Membaca Ulang Dunia Sophie

Foto: Novel Dunia Sophie

Untuk mengawali ini, aku ingin bertanya terlebih dahulu kepadamu. Apakah kamu adalah tipe pembaca buku yang suka mengulang membaca buku yang sama?

Aku pribadi umumnya tidak melakukan hal demikian. Buat aku, buku selanjutnya selalu menarik perhatianku, sementara buku yang sudah rampung aku baca selalu berganti predikat; menghiasi rak-rak buku, mendampingi buku-buku yang sebelumnya juga sudah aku selesaikan. Buku-buku itu bukannya tidak menarik lagi atau tidak lagi menggugah rasa penasaraanku. Bukan demikian. Aku tak lagi membacanya karena pikirku telah cukup melebarkan cakrawalaku melalui buku-buku itu dan lagi pula buku baru telah siap menunggu menjadi amunisi baru.

Untungnya, manusia bukanlah batu. Manusia adalah makhluk berakal dan berperasaan. Sayangnya, makhluk yang demikian cukuplah mudah untuk berubah. Dan benar, hubunganku dengan buku terhenus aroma yang berbeda. Bagaimanapun, apa yang telah menjadi kebiasaanku tersebut di atas harus sedikit tercederai. Ini tidak menjadi konotasi yang negatif. Awalnya memang agak aneh, namun yang aku sadari adalah kacamata baru telah melekat sebagai atribut baru.

Lebih jelasnya mungkin aku langsung ceritakan saja. Jadi, sudah beberapa hari kebelang ini aku mengulang membaca sebuah buku yang beberapa tahun yang lalu sudah selesai aku baca. Jika aku tidak salah dalam menggunakan otakku, buku itu sudah aku khatamkan delapan tahun yang lalu alias pada tahun 2018 silam. Kala itu aku sedang merantau di Yogyakarta, dan seorang akademisi muda yang aku kagumi merekomendasikan buku ini kepadaku. Buku ini jugalah yang menjadi salah satu cikal bakal "ledakan" isi kepalaku dan alasanku "mengganas" dalam dunia literasi, lebih spesifiknya menulis.

Buku yang aku maksud ialah sebuah novel berjudul Dunia Sophie. Iya, ini buku sejuta umat, khususnya bagi yang mendalami filsafat. Novel yang kata orang "ringan" isinya, tapi bagi pemula bersiap-siap saja jika dahinya akan mengerut sepanjang isi halamannya atau jikapun tidak akan terkantuk-kantuk dan lewat begitu saja esensi cerita di dalamnya. Akan tetapi, bagiku, buku ini adalah awal pengenalanku dengan dunia filsafat.

Sebenarnya tidak ada alasan khusus mengapa aku kembali membaca Dunia Sophie, pun juga tidak ada momen yang spesial. Novel itu memang selalu memiliki kesan untukku, pun juga memenuhi sebagian ruang hatiku. Namun, bukan itu yang menggerakkanku membuka kembali lembaran-lembaran novel Dunia Sophie. Alasannya hanya karena aku tidak memiliki buku bacaan lain yang bisa menyenggol rasa penasaranku. Alasan yang begitu bodoh memang, tapi bukankah memang seperti itulah mestinya jika hendak membaca buku? Aku harus mengosongkan gelasku jika ingin terisi penuh.

Singkatnya, lembar demi lembar novel Dunia Sophie aku lahap dengan cepat. Tentu, hal itu karena pembahasan dalam novel ini telah aku pahami. Untuk saat ini bisa dikatakan pengetahuanku berkaitan dengan filsafat jauh lebih luas ketimbang saat aku pertama kali membaca Dunia Sophie sehingga novel ini tak lagi membuatku "bertanya-tanya". Menariknya, yang aku pikir akan membosankan, ternyata tidak sama sekali terbesit perasaan bosan di dalam diriku. Sebaliknya, semakin antusias aku dibuatnya.  Rupanya, ketika aku membaca ulang Dunia Sophie, ada hal baru yang aku temui dan pelajari. Maksudku, ini bukan perihal filsafat itu sendiri, ini tentang karakter atau tokoh dalam novel ini, yakni Alberto Knox dan Sophie Admunsend.

Jujur, setelah aku pikir-pikir, dua tokoh dalam buku ini cukup familiar untukku dan untuk kehidupan yang ada di sekitarku. Bukankah secara jelas Alberto Knox dan Sophie Admunsend ibarat guru dan murid? Sayangnya, kenyataannya memang demikian. Saat pertama kali membaca novel ini, aku terlalu sibuk dan hanya fokus kepada apapun yang sedang kedua tokoh itu bicarakan. Aku tidak begitu menghayati esensi kehadiran mereka berdua sebagai tokoh ceritanya. Tetapi, sekarang aku benar-benar memperhatikan mereka, dan yang aku dapati ialah Alberto berperan sebagai guru dan Sophie mengambil peran sebagai murid yang sangat antusias terhadap pelajaran dari gurunya.

"Apa menariknya mengetahui bahwa mereka adalah guru dan murid?" Aku tahu dibenakmu ada pertanyaan demikian. Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku belajar dari kedua tokoh tersebut dan pelajaran yang aku ingin sampaikan adalah untuk menjadikan seorang murid memiliki keingintahuan yang tinggi dan antusiasme belajar yang juga tidak kalah tinggi, perlu adanya seorang guru yang berfilsafat. Dalam hal ini aku percaya bahwa guru haruslah seorang filsuf. Lihatlah Alberto dan Sophie dalam novel tersebut, betapa luasnya pengetahuan Alberto dan lihainya dia dalam menjelaskan filsafat kepada Sophie. Sementara, Sophie tampak begitu "lapar" dalam melahap segala pelajaran filsafat dari Alberto. Dia banyak belajar dan mau belajar. Maka, sekali lagi aku utarakan keyakinanku bahwa, menurutku, guru, pengajar atau pendidik mestinya adalah seorang filsuf, atau seminimal-minimalnya berpemikiran filosofis dan secara sadar berfilsafat.

Mungkin klaimku bersifat subyektif, tapi aku memiliki penjelasannya. Begini, filsafat secara sederhana bermakna cinta kebijaksanaan, dan kebijaksanaan itu sendiri bisa diraih dengan salah satu syaratnya adalah adanya keluasan pengetahuan. Jika ditelaah secara mendalam, atribut guru masuk ke dalam kategori ini. Selain wajib berpengetahuan luas, guru pun mengajarkan kebijaksanaan kepada murid-muridnya.

Selain itu, aku rasa guru tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu dan pengetahuan saja. Guru juga pendorong murid untuk memiliki pemikiran yang mendalam, reflektif dan kritis tanpa sekalipun kehilangan nilai-nilai moral dan etika di dalamnya. Singkatnya, guru tidak sekadar menyajikan jawaban kepada murid, melainkan juga menstimulus pertanyaan kepadanya. Bukankah hal itu sama dengan apa yang dilakukan oleh para filsuf terdahulu? Socrates dan Plato, contohnya.

Lebih jauh lagi, guru, yang aku tahu, tidak pernah memandang muridnya sebagai suatu obyek belajar, namun sebagai subyek yang berpikir. Maksudku, fokus guru kepada muridnya tidak pada pengulangan teori yang berlarut-larut, bukan? Guru juga mengarahkan murid pada penemuan sebuah makna karena adanya relasi sejajar di antara keduanya melalui dialog filosofis dan bukannya dogmatis.

Walaupun guru secara harfiah berbeda dengan Socrates atau Plato, guru tetap layak mestinya jika disebut sebagai filsuf juga, setidaknya menurutku. Hal ini karena guru lebih dari sekadar mengajar, guru membangun cara berpikir, cara melihat dunia, dan cara menjadi manusia seutuhnya yang penuh dengan kebijaksanaan.

Akan tetapi, esensi dari Alberto dan Sophie bukanlah satu-satu yang aku pelajari ketika membaca novel ini kembali. Ada satu lagi yang juga menarik perhatian khazanah pemikiranku. Kali ini datangnya dari salah satu dialog mereka berdua berkaitan dengan perkataan Buddha dan maknanya. Aku tidak pernah sama sekali mempelajari tentang Buddha, tapi yang jelas ucapannya telah menamparku cukup telak. Bagiku, ini sangat relevan dengan kondisiku, atau bahkan dengan kebanyakan orang.

Dalam dialognya, Alberto bertanya kepada Sophie, "Tahukah kamu apa yang dikatakan Buddha kepada para pengikutnya persis sebelum dia meninggal?" Lantas Sophie menjawab, "Tidak, bagaimana aku bisa tahu?" Alberto pun menerangkan dengan mengutip perkataan langsung dari Buddha, "'Kehancuran itu melekat pada seluruh benda. Usahakan keselamatanmu sendiri dengan penuh ketekunan.'"

Walaupun dialognya sederhana, itu sudah cukup membuatku belajar tentang diriku sendiri. Inti pelajarannya adalah bahwa sebagai manusia, aku harus bisa menolong diriku sendiri. Aku sadari betul bahwasannya saat ini banyak hal yang membuatku lupa dengan diriku sendiri. Pekerjaanku, contohnya, mengharuskanku sepenuhnya fokus kepada orang lain, melayani mereka lebih tepatnya. Selesai bekerja, energiku telah terkuras habis, dan sama sekali tidak tersisa. Aku benar-benar tidak mengingat diriku sendiri. Akhir pekan? Masih ada ruang untuk menatap cermin diri, tapi sayangnya waktu tidak membiarkanku terhanyut menikmati refleksiku. Itu jelas sangat kurang.

Selain itu, aku sudah ketergantungan dengan teknologi. Memang, teknologi diciptakan guna membantu hidup manusia agar jauh lebih efektif dan efisien. Namun karena itulah, hampir setiap hari aku memanfaatkan teknologi untuk meringankan beban pekerjaanku. Sampai-sampai aku merasa aku pun tidak akan mampu menyelesaikan tugas pekerjaanku dengan baik jika tidak ada teknologi di sekitarku.

Pekerjaan yang aku geluti dan teknologi yang aku gunakan bukanlah kesalahan. Aku tidak sedang menyalahkan keduanya. Tetapi, dari dialog sederhana itu, aku jadi sadar bahwa sifat terlalu fokus pada orang lain dan ketergantungan pada teknologi ini sudah menjadi sesuatu yang buruk. Aku jadi tak lagi mengenali diriku sendiri, dan bahkan aku tidak lagi menjadi pribadi yang mandiri. Jadi, mungkin dialog tentang Buddha bisa jadi pemantik dan penggerak untukku bahwa mulai sekarang dan seterus aku pun juga harus memikirkan tentang diriku sendiri dan keselamatanku. Tentu bukan menjadi sosok yang egois atau individualis, tapi lebih kepada mejadi sosok yang bisa mempertahankan jati diri, syukur-syukur bisa mengembangkan pengaruh diri. Sebaiknya aku amini.

Sejauh ini, sungguh sangat menarik pengalaman membaca ulang buku yang sama. Perspektif dan pelajaran baru justru yang lebih unggul. Meski aku belum selesai membaca ulang novel Dunia Sophie ini, tentu aku siap jika ada ledakan baru dalam kepalaku. Ada sebuah hikmah yang asyik untuk dinikmati kali ini bahwa tidak masalah untuk mundur atau mengulang langkah yang sama, sejatinya untuk tidak menjadi pribadi yang sama, melainkan pribadi baru dengan kematangan dan kebijaksanaan yang lebih baik.

Baiklah, jika di awal tadi aku buka dengan pertanyaan, sekarang aku akan melakukan hal yang sama. Aku ingin bertanya kepadamu, apakah langkah mundur hakikatnya adalah langkah maju?

Komentar