Mimpi Seperti Apa yang Layak untuk Terwujud?

Foto: Dokumentasi pribadi penulis saat menikmati Ballarat Heritage Festival di Australia - seorang pria dan wanita yang mengenakan pakaian klasik Australia sambil mengendarai sepeda berhias buku-buku klasik.

Di kehidupan ini banyak sekali kenikmatan duniawi yang bisa disyukuri. Kesehatan, kekayaan, hubungan sosial, keluarga, karir, dan lain sebagainya. Tetapi, menurutku pribadi, salah satu kenikmatan duniawi yang tidak ada tandingannya ialah mampu mewujudkan mimpi. Seberapapun mimpi yang dimiliki; besar, kecil, banyak, sedikit, ketika bisa mencapainya, semua atribut diri meresponnya dengan suka cita. Ada klimaks kepuasan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan menariknya, sering kali kenikmatan seperti itu sangat membekas sampai di akhir hayat. Sensasi yang demikian kiranya yang mendorong seseorang untuk memiliki mimpi. Oh iya, kawan, kira-kira apa kenikmatan duniawi menurut versimu?

Tiba-tiba aku teringat salah satu mimpi kecilku yang syukur alhamdulillah telah aku raih di 2021 lalu. Aku yakin kamu tidak akan menyangkanya, kawan. Mimpi itu adalah menerbitkan bukuku sendiri untuk kali pertama. Bagaimana? Apakah kamu terkejut? Katakan saja sejujurnya kepadaku. Akan tetapi, meskipun sudah menerbitkan buku, aku masih merasa bingung. Apakah aku ini sudah bisa dikatakan sebagai penulis? Dalam imajinasiku, yang dikatakan penulis itu adalah orang yang konsisten menciptakan karya tulis dan hasil karyanya bisa berdampak pada banyak orang. Sementara kalau aku melihat diriku sendiri, kawan, aku belum mampu secara konsisten membuat karya tulis. Soal dampak apalagi, jelas segelintir orang terdekat saja sepertinya yang merasakan manfaat dari hasil karya tulisku. Tapi tenang saja, kawan, saat ini aku masih berproses mencapai level penulis yang sesuai imajinasiku tadi. Doakan saja! Anyway, sebenarnya aku sudah berikrar untuk menerbitkan buku sejak tahun 2018, namun 2 tahun berselang mimpi itu tak kunjung terwujud. Masalah utamanya ya karena aku sendiri. Aku tak bersungguh-sungguh dalam menulis buku. Kala itu, aku terlalu sibuk dan nyaman dengan menulis artikel untuk blog pribadiku. Pikirku, menulis artikel jauh lebih mudah ketimbang menulis sebuah buku. Tentu, aku yakin kamu juga sepakat denganku terkait ini.

Tapi ternyata hal yang tidak terduga datang menghantam semua masyarakat di dunia. Kamu pasti tahu ini. Aku sedang membicarakan pandemi covid-19. Semua orang, tidak terkecuali aku, harus beraktivitas di dalam rumah. Benar-benar hanya di rumah saja. Kamu tahu situasi ini pastinya. Tidak banyak yang bisa dilakukan jika hanya di rumah saja. Pada waktu itu, aku merasa tidak ada perkembangan diri sebagai seorang manusia. Aku berpikir, aku harus melakukan sesuatu yang menantang agar ada hal baik yang keluar dari diriku. Kemudian, dari sanalah ide mengeksekusi mimpi menerbitkan buku muncul. Tanpa pikir panjang dan tanpa pengalaman sebelumnya, aku langsung mengambil pena dan kertas untuk membuat konsepnya. Setelahnya, dengan percaya diri aku mulai menulis naskah pertamaku. Singkat cerita, setelah sekitar 3 bulan lamanya berkutat dengan menulis, akhirnya buku pertamaku terbit juga. Itu adalah suatu pencapaian yang sangat luar biasa. Andai kamu tahu apa yang aku rasakan kala itu, kawan.

Membahas topik mewujudkan mimpi selalu menjadi bagian yang menarik perhatianku. Tapi asal kamu tahu, aku masih memiliki mimpi yang jauh lebih besar daripada menulis buku itu sendiri. Bisa dibilang menulis buku hanya irisan kecilnya saja. Mimpiku yang satu ini adalah tentang dunia literasi Indonesia. Tetapi, tidak seperti menulis buku dan berhasil menerbitkannya karena aku sudah bisa merasakan kenikmatannya, mimpiku tentang dunia literasi Indonesia masih teramat pahit, belum ada nikmat-nikmatnya sama sekali. Aku menelan kegundahan yang besar.

Beri aku waktu sebentar untuk menggambarkan perasaanku kepadamu. Kawan, pernahkah kamu ketika masih duduk di bangku sekolah dulu merasa kesal, sekesal-kesalnya, karena mendapatkan nilai ujian yang buruk padahal kamu sudah belajar mati-matian jauh-jauh hari sebelumnya? Tebakanku kamu pasti pernah merasakannya. Aku positive thinking saja bahwa kamu anak yang rajin ketika sekolah dulu. Atau kalau kamu memang tidak pernah merasakan kesal seperti itu, bagaimana dengan kesal lantaran gagal dalam menjalin hubungan percintaan dengan pacar? Yang aku bilang gagal ini bisa apapun penyebabnya. Bisa karena tidak direstui orang tua, bisa karena diselingkuhi, bisa karena jarak puluhan kilometer jauhnya, atau bisa karena pasangan lebih memilih orang lain yang jauh lebih mapan. Fixed, yang satu ini pasti pernah, bukan? Intinya kesal seperti itulah yang aku rasakan. Memang tidak seratus persen sama kesalnya. Tapi, konteks kesalnya adalah karena tujuan dan harapan yang digenggam, nyatanya tidak berbuah manis di ujungnya. Niatnya menanam bunga karena ingin melihat indahnya bunga di saat mekar, tapi harus menelan pil pahit karena bunga itu mati sebelum sempat mekar. Sungguh tidak enak rasanya.

Wait a moment! Sepertinya ada yang terlupa olehku. Oh Tuhan, bodohnya aku! Dari tadi aku membicarakan mimpiku kepadamu, tapi tidak aku terangkan secara spesifik apa sebenarnya itu. Big apology. Jadi, maksud mimpiku tentang dunia literasi adalah bahwa aku ingin mengubah kondisi literasi Indonesia menjadi lebih baik. Lebih baik dalam arti bahwa seluruh masyarakat Indonesia di segala usia menjadi jauh lebih antusias dan dekat dengan literasi, bahwa secara sadar literasi bisa masuk ke dalam way of life masyarakat Indonesia. Bukankah indah bisa melihat orang-orang yang berlalu-lalang di tempat umum menenteng buku bacaan mereka? Bukankah indah bisa melihat beberapa keluarga yang berkumpul di taman kota tengah asyik membaca buku bersama? Bukankah indah melihat kelompok pemuda- pemudi yang menikmati waktu di kedai kopi sambil berdiskusi tentang buku-buku pilihan mereka? Dan bukankah indah bisa melihat dan membaca begitu banyaknya buah pemikiran masyarakat Indonesia dalam bentuk karya tulis yang istimewa? Oh, indahnya mimpi itu, kawan.

Bagaimanapun, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, mimpi yang aku bayangkan dan sekaligus aku doakan setiap harinya masih sangat mentah. Kejelasan? Sedikitpun belum nampak, kawan. Aku mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan jika ingin mewujudkan mimpi besar. Apalagi jika mimpi besar itu menyangkut kehidupan orang banyak. Tapi, hampir setiap hari aku menghela napas panjang. Selama ini, yang seringkali membuat kepalaku pening perihal mimpi literasi ini adalah sudah bertahun-tahun aku mengupayakan mendekati mimpiku agar setidaknya ada secercah harapan untuk terwujud, tapi itu semua tidak mengubah apapun. Aku bertanya-tanya dalam hati. Mengapa? Makin hari, mimpi besar ini makin terasa berat. Aku seperti sedang mendorong sebuah gunung terbesar di dunia. Tidak, dari awal aku tidak berniat memindahkan sebuah gunung. Mungkinkah Indonesia bisa memiliki budaya literasi yang tinggi? Apakah aku bisa mewujudkan mimpi besarku yang telah lama aku perjuangkan ini? Pertanyaan itu selalu aku lontarkan pada diriku, tapi aku tidak mampu untuk menjawabnya. Kawan, aku tak memintamu untuk menjawab pertanyaan itu. Dua pertanyaan itu biar menjadi urusanku. Namun, yang sebenarnya ingin kutanyakan padamu adalah mimpi besar seperti apakah yang layak untuk terwujud? Aku menunggu tanggapanmu, kawan.

Kurasakan gelagatmu begitu ragu kepadaku. Apakah kamu masih bingung dengan mimpi besarku ini?Aku melihat kondisiku miris sekarang. Kawan yang mestinya mendukung, tapi justru bingung. Tapi tenang, aku sama sekali tidak tersinggung jika kamu kebingungan seperti itu. Bahkan, jika kamu tak memahami pun, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi kamu harus tahu, aku menganggap literasi ini begitu penting. Pada awalnya, saat aku masih seorang yang awam, aku memandang bahwa literasi hanya sebatas membaca dan menulis saja. Namun, semakin lama aku mendalami hal ini, literasi tidak sekadar baca dan tulis. Terlalu sempit menurutku. Membaca dan menulis merupakan lapisan paling luar dari literasi. Ada lapisan selanjutnya dari literasi, yakni menyangkut urusan kemampuan berpikir seseorang, khusunya kemampuan menganalisis, mengkritisi, menstrukturkan, dan seterusnya. Kemampuan berpikir ini sangat krusial karena bisa mendefinisakan kualitas sumber daya manusia, kualitas diri seorang manusia. Aku pribadi lebih suka menyebut bagian ini sebagai membentuk manusia menjadi versi terbaiknya. Kemudian, lapisan terdalam dari literasi bermuara pada menjaga keberlangsungan kehidupan suatu peradaban. Kawan, sadari baik-baik bahwa literasi adalah alat agar peradaban tetap utuh dan tak tergerus. Suatu peradaban bisa dikatakan tergaja dan tetap hidup adalah karena peradaban tersebut mampu mengaitkan relevansi dirinya dengan zaman yang selalu berubah seiring bergulirnya waktu.

Sejujurnya, kamu bukan satu-satunya orang yang tahu tentang mimpiku ini. Ada beberapa orang yang sudah mengetahuinya. Jadi, beruntunglah kamu jika mengetahuinya, kawan, karena aku hanya membagikannya kepada orang-orang yang aku percaya saja. Bagaimanapun, aku ingin sampaikan kepadamu suatu hal yang baru-baru ini aku pelajari bahwa menceritakan mimpi kepada orang lain bisa terasa menyenangkan karena ada semangat baru yang bisa kamu dapatkan. Tetapi, bersamaan dengan hal itu, kamu harus siap andaikata mimpimu dikritisi habis-habisan, atau bahkan ditertawakan oleh mereka yang mendengarkan. Intinya, berhati-hatilah membagikan sebuah mimpi. Dan terjadilah padaku, kawan. Sebagian dari mereka memandang bahwa mimpiku terlampau besar untuk aku yang begitu kecil.

Aku sepenuhnya sadar bahwa aku masih sangat kecil. Tapi, alasanku mengapa aku bertahan dengan mimpi besar ini adalah karena keresahanku yang mendalam. Aku sejauh ini banyak mengamati hal-hal yang terjadi di negara Indonesia ini. Aku yakin kamu sepakat jika aku katakan bahwa negara ini sedang dipenuhi oleh banyak masalah. Dari masalah besar yang dilakukan oleh para pemimpin hingga masalah kecil yang dilakukan oleh warga sipil, semua ada di Indonesia, negeri kita tercinta ini. Tidak perlu aku sampaikan contoh masalahnya, kamu pun sudah pasti paham tentang ini. Tapi, apakah kamu tahu apa penyebab masalah itu muncul? Benar. Ini merupakan ulah manusianya, masyarakat Indonesia itu sendiri. Aku benar-benar tidak habis pikir. Di mana letak pemikiran dan akal sehat orang-orang sampai-sampai bisa berujung pada perilaku buruk yang mereka lakukan? Katakan kepadaku, kawan, apakah mereka tidak berakal? Pernah suatu ketika aku merasa bosan membaca berita di media sosial yang melaporkan masalah-masalah yang terjadi. Masalah seperti tak kunjung berhenti. Begini, bukannya aku naif, sok suci, atau bukannya aku selalu berbuat benar. Aku juga pernah melakukan kekeliruan. Tapi aku senantiasa belajar dari pengalaman. Pun aku terus belajar bagaimana menjadi warga negara dan warga dunia yang baik. Aku geram di saat aku taat aturan dalam berkendara, ada orang yang tanpa rasa bersalah melanggar aturan yang ada. Aku geram di saat aku mengupayakan sumber dayaku untuk membantu sesama, ada oknum pemimpin yang mengambil uang rakyat dan menyengsarakan rakyat. Sekali lagi katakan kepadaku, apakah meraka tidak berakal?

Jika kamu berpikir keresahanku berhenti di sana, kamu salah besar. Selain perilaku buruk yang tak mencerminkan akal sehat, keresahanku juga berasal dari orang-orang yang menggunakan setiap harinya hanya untuk bekerja saja. Jangan salah paham dulu, kawan. Bekerja itu baik karena bekerja itu ibadah. Tapi, yang aku maksud di sini adalah orang yang bekerja dan fokusnya hanya mencari uang saja, hingga dirinya kehilangan makna hidup sesungguhnya. Dalam arti kata lain, ia terbutakan oleh uang semata dalam menjalani hidupnya. Memang benar bahwa segala sesuatu di dunia ini membutuhkan uang. Tidak munafik, aku pun juga membutuhkan uang. Tapi, apakah benar jika atas dasar hal itu sehingga uang dijadikan satu-satunya tujuan? Menurutku, sekarang ini banyak orang-orang diperbudak oleh uang. Ketika uang menjadi pilihan hidup seseorang sehingga ia melupakan makna hidupnya, percaya atau tidak, hal itu berimbas pada orang-orang di sekitarnya. Sebagai contoh, lihat saja gerak-gerik orang yang hidupnya hanya didasarkan pada uang semata, saat sedang berkomunikasi dengan teman, tetangga, atau rekan kerjanya, yang ia utamakan pastilah keuntungan bagi dirinya semata. Jika tidak ada untung yang bisa ia dapatkan, maka enggan juga ia. Bahasa lainnya orang yang demikian adalah perhitungan, bahkan sangat perhitungan. Ingat, tidak semua hal dititikkan pada perhitungan seperti itu, sebagai orang yang berakal mestinya ketulusan, dan nilai-nilai kebaikan yang lain yang mestinya didahulukan agar tercipta keharmonisan sejati. Bukankah itu salah satu esensi hubungan antar masyarakat?

Ini mungkin menjadi keresahanku yang terakhir. Semoga saja tidak ada lagi. Hidup banyak resah pastinya tidak tenang dan damai, bukan? Keresahan ini ada karena aku merasa masih banyak akademisi di Indonesia ini yang bersemayam penuh kenyamanan di menara gading mereka. Maksudnya, aku jarang sekali melihat peran mereka, kontribusi mereka dalam membawa perubahan pada masyarakat Indonesia. Memang benar bahwa mereka banyak melakukan penelitian, pendidikan dan pengabdian masyarakat. Tapi mengapa secara substansi masyarakat Indonesia tidak lebih baik. Bukankah Indonesia memiliki sekitar 4000 perguruan tinggi? Jumlah yang begitu banyak itu secara logika pasti mampu mendulang banyak kebaikan. Iya mereka memberi dampak. Benar. Namun, dampaknya hanya menyentuh beberapa kalangan saja. Mayoritas, kelas bawah di Indonesia sama sekali tak tersentuh oleh mereka. Perguruan tinggi yang mestinya secara fungsi menjadi pelipur lara masyarakat yang resah, gundah, sedih dan menangis, entah mengapa malah menonjolkan arogansi. Perguruan tinggi banyak yang tak hadir di saat masyarakat tengah mengalami krisis. Perguruan tinggi tak mampu menerjemahkan dari bahasa ilmu pengetahuan tingkat tinggi ke bahasa santai ala warung kopi untuk masyarakat kelas menengah dan bawah yang ada di Indonesia. Kawan, kata orang, Indonesia ini tidak kekurangan orang pintar, tapi di mana semua orang pintar itu? Oh, aku tahu, mereka semua sedang duduk nyaman di singgasana mereka yang ada di menara gading itu.

Singkatnya, keresahan-keresahan yang aku sampaikan sebelumnya telah melatarbelakangiku untuk tegak berdiri di bawah panji dunia literasi. Ini karena sejauh yang aku percayai adalah bahwa perilaku buruk, hidup tanpa makna, masyarakat tanpa akademisi bisa berubah salah satunya jika semua lapisan masyarakat dekat dengan literasi, bahkan bergelut dengan literasi setiap hari. Ingatkah kamu, kawan, tentang literasi membentuk versi terbaik diri? Ketika seorang manusia sudah bisa mencapai bentuk terbaiknya, maka secara otomatis ia akan senantiasa melakukan kebaikan baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk orang lain. Kebaikan-kebaikan yang telah meluas pada masyarakat Indonesia nantinya, pastinya akan berdampak pada beradaban masyarakat Indonesia yang jauh lebih maju.

Apakah aku narsis? Mungkin saja benar. Apakah aku ambisius? Mungkin itu juga benar. Cukup jelas sepertinya karena dari tadi aku membicarakan literasi, literasi dan literasi. Memang beginilah diriku, kawan, yang selalu antusias jika membahas tentang mimpi besar. Tapi, kulihat kamu mulai sedikit tidak nyaman. Kusarankan untuk mengganti posisi dudukmu itu. Baiklah apa boleh buat, kuputuskan sebaiknya aku turunkan tensi pembicaraan kita sejenak perihal ini. Aku hanya ingin memberikan ruang lebih agar udara segar bisa masuk ke dalam kepalamu yang penuh itu. Aku tahu kamu adalah kawan yang tidak ada duanya, kawan yang selalu bisa menjadi pendengar yang baik saat aku bercerita seperti ini. Tapi, aku juga tidak ingin menghancurkan isi kepalamu. Aku tidak akan punya kawan lagi jika kulakukan itu.

Sebetulnya, tidak banyak ide yang bisa aku temukan di dalam kepalaku untuk kuceritakan padamu. Tapi, tunggu! Bagaimana dengan cerita nostalgia perihal latar belakang literasiku? Tiba-tiba saja aku terbesit hal ini. Cerita ini cukup layak aku sampaikan untuk sekedar ice breaking. Aku janji ini cerita yang sangat santai dariku sebelum kita melanjutkan kembali topik utama kita. Kamu siap?

Sebaiknya aku mulai dari mana ya? Menurutmu tidak terlalu jauh kan jika aku memulainya dari masa aku masih anak-anak? Ini tidak akan panjang karena tidak banyak memori yang terekam ketika aku masih kecil, kawan. Baiklah, aku langsung mulai saja. Dulu ketika usiaku masih 4 atau 5 tahun, itu masa di mana aku masih belajar di Taman Kanak-kanak, aku seringkali tidak langsung pulang ke rumah saat jam belajar usai. Aku harus menunggu ibuku selesai mengajar terlebih dahulu dan setelah itu kami pulang bersama. Untungnya TK tempatku belajar dan SMA tempat ibuku mengajar persis bersebelahan karena keduanya masih naungan satu yayasan yang sama. Di momen itu, aku lebih suka menunggu ibuku di perpustakaan SMA tempat ibuku mengajar ketimbang menunggu di TK. Meski TK tempatku belajar membolehkanku menggunakan sarana bermain sepuasnya, entah mengapa aku lebih tertarik menjelajahi koleksi buku-buku yang ada di perpustakaan tersebut. Masih segar ingatanku tentang itu. Perpustakaan tersebut seolah "dunia lain" untukku. Dunia baru yang sangat menarik dan sangat menggugah rasa ingin tahuku. Ada satu jenis buku yang selalu menarik perhatianku waktu itu, yaitu buku National Geographic. Buku itu memaparkan banyak hal tentang flora dan fauna yang ada di bumi. Ada pula pemaparan tentang hewan purbakala dan sistem tata surya. Walaupun kala itu aku masih belum bisa membaca dan mengetahui secara pasti isi bukunya, tapi melihat gambar-gambar yang ditampilkan di buku itu sungguh memukauku. Pernah sesekali penjaga perpustakaan menceritakan isi buku tersebut kepadaku, dan aku sangat terpana mendengar ceritanya itu. Walaupun setiap kali berkunjung ke perpustakan SMA itu aku hanya meminjam buku National Geographic saja, sedikitpun aku tidak pernah merasa bosan. Kala itu, aku benar-benar merasa senang.

Selanjutnya aku akan langsung lompat saja ke momen di mana aku baru saja lulus dari bangku SMA. Ini termasuk momen "aneh" untukku karena pada waktu itu baru aku sadari bahwa di dalam pikiranku terdapat diorama yang sedang bermain-main bak pementasan drama atau adegan-adegan yang ada di film. Jadi, kala itu aku baru saja menamatkan SMA, dan syukur juga aku sudah mengantongi tiket untuk masuk ke perguruan tinggi incaranku melalui jalur SNMPTN Undangan. Di momen itu, aku tidak banyak kegiatan karena perkuliahanku baru dimulai 3 bulan berikutnya. Alhasil, aku banyak menghabiskan waktuku di rumah. Aku tidak menggunakan waktuku untuk bermain bersama teman karena mayoritas temanku masih sibuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi incaran mereka. Aku sungkan saja jika mengajak mereka bermain.

Di sisi lain, ibuku khawatir denganku karena aku terlihat sangat betah berdiam diri di rumah. Oleh sebab itu, ibuku terang-terangan menyuruhku untuk ke luar rumah, mencari aktivitas. Dari sanalah, aku tergerak untuk mengunjungi rumah guru lesku karena aku tahu tempat itulah aku bisa menemukan beberapa temanku yang sedang belajar. Singkat cerita, guru lesku tersebut merekomendasikanku untuk membaca sebuah novel. Alasannya biar aku tidak menganggur saja. Awalnya aku ragu karena sejujurnya aku pada waktu itu masih belum berminat untuk membaca cerita fiksi. Aku lebih suka membaca non-fiksi. Tetapi, saat itu aku tanpa pikir panjang menerima rekomendasi beliau. Pikirku, tidak ada salahnya untuk mencoba. Kemudian, aku mulai melihat-lihat buku-buku yang ada rak buku guru lesku. Tak begitu lama, hati dan pikiranku langsung tertambat pada buku yang memiliki sampul bergambar sepasang mata milik seorang wanita. Aku baca judulnya, Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.

Kosong. Itulah aku di awal-awal memegang novel karya penulis besar Indonesia ini. Aku tidak tahu-menahu tentang Ayat-Ayat Cinta. Guruku mengatakan bahwa novel itu sangat luar biasa ceritanya. Hanya sebatas itu saja. Dengan langkah penasaran, aku mulai membuka halaman pertama dan membacanya dengan hikmat. Halaman demi halaman aku lahap, cerita demi cerita aku hayati, dan aku tengelam dalam isi ceritanya. Seingatku, novel ini menjadi novel pertama yang bisa aku baca sampai habis. Tetapi yang tidak terduga dari novel ini adalah saat membacanya aku bisa merasakan otakku bekerja layaknya sebuah proyektor yang mengeluarkan gambaran detail dari cerita Ayat-Ayat Cinta. Aku seolah berada di Mesir yang menjadi set lokasi ceritanya, aku seolah melihat Fahri tepat dihadapanku, dan aku juga seolah merasakan lika-liku perasaannya yang mendalam. Semua itu begitu jelas terasa. Gambaran cerita Ayat-Ayat Cinta sangat jelas tergambar di dalam pikiranku. Novel itu benar-benar karya besar. Besar tidak hanya karena isi ceritanya, tetapi juga besar karena telah berhasil menggerakkan semua roda gigi yang ada di dalam kepalaku untuk bekerja lebih aktif memvisualisasikan sesuatunya.

Sekarang ayo kita ambil lompatan terakhir dalam cerita nostalgia literasiku, kawan. Titiknya saat aku berada di Yogyakarta untuk menempuh studi. Ceritanya bermula saat aku sedang belajar di kelas, lebih tepatnya ketika mata pelajaran filsafat ilmu. Awalnya aku cukup takjub dengan dosenku karena beliau bisa dengan cepat mengkritisi hasil tugas kuliahku yang aku yakin sudah aku susun dengan baik. Padahal, tugasku itu baru aku kumpukan ketika di kelas, tapi beliau hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit membaca tugasku dan seketika itu sudah langsung paham dengan inti dari pekerjaanku. Kemudian, pada sesi diskusi dan tanya-jawab antar mahasiswa di kelas, aku mengamati beliau tidak memihak argumentasi-argumentasi yang dilontarkan oleh mahasiswa. Justru, beliau banyak memberikan perspektif lain yang notabene luput dari pemikiran para mahasiswa. Itulah alasan mengapa aku bisa takjub dengan beliau. Di akhir sesi, aku bertanya kepada dosenku tersebut tentang bagaimana beliau bisa melihat segala sesuatunya dengan begitu detail dan luas dalam konteks keilmuan. Di situlah beliau merekomendasikanku dan seluruh mahasiswa yang ada di kelas untuk lebih banyak dan lebih variatif lagi dalam membaca buku filsafat.

Rekomendasi beliau bukanlah sesuatu yang baru memang, pun aku yakin banyak orang pintar lain di luar sana yang akan merekomendasikan hal yang sama. Namun, poinnya bukan pada rekomendasinya, tapi ketika aku melaksanakan rekomendasinya. Selepas kuliah di hari itu, aku langsung pergi ke toko buku dan membeli sejumlah buku filsafat, baik yang ada kaitannya dengan jurusanku maupun tidak sama sekali. Di hari-hari berikutnya ketika aku ada rezeki, aku kembali ke toko buku untuk membeli berbagai macam buku filsafat, mulai dari filsafat barat hingga filsafat Islam.

Di antara banyaknya buku filsafat yang aku miliki, ada dua buku yang tidak bisa aku lupakan, yakni novel filsafat Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, dan buku Falsafah Hidup karya Buya Hamka. Saat membaca Dunia Sophie aku sepenuhnya kaget karena baru kali ini aku membaca sebuah buku dan bukannya paham, tapi malah banyak bertanya. Dari buku Dunia Sophie aku banyak mempertanyakan tentang eksistensiku terhadap dunia, hidup, manusia, alam, bahkan agama. Selesai membaca Dunia Sophie, aku melanjutkan dengan membaca Falsafah Hidup. Buku ini aku gambarkan sebagai guru spiritualku. Di saat Dunia Sophie membuatku bertanya-tanya, Falsafah Hidup malah banyak memberikan jawabannya. Falsafah Hidup seperti menasihatiku tentang cara menjadi aku, manusia dan hamba Tuhan. Falsafah Hidup seolah menyuruhku untuk mengejar kebijaksanaan hidup.

Pikirku, tidak cukup seru jika cerita nostalgia literasi ini hanya berdiri sendiri. Maksudku, akan lebih baik jika aku sambungkan dengan apa yang sedang aku lakukan sekarang di mana hal itu juga berkaitan dengan orang lain. Kawan, pada akhirnya segala hal yang kita miliki tidak akan berguna bila kita tidak membagikannya kepada sesama. Petuah populer mengatakan bahwa semakin banyak kita memberi, maka semakin banyak kita akan mendapatkannya, dan semakin memberi, maka semakin sejahtera hidup bersama. Dan itulah yang aku anut sekarang ini. Jika sebelumnya aku banyak membaca, maka sekarang aku banyak menulis dan beraksi untuk literasi. Aku menulis tidak hanya untuk diriku sendiri, tapi niatku adalah berbagi ilmu dan pengalamanku kepada pembaca. Aku meyakini ilmu dan pengalaman yang aku miliki bisa bermanfaat untuk orang lain. Aku tidak jumawa, kawan. Aku tidak mengatakan aku punya banyak ilmu dan pengalaman. Tapi, setidaknya dengan apa yang aku miliki ini, hal itu mendorongku untuk mengemban tanggung jawab agar aku meneruskannya kepada orang lain sehingga ilmu dan pengalaman itu sendiri bisa tetap hidup. Selain itu, aku juga berkolaborasi dengan komunitas literasi sebagai pembicara untuk berbagi ilmu tentang literasi dan kepenulisan. Itu menjadi amanah yang luar biasa untukku. Pun, jika tak ada rekan atau organisasi untuk berkolaborasi, aku memanfaatkan media sosial dan blog pribadiku untuk tetap berkarya dan menebar manfaat, serta mengkampanyekan literasi.

Cerita yang epic, bukan? Kalau ingin cerita lebih detailnya mungkin aku bisa membuatkanmu 1 bab tersediri tentang itu, jadi tidak perlu sungkan untuk memintanya. Tapi, kali ini aku cukupkan dulu. Aku lihat kepalamu sudah penuh dengan udar segar, kawan. Aku asumsikan kamu sudah siap melanjutkan pembahasan utama kita. So, let's get down to the business!

Sejauh ini aku telah menceritakanmu tentang mimpi besarku dan keresahanku sebagai latar belakang mengapa memilih mimpi literasi itu. Pun aku sudah menyinggung bahwa jalanku mewujudkan mimpi sangatlah berat, bahkan apa yang telah aku lakukan terasa tak memberikan dampak perubahan. Aku tidak menafikkan bahwa tantangan sebesar gunung memang nyata adanya dan hadir tepat di depan mata. Kawan, kamu bisa  dengan jelas melihatku sekarang tampak frustrasi dengan gunung ini. Itu benar dan aku tidak akan mengelaknya. Tapi, aku tidak mau hanya berdiam diri saja menunggu keajaiban datang. Aku harus melalukan sesuatu dengan gunung ini jika aku ingin mimpi besarku bisa terwujud. Dan seperti kata orang, jika kamu ingin mengalahkan musuhmu, maka kamu harus benar-benar mengenalnya dengan baik. Dekatilah musuhmu selayaknya kamu dekat dengan sahabatmu. Jadi, di balik frustrasiku, aku telah mengidentifikasi gunung penghambat di depanku ini. Itu harus kulakukan agar aku tak berakhir mengenaskan; hidup di usia senja dengan perasaan penuh dengan penyesalan. Ogah dengan hidup yang demikian.

Pahami situasi ini, kawan. Aku mendapati ada salah satu faktor penyebab mengapa aku kesulitan menaklukkan gunung penghambat ini. Tidak lain dan tidak bukan faktor tersebut adalah karena faktor ekonomi. Kamu sudah tahu sendiri pastinya bahwa kondisi negara ini membuat perekonomian rakyat tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Hampir semua masyarakat Indonesia mementingkan kondisi ekonomi mereka. Jika tidak demikian, mereka akan hidup kesulitan, sengsara, bahkan mati konyol. Mencapai kondisi finansial yang baik atau mempertahankan posisi ekonomi yang baik adalah upaya paling realistis saat ini dan urgensinya aku kira cukup tinggi. Dan alhasil, ini berdampak pada perilaku ekonomi mereka, kawan. Baru-baru ini aku mendengar istilah yang tepat untuk menggambarkan situasi ini. Rakyat yang awalnya menerapkan konsep YOLO atau You Only Live Once menjadi YONO atau You Only Need One. Intiya, mereka jadi jauh lebih selektif lagi dalam membeli barang. Mereka hanya berbelanja barang yang memiliki kebermanfaatan langsung kepada hidup mereka. Barang-barang yang tidak mengandung nilai manfaat langsung atau bahkan mengancam kondisi finasial akan segera mereka eliminasi. Celakanya, produk-produk literasi, salah satunya buku, dipersepsikan oleh kebanyakan masyarakat sebagai barang yang bisa mengancam kondisi ekonomi atau tidak memberikan dampak manfaat secara langsung untuk hidup mereka. Produk literasi dianggap kebutuhan tersier untuk saat ini sehingga produk literasi esensinya kurang penting bagi sebagian besar hidup masyarakat Indonesia.

Jadi, kamu bisa bayangkan sekarang. Musuhku adalah situasi ekonomi yang ada di Indonesia. Sangat bodoh jika aku mengajak orang lain untuk membaca buku, padahal sesungguhnya ia sedang merasakan kelaparan yang berat. Saat itu, ia tidak butuh buku, tapi butuh makan untuk tetap bisa hidup. Ia pasti melempar jauh-jauh semua ucapanku, kawan. Masuk akal, bukan? Aku teringat temuanku sendiri jadinya. Jika diamati, orang-orang yang mengkampanyekan baca buku, atau setidaknya orang-orang yang membaca buku adalah orang-orang yang kenyang. Orang-orang yang sudah selesai dengan urusan perut mereka. Orang-orang yang tidak lagi berjibaku dengan "besok gimana ya caranya biar bisa makan?". Artinya, orang-orang sudah merdeka semuanya. Sebaliknya, orang-orang yang masih terjajah, tak sejauh itu langkahnya. Selama aku hidup, tidak sekalipun aku menjumpai orang yang ribut dengan perutnya, kemudian malah asyik menyuarakan dampak positif membaca buku kepada orang lain. Belum pernah aku bertemu dengan orang yang demikian. Apakah kamu pernah menjumpainya, kawan? Jika pernah, tolong sampaikan kepadaku. Mungkin saja aku salah, pengamatanku tak terlalu luas. Mungkin di luar sana ada yang demikian, tapi aku tidak tahu kebenarannya. Semoga saja ada, dan semakin bertambah jumlahnya.

Selain faktor ekonomi, tidak bisa dipungkiri faktor kedudukan literasi di mata Indonesia belum bisa dikatakan sebagai budaya. Inilah bagian gunung penghambat selanjutnya, kawan. Pemicunya memang banyak, namun yang nampak kasat mata adalah minat baca yang sangat rendah. Aku secara kasar bisa sampaikan bahwa membaca buku bukanlah aktivitas keseharian masyarakat Indonesia. Kawan, aku akan secara terang-terangan menyampaikan padamu perihal wajah masyarakat kita. Masih banyak orang di luar sana yang tidak membaca buku. Kalau pun semisal mereka membaca buku, aku yakin membaca buku hanyalah aktivitas di kala senggang saja bagi mereka. Bahkan, untuk membaca buku mereka harus membuat rencana dan jadwal terlebih dahulu. Apa-apaan ini? Literasi masih sangat sepele bagi mereka. Tapi, apa mau dikata, itulah faktanya. Membaca buku tidak menjadi DNA masyarakat Indonesia, maka tidak heran tidak ada budaya literasi di Indonesia. Sebaliknya, kalau memang membaca buku sudah menjadi DNA masyarakat, maka jelas tidak perlu lagi mereka mengada-adakan waktu senggang, tidak perlu lagi merencanakan dan menjadwalkan untuk membaca buku. Karena apapun kondisinya dan dimanapun tempatnya, mereka pasti membaca buku. Membaca buku seperti makanan untuk mereka. Makanan adalah kebutuhan hidup, pun membaca buku sama.

Itu masih terkait minat baca. Pemicu lainnya yang tidak kalah hebatnya adalah pengaruh teknologi digital, terkhususkan kehadiran media sosial. Media sosial benar-benar mengubah perilaku manusia, termasuk dalam hal membaca buku. Ini yang kurasakan, kawan, bahwa semenjak media sosial hadir di masyarakat kita, mereka hampir setiap saat terpapar konten-konten visual yang memiliki durasi pendek. Ini nyatanya mengakibatkan daya fokus dan konsentrasi mereka yang juga pendek. Mereka tak lagi mau mengonsumsi hal-hal yang sifatnya panjang dan mendalam. Kamu pasti tahu maksudku ini. Konten-konten instan di media sosial ini berdampak pada kemampuan berpikir orang-orang. Mereka ini jika disuruh membaca buku atau teks panjang, pasti mencari-cari alasan untuk menolak. Kalaupun mereka membacanya, aku tidak yakin mereka akan benar-benar memahaminya. Kamu perhatikan saja, kawan, banyak orang yang sok-sokan paham sebuah informasi di media sosial hanya lantaran membaca judulnya saja. Bagaimana bisa? Tidak jauh berbeda. Ada juga orang yang gampang tersulut emosinya karena menelan mentah-mentah judul kontennya saja tanpa sedikitpun membaca isi kontennya hingga akhir. Sumbu pendek sekali. Bagaimanapun, inilah bukti nyatanya bahwa eksistensi media sosial lebih-kurangnya memberikan pengaruh kepada jangkauan literasi masyarakat. Maka tak khayal aku katakan bahwa tantanganku begitu luar biasa beratnya.

Okay. Sekarang aku akan mengutarakan faktor terakhir dalam pandanganku, dan ini menurut keyakinanku paling krusial di antara dua sebelumnya. Faktor tersebut adalah bahwa memang aku tidak memiliki pengaruh yang besar kepada masyarakat, atau setidaknya orang-orang di sekitarku. Ini adalah faktor yang tidak bisa dibantah alias kebenarannya mutlak. Aku sangat mengakui faktor yang satu ini, kawan. Aku tidak sedang rendah diri, tapi aku menyadari diriku sendiri. Dalam aspek mempengaruhi orang lain, aku masih memiliki kekurangan dalam meyakinkan mereka. Aku lihai dalam menulis, tapi itu tidak menjamin aku ahli dalam membujuk orang lain. Pernah suatu ketika aku mengevaluasi diriku perihal apa yang menjadi penyebab aku tak kunjung mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarku untuk melek literasi lebih dalam. Dan aku menemukan kenyataan bahwa antara aku dan mereka kurang memiliki koneksi emosional yang kuat. Kita tahu bahwasannya emosi menjadi katalis menuju simpati dan empati. Kurangku di sini adalah aku tidak begitu mampu menyentuh ranah emosi pada diri mereka. Jujur saja, ada rasa "iri" dalam diriku melihat para influencer yang ada di media sosial. Mereka begitu handal meluncurkan kalimat-kalimat persuasif kepada orang lain sehingga banyak orang yang terpengaruh. Para influencer ini seolah dokter yang begitu mudah menyuntikkan obat ke tubuh pasien. Sementara aku, di mata orang lain, aku seperti anak kemarin sore. Sebuah perbedaan.

Walaupun demikian, kekuranganku ini sama sekali tidak menyudutkanku. Justru sebaliknya, aku jadikan ini sebuah pembelajaran tersendiri bahwa aku harus tetap melangkah maju demi mimpi besarku. Bukankah tidak ada mimpi besar yang bisa dicapai dengan sangat mudah? Aku harus punya banyak bekal untuk mencapai mimpiku itu. Perjalananku masih sangat jauh sekali. Oleh karena itu, sedikit demi sedikit aku mulai menambal kekuranganku, menambah wawasan dan keterampilan baru, dan tidak lupa aku memperluas jaringan sosialku. Harapannya dengan langkah ini, aku bisa memperbesar pengaruhku kepada orang-orang yang ada di sekitarku. 

Tiba-tiba saja aku teringat perkataan orang-orang hebat di luar sana yang telah mendapatkan kesuksesan lebih dulu, yakni mimpi besar selalu dimulai dari diri sendiri. Tampaknya, itu sangat masuk akal, dan hal itu sekaligus menancapkan fokusku untuk saat ini. Aku memusatkan perhatianku pada diriku sendiri. Akan konyol rasanya jika punya mimpi besar, tapi si pemilik mimpi tidak pernah sedikitpun berjuang membesarkan dirinya sendiri. Mustahil mimpi itu bisa tercapai. Ditambah lagi, sepemahamanku, segala hal yang ada di dunia ini tidak akan pernah berubah jika manusia-manusianya selalu melakukan hal yang sama. Oleh sebab itu, sekelompok manusia harus serentak melakukan hal yang berbeda demi sebuah perubahan. Akan tetapi sekelompok manusia itu tidak akan pernah melakukan hal berbeda jika tidak ada satu individu yang melakukannya terlebih dahulu. Benar sekali, harus ada satu yang membuka pikirannya, mendalami pemahamannya, dan berani bertindak berbeda lebih dulu. Kemudian, yang satu tersebut menginspirasi yang lain, membangun kelompok yang lebih baik, hingga akhirnya menciptakan gerakan yang lebih luar biasa dari sebelumnya. Jadi, aku mungkin saat ini memang harus sendiri sebagai langkah inisiatif.

Di momen berjuangan sendiri seperti ini, biasanya orang lain akan menyuruhku untuk bersabar. Tapi aku minta kepadamu, kawan, jangan menyuruhku untuk sabar. Alasannya karena aku sudah tahu itu. Sabar sudah menjadi keharusan memang. Jadi, akan lebih berguna buatku jika kamu berkenan menyumbangkan ide untukku ketimbang menyuruhkan bersabar. Ide yang aku maksud pastinya mengarah ke hal-hal konkret yang bisa aku lakukan untuk segera mewujudkan mimpi besarku, atau ide tentang langkah teknis dalam rangka transformasi kondisi literasi di Indonesia ini. Bagaimana? Adakah ide di kepalamu saat ini? Ayo, sampaikan saja kepadaku. Jangan ragu. Menurutku, saat ini tidak ada ide yang buruk, yang ada hanyalah apakah ide tersebut cukup realistis untuk dieksekusi atau tidak.

Anyway, tentang ide literasi ini sebenarnya aku sudah pernah memikirkannya. Tapi ide itu aku biarkan saja mendekam di dalam kepalaku karena aku merasa ide tersebut masih kasar dan aku tidak memiliki ide lain untuk menghaluskannya. Lagi pula, ide itu cenderung susah untuk dieksekusi karena berada di luar kendaliku. Ide yang kumiliki ini berada di wilayah kebijakan, dan alhasil pemerintah dan institusi pendidikanlah yang punya kuasa dalam mengeksekusinya. Mugkin lebih tepatnya, ide ini bisa dibilang sebagai masukan kepada mereka.

Bukan menjadi rahasia lagi kalau kondisi literasi di Indonesia wajib hukumnya untuk diperjuangkan. Namun, aku pikir sektor pendidikan formal yang mestinya sadar dalam mengambil andil yang jauh lebih besar. Pendidikan dan literasi adalah saudara kandung, maka sudah sepatutnya pendidikan berbuat sesuatu demi literasi. Ide masukanku adalah bahwa literasi harus jauh lebih hidup di wilayah sekolah. Target sasarannya pun secara otomatis mengarah kepada generasi muda atau siswa sekolah. Dalam hal ini, sekolah dengan kesadaran penuh harus melakukan segala cara untuk mempengaruhi siswa agar dekat dengan literasi. Tindakan nyata yang bisa dilakukan oleh sekolah adalah mengaktifkan fungsi perpustakaan sebagai salah satu garda depan literasi di sekolah. Jujur saja, kawan, setahumu ada berapa siswa yang memfavoritkan perpustakaan sekolah? Ada berapa siswa yang menghabiskan jam istirahat sekolah di perpustakaan? Umumnya, siswa lebih menyukai kantin sekolah ketimbang perpustakaan. Maka dari itu, perpustakaan sekolah harus bergerak secara lebih kreatif lagi untuk menggaet atensi para siswa. Mengadakan acara-acara rutin seperti seminar, sosialisasi literasi, talkshow dengan penulis, lomba literasi, harusnya bisa dilaksanakan oleh perpustakaan. Promosi literasi dengan pendekatan acara merupakan strategi yang efektif.

Tidak hanya perpustakaan, guru dan pembelajaran pun harusnya menjadi garda depan literasi. Konkretnya, guru harusnya memberikan contoh keterlibatan dalam aktivitas literasi. Mudahnya yakni guru secara aktif membaca buku fiksi maupun non fiksi, dan membuat karya tulis, kemudian dipublikasikan di mading, majalah sekolah, bahkan di media digital. Di sini, peran guru sangatlah penting sebagai upaya promosi. Semakin sering guru mempromosikan literasi dengan cara terjun langsung sebagai pelaku, maka hal itu diyakini mampu menginspirasi siswa untuk terbuka dan bersentuhan dengan literasi. Selain itu, pembelajaran untuk siswa juga harus membangun nilai literasi siswa, dan jangan hanya dominan pada pembentukan dan pengembangan budaya lisan. Misalnya, tugas presentasi di depan kelas seyogyanya diimbangi dengan tugas makalah yang dinilai secara tepat perihal kepenulisannya. Selanjutnya, tugas esai patut untuk diberikan kepada siswa agar menstimulus aktivitas membaca dan mengasah kemampuan berpikir siswa. Pembelajaran yang melibatkan aktivitas literasi semacam ini, alhasil membuat siswa masuk ke dunia literasi, mau tidak mau. Meskipun kesannya siswa jadi tidak punya pilihan, namun yang terpenting tidak ada pilihan yang salah pada konteks ini.

Masih ada satu ide masukan lagi dari aku, yaitu masyarakat Indonesia perlu untuk lebih masif lagi dalam berdonasi buku. Ini kaitannya dengan akses buku sebenarnya. Aku rasa kamu sudah tahu, kawan, bahwa masih ada banyak masyarakat kita, khususnya yang ada di daerah tertinggal dan terpencil, yang belum terjamah secara luas oleh buku-buku. Mengakses buku bacaan merupakan kesulitan besar bagi mereka. Daerah-daerah demikian dipastikan tidak ada satu pun toko buku. Kalaupun ada toko buku, sudah bisa dipastikan bahwa harganya tidak mampu diterima oleh masyarakatnya. Sehingga, satu-satunya pilihan dalam mengakses buku adalah sekolah, tapi tentu saja itu sangat kurang. Menurutku, masyarakat yang tidak berkawan akrab dengan literasi cenderung terbelakang. Bagaimana bisa mengharapkan sebuah kemajuan jika masyarakatnya begitu dingin dengan literasi? Maka dari itu, butuh kepedulian besar dari masyarakat yang beruntung bisa dekat dengan literasi, butuh kepedulian besar dari masyarakat untuk menyumbangkan buku-buku miliknya kepada mereka yang tak terjamah dengan literasi. Kita harus mendistribusikan sebagian buku kita, kawan. Setidaknya, jangan biarkan kebermanfaatan dari sebuah buku berhenti hanya di kita saja. Setidaknya, jangan biarkan buku kita mati berdebu di sudut rak buku. Donasikanlah agar buku kita tetap hidup.

Kita bisa berdiskusi panjang sebenarnya perihal ideku ini. Namun yang jelas, seperti itulah kira-kira gambaran umumnya. Dan seperti yang aku bilang sebelumnya bahwa ide masukan ini masih perlu untuk dimasak lagi agar jauh lebih matang ke depannya. Tapi, kawan, aku tetaplah manusia biasa yang memiliki batasan pada akhirnya, dan di titik ini aku merasa butuh banyak pihak untuk membantuku memasak ide ini, tidak terkecuali kamu. Aku membayangkan semakin banyak pihak yang terlibat, semakin matang ide yang dibuat, dan semakin mudah juga mengeksekusi ide itu hingga tuntas. Kawan, katakan padaku apakah yang kubayangkan itu sebuah utopia?

Kalaupun yang kubayangkan itu utopia, ya sudahlah. Tapi kali ini percayalah, kawan, aku pernah berada di suatu tempat di mana aku yakin itu bukanlah sebuah utopia, melainkan sebuah kenyataan yang indah. Tempat itu adalah Australia. Aku memang belum sampai berkunjung ke semua negara yang ada di dunia, tetapi dari sekian negara-negara yang telah kukunjungi, negara ini sangat berkesan buatku. Bukan karena pemandangan alamnya, melainkan dari mudahnya aku mengakses buku. Toko buku ada di mana-mana, perpustakaan juga mudah dijangkau dan memiliki koleksi buku yang sangat banyak. Selain itu, aku pun sering melihat orang-orang di ruang publik membaca buku mereka, apalagi di taman kota, baik anak muda maupun orang tua, mereka duduk di taman membaca buku sambil menikmati kopi hangat mereka. Ini bagiku adalah pemandangan yang sangat indah, kawan, keindahannya melampaui hamparan gunung dan laut. Selama tinggal di Australia beberapa waktu yang lalu, aku beberapa kali meniru kebiasaan mereka satu ini. Momen terbaik membaca buku di taman adalah kala musim gugur. Duduk di kursi taman yang dekat dengan pohon rindang, wajah dan kertas buku disambut oleh angin sejuk yang masih belum terlalu dingin, kemudian dihujani daun-daun menguning yang berguguran dari pohon rindang itu. Momen indah seindah gerakan sinematik di film-film.

Sebelum kamu berkomentar, terlebih dahulu aku sampaikan bahwa aku iri dengan momen di Australia itu. Di Indonesia ini, sangat jarang aku menemui orang-orang memiliki kebiasaan selayaknya orang Australia. Aku tidak bermaksud merendahkan, kawan, kita memang kalah telak dalam urusan kebiasaan membaca buku, literasi kita sangat jauh tertinggal, tidak hanya dengan negara Australia, tapi juga dengan kebanyakan negara lain di dunia. Aku sepenuhnya iri, kawan.

Baiklah, mungkin ini akan menjadi penutup dari perbincangan kita kali ini. Aku tak ingin mengakhiri dengan pernyataan yang panjang karena setelah ini adalah giliranmu untuk menerangkan kepadaku. Kini kembali aku utarakan pertanyaan kepadamu, apakah aku tidak realistis terhadap mimpiku? Apakah literasi itu hanya upaya untuk mengubah diri saja tanpa bisa sedikitpun mengubah dunia? Jika hanya mengubah diri, mulai sekarang aku tidak akan berharap lebih. Namun jika bisa mengubah dunia, tolong beritahu bagaimana aku bisa melakukannya. Kemudian kawan, mimpi seperti apa yang layak untuk terwujud? Aku siap mendengarkan jawabanmu.

×

Scan QRIS untuk apresiasi:

QRIS Apresiasi

Komentar