untuk menjadi seorang penulis hebat nan berdampak positif bagi sekitarnya. Hampir setiap hari ia memutar otak mencari sumber ide menarik, kemudian memainkan jemarinya pada papan tik di laptopnya untuk merangkai idenya menjadi kumpulan kata dan akhirnya menjadikannya sebuah cerita yang enak dibaca. Tak lupa, ia pun belajar keras dari pagi hingga malam melalui berbagai macam media tentang bagaimana caranya membuat cerita yang fantastis. Selain itu, ia juga gencar mempromosikan karya ceritanya ke khalayak umum agar mereka bisa menikmatinya. Lelah baginya itu wajar, tapi lelahnya sama sekali tak menyurutkan hasratnya untuk menggapai harapan dan mimpinya. Hari-hari yang dijalani oleh pemuda itu didedikasikan untuk mimpi besarnya. Ia amat percaya hidup yang ia jalani akan berbuah kesuksesan manis. yakni mimpi harapannya terwujud dan mampu ia raih.
Namun sayang seribu sayang, pemuda yang mengemban mimpi dan harapan besar tersebut mesti dihantam keras oleh realita. Hidup yang ia jalani ternyata belum mendatangkan kelapangan rezeki untuk menyambung hidup. Makanan yang ia santap tak mampu untuk membuatnya kenyang. Harta yang tersimpan perlahan menguap, habis untuk memodalinya mengejar mimpi dan harapan besarnya. Awalnya, ia masih bersikukuh untuk berjalan pada koridor harapannya. Tetapi lama-kelamaan, ia sadar ia tak bisa demikian karena jelas tak ada kebijaksanaan. Lantas, ia mulai mengambil langkah lain yang realistis, namun tak berjauhan dengan jalur hidup harapannya itu. Pikirnya, jalan berbeda tersebut bisa berjalan beriringan. Sayangnya, hantaman realita semakin deras. Ia seperti semakin ditenggelamkan meskipun tangannya masih erat menggenggam tali pengharapannya. Ia menolak untuk terbawa arus realitas. Ia berjuang sekuat tenaga. Namun pada akhirnya, realita mampu menakklukkan harapan besarnya. Ia terbuang jauh, bahkan sangat jauh. Demi melangsungkan hidup, ia terdampar hingga negeri seberang. Negeri yang benar-benar tak pernah ia kenali sebelumnya. Ia terasingkan, Realita menghujamnya di sana.
Kini, ia sepenuhnya berjalan menjauh dari hidup yang ia impikan sebelumnya. Bekerja dari pagi hingga petang adalah rutinitasnya. Pulang hanya untuk istirahat dan makan, hilang sudah tenaga. Bahkan, untuk berpikir saja ia benar-benar tak kuasa. Setiap akan terlelap, bayangan mimpi dan harapannya nampak samar-samar di dalam kepalanya. Tapi, bayangan tetaplah bayangan, tak sedikitpun eksekusi yang mampu ia wujudkan. Pemuda itu meratap dalam menjalani hidup yang baru, hidup menanggung malu lantaran pergi jauh dari harapan kerap memanggil merdu. Untungnya ia ikhlas dan tak ada umpatan karena baginya itu percuma dan sia-sia.
Sedikit saran saja. Bagi mereka yang tetap ingin selalu memperjuangkan harapan dalam hidup, langkah untuk mengubah kedaan merupakan hal wajib tatkala jalan cerita telah berbelok. Mulanya mereka perlu untuk menganalisa alasan mengapa hidup menjadi tak sesuai harapan. Jika telah berjumpa dengan pemicunya, maka upaya evaluasi harus disegerakan. Lantas, hasil evaluasi inilah yang bisa mereka jadikan formula untuk menyusun kembali rencana hidup yang telah kacau sebelumnya. Tetapi, andai kata rencana yang baru tak kunjung membawa pada titik harapan yang dirindu, orang-orang sebaiknya menanamkan juga kepingan nilai yang baru bahwa hidup menggapai mimpi dan harapan itu tidak mesti buru-buru. Terima dan renungi bahwa it's okay to go slowly.
Jika ada yang tetap berjuang, maka pasti ada juga yang memilih berserah ketika menjalani hidup yang tak singkron dengan harapan. Pada dasarnya tak masalah bila akhirnya berserah menjadi keputusan bulatnya. Berserah diri menjalani hidup yang tidak diharapkan bukanlah sebuah kesalahan atau bahkan kejahatan. Pastinya orang yang demikian memiliki kelapangan hati yang sangat luas. Tidak mudah menerima hal yang tidak diharapkan, bukan? Orang-orang yang berserah lantaran hidupnya tak berjalan sesuai harapan janganlah lupa mengucap rasa syukur. Lisan yang senantisa bersyukur akan menentramkan hati dan memunculkan kebahagiaan tersendiri. Orang- orang juga sebaiknya selalu ingat untuk tidak terlalu lama meratapi kemalangan diri karena harapan yang enggan bersemayam dalam perjalanan hidup. Sebaliknya, nikmati saja setiap episode hidup yang dijalani. Nikmati dengan ekspresi yang baik, yakni tetap berbagi kepada sesama dan mencintai apa yang sejauh ini telah dimiliki.
Komentar
Posting Komentar