Bercerita: Penuh Manfaat Tapi Masih Ada yang Tidak Memiliki Cerita

Foto: Dokumentasi pribadi penulis saat mengajar

Aktivitas menatap gawai pribadi dari setelah bangun pagi hingga akan terlelap menyambut mimpi merupakan keharusan untuk saat ini. Pasalnya, di dalamnya banyak bertebaran informasi dan cerita yang bisa jadi bahan gibah dengan kawan dekat nantinya. Dampak dari mengonsumsi informasi dan cerita tersebut, orang-orang alhasil tak pernah berhenti untuk bercerita kesana-kemari, dari topik satu ke topik yang lain. Jujur saja, bukan sesuatu yang mengherankan karena mau bagaimana lagi pada dasarnya manusia itu memang makhluk yang bercerita. Itulah fitrahnya.

Pernyataan tentang manusia adalah makhluk bercerita bukanlah bualan semata. Di pandang dari konteks sejarah, ada bukti yang membenarkan hal tersebut. Buktinya adalah peninggalan sejarah dalam bentuk prasasti kuno. Di Indonesia sendiri salah satu prasasti kuno yang pernah ditemukan ialah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang ditulis di permukaan batu yang besar. Prasasti tersebut secara detail ditulis dalam aksara Pallawa dengan bahasa sansekerta yang menceritakan berbagai dinamika kehidupan era kerajaan Sriwijaya.

Tidak hanya di Indonesia, di belahan bumi yang lain, seperti Mesir, pun ada bukti yang serupa. Di piramida Mesir, lebih tepatnya pada permukaan dindingnya, terdapat relief atau gambar-gambar tertentu yang bila diterjemahkan menceritakan kondisi kehidupan kerajaan Mesir dan masyarakatnya kala itu.

Dari kedua contoh di atas, sebaiknya tak perlu meragukan lagi bahwa sejak dahulu pun manusia bercerita. Bahkan uniknya, manusia sejarah bercerita melalui media yang tak lazim untuk zaman sekarang, yakni menggunakan batu yang mereka ukir.

Orang-orang zaman sekarang bisa dikatakan sama dengan orang zaman sejarah, namun juga sekaligus berbeda. Kesamaannya ialah sama-sama bercerita, bahkan mungkin jauh lebih bercerita ketimbang orang zaman sejarah. Sementara perbedaannya ada pada media yang digunakan dalam bercerita. Saat ini, orang-orang memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk bercerita, yaitu gawai dan media sosial. Gawai dan media sosial begitu mudah untuk digunakan. Hanya dengan menggunakan kedua jempol tangan, seseorang bisa bercerita panjang lebar. Anekdotnya, jika ceritanya ia kumpulkan, ia bisa menyusunnya menjadi sebuah buku yang siap terbit.

Tidak bisa dipungkiri, teknologi zaman ini seperti membawa berkah untuk orang-orang dalam bercerita. Mereka jauh lebih leluasa menggaungkan ceritanya. Contohnya ada yang bercerita melalui gambar, tulisan dan video. Itu pun bisa mereka tunjukan dengan bentuk fisiknya ataupun bentuk digitalnya. Lebih keren lagi, cerita melalui banyak bentuk tersebut dapat secara mudah disebarluaskan ke khalayak umum. Orang yang tak kenal dengan si pencerita sekalipun bisa terpapar oleh cerita tersebut. Sungguh asyik bercerita di zaman modern ini.

Manfaat Bercerita Menurut Science

Hal yang menarik dari bercerita ialah bahwa bercerita membawa beberapa manfaat. Hal ini secara ilmiah telah dibuktikan, dan diantara manfaatnya adalah sebagai berikut:

Meningkatkan kesehatan mental. Sebuah studi menunjukkan bahwa menceritakan pengalaman pribadi dapat meningkatkan suasana hati dan kesehatan mental. Bahkan, hal ini dapat membantu seseorang mengurangi trauma yang dimiliki, gejala depresi, serta meningkatkan ketahanan terhadap tekanan yang mungkin muncul di masa mendatang.

Mengembangkan koneksi sosial. Faktanya, menceritakan sebuah cerita dapat membangun empati dan pemahaman antar individu, memperkuat pergaulan sosial dan memunculkan rasa memiliki satu sama lain. Di samping itu, jika bercerita dilakukan secara terus-menerus, hal itu dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi, membantu seseorang dalam menerjemahkan pimikirannya dan perasaannya sendiri secara efektif. Ini jelas bermanfaat untuk hubungan personal dan profesional seseorang.

Memperkuat kesehatan fisik. Sebuah penelitian memaparkan bahwa bercerita dapat menstimulus seseorang untuk meningkatkan daya imunnya dan dapat berpotensi mengurangi penyakit. Ini tentunya disebabkan oleh pengurangan stress. Selain itu, studi juga mengungkap bahwa bercerita dapat memicu penurunan tekanan darah dan berkontribusi pada kesehatan kardiovascular.

Mempertajam kemampuan kognitif. Saat bercerita, otak seseorang membutukan pencarian dan pengaturan memori. Hal itu rupanya memicu peningkatan kerja kognitif. Semakin sering seseorang mengasah kemampuan kognitifnya, maka semakin tajam pula daya berpikirnya. Ditambah lagi, umumnya orang akan mendapatkan perspektif baru tatkala menceritakan pengalaman atau masalahnya. Hal itu sangat beguna untuk kemampuan problem-solving dan berpikir kreatif.

Melatih kemampuan emosi. Bercerita dapat melepaskan tekanan emosi. Kemudian, pelepasan tekanan emosi yang berangsur akan membentuk kesejahterahan emosi. Tidak hanya itu, bercerita juga mendorong munculnya harga diri yang lebih baik karena pada saat bercerita seseorang merasa menjadi pribadi yang didengar dan tervalidasi oleh orang atau kelompok tang mendengarkan ceritanya.

Masih Ada yang Merasa Tidak Memiliki Cerita

Sebenarnya mudah saja menjadikan suatu hal sebagai bahan untuk bercerita. Mulai dari pengalaman pribadi sehari-hari, kejadian tertentu yang sedang dialami, pengalaman orang lain, kondisi masyarakat secara umum dan khusus, hingga keseluruhan ekosistem alam dan semesta. Semuanya sah-sah saja dijadikan amunisi untuk bercerita. Tetapi yang paling umum untuk dijadikan peluru cerita ialah pengalaman pribadi. Alasannya karena hal itu cukup mudah untuk diolah menjadi suatu bentuk cerita yang utuh tanpa harus repot-repot memikirkan kevalidannya.

Bagaimanapun. fakta anehnya adalah di situasi dimana teknologi sangat membantu seseorang dalam bercerita, kemudian ditambah mudahnya mencari bahan cerita, masih ada saja orang yang merasa dirinya tidak memiliki cerita untuk diceritakan kepada orang lain. Meskipun hal ini terkesan melawan fitrah manusia, ini benar nyata adanya. Hal sederhana yang bisa dilakukan untuk melihat fakta ini ialah melihat beberapa kencenderungan yang muncul pada diri seseorang. Kecenderungan tersebut diantaranya:

Meremehkan pengalaman hidup yang kecil dan tidak menarik. Melihat ke atas seringkali lebih menarik ketimbang melihat ke bawah. Dalam hidup, seseorang kerap kali memompa dirinya untuk selalu terlibat dengan hal-hal besar karena baginya hal-hal besar sangat menarik perhatiannya. Kebalikannya, hal-hal kecil tidak ada nilai baginya. Sayangnya, seringkali hidup tidak melulu tentang hal-hal besar. Seseorang yang bersikukuh mematok hal-hal besar saja akan sangat kehilangan cerita untuk dibagikan tatkala dalam hidupnya hal-hal kecil menjadi keutamaan.

Merasa takut dihakimi oleh orang lain. Bercerita itu mudah tapi harus tetap hati-hati. Maksudnya, hati-hati dengan siapa cerita itu diceritakan. Alih-alih respon yang menyenangkan dan dukungan, bercerita kepada orang yang salah akan berdampak pada kejiwaan. Itu karena orang yang salah senantiasa menghakimi cerita seseorang. Dan jika hal itu terjadi berulang-ulang, seseorang akan selalu merasa takut hingga akhirnya engga untuk bercerita.

Membandingkan dengan orang lain. Menceritakan sebuah pencapaian dan kesuksesan adalah sebuah kebanggaan. Namun siapa sangka cerita kesuksesan orang lain bisa menjadi bahan pembanding bagi diri sendiri tatkala hampir setiap hari terpapar oleh cerita tersebut. Jika demikian hal ini cukup berbahaya karena seseorang bisa saja mengambil sebuah kesimpulan bahwa standar cerita yang disampaikan itu ialah cerita kesuksesan saja. Sementara, jika pada saat itu ia merasa belum bisa mendapatkan pencapaian, ia tak akan bercerita dan malah terjebak dalam lingkaran perbandingan.

Kurang merefleksi diri sehingga tidak melihat nilai diri. Orang-orang yang menjadi budak dunia hampir tidak ada waktu untuk dirinya sendiri. Segala aspek di hidupnya ia pertaruhkan demi mendapatkan dunia. Bahkan ia menjual jiwanya untuk itu. Ia bodoh amat dengan nilai diri. Sehingga ketika ditanya oleh orang lain mengenai dirinya, perihal nilai dirinya. Ia diam seribu bahasa, tidak ada satu pun kata yang bisa digunakan untuk menceritakan dirinya. Yang namanya budak adalah ia yang tidak memiliki kuasa terhadap dirinya sendiri.

Memiliki atau berkaitan dengan kondisi sosial yang mengatur hal-hal yang boleh dan tidak boleh diceritakan. Akan sangat merepotkan memang tatkala lingkungan yang didiami membatasi seseorang untuk bercerita secara leluasa. Tetapi, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Seseorang pada dasarnya harus benar-benar menghormati apa yang sudah menjadi "aturan" dari masyarakat terkait, termasuk soal bercerita. Orang yang demikian ini meskipun pikirannya terbang bebas, hasrat dalam hatinya tetaplah terbelenggu.

Menilai dirinya tertutup sehingga tidak nyaman jika berbagi cerita dan menjadi pusat perhatian. Orang rendah diri akan sering mendapati dirinya terkungkung. Sejatinya, bercerita butuh kenyamanan, tapi sayangnya orang rendah diri tidak pernah merasa nyaman dengan dunia luar. Tempat ternyaman baginya ialah dirinya sendiri. Hanya itu saja. Dunia luar baginya adalah sarang keburukan tanpa ada sama sekali kebaikan di dalamnya. Oleh karena itu, orang rendah hati memilih bungkam dan tidak bercerita pada dunia luar.

Pada dasarnya memang tidak masalah jika seseorang memilih untuk tidak bercerita kepada orang lain. Akan tetapi merasa tidak memiliki cerita ialah kasus yang berbeda. Kepekaan dalam memandang diri sendiri dan hal-hal yang ada di sekitar dirinya merupakan kunci dari perasaan tak memiliki cerita ini. Semua ini perlu disadari bahwa setiap individu itu unik dan bernilai. Tuhan pun menciptakan manusia agar setiap dari mereka saling mengenal. Artinya dalam proses mengenal pasti ada aktivitas bertukar cerita di dalamnya. Sebuah ketentuan yang tidak terhindarkan. Lagi pula, bercerita bukan aktivitas yang menyesatkan. Sebaliknya, bercerita menyuguhkan manfaat untuk manusia bertumbuh dan menjadi lebih baik.

Komentar