| Foto: Dokumentasi pribadi penulis - orang memancing di salah satu danau di kota Sydney |
Aku sedikit bingung bagaimana memulai ini. Terus terang, aku sama sekali tidak memiliki pernyataan pembuka agar kamu langsung berkenan menyimak ceritaku. Baiklah. Begini saja, kawan, karena aku tak mendapati pernyataan, maka aku akan mengawalinya dengan mengajukan sebuah pertanyaan. Harapanku, kamu bersedia menjawabnya. Tenang saja, tidak harus langsung kamu jawab. Kamu bisa memikirkannya dan merenunginya terlebih dahulu. Kamu tahu maksudku, kan? Jawaban terbaik darimu. Itulah yang aku inginkan sebenarnya. Jadi, pertanyaanku adalah apakah selama ini kamu pernah menerjemahkan hidup yang baik-baik saja? Jika pernah, bisakah kamu menyampaikannya kepadaku seperti apa hidup yang baik-baik saja itu? Tunggu, seperti yang aku bilang, jangan buru-buru menyampaikan jawabanmu. Sembari kamu menyusun jawaban terbaikmu, izinkan aku menceritakan sesuatu kepadamu.
Jadi, kawan, beberapa waktu yang lalu aku memutuskan untuk pulang kampung halaman, kembali ke Indonesia. Sebelumnya, aku merantau untuk bekerja di negara tetangga, Australia. Aku telah tinggal di negara Kanguru sekitar 1,5 tahun lamanya. Keputusan pulang ini sifatnya sementara dan permanen di saat yang bersamaan. Membingungkan, bukan? Aku tahu, tapi biar aku jelaskan. Yang aku maksud permanen ialah karena aku memutuskan tidak lagi bekerja di Australia. Selama di sana, aku bekerja sebagai pekerja kasar, dan aku rasa pekerjaan kasar seperti itu benar-benar membuatku kewalahan. Sepertinya, tubuhku tidak diciptakan untuk hal-hal yang demikian. Maka dari itu, aku pikir cukup dan aku harus berhenti. Sebaliknya, sementara yang aku katakan tadi sebenarnya kalau ada kesempatan saja. Ada memang kemungkinan aku kembali ke Australia, tapi tidak untuk berperan sebagai pekerja kasar. Aku menginginkan peran yang menurutku lebih baik, yakni sebagai anak kuliahan atau white-collar worker. Semoga saja kesempatan itu datang. Tolong, aminkan saja.
Bagaimanapun, aku tidak akan berpanjanglebar soal keputusanku pulang ke Indonesia. Yang lebih penting adalah perbedaan hidup yang aku rasakan. Aku katakan selama di Australia hidupku terasa sangat stabil. Aku bekerja, menerima upah, makan sehat, menikmati waktu bersama istri di akhir pekan, bertamasya ke tempat baru. Kurang lebih seperti itulah rutinitas kehidupanku di sana. Hidup paling stabil selama hidupku, ya, ketika di Australia itu. Kalau ditanya apakah tidak ada masalah menjalani hidup di sana. Jelas tetap ada masalah, namun selalu bisa aku tangani dengan baik. Singkatnya, keberadaan masalah tidak sampai sedikitpun menggoyahkan kestabilan hidup di Australia.
Berbeda halnya dengan Australia, kehidupanku di sini, di kampung halaman sepenuhnya terasa dinamis. Kestabilan merupakan hal yang jauh. Aku mulai menata hidupku saat ini dengan menjual buku secara daring. Tentunya melalui toko buku yang aku bangun sendiri. Selain itu, aku juga kembali ke dunia lamaku, yakni menulis. Sekarang ini aku telah aktif kembali menulis buku, artikel dan opini. Melakoni hidup seperti ini begitu kental dinamikanya. Ada suatu hari aku harus mengurus pesanan buku dari pelanggan, ada juga hari di mana pesanan buku enggan menyapa. Perihal menulis tak jauh berbeda kondisinya. Bisa dalam satu hari penuh aktifitasku hanya duduk di depan layar laptop dan menulis, memintal naskah-naskah. Namun, ada juga suatu hari pikiranku kosong, tak beramunisi, alhasil aku terpaksa melalui hari itu dengan tidak menulis. Kalaupun aku bisa menulis, paling bagus hanya satu paragraf saja. Itu pun mesti berjam-jam kulalui baru aku bisa menuliskannya. Gila, sedinamis itu hidupku di rumah. Aku harap kamu bisa membayangkannya, kawan.
Kehidupanku di dua negara tersebut mutlak berbeda, yang satu stabil dan yang lain dinamis. Tapi, kamu harus tahu, kawan, bahwa meskipun berbanding terbalik, aku menemukan suatu kesamaan hidup. Kesamaan itu ialah perasaan di mana hidupku tidak sedang baik-baik saja. Inilah yang menjadi dasar dari pertanyaanku di awal. Hidup yang baik-baik saja, walaupun tidak sempat membuatku terlalu berlarut memikirkannya, ini cukup mengusikku. Kiranya jika aku bertanya kepadamu, kawan, aku bisa mendapatkan sudut pandang lain yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Aku tidak akan menjadi orang yang naif. Semua orang, termasuk diriku sendiri, tergiur untuk memetik kehidupan yang baik-baik saja. Ini semacam berburu harta karun, setidaknya itu analogiku pribadi. Orang-orang mencari. Kemudian, mereka meraba-raba berbagai petunjuk. Dan ketika sudah merasa di titik yang tepat, mereka mulai menggali ke dalam. Sebagian orang mengklaim telah mengantongi harta karunnya, sebagiannya lagi nihil. Tapi entahlah, aku tidak yakin seratus persen dengan mereka yang mengklaim tersebut. Bisa saja itu bukan harta karun. Tampaknya saja harta karun, ternyata mungkin saja tidak. Jangan berpikir buruk kepadaku, kawan. Ayolah, skeptislah sedikit. Bukankah dunia ini penuh dengan ilusi? Harta karun atau hidup yang baik-baik saja tentu tidak mudah untuk didapatkan.
Banyak aku mendengar dari orang-orang jika hidup yang baik-baik saja itu lekat dengan kebahagiaan. Kebahagiaan inilah klimaks dari suatu kehidupan. Tatkala seseorang telah mencapai puncak hidup ini, jiwanya sama sekali tak terikat oleh hal-hal duniawi. Jujur, aku tidak tahu pastinya, kawan. Aku belum bisa mendeskripsikan perasaan itu kepadamu dengan baik karena jelas-jelas aku belum mencapai kebahagiaan itu. Sejauh yang aku bisa hanyalah menyampaikan apa yang aku dengar saja dari orang-orang.
Kawan, kata orang hidup yang baik-baik saja itu identik dengan hidup yang stabil. Alasannya karena "baik-baik saja" dan "stabil" sama-sama menyelimuti hidup yang nyaman dan aman. Siapa orang di dunia ini yang hidupnya tidak ingin nyaman dan aman? Bohong jika mereka tidak menginginkannya. Kalau memang mereka tidak ingin, buat apa mereka mengupayakan banyak hal dalam hidupnya semacam pekerjaan tetap dengan kepastian finansial, hubungan yang sehat dengan sesama, rutinitas keseharian yang teratur, dan menghindari konflik emosional dan sosial. Mereka yang demikian jelas berlari ke arah kestabilan hidup. Dalam arti kata lain, mereka berhasrat pada hidup yang baik-baik saja. Aku menebak kamu pun mengejar hidup yang stabil seperti yang aku sampaikan sebelumnya. Bagaimana? Tebakanku benar, kan?
Namun, aku menilai hidup yang baik-baik saja rupanya bergantung pada sudut pandang individu. Di sini aku tidak sedang mengatakan bahwa apa yang diyakini oleh orang-orang tentang kestabilan adalah kesalahan. Sama sekali tidak. Pada kasus mereka bisa jadi itu terbukti benar, tapi lihatlah kasusku, kawan. Kestabilan hidupku di Australia tidak sedikitpun mengiming-ngimingiku kehidupan yang baik-baik saja. Itulah nyatanya yang aku rasakan. Sebaliknya, aku malah mendapati sesuatu yang kurang. "Kurang" yang aku maksud bukanlah sesuatu yang buruk, kawan. Ini soal batinku yang menangkap bahwa kehampaan sedang menghantuiku. Maaf, aku susah menjelaskan ini secara logis. Tapi, kamu paham maksudku, bukan? Intinya, hidup stabil kala itu benar-benar terasa monoton. Meski aku tetap bisa tersenyum lebar, bersenang-senang, tetapi api kegairahan hidup seperti meredup. Parahnya, aku menyaksikan diriku tak mampu untuk bertumbuh. Aku bergerak, tapi hanya di tempat, tidak sesentipun aku melangkah maju. Aku banyak belajar, tapi banyak juga yang menguap dari apa yang telah aku pelajari tersebut. Andai kamu tahu apa yang kulalui di Australia, kawan. Itu semua tidak baik-baik saja.
Kali ini aku akan berbicara mengenai kehidupanku saat ini. Tapi mohon maaf, aku tidak bisa bercerita banyak. Bagaimana aku bisa bercerita banyak, kehidupanku sangatlah dinamis untuk kali ini. Kehidupan dinamis dikonotasikan kehidupan yang tidak baik-baik saja menurut pemikiran banyak orang. Dan aku membenarkan apa yang dibilang oleh kebanyakan orang itu. Tidak ada kata nyaman dan aman seperti yang ada pada kehidupan stabil. Kehidupan dinamis yang ada hanyalah tantangan dan masalah semata. Tapi untungnya, tetap ada celah atau ruang untuk bertumbuh bagiku. Aku tetap bisa mensyukurinya.
Bagaimanapun, bukan aku namanya jika hanya membiarkan sebuah pertanyaan mengambang begitu saja. Aku mencoba merenungi pertanyaan itu dan menggali setiap makna yang terlibat agar aku bisa menemukan jawabannya. Meskipun nantinya jawabannya subyektif, tak masalah, setidaknya aku telah mengantonginya. Pikirku selanjutnya tinggal aku konfirmasi dari berbagai sumber yang ada agar jawabanku jauh lebih obyektif.
Aku mulai membaca buku-buku yang berkaitan dengan spiritual dan tentu saja filosofi. Dalam benakku, walaupun sederhana, pertanyaan tentang hidup yang baik-baik saja teramat berkesan filosofis. Aku larut dalam buku-buku itu. Kawan, kamu mesti tahu rasanya tenggelam dalam buku-buku yang demikian. Letih dan memusingkan. Itulah yang akan kamu rasakan. Kamu tak berpikir buku-buku tersebut mudah untuk dicerna oleh akal, bukan? Buku-buku yang telah aku baca memang memberikanku banyak sudut pandang dan wawasan. Namun, dengan berat hati harus aku sampaikan kepadamu, kawan, bahwa secara tekstual tidak ada pernyataan yang cukup jelas dari buku-buku tersebut yang menjawab dan menjelaskan perihal kehidupan yang baik-baik saja. Aku tidak berbohong padamu, kawan. Karena itu yang aku tangkap. Entah karena aku terlampau bodoh, atau memang demikian adanya, yang jelas menurutku tidak ada jawaban yang absolut mengenai ini.
Patut disayangkan, tapi tenang saja, aku tidak sepenuhnya kecewa. Buku-buku tadi tetap menyuguhkanku sebuah ide baru. Aku tidak tahu apakah kamu pernah mendengar kata-kata ini sebelumnya, kawan. Kata-kata ini berbunyi, "sebuah buku seringkali tidak memberikan jawaban, melainkan ide baru agar kau tahu harus berbuat apa." Tidak perlu diambil pusing jikalau kamu tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya, tapi aku harap kamu jadi lebih rajin membaca agar kamu tahu maksudnya. Dan intinya, aku mendapat ide baru. Akan aku sampaikan ideku ini walaupun kamu akan menertawakanku. Aku punya firasat yang tajam kamu akan tertawa terbahak-bahak, kawan. Tapi, itu tidak menjadi masalah bagiku, aku tetap akan menyampaikannya kepadamu karena hanya kamulah kawan terbaikku. Jadi, aku mendapatkan ide untuk mencari jawaban mengenai kehidupan yang baik-baik saja dengan bertanya kepada ChatGPT. Iya, Chat GPT. Kamu jelas tidak salah dengar, kawan. Aku mencari jawaban kepada AI.
Mempertanyakan hal filosofis kepada AI memang sesuatu yang agak lucu, atau bahkan mungkin sangat konyol. Aku tahu AI bekerja berdasarkan data yang dimilikinya, tidak ada esensi kemanusiaan yang ada di dalamnya. Tapi ayolah, kawan. Bukankah seringkali hal yang luar biasa lahir dari ide yang tidak biasa? Jadi apa salahnya mencari jawaban melalui ChatGPT. Ini bukan sebuah kecurangan. Lagi pula, aku juga tidak seratus persen menelan mentah-mentah hasil jawaban dari AI ini. ChatGPT seperti halnya sumber informasi yang lain yang ada di internet. Pemaparannya tetap harus divalidasi kebenarannya.
Long story short, tanpa pikir panjang aku mulai mengetikkan pertanyaanku pada kolom pesan di laman ChatGPT. Kalimat pertanyaan yang aku ajukan seperti ini "apakah hidup yang stabil itu tergolong hidup yang baik-baik saja?" Seketika itu, kira-kira dalam hitungan detik, ChatGPT telah memberikan jawabannya. Jujur, sebelum membaca jawaban yang ditunjukkan ChatGPT aku terdiam sejenak karena aku agak sedikit malu, kawan. Pasalnya, untuk menjawab pertanyaan ini aku perlu waktu yang relatif lama. Sementara itu, ChatGPT hanya butuh waktu yang sangat singkat saja. Ini benar-benar kurang ajar. Kecepatan berpikirku kalah telak dengan AI satu ini. Tapi baiklah, daripada semakin malu, kita hiraukan saja urusan itu.
AI buatan Sam Altman ini menyodorkan dua poin penting terkait pertanyaanku. Pertama, hidup yang baik-baik saja akan tercipta jika hidup yang dimiliki mampu disinkronkan dengan nilai, tujuan, dan makna yang dianut. Apa yang aku pahami dari poin pertama ini adalah bahwa kuncinya ada pada nilai, tujuan dan makna. Selama seorang memiliki ketiganya, maka ia amat dekat dengan hidup yang baik-baik saja. Sisanya hanya diseimbangkan saja. Tapi sebaliknya, ketika ketiganya masih mengambang pada dirinya, niscaya ia jauh dari kata baik-baik saja. Aku tidak akan berbohong kepadamu soal tanggapanku, kawan. Aku jelas susah menolak jawaban dari ChatGPT. Itu terasa masuk akal buatku. Tidakkah kamu demikian sama denganku? Mungkin aku bisa menyampaikan ini dengan sebuah analogi. Barangkali ini akan membantu. Aku menganalogikan poin pertama ini seperti bepergian. Tentu kita ingin perjalanan kita berlangsung baik-baik saja, bukan? Maka dari itu, agar itu bisa terwujud pastinya kita harus tahu betul tujuannya di mana, kita juga butuh peta untuk menunjukkan jalan yang tepat untuk kita, dan tidak lupa kita perlu membawa perbekalan yang cukup selama perjalanan. Sampai di sini paham? Tujuan perjalanan adalah tujuan hidup, sedangkan peta ialah makna, sementara perbekalan merupakan nilai hidup yang dianut. Sejauh ini ketika bepergian, ketiga hal tadi selalu aku utamakan, dan lihatlah acara bepergianku berakhir sangat lancar. Dalam arti kata lain, baik-baik saja. Ini cukup jelas menerangkan bahwa memang jikalau menginginkan hidup yang baik-baik saja, seorang wajib hukumnya memahami dan meyakini nilai, tujuan dan makna hidupnya secara utuh.
Maaf, kawan. Tapi izinkan aku untuk sedikit menambahkan. Perihal nilai, tujuan dan makna ini antar individu tidak bisa disamakan atau dipaksakan sama guna memperoleh kehidupan yang baik-baik saja. Hal ini karena setiap individu memiliki nilai, tujuan dan maknanya sendiri-sendiri. Baiklah, tujuan mungkin bisa sama, akan tetapi nilai dan maknanya bisa sangat berbeda. Aku dan kamu pun pastinya tidaklah sama. Tapi perlu digarisbawahi, meskipun tiga hal tadi berbeda-beda antara satu dan yang lain, bukan berarti bisa saling menghakimi. Salah besar. Berbeda berarti harus dihormati. Titik. Sepakat, kawan? Jadi, karena sangat mungkin adanya perbedaan nilai, tujuan dan makna yang dianut, maka otomatis gambaran hidup yang baik-baik saja pun juga berbeda-beda di antara individu-individu yang ada.
Kedua, hidup yang baik-baik saja senantiasa muncul karena keseimbangan antara stabilitas dan transformasi. Keseimbangan merupakan hal yang krusial pada poin kedua ini. Faktanya, tidak banyak orang yang mampu menyeimbangkannya. Tetapi, lagi-lagi aku memihak jawaban dari ChatGPT ini. Ingat, kawan, aku sudah melakoni peran di dua kehidupan yang dimaksud; kehidupan stabil dan transformasi alias dinamis. Pada kasusku, berada pada satu kehidupan tak membuahkan kehidupan yang baik-baik saja sehingga mungkin ada benarnya juga menyatukan keduanya agar apa yang diharapkan bisa tercapai. Agar sedikit lebih jelas aku sepertinya perlu menjelaskan ini dengan analogi lagi. Semoga saja kamu tidak keberatan, kawan. Kali ini analogiku tentang tata surya kita. Begini, bumi ini punya yang namanya siang dan malam. Bumi juga berotasi dan berevolusi pada matahari. Tidak hanya bumi, planet yang lain di galaksi bima sakti juga melakukan hal yang sama seperti bumi. Semua pergerakan itu, kawan, mewakili aspek kedinamisan. Mereka semua bergerak dan tidak ada yang diam. Coba bayangkan bagaimana jika bumi diam, pastilah semua makhluk yang ada di bumi seketika akan binasa. Tetapi yang menjadikan ini luar biasa adalah pergerakan bumi dan planet lain yang dinamis membawa pengaruh kestabilan pada kita, makhluk di bumi. Aku, kamu, serta makhluk hidup lain di bumi bisa hidup dengan baik hari demi hari karena kedinamisan bumi dan obyek tata surya lainnya. Bagaimana? Cukup logis untukmu, kawan? Kesimpulannya, menurutku, adalah benar kiranya mengakrabkan kestabilan dengan transformasi atau kedinamisan hidup agar hidup seorang bisa berjalan dengan baik.
Kawan, dari dua poin yang telah kuutarakan mungkin kamu mengira itu adalah kesimpulan akhirnya. Tapi, aku bisa pastikan bahwa aku belum bisa memastikannya. Sampai saat ini aku memang sudah banyak memperoleh informasi yang berguna, namun tetap saja aku masih mencari dan bertanya-tanya kepastian hidup yang baik-baik saja itu seperti apa. Pengetahuanku bisa saja membawaku pada kebenarannya, tapi bisa juga mengarahkanku pada arah sebaliknya. Aku percaya bahwa barang siapa yang mencari, pasti akan menemukan. Mudah-mudahan saja, suatu hari nanti aku akan mendapatkan jawabannya. Di titik ini aku memasrahkannya pada Tuhan. Tapi, di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku mengharapkan jawaban itu aku dapatkan langsung di mulutmu, kawan. Jadi, katakan sekarang, apakah kamu tahu jawabannya?
Komentar
Posting Komentar