Bermimpi; Langkah Mendewasakan Diri

Pola makhluk hidup dalam menjalani setiap episode kehidupannya memanglah berbeda-beda. Hewan, tumbuhan dan manusia, semuanya tidak ada yang sama. Terkhususkan manusia. Manusia begitu beragam, susah untuk ditebak. Meskipun pola hidup manusia bisa dipelajari atau dianalisis, manusia pada akhirnya berubah. Ketahuilah, ada hasrat yang begitu besar dalam diri manusia yang menjadi alasan perubahan pola hidup pada manusia. Hasrat tersebut dikarenakan bermimpi.

Dari sekian banyaknya manusia yang menghuni bumi ini, pastilah mayoritasnya memiliki mimpi dan mengejar mimpi. Tidak hanya satu, melainkan dua, tiga, atau bahkan lebih dari empat mimpi yang mesti manusia kejar selama hidupnya. Hari ini mengejar mimpi pertama, esok hari giliran mimpi kedua, dan lusa adalah harinya menggapai mimpi ketiga. Begitu seterusnya sampai semua mimpi tersebut dapat diraih, atau sampai maut menjemput kemudian menghadap Ilahi. Di sisi lain, jika sadar tidak dapat menggapai mimpi karena alasan tertentu, maka manusia secepat kilat akan bermanuver untuk mengganti mimpinya pada mimpi yang baru. Bagaimana bisa? Jangan ditanya, segampang itu memang membuat mimpi. Hidup manusia adalah tentang mimpi.

Bagi manusia, memiliki mimpi seolah memiliki tujuan dalam hidup. Bermimpi membuat manusia tahu alasan mengapa ia hidup, apa yang mesti ia lakukan dalam hidup dan bagaimana caranya menjalani hidup. Bermimpi membuat semuanya tampak jelas dan pasti, tanpa sedikitpun memunculkan rona bias di dalamnya. Sederhananya yakni tak sama sekali terlihat keraguan. Seperti seorang yang hendak bepergian. Jika telah tahu lokasi yang dituju, maka mudah baginya menentukan bagaimana caranya agar bisa sampai ke sana, dan dengan apa sehingga ia bisa menuju tempat tersebut.

Dalam hal ini, tujuan hidup merupakan sarang dari kemudahan hidup. Maka dari itu, manusia berupaya sedini mungkin membangun mimpinya. Tengok saja, manusia sedari kecil sudah dipapari dan didoktrin mengenai mimpi. Usia 5 tahun sudah diberikan pertanyaan "cita-citanya mau jadi apa?" atau "kalau dewasa nanti mau jadi apa?". Lantas spontan saja dijawab dengan profesi-profesi seperti dokter, polisi, tentara, guru dan bahkan astronot. Jawaban itu ialah jawaban template dari anak usia 5 tahun jika ditanyai tentang mimpinya. Tidak ada yang salah dari jawaban itu. Fokus besarnya ada pada mimpi yang sedang ditanamkan karena manusia harus mempunyai mimpi bahkan saat manusia itu belum beranjak dewasa dan tak tahu arti mimpi itu sendiri. Manusia itu kodratnya adalah bermimpi, memiliki tujuan hidup dan meraihnya.

Meski kodrat bermimpi tidak dapat disangkal, namun siapa sangka jika bermimpi rupanya memiliki khasiat lain untuk manusia. Khasiat yang dimaksud adalah mendewasakan diri. Ada kata-kata menarik dari khalayak umum, "manusia itu sudah pasti tua, akan tetapi dewasa merupakan sebuah pilihan". Cukup bisa diterima karena faktanya tidak semua manusia bertumbuh menjadi sosok yang dewasa. Di luar sana, di belahan bumi yang lain pastinya banyak manusia yang masih kekanak-kanakan walaupun usianya telah menginjak 30, 40, 50 atau parubaya. Ketidakdewasaan itu berkaitan dengan banyak hal, bisa tentang penyelesaian masalah, pilihan hidup, hubungan antar manusia dan lain sebagainya. Manusia yang kenak-kanakan atau tidak dewasa menjalani hidup yang seenaknya tanpa ada rasa tanggung jawab. Sementara, manusia yang dewasa menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, manusia yang memilih menjadi dewasa ialah manusia yang menetapkan dirinya untuk bermimpi.

Bagaimanapun, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana bisa bermimpi menjadikan manusia dewasa? Tentu saja, kunci jawabannya ada pada sikap terhadap proses saat manusia bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpinya. Telah diterangkan sebelumnya bahwa memiliki mimpi akan membuat hidup menjadi mudah. Itu benar. Namun, membuat mimpi menjadi kenyataan tentunya ada beban yang mesti diemban di dalam kemudahan hidup tersebut. Proses mewujudkan mimpi bukan seperti melewati jalan bebas hambatan. Itu kurang tepat. Proses mewujudkan mimpi mengandung masalah atau tantangan yang harus dilalui apalagi jika mimpi yang dimiliki itu sangat besar, maka lumrah sekali masalah atau tantangan yang dihadapi juga mengikuti mimpi alias besar juga. Ini dapat disimpulkan bahwa eksistensi masalah dan tantangan saat manusia berjuang menggapai mimpi adalah absolut atau mutlak dan tidak terbantahkan.

Intinya, variabel masalah dan tantangan tidak bisa dikesampingkan oleh manusia. Oleh karenanya, sikap manusia lah yang sangat menentukan. Mengambil keputusan yang salah dalam proses mewujudkan mimpi, memilih pilihan yang kurang tepat tatkala ada peluang dalam bermimpi, atau mengetahui rencana-rencana meraih mimpi tidak berjalanan sebagaimana mestinya adalah dinamika yang sering terjadi pada jalan hidup manusia. Kemudian, terhanyut amarah, meratap penuh tangis, menggalau tanpa henti menjadi sikap yang kerap kali menghiasi perangai diri. Akui saja, siapa yang tak uring-uringan mengetahui jalan mencapai mimpi ternyata harus terhenti, apapun alasannya. Meskipun sikap tersebut nampak manusiawi, sikap seperti itu nyatanya jauh dari mendewasakan diri. Amarah, tangis dan galau sama sekali tidak berkawan dekat dengan kesuksesan mimpi. Sebaliknya, mereka merupakan penghambat terwujudnya sebuah mimpi. Sikap tersebut sebaiknya tidak perlu diteruskan, maka manusia wajib menahan diri dari sikap amarah, tangis pilu dan kekalutan hati ketika bergelut dengan masalah dan tantangan bermimpi.

Di sisi lain, agar kedewasaan mencuat ke permukaan hingga bahkan terpatri di sanubari pikiran dan hati, sikap yang mesti dikedepankan oleh manusia dalam menghadapai masalah dan tantangan bermimpi ialah sikap berdamai dengan keadaan. Salah satu cara mudah agar manusia cepat dalam berdamai dengan masalah yang dihadapai adalah di mulai sejak dini manusia membangun ekspektasi mimpi yang tidak terlalu melambung tinggi. Sebaliknya, bangun ekspektasi yang sewajarnya dan kemudian fokus saja pada eksekusi sekeras-kerasnya di setiap prosesnya. Dalam hal ini, definisi ekspektasi yang wajar merupakan ekspektasi dimana jalan mewujudkan mimpi selalu disertai dengan masa sulit bahkan kehancuran. Selalu ingat bahwa akan ada hal-hal yang terjadi di luar kendali. Bukankah manusia memiliki batasan? Manusia bukan penentu segalanya termasuk urusan menggapai mimpi. Oleh karenanya, setiap kali bermimpi manusia juga harus menerima kesuksesan dan kegagalan secara bersamaan. Ini cara yang praktis karena disinyalir mampu membuat manusia meraskaan kedamaian di setiap terpaan masalah, dan lebih lagi mampu membentengi diri dari sikap yang tidak semestinya keluar. 

Sekali lagi, ekspektasi membawa peran kunci. Sekalinya ekspektasi wajar telah menguasai diri, berdamai degan keadaan adalah perkara gampang bagi manusia. Lalu, semakin manusia mudah berdamai dengan keadaan, semakin mudah manusia melihat dan memahami segala sesuatunya dan bahkan jauh lebih mendalam. Sikap itulah yang pada akhirnya akan menuntun manusia menuju singgasana kedewasaan

Mau belajar di segala kondisi yang terjadi merupakan hal lain dalam konteks bermimpi menjadikan diri lebih dewasa. Manusia yang bersikap gemar belajar di kala masalah datang tentunya tidak mudah goyah langkahnya. Ia yang demikian mengetahui bahwa masalah ataupun tantangan bukanlah suatu hal yang dapat menghambatnya untuk meraih mimpi besarnya. Di balik itu, ia paham justru masalah dan tantangan merupakan amunisi baru yang ia yakini dapat mendorongnya lebih jauh untuk melebarkan sayapnya agar bisa terbang menuju mimpinya. Prinsipnya, ia tahu bahwasannya ia tidak tahu. Dan karena ia tidak tahu, ia tahu harus bersikap seperti apa, dalam hal ini ia mesti belajar agar ketidaktahuaannya tersebut tak sampai menyesatkannya. Perlu untuk digarisbawahi bahwa datangnya masalah merupakan tanda atau perwujudan nyata atas ketidaktahuan. Oleh sebab itulah, mau belajar di berbagai macam skenario keadaan menjadi poin utamanya. Dengan manusia banyak belajar, kedepannya ia mudah dalam menentukan hal-hal yang baik untuk dirinya. Dengan manusia banyak belajar, otomatis dirinya menjadi pribadi yang kuat nan bijaksana. Pengetahun yang kokoh menjadi peta menuju kedewasaan. Dan kedewasaan inilah salah satu perbekalan penting bagi manusia yang ingin mencapai mimpinya,

Manusia itu fitrahnya adalah pemimpi. Alasannya karena dengan bermimpi manusia seolah tahu arah tujuan hidup. Bagaimanapun, esensi bermimpi bagi manusia tidak melulu tentang tujuan dalam hidup. Memiliki mimpi nyatanya adalah cara untuk mendewasakan diri. Akan tetapi, kedewasaan diri tidak serta-merta otomatis muncul tatkala manusia berupaya mewujudkan mimpi. Fokus utamanya ada pada sikap berdamai dengan keadaan dan kesediaan diri untuk belajar di segala kondisi yang terjadi. Sekarang, ini semua sudah cukup jelas. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak bermimpi.

Komentar