Di bumi ini populasi manusianya sudah mencapai angka 8 miliar. Itu angka yang begitu fantastis, bukan? Dari begitu banyaknya jumlah manusia di bumi aku meyakini hampir semuanya memiliki mimpi yang ingin diwujudkan. Mimpi adalah manifestasi diri sendiri agar memiliki tujuan dan makna di dalam hidup. Mimpi itu jelas pentingnya di mata manusia. Seolah, mereka yang memiliki mimpi menebar kegairahan dalam setiap langkah mereka. Begitu asyik memiliki mimpi, apalagi mampu untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Mimpi melahirkan sebuah harapan pada setiap manusia. Dan harapan itulah yang mendorong manusia untuk bisa mencapainya dalam bentuk tindakan. Benar kata orang, "apalah arti sebuah mimpi jika tidak bisa diraih". Mimpi itu harus diubah menjadi kenyataan agar makna hidup semakin dirasakan. Mimpi harus dieksekusi. Namun, pertanyaannya sekarang adalah "bagaimana melakukannya?" atau "bagaimana cara mewujudkan mimpi?". Aku berani bertaruh, pertanyaan seperti itu pasti sering berseliweran di telinga, bukan? Maka bisa aku jawab. Gunakanlah otak, buatlah suatu rencana, dan lakukan!
Harus diakui membuat rencana yang bagus agar bisa menggapai mimpi itu memang tidak mudah. Hal ini karena rencana yang bagus berkolerasi dengan mimpi yang jelas pula. Prinsipnya adalah mimpi mesti spesifik, terukur, realistis, relevan dan terikat waktu. "Aku ingin menjadi orang kaya". Mimpi itu seringkali diikrarkan oleh banyak orang. Sayangnya, mimpi yang seperti itu sama sekali jauh dari prinsip mimpi yang jelas. Maka buatlah mimpi yang lebih jelas lagi, contohnya dalam 5 tahun mendatang bisa menjadi business owner yang bergerak di bidang ritel fashion pria dan memiliki omset bisnis 20 juta rupiah setiap bulannya. Bisnis tersebut berbasis online dan offline, berpusat di daerah ibu kota, dan memiliki 10 karyawan. Sederhananya adalah jika mimpi bisa diimajinasikan secara detail, maka mimpi tersebut sudah termasuk dalam kategori mimpi yang berprinsip jelas. Kemudian, selamat! Rencana sudah siap untuk dieksekusi.
Ngomong-ngomong, ada hal yang menarik jika membicarakan tentang rencana meraih mimpi. Pada umumnya, kebanyakan orang hanya membuat satu rencana saja. Satu rencana yang luar biasa dan kemudian diaplikasikan dengan luar biasa juga. Satu rencana yang detail dan tiada celah di dalamnya. Hal semacam ini menunjukan bahwa orang tersebut begitu fokus dan penuh dengan rasa percaya diri. Orang semacam ini pasti mati-matian dalam mengejar mimpinya. Jujur saja, tidak ada yang salah. Orang demikian sangat yakin dengan rencananya yang mampu mengantarkannya pada mimpinya. Jangan dicemooh, membuat satu rencana yang sempurna pastilah susah, menguras waktu, pikiran dan tenaga. Apresiasi besar harus diberikan kepada orang dengan satu rencana besar untuk meraih mimpi.
Walaupun satu rencana baik untuk meraih mimpi menjadi primadona bagi kebanyakan orang, aku pribadi tidak menerapkan hal itu. Pada kasusku, aku selalu membuat rencana skenario terbaik dan rencana skenario terburuk. Dan nyatanya sejauh ini rencana skenario terburuklah yang mampu menyelamatkanku. Heran? Baiklah akan aku jabarkan!
Mungkin sebaiknya aku sampaikan terlebih dahulu opiniku terkait salah satu masalah orang dalam bermimpi. Masalah seseorang dalam bermimpi yang aku maksud ialah menempatkan ekspektasi terlalu tinggi dalam meraih mimpi. Ekspektasi yang terlalu tinggi mampu menjadi boomerang dan menjatuhkan diri sendiri secara brutal. Ini bisa jadi pengingat bahwa sebaik-baiknya seseorang mengeksekusi rencananya, ia tidak bisa melepaskan status bahwa ada Allah yang jauh lebih baik menentukan sukses tidaknya orang tersebut. Oleh sebab itu, sampai kapanpun ada kemungkinan orang itu gagal dalam menjalankan rencananya. Maka jika orang itu ekspektasinya terlalu tinggi pada mimpinya, orang itu akan sangat hancur perasaannya. Hancur berkeping-keping. Parahnya, pada akhirnya ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Tiada orang di dunia ini yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya, semuanya ingin sukses meraih mimpinya. Akan tetapi, cukup bijaksana bagi seseorang jikalau waspada terhadap kemungkinan datangnya kegagalan tersebut. Maka dari itu, alih-alih terpuruk lantaran ekspektasi yang terlalu tinggi, memikirkan skenario terburuk dalam upaya meraih mimpi bisa menjadi salah satu tindakan mawas diri. Alasan utamanya ialah memikirkan skenario terburuk mampu menjaga ekspektasi seseorang.
Memang cukup konyol menggunakan pemikiran skenario terburuk agar tetap waras dalam meraih mimpi. Ditambah lagi tidak sedikit orang mengatakan "sekalinya seseorang memikirkan skenario terburuk, itu berarti sama halnya ia menjalani sebuah kegagalan". Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Tidak ada bukti yang valid. Alhasil, ini kembali kepada subyektifitas pribadi. Aku pribadi jelas menerapkan konsep pemikiran skenario terburuk ini dalam rangka menggapai mimpi besarku, dan alhamdulillah aku masih menjadi pribadi yang waras sampai detik ini.
Pada dasarnya skenario terburuk ini seperti memiliki mindset bahwa dalam sebuah permainan pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Dan keduanya adalah hal yang biasa dalam permainan. Skenario terburuk menempatkan diri pada pihak yang kalah, sehingga kalah atau gagal dalam meraih mimpi merupakan hal yang biasa. Sebagaimana yang telah aku katakan sebelumnya, ini bisa jadi juru selamat dari rasa pedih yang melilit tatkala gagal karena ekspektasi yang dibangun masuk ke dalam zona aman. Di sisi lain, jika menang adalah hasil akhir, maka menang itu adalah bonus baginya. Orang tersebut pasti senang dan bersyukur menerima kemenangan, namun tak sampai jumawa atau bahkan lupa diri. Sebabnya ialah ekspektasinya terhadap kemenangan telah ia turunkan.
Masih saja heran? Baiklah, aku berikan analogi lain. Katakan saja ada orang yang mampu membeli sebuah mobil mewah. Sebelum orang tersebut membeli mobil, ia harus sadar bahwa pada suatu waktu ia akan kehilangan sejumlah uangnya untuk ia gunakan dalam memperbaiki mobilnya, membayar pajak mobil dan membeli bahan bakarnya. Jika orang itu memakai skenario terburuk, maka ia tak akan kesal ketika kehilangan uangnya untuk keperluan mobilnya karena memang begitulah konsekuensinya jika memiliki mobil. Sebaliknya, jika skenario buruk tidak ada dalam pikirannya, sangat mungkin ia akan merasa kesal karena jumlah uang di rekeningnya tengah berkurang untuk urusan mobilnya. Sudah puas? Semoga saja iya!
Bagaimanapun, ini perlu menjadi catatan besar bahwa porsi memikirkan skenario terburuk tidak boleh lebih besar dari porsi skenario terbaik. Ingat! Skenario terburuk itu untuk menjaga ekspektasi dalam bermimpi belaka. Jika porsinya belebih, seseorang akan selalu ciut nyali dan malah takut untuk bermimpi. Tak ada mimpi sama dengan tak ada tujuan dan makna hidup. Maka dari itu, yang senantiasa dikedepankan tetaplah skenario terbaik. Berprasangka baik terhadap diri sendiri dengan porsi yang pas akan mambawa diri ke jalan yang baik.
Kesimpulan dari ini semua adalah peran ekspektasi dalam bermimpi memang sangat krusial. Ekspektasi yang terlalu tinggi mampu menjebloskan diri ke dalam penjara keterpurukan tatkala mimpi yang dipuja tak dapat diraih oleh tangan sendiri. Oleh karena itu, menjaga ekspektasi dengan cara memikirkan skenario terbutuk menjadi kunci respon yang bijak dalam hal ini. Jadi, apa skenario terburuk dari rencana menggapai mimpimu?

Komentar
Posting Komentar