Turning 30, Less Opportunity?

Kata orang menginjak usia 30 itu sama saja memasuki suatu dunia yang membuat ngelus-ngelus dodo. Pasalnya usia 30 itu ialah usia peralihan. Maksudnya peralihan dari anak muda menjadi orang tua. Walaupun menurut definisi umum usia 30 itu masih tergolong pemuda, tetap saja di masyarakat luas tidak jarang usia 30 dikategorikan tua. Ekspektasi masyarakat, ketika seseorang memasuki usia 30, ia sudah berkeluarga dan memiliki anak. Selain itu, ia juga sudah memiliki pendapatan yang stabil. Oleh sebab itu, banyak masyarakat memandang usia 30 itu merupakan usia yang matang dan berpengalaman. Bahkan, ada yang berpandangan usia 30 sudah layak memimpin suatu perusahaan besar atau menjabat sebagai kepala daerah karena dianggap telah memiliki segudang pengalaman. Label matang dan berpengalaman inilah yang identik dengan orang tua. 

Kendati demikian, yang sebenarnya terjadi ialah tidak semua orang yang berusia 30 tahun lekat dengan stereotip seperti itu, alias masih ada yang menjomlo dan bahkan minim pengalaman serta berpenghasilan rendah. Parahnya, ada juga di antara orang yang telah berusia 30 tahun namun tak memiliki pekerjaan. Diterima atau tidak, begitulah memang ironinya. Ngenes!

Kalau ditelaah lebih lanjut perihal ketidakberuntungan orang berusia 30 tahun, bisa sangat jelas dilihat di informasi lowongan pekerjaan. Biasanya di kolom persyaratannya tertuang keterangan batasan usia pelamar kerja, yakni di rentang usia 17 hingga 27 tahun. Hal itu menjadi salah satu contoh betapa melasnya orang yang sudah berumur 30 tahun. Jangan bilang diskriminasi karena harus dimengerti bahwa stigma negatif orang dengan umur 30 tahun itu yakni sudah berkurang energi kreatifnya. Kemudian, juga sudah susah untuk dibangun pola berpikirnya yang sesuai dengan karakter perusahaan. Dalihnya sih karena usia tersebut sudah memiliki kematangan berpikir sendiri. Jadi garis besarnya ialah siapapun yang berusia 30 tahun, ia semakin kehilangan kesempatan berkiprah dalam menjalani hidup.

Kesempatan Tidak Mutlak Ditentukan dari Usia

Walaupun ada benarnya juga semakin tua seseorang, semakin menurun juga kapasitas energi yang ada di dalam tubuhnya, tetapi tidak bisa digeneralisir itu terjadi kepada semua orang tua. Karena faktanya ada orang tua yang masih energik menjalani segala aktivitasnya. Orang tua yang demikian pasti menjalani pola hidup yang sehat. Alhasil, orang tua energik tetap memiliki kesempatan berkiprah lebih baik di dalam hidupnya. Sehingga, kesempatan tidak mutlak ditentukan dari usia seseorang.

Ada banyak faktor penentu munculnya kesempatan pada hidup seseorang. Akan tetapi faktor yang paling sering disorot ialah keahlian yang bertemu dengan kesiapan. Dalam hal ini variabel penentunya ada pada keahlian dan kesiapan dari seseorang menyambut sebuah momentum tertentu dalam hidup. Lebih jelasnya sepeti ini, katakan saja ada orang yang ahli di bidang menulis. Hampir setiap hari ia rajin menulis di berbagai media, ia juga selalu membaca apapun yang sifatnya bisa menambah wawasannya, dan ia pun juga sering berdiskusi dengan rekan sesama penulis membahas dunia kepenulisan dan isu masyarakat yang sedang hangat. Suatu hari tanpa ia duga, ia diberi tahu oleh rekannya jika ada lomba kepenulisan. Sayangnya, besoknya adalah hari penutupan lomba tersebut. Inilah menariknya. Meskipun penutupan lomba tinggal satu hari lagi, jika ia siap mengikuti lomba, maka ia akan memiliki kesempatan besar untuk memenangkan lomba kepenulisan tersebut. Sebaliknya, jika ia tidak siap, maka kesempatannya telah lenyap saat itu juga.

Ada yang mengakatakan, "jangan pernah menunggu datangnya kesempatan". Perkataan itu mungkin ada benarnya juga karena kesempatan sebenarnya bisa diciptakan oleh kemauan dan upaya. Contoh nyatanya yakni pada seseorang yang ingin mengubah arah haluan hidupnya menjadi lebih baik. Ada seseorang yang setiap harinya bekerja sebagai penjual makanan di warung miliknya sendiri. Ia membuka warungnya dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Tapi nahas, keuntungan yang diperoleh dari hasil menjual makanan di warung tak mencapai apa yang ia harapkan. Keuntungan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tak ada sisa untuk ditabung setelahnya. Hal seperti ini sudah berjalan berbulan-bulan lamanya, namun tetap saja nasib baik tidak memihak. Ia bersyukur, namun dirundung pas-pasan. Suatu hari, ia melepaskan tekad besarnya menjadi sebuah aksi untuk mengubah keadaan. Ia ingin perekonomian keluarganya menjadi lebih baik, ia ingin memiliki rezeki lebih agar bisa membantu banyak orang. Lantas, selepas ia berjualan di warung, ia mengumpulkan banyak ide untuk ia jadikan bahan menambah penghasilannya. Itulah contoh kesempatan hadir pada orang yang mau dan berusaha. Orang tersebut telah resmi mendapatkan kesempatan sejak ia berikrar mau dan mengeksekusi kemauannya.

Pada akhirnya mereka yang telah menginjak usia 30 tahun tidak perlu merisaukan usianya sendiri. Usianya tidak mutlak berdampak pada datangnya kesempatan. Justru hadirnya kesempatan berkolerasi erat dengan keahlian, usaha, kesiapan dan kemauan. Oleh karena itu, orang-orang harus secara sadar untuk lebih fokus pada peningkatan kualitas diri dengan cara banyak belajar dan melakukan banyak kegiatan yang bisa membangun mentalitas.

Komentar