![]() |
| Foto: Ilustrasi seseorang membuat portofolio |
Pada tanggal 6 Maret lalu, aku terpapar konten yang dibagikan oleh Agus Mulyadi. Konten itu adalah konten promosi untuk pelatihan menulis yang dinarasumberi oleh beliau sendiri. Megetahui hal itu, jari-jari nakalku langsung bergerak untuk menghubungi admin dan meminta izin untuk bergabung. Dengan bukti transfer sebagai akadnya, saat itu juga aku dinyatakan terdaftar. Selang berikutnya, perasaan tidak sabaran mengikuti pelatihan itu sepenuhnya menguasai diriku.
Mas Agus inilah yang membuatku bergerak tanpa pikir panjang. Bukan karena karisma foto dirinya di poster konten tersebut, bukan pula karena popularitasnya di jagat media sosial dan di dunia kepenulisan, tapi karena keunikan gaya tulisannya lah yang secara keseluruhan memikat pikiran dan hatiku. Hampir setiap takarir konten Instagram beliau aku baca karena cukup membuatku senyam-senyum tidak jelas, tak jarang juga membuatku tertawa tapi tidak sampai terbahak-bahak. Batinku, kok bisa beliau menulis sekocak itu?
Sejujurnya, menulis dengan kemasan komedi seperti yang dilakukan Mas Agus Mulyadi bukanlah keahlianku. Literasi komediku jauh dari kata luas. Saking minimnya, kalau sampai Cristiano Ronaldo mendengarkan leluconku, pasti langsung misuh-misuh dan gantung sepatu saat itu juga. Kebanyakan referensiku adalah filsafat, dan buku bacaanku juga mayoritas tentang pendidikan. Sekarang kebayangkan seserius apa aku? Namun, aku sadar bahwa tulisanku belum bagus-bagus amat dan masih banyak sekali kekurangannya. Maka seyogyanya aku harus tetap belajar. Salah satunya menulis dengan genre yang sama sekali berbeda dengan domain awalku. Hitung-hitung juga memanaskan bola kreativitas dan melebarkan segmentasi pembaca.
Long story short. Satu minggu berselang. Minggu, 14 Maret 2026. Hari pelatihan penulisan akhirnya tiba. Tanpa diduga, Mas Agus langsung "memasak" di awal-awal pelatihan. "Ikut pelatihan ini gak akan menjamin tulisan kalian jadi lebih baik. Jadi dimohon untuk menurunkan ekspektasi," kelakarnya sambil cengar-cengir. Untungnya, pernyataan realistis itu tak sempat memprovokasiku. Karena aku tahu betul, menulis itu seperti berjualan barang; semakin berpengalaman seseorang dalam berjualan, semakin dia paham mana pelanggan yang berniat membeli dan mana pelanggan yang hanya cari perbandingan dengan yang ada di marketplace. Artinya, menulis adalah keterampilan yang hanya akan bertumbuh jika senantiasa dipraktikkan. Menguasai teori menulis tanpa praktik tidak akan membawa seseorang ke mana-mana.
Sayangnya, gong utamanya bukan di sana, melainkan ada di ucapan Mas Agus berikutnya. Mas Agus menyarankan bahwa orang-orang mestinya memiliki keterampilan menulis dan memublikasikannya di media digital, tidak terkecuali orang awam sekalipun. Pasalnya, menulis bisa menyediakan berbagai manfaat, mulai dari manfaat kesehatan jiwa, komunikasi, hingga finansial. Khusus finansial, beliau mengimbuhinya dengan mamaparkan poster-poster lowongan pekerjaan yang mana memperlihatkan syarat-syarat dalam menguasai keterampilan tertentu dalam bentuk portofolio. Mas Agus bermaksud menerangkan bahwa saat ini dunia kerja lebih menitikberatkan pada orang-orang yang terampil dan dibuktikan dengan portofolio ketimbang sebuah ijazah.
Ekspresi wajahku seketika itu mirip sekali dengan ekspresi ibu-ibu yang baru saja mendapatkan gosip selebriti idolanya yang diisukan bercerai dengan pasangannya. Benar-benar menggelegar. Ini terus terang menggelitikku. Rasa penasaran alhasil berhasil mengambil kendali isi kepalaku sampai pelatihan menulis berakhir. Terlihat aku memang tak banyak mengikuti tren di lowongan pekerjaan dewasa ini. Masak iya sih ijazah mulai gak penting dan malah kalah dengan portofolio?
Lebih dari tiga puluh menit aku sibuk berselancar di dunia internet. Satu, dua, tiga, hingga sepuluh jendela informasi tentang lowongan pekerjaan memenuhi layar laptopku. Sayangnya, tidak banyak informasi lowongan pekerjaan di sektor formal. Jadi, yang bisa aku kulik adalah lowongan pekerjaan di sektor informal. Seperti pemuda yang mengharapkan kepastian cinta, aku pun berharap mendapatkan kepastian fenomena ini. Dan ternyata benar, fakta yang aku temukan menunjukkan bahwa kebanyakan lowongan pekerjaan meminta pelamar kerja untuk mengedepankan keterampilannya dan divalidasi dengan melampirkan portofolionya. Sementara, persyaratan pendidikan tidak begitu spesifik untuk diminta. Minimal S1 semua jurusan. Begitu kira-kira yang tertera. Seolah-olah ijazah sudah kehilangan marwahnya.
Tentu aku bisa memahami mengapa lowongan pekerjaan sektor informal banyak bertebaran di internet macam kacang goreng. Karena ini berkaitan dengan pekerjaan, pasti kondisi ekonomilah yang menjadi jawabannya. Jika harus digambarkan, aku mengumpamakan ekonomi Indonesia sudah seperti karyawan pabrik yang dipaksa kerja lembur tiga hari berturut-turut; lemas dan nihil akan gairah hidup. Kalau diajak bicara, hanya bisa merespons "hah? heh? hah? heh?"
Yang aku lihat di sekelilingku saat ini, perputaran uang di tengah masyarakat tidak terlalu kencang. Di antara penyebabnya, tidak lain dan tidak bukan, adalah banyaknya pajak yang mesti ditanggung oleh masyarakat. Ditambah lagi, harga kebutuhan hidup, mulai dari kebutuhan primer hingga tersier, perlahan meroket menembus gelapnya polusi udara di langit Indonesia. Akibatnya, banyak dari mereka yang berlarian ke sektor informal untuk menambah penghasilan bulanan.
Selain itu, industri manufaktur tidak berkembang pesat. Kendati demikian, berkembangnya masih bisa disyukuri karena jauh lebih baik ketimbang pengesahan Undang-Undang perampasan aset untuk para koruptor. Dugaanku, salah satunya, adalah bahwa industri ini tidak disuntik dana besar dari para investor asing. Mereka jarang sekali melirik pasar Indonesia. Di saat yang bersamaan, biaya operasional di industri manufaktur semakin melambung tinggi dan mengakibatkan penerapan kebijakan efisiensi di internal industri. Wujudnya beragam, tapi yang paling mengerikan adalah layoff di kalangan karyawan. Oleh karena itu, sektor informal segera menjadi pijakan realistis bagi mereka yang terkena imbas efisiensi.
Tidak berhenti sampai di situ, lapangan pekerjaan di sektor informal semakin menjamur karena lowongan pekerjaan di sektor formal semakin menyusut. Padahal, jumlah lulusan mahasiswa perguruan tinggi setiap tahunnya sangatlah banyak. Ini jelas tidak sebanding. Dampaknya, jumlah pengangguran terdidik secara perlahan menaiki tangga podium masalah di Indonesia. Tidak terbayang susahnya jadi mereka. Keluar rumah dibilang beban negara, di dalam rumah dibilang beban keluarga. Serba salah memang. Sehingga jalan tercepat untuk keluar dari fitnah Dajjal ini adalah mengambil pekerjaan di sektor informal.
Intinya adalah adanya kebutuhan. Survival mode dari masyarakat dan tuntutan untuk menebalkan rekening di bank menjadi pemicu hiruk-pikuknya lowongan pekerjaan di sektor informal.
Namun, jika ditanya mengapa harus lebih memprioritaskan portofolio sebagai bentuk penguasaan keterampilan daripada ijazah, akal sehatku yang tidak tumpul-tumpul amat ini mengatakan bahwa hal itu dipengaruhi oleh karakteristik pekerjaan di sektor informal tersebut. Sejauh yang aku mengerti, karakteristik pekerjaan di sektor informal sebelas-dua belas dengan pemuda yang didesak pasangannya untuk segera mengawininya. Pasangannya selalu menuntut upaya pemuda itu untuk datang ke rumah. Artinya, orientasi yang dilihat adalah hasil akhirnya. Oleh sebab itu, unit usaha di sektor informal lebih menyukai pekerja yang keterampilannya sudah jelas dan terbukti karena dipercaya lebih mampu mencapai target hasil yang diinginkan oleh si pemilik usaha.
Salah satu tetangga rumahku nyatanya mengimplementasikan hal yang sama. Tetanggaku ini merupakan pemilik kedai mi ayam kekinian di Kota Mojokerto. Awalnya dia cukup tangguh karena menjalankan usahanya secara one-man show. Tetapi seiring usaha mi ayamnya maju, dia lantas mempekerjakan orang untuk membantunya sebagai pramusaji. Aku masih ingat kala itu dia mencari orang yang punya keterampilan di dunia perdapuran dan yang intelektualitasnya masuk golongan rata-rata. Maksudnya, pintar tidak, bodoh juga tidak, jadi di pertengahan antara keduanya. Dia mengatakan, "Mempekerjakan orang bodoh itu capek ngajarinnya, Mas. Kalau orang pinter, malah susah diatur nantinya." Pikirku, masuk akal juga alasannya.
Di balik fenomena ini, aku sangat menolerir kondisi yang terjadi. Tetapi aku sulit untuk menahan kekhawatiranku. Saking khawatirnya, aku sampai perlu bermeditasi setiap tiga jam sekali. Lebay. Prediksiku, andai kata sektor informal semakin menjadi primadona masyarakat Indonesia, maka lama-lama semakin mereka menutup mata kan esensi sebuah ijazah. Dan ketika hal itu benar-benar sepenuhnya menampakkan diri, akibat yang muncul adalah masyarakat tidak lagi tertarik untuk mengenyam pendidikan tinggi.
Walaupun ijazah bukan satu-satunya substansi tertinggi bagi individu untuk berpendidikan tinggi, ijazah bisa dijadikan daya tarik untuk belajar di perguruan tinggi. Ibu-ibu muda pasti paham soal ini karena sering termakan teknik pemasaran "beli satu, gratis satu" di pusat perbelanjaan.
Perlu diketahui, data 2024 melaporkan bahwa hanya ada sekitar 30% masyarakat Indonesia yang belajar di perguruan tinggi. 70% sisanya tidak sampai menjangkaunya. Persentase ini mewakili gambaran Bumi dan Galaksi Bima Sakti. Tapi yang jelas, sedikitnya jumlah manusia yang duduk di bangku perguruan tinggi berakibat pada jumlah pekerja berkualitas di masa mendatang. Jika angka ini semakin memburuk, jangan heran nantinya akan ada rekan kerja yang mampu mengerjakan tugas kerja, tapi tidak mampu menyelesaikannya, bahkan tidak bisa diajak diskusi alias plonga-plongo. "Laporan hasil analisis masalah yang diminta bos kemarin sudah selesai?" tanya staf marketing kepada rekan kerjanya. "Eh, anu, anu, anu...," balas rekan kerjanya dengan keringat sebesar gunung yang dalam hitungan detik akan runtuh dan mengguyur sekujur tubuh.
Setelah tadi berjibaku selama tiga puluh menit untuk melucuti informasi lowongan pekerjaan, aku kembali menggelontarkan waktuku selama tiga puluh menit untuk tenggelam dalam lamunan dan memikirkan pekerjaan yang masih terikat dengan eksistensi ijazah. Hala pertama yang terbang melesat di kepalaku adalah pekerjaan yang bernuansa akademik. Pekerjaan seperti guru, dosen, peneliti, dokter, dan pengacara pasti membutuhkan validasi ijazah. Itulah bentuk pertanggungjawabannya atas penyelesaian pendidikan yang sebelumnya telah ditempuh. Di pekerjaan akademik, ijazah juga bernilai tinggi karena bisa menjadi landasan bagi individu untuk memperoleh apresiasi yang jauh lebih baik.
Bersamaan dengan hal itu, harus diakui bahwa ada juga pekerjaan yang tidak memerlukan kehadiran ijazah. Menjadi pekerja kasar atau pekerja paruh waktu di industri kreatif, sejauh yang aku tahu, tidak wajib menyertakan ijazah. Kalaupun memang membutuhkan ijazah, kemungkinan hanya sebagai persyaratan administrasi saja. Pekerjaan-pekerjaan seperti ini lebih menempatkan keterampilan dan pengalaman jauh di atas kertas ijazah. Berwirausaha pun sama. Ijazah bukan menjadi modal utama bagi seseorang untuk merintis sebuah usaha. Justru keterampilan, koneksi, uang, dan pola pikirlah yang tampil sebagai aktor utamanya. Tak jarang juga seseorang mengambil risiko untuk memulai usaha pertamanya karena kepepet oleh keadaan. Masyarakat kelas menengah banyak melakoni peran ini. Pagi sampai sore jadi budak korporat, malamnya jualan nasi goreng di kompleks perumahan.
Pada akhirnya, aku ingin menyimpulkan bahwa ijazah tak lagi menjadi satu-satunya substansi yang berkedudukan tinggi di mata masyarakat, tetapi bukan berarti tidak penting. Ijazah saat ini berbagi singgasana dengan portofolio karena keadaan yang menginginkannya demikian. Meskipun hal ini membawa kekhawatiran terhadap nilai pendidikan, setidaknya banyak orang jadi lebih sadar akan masa depannya sehingga tidak asal dalam mengambil jalur pendidikan.
Bagaimanapun, perihal ijazah dan portofolio, kalau memang bisa dapat keduanya, mengapa memilih satu? Tapi kalau semisal dapat empat, wajib hukumnya berlaku adil!

Komentar
Posting Komentar